"Menikahi ku atau melihat ayahmu membusuk di penjara?"
Elena tidak punya pilihan. Demi melunasi utang yang dijebak oleh Arkan—pria masa lalunya yang kini menjadi penguasa angkuh—ia setuju menjadi istri di atas kertas. Namun, di balik kemewahan rumah Arkan, Elena bukanlah nyonya, melainkan budak. Ia dijambak, diludahi, bahkan dipaksa melayani selingkuhan suaminya sendiri.
Setiap hari adalah neraka, hingga Arkan melampaui batas dengan menyentuh satu-satunya alasan Elena untuk hidup.
Di saat Elena hampir menyerah, sosok pria dari masa lalu yang menghilang selama lima tahun kembali. Ia bukan lagi pemuda desa yang miskin, melainkan putra mahkota dinasti mafia yang haus darah.
"Siapa pun yang menyentuh milikku, hanya punya satu tempat: liang lahat."
Pembalasan dendam dimulai. Ketika Sang Mafia menjemput ratunya, istana emas Arkan akan berubah menjadi abu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Suara Ayah di Balik Telepon
Pagi itu, mendung menggantung rendah di atas langit kota, seolah-olah awan pun ikut menanggung beban yang ada di pundak Elena.
Setelah pertemuan singkat dengan Eros di jendela semalam, Elena terbangun dengan perasaan yang campur aduk. Ada secercah harapan yang membuat jantungnya berdebar, namun di saat yang sama, rasa takutnya pada Arkan justru berlipat ganda.
Elena harus menjadi aktris yang lebih hebat dari sebelumnya. Dia tidak boleh membiarkan binar harapan itu terlihat di matanya, atau Arkan akan menghancurkannya sebelum Eros sempat bertindak.
Elena sedang berlutut di lantai ruang tengah, membersihkan sela-sela lantai marmer dengan sikat kecil—sebuah tugas yang diberikan Ibu Widya sebagai hukuman karena Elena dianggap "terlalu lama" di kamar mandi pagi tadi.
Lututnya sudah mulai mati rasa karena bergesekan dengan lantai yang keras, dan jari-jarinya perih akibat cairan kimia pembersih. Namun, pikirannya melayang pada dekapan hangat Eros semalam. Sentuhan itu masih terasa di kulitnya, seperti pelindung yang membuatnya kuat menahan hinaan.
Tiba-tiba, suara ketukan sepatu pantofel yang berirama tajam mendekat. Elena tidak perlu mendongak untuk tahu siapa itu. Aroma parfum woody yang mahal dan berat memenuhi udara di sekitarnya.
"Berhenti dulu, Elena," ucap Arkan. Suaranya terdengar tidak biasa. Tidak ada nada tinggi atau amarah, melainkan nada yang tenang—jenis tenang yang justru lebih menakutkan untuk Elena.
Elena meletakkan sikatnya, lalu berdiri perlahan sambil mengusap lututnya yang memerah. Elena menunduk, menatap sepatu Arkan yang mengkilap tanpa noda. "Iya, Tuan."
Arkan mengeluarkan sebuah ponsel dari saku jasnya. Arkan tidak menjatuhkannya ke lantai kali ini. Arkan memegangnya di depan wajah Elena.
"Aku baru saja mendapat kabar dari desa. Sepertinya ayahmu sangat merindukanmu. Dia terus-menerus bertanya pada pengacaraku kapan kamu akan berkunjung."
Jantung Elena mencelos. "Ayah... Ayah baik-baik saja, kan?"
Arkan tersenyum, sebuah senyuman yang sangat tipis dan beracun. "Dia baik-baik saja selama dia merasa kamu bahagia di sini. Tapi, kau tahu kan betapa lemahnya jantung pria tua itu? Sedikit saja dia mendengar bahwa kamu tidak betah, atau... bahwa kamu punya pikiran untuk pergi... kurasa detak jantungnya akan berhenti saat itu juga."
Arkan menekan sebuah tombol di ponselnya, lalu menyalakan loudspeaker. Nada sambung terdengar beberapa kali, membuat Elena menahan napas.
Rasanya seolah waktu melambat. Kemudian, suara yang sangat familiar terdengar. Suara yang parau, lemah, tapi penuh dengan kasih sayang yang tulus.
