NovelToon NovelToon
CEO IMPIAN MONTIR IDAMAN

CEO IMPIAN MONTIR IDAMAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ais_26

Ia berlutut pelan di depan ibunya.

“Bu…” suaranya hampir tak terdengar.

Ibunya bergerak sedikit. Mata itu terbuka perlahan.

Butuh dua detik untuk menyadari.

“Ara?”

Ara tersenyum, air mata akhirnya jatuh.

“Iya Bu. CEO-nya belum dapat tapi anaknya pulang dulu”

Ibunya duduk tegak, lalu memeluknya tanpa kata.

“Eleh. Kaya raya siapa yang mau sama modelan kaya kamu tuh? Paling ada Mang Diman. Itu baru kaya tujuh turunan gak habis-habis. Mau Ibu jodohin?” katanya sambil ketawa terbahak-bahak

Ara langsung panik setengah jengkal

“Eh jangan Diman dong Bu! Nanti anak Ibu jadi istri ketiga terus Ara punya anak tiri enam!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 AKHIRNYA PULANG

“Pulang kamu Ara!”

Suara itu lagi. Dari ujung telepon, dari ujung kesabaran, dari ujung dunia menurut Ara.

“Ara lagi kerja Bu…”

“Kerja terus! Tujuh tahun gak pulang! Rumah ini bukan kos-kosan yang bisa kamu tinggalkan seenaknya!”

Ara menghela napas panjang.

“Bu… Ara lagi fokus. Mau cari CEO kaya raya dulu. Supaya hidup enak”

Di seberang sana hening dua detik.

“CEO?” suara ibunya naik satu oktaf “Kamu pikir hidup enak itu cuma dari suami CEO?”

“Ya kan lumayan Bu. Gak nyuci, gak masak, tinggal duduk manis.”

“Kamu duduk manis sekarang aja udah dimarahin, apalagi nanti!”

Setelah bujuk rayu selama satu minggu dan teror telepon yang datang nyaris setiap jam, Ara akhirnya muak.

Bukan karena tak sayang.

Justru karena terlalu sayang dan terlalu lelah untuk terus merasa bersalah.

Malam ini tanpa memberi tahu ibu maupun ayahnya, Ara mengirim email pengunduran diri. Singkat. Profesional. Dingin.

Jam 8 malam, Ara sudah berdiri di salah satu stasiun kota Jakarta. Dua koper besar di kanan kiri, ransel di punggung dengan jaket tipis yang melekat di tubuhnya dan barang sisanya ia kirim lewat ekspedisi karena terlalu banyak barang yang ia beli.

Tak lama kereta datang dengan suara bunyi yang panjang. Beberapa menit kemudian, ia sudah duduk di kursinya. Gerbong redup. Bau logam dan kopi instan bercampur.

Di perjalanan…

Ara menatap pantulan wajahnya di kaca jendela.

Tujuh tahun.

Tujuh tahun ia tidak pulang sama sekali dari kuliah sampai kerja tak pernah sekalipun terbesit untuk pulang walaupun hari lebaran tiba ia tetap punya alasan sehingga membuat dia gak pernah pulang ke kampung halaman.

“CEO kaya raya bye bye…” gumamnya pelan

Bahkan ia belum bertemu satu pun kandidat yang mendekati.

Kereta melaju membelah malam.

Beberapa jam kemudian, menjelang subuh, pengumuman terdengar lirih.

“Stasiun berikutnya Purwokerto”

Nama itu membuat dadanya bergetar.

Sebelum sampai di stasiun, Ara memberanikan diri menelepon ayahnya.

Telepon berdering lama.

“Halo…” suara ayahnya berat, masih separuh tidur.

“Yah…” suara Ara mengecil, mendadak seperti anak SD lagi

Hening dua detik.

“Ara?” kini suara itu sepenuhnya sadar “Ara kenapa? Jam segini....”

“Ara di kereta. Mau sampai Purwokerto. Jam empat kurang. Bisa jemput? Tapi… jangan kasih tahu Ibu dulu”

Di seberang sana sunyi. Hanya napas ayahnya terdengar.

“Kamu pulang?”

“Iya Yah”

Suara ayahnya berubah. Lebih pelan. Lebih hangat.

“Tunggu di depan pintu keluar timur. Ayah berangkat sekarang.”

Dan tanpa banyak tanya, telepon ditutup.

Kereta berhenti.

Jam menunjukkan pukul 04.03. Udara Purwokerto menggigit lembut. Aroma tanah basah dan angin subuh menyambutnya.

Ara turun dengan dua koper dan ransel. Stasiun terasa asing dan akrab sekaligus.

Lima belas menit kemudian, mobil ayahnya muncul dari kejauhan.

Ayahnya turun, masih memakai jaket rumah dan sandal.

Mereka saling tatap.

Ayahnya lebih kurus. Rambutnya lebih banyak putihnya.

“Ara” katanya pelan.

Ara tersenyum, tapi matanya sudah panas.

“Yah…”

Ayahnya tidak banyak bicara. Ia hanya mengambil salah satu koper, seperti dulu waktu Ara pulang sekolah dengan tas terlalu berat.

“Kamu kurusan” kata ayahnya.

“Ayah juga” balas Ara.

Mereka tertawa kecil.

Di tengah perjalanan pulang, jalanan masih sepi. Lampu-lampu rumah belum banyak menyala.

“Ayah belum kasih tahu Ibu,” kata ayahnya pelan. “Tapi Ibu lagi tidur di kamar kamu. Seminggu ini Ibu sering tidur di sana bahkan ayah sendirian di kamar”

Ara menunduk.

Mobil berhenti di depan rumah.

Rumah yang tak pernah berubah. Catnya masih hijau pucat. Pagar masih berderit saat dibuka.

Pintu depan sedikit terbuka.

Dan di ruang tengah, di sofa yang lampunya masih menyala redup kemudian ia ke kamarnya, ternyata ibunya tertidur dikamar Ara sambil memeluk ponsel. Ia beralasan bantal kesayangan Ara dan selimut kesukaan Ara waktu SMA.

Ara terdiam.

Ayah berbisik “Bangunin sendiri”

Langkah Ara terasa berat.

Ia berlutut pelan di depan ibunya.

“Bu…” suaranya hampir tak terdengar.

Ibunya bergerak sedikit. Mata itu terbuka perlahan.

Butuh dua detik untuk menyadari.

“Ara?”

Ara tersenyum, air mata akhirnya jatuh.

“Iya Bu. CEO-nya belum dapat tapi anaknya pulang dulu”

Ibunya duduk tegak, lalu memeluknya tanpa kata.

Pelukan itu bukan marah.

Bukan tuntutan.

Hanya rindu tujuh tahun yang akhirnya menemukan tempatnya.

Setelah ada drama pagi yang membuat ibu terharu sampai Ara gak bisa bernafas karena Ibunya memeluknya dengan erat seperti bantal kesayangan

Pagi ini rumah lebih ramai dari biasanya

Bukan karena tamu tapi karena ibu yang rindu anak perempuannya

Ibu Adis ibunya berdiri di dapur sambil menggoreng tempe, wajahnya masih berbinar karena Ara benar-benar pulang. Ayah membaca koran dengan kacamata turun setengah

Ara duduk di meja makan, memandangi nasi hangat yang sudah tujuh tahun cuma jadi foto di grup WhatsApp keluarga

“Ara ambil cuti berapa lama?” tanya Ibu santai

Ara terdiam

Ayah melirik di atas koran

“Ara… resign Bu”

Suara minyak mendesis lebih keras dari biasanya

“Apa?” Ibu menoleh cepat

“Bener resign Bu” jawab Ara pelan “Iya”

Hening sepersekian detik

Lalu yang terjadi di luar dugaan Ara—

“Ya Allah… Alhamdulillah…”

Ibu meletakkan spatula begitu saja, lalu benar-benar turun ke lantai dapur dan sujud syukur di atas keramik yang masih hangat

Ara dan Ayah sama-sama terpaku

“Bu… itu minyaknya…” Ayah menunjuk wajan

“Ih biarin!” sahut Ibu dari lantai, suaranya setengah tercekat haru “Doa Ibu tujuh tahun ini akhirnya dijawab!”