"Halo? Nak... Elena? Ini kamu, Nak?"
Mendengar suara Ayahnya, pertahanan Elena runtuh seketika. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini mengalir deras tanpa bisa dicegah.
Elena ingin berteriak, ingin mengadu bahwa dia sedang disiksa, bahwa dia sedang berada di neraka. Tapi, Elena melihat mata Arkan yang menatapnya dengan tajam, tangannya yang lain memberikan isyarat mengancam dengan ibu jari yang digerakkan di depan leher.
"I-iya, Yah... ini Elena," ucap Elena dengan suara yang bergetar hebat. Elena menutup mulutnya dengan tangan, berusaha meredam isakannya agar tidak terdengar di seberang telepon.
"Suaramu kenapa, Nak? Kamu nangis?" tanya Ayah Elena di sana, nadanya penuh kecemasan.
Arkan mendekatkan ponsel itu ke bibir Elena, sambil sebelah tangannya mencengkeram lengan Elena dengan sangat kuat, kuku-kukunya menancap di kulit Elena yang memar.
"Enggak, Yah... Elena cuma... Elena cuma kangen banget sama Ayah," bohong Elena. Setiap kata yang keluar terasa seperti belati yang menusuk lidahnya sendiri. "Elena bahagia di sini, Yah. Mas Arkan... Mas Arkan baik banget. Dia memperlakukan Elena kayak ratu. Rumahnya besar, Yah. Makanannya enak-enak..."
Elena memejamkan mata rapat-rapat. Dirinya merasa sangat kotor. Elena sedang memberi makan kebohongan kepada orang paling jujur yang pernah dia kenal.
"Syukurlah... Ayah senang dengarnya. Maafin Ayah ya, Nak. Gara-gara utang Ayah, kamu harus..."
"Enggak, Yah! Jangan ngomong gitu," potong Elena cepat. "Elena senang bisa bantu Ayah. Elena cinta sama Mas Arkan. Ayah jangan khawatir ya, istirahat yang banyak. Jangan lupa minum obatnya."
"Iya, Nak. Arkan itu orang baik. Dia kirim obat paling mahal buat Ayah setiap minggu. Dia juga sering telepon nanyain kabar Ayah. Kamu beruntung punya suami seperti dia, El."
Mendengar kata-kata 'beruntung' dan 'orang baik' dari mulut Ayahnya sendiri membuat Elena merasa jiwanya benar-benar hancur.
Arkan benar-benar iblis yang jenius. Ia memanipulasi sang Ayah hingga pria tua itu menganggap penculik anaknya adalah seorang pahlawan.
"Iya, Yah. Elena beruntung banget. Udah dulu ya, Yah... Elena mau... mau lanjut istirahat."
Setelah telepon ditutup, Arkan menjauhkan ponselnya. Menatap Elena yang kini terduduk lemas di lantai, terisak tanpa suara.
"Dengar itu, Elena?" Arkan berjongkok di depan Elena, mengusap air mata di pipi wanita itu dengan ibu jarinya, gerakan yang terlihat lembut namun terasa sangat menjijikkan bagi Elena.
"Ayahmu berpikir aku adalah pahlawan. Dia percaya padaku. Bayangkan betapa hancurnya dia kalau dia tahu putrinya yang suci ini sebenarnya sedang memikirkan pria lain saat suaminya sedang memberinya makan."
Arkan menarik dagu Elena, memaksanya menatap matanya yang dingin. "Suara Ayahmu adalah peringatan, Elena. Setiap kali kamu berpikir untuk membangkang, setiap kali kamu merindukan Eros, bayangkan suara itu menghilang selamanya. Aku bisa menghentikan pasokan obatnya hari ini juga kalau aku mau. Aku bisa membuat pengacaraku menyeretnya ke sel yang paling gelap."
"Jangan... tolong jangan, Tuan," bisik Elena dalam isakan yang menyesakkan.
"Maka jadilah pelayan yang baik. Jadilah istri yang manis," Arkan berdiri, lalu meludahi lantai tepat di samping tangan Elena yang sedang memegang kain lap. "Bersihkan itu. Dan pastikan wajahmu tidak bengkak saat Selin datang sore nanti. Aku tidak ingin dia terganggu oleh wajah menyedihkanmu."
Arkan pergi dengan tawa rendah yang menggema di ruang tengah yang luas itu. Elena masih bersimpuh di sana, merasa benar-benar lumpuh.
Manipulasi Arkan begitu sempurna. Dia menggunakan cinta Elena untuk membelenggu Elena sendiri.
Elena melihat ludah Arkan di lantai. Dengan tangan gemetar, Elena mengambil kain lapnya. Dan mulai menggosok marmer itu, menggosoknya sekuat tenaga seolah-olah dia bisa menghapus semua kehinaan ini. Di tengah gerakannya yang mekanis, Elena membayangkan wajah Ayahnya. Dia harus bertahan. Dia harus bersandiwara sampai Eros benar-benar siap.
Namun, rasa bersalah karena telah membohongi Ayahnya terasa jauh lebih berat daripada jambakan rambut atau ludah di wajah. Elena merasa telah mengkhianati kejujuran yang selalu diajarkan Ayahnya sejak kecil.
Sore harinya, Selin datang dengan segala kearogansiannya. Membawa setumpuk baju kotor yang sengaja ia bawa dari apartemennya dan melemparkannya ke wajah Elena.
"Cuci ini dengan tangan, ya. Jangan pakai mesin. Aku nggak mau baju-baju mahal ini rusak gara-gara kecerobohan kamu," ucap Selin sambil tertawa sinis.
Elena hanya diam. Mengambil tumpukan baju itu, mencium aroma parfum Selin yang bercampur dengan aroma parfum Arkan di sana. Rasa mual kembali menyerang, tapi Elena berusaha menahannya. Elena berjalan menuju area cuci di belakang rumah.
Di sana, di tengah tumpukan cucian, Bi Inah mendekat sambil membawa segelas air putih.
"Nyonya... minum dulu. Nyonya pucat sekali."
Elena menatap Bi Inah. Dia teringat kata-kata Eros semalam. Bi Inah adalah salah satunya.
"Bi..." bisik Elena lirih. "Apa Eros benar-benar bisa menolongku? Ayahku... Arkan punya kendali penuh atas Ayahku."
Bi Inah mengangguk kecil sambil berpura-pura memeriksa cucian. "Tuan Eros sudah memikirkan itu, Nyonya. Orang-orang Tuan Eros sudah berada di sekitar rumah Ayah Nyonya di desa.
Mereka hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengevakuasi Ayah Nyonya ke tempat yang aman. Begitu Ayah Nyonya aman, Tuan Eros akan menjemput Nyonya."
Harapan itu kembali menyusup di antara celah-celah hatinya yang hancur. Elena meminum air itu, merasakan kesegaran yang mengalir di tenggorokannya. Menatap langit yang masih mendung. Di balik awan hitam itu, dia tahu ada matahari yang sedang bersiap untuk terbit.
"Sampaikan pada Eros, Bi..." Elena menjeda kalimatnya, matanya berkilat dengan keberanian yang baru.
"Katakan padanya, aku akan bertahan. Aku akan melakukan apa pun agar Arkan percaya bahwa aku sudah menyerah. Tapi katakan padanya... segera. Aku tidak tahu berapa lama lagi aku bisa tetap waras di sini."
Bi Inah mengangguk pelan, lalu segera menjauh saat mendengar suara teriakan Selin yang memanggil-manggil nama Elena dari arah balkon atas.
Elena menarik napas panjang. Mulai mencuci baju-baju Selin dengan tangan yang perih, namun kali ini, setiap kucekan kain terasa seperti persiapan untuk sebuah pembalasan.
Dia bukan lagi Elena yang hanya pasrah. Dia adalah Elena yang sedang menunggu waktu untuk menghancurkan sangkar emasnya sendiri.
gas up yng bnyk ka semoga makin sukses dikarya" nya aamiin 🤲
smngat up kaka🤗
smngat up kaka🤗🤗
semangat cerita smpai pnjang dan semangat update juga kaka
novel kaka good
semoga makin sukese disemua karya" nya
ceritanya bagus kak
dan mudah dipahami
semangat kaka untuk update iya