Ara membeku

“Lho… Bu? Bukannya Ibu biasanya marah kalau Ara bikin keputusan mendadak?”

Ibu bangkit perlahan, matanya berkaca-kaca

“Ibu mah pengin anaknya di rumah” katanya lirih “Ibu sama Ayah sudah tua. Anak cuma kamu. Kalau kamu kerja jauh terus… rasanya Ibu kayak gak punya anak. Sendirian dirumah itu gak enak gak ada alasan yang buat ibu marah marah”

Kalimat itu menghantam lebih dalam daripada omelan mana pun

Ara menunduk

“Ara kan sering telepon…”

“Telepon itu suara. Ibu butuh lihat kamu makan. Lihat kamu lewat depan dapur. Dengar kamu berantem kecil sama Ayah soal remote TV”

Ayah tersenyum kecil, pura-pura fokus ke koran

Ara menggigit bibirnya

“Tapi Bu… Ara belum punya kerjaan di sini”

“Ibu gak peduli kamu kerja apa” jawab Ibu cepat “Mau jualan cilok kek, mau buka warung kek, mau jadi presiden RT kek. Yang penting kamu di rumah”

Ayah akhirnya angkat suara

“Kita ini gak minta kamu kaya Ra. Kita cuma minta kamu ada”

Sunyi

Ara baru sadar—selama ini ia merasa dikejar tuntutan

Padahal yang mengejarnya bukan ambisi orang tua

Tapi rindu

“Bu…” suara Ara pelan “Kalau Ara gagal gimana?”

Ibu mendekat, memegang wajah anaknya

“Gagal itu biasa. Pergi tujuh tahun tanpa pulang itu yang bikin Ibu hampir gila”

Ara tertawa kecil di sela tangisnya

“Ara kira Ibu pengin Ara nikah cepat”

“Ya pengin juga” jawab Ibu spontan

“BU!”

“Tapi bukan itu yang utama!” Ibu cepat menambahkan “Ibu pengin kamu bahagia. Kalau bahagiamu bukan di Jakarta, ya sudah”

Ayah melipat korannya

“Kamu tahu gak” katanya pelan “Ibu tiap malam doanya cuma satu ‘Ya Allah, kalau memang bukan rezekinya Ara di sana, kembalikan anak saya’”

Ara menatap Ibu

“Serius Bu?”

Ibu mengangguk

“Ara pikir Ibu marah karena Ara belum jadi apa-apa”

Ibu menghela napas

“Ibu marah karena kamu jauh”

Tangis Ara akhirnya pecah lagi setelah ia tahan tahan supaya tidak nangis di depan orang tuanya

Ia memeluk Ibunya erat-erat

“Ara minta maaf Bu…”

Ibu membalas pelukan itu, menepuk punggungnya pelan

“Gak ada yang perlu dimaafkan. Sekarang kamu di sini. Itu sudah cukup”

Dari dapur, tempe mulai agak gosong

Ayah berdiri cepat

“Kalau terus sujud syukur, nanti rezekinya jadi arang”

Mereka bertiga tertawa

Pagi ini, untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, rumah itu terasa benar-benar lengkap

1
Irmha febyollah
lah kmren si Danu ngantarin gorengan ini ngantar motor SMA karyawan blg gak tau rumah si Ara.
Wati Anja
ko ga ada lanjutannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!