Di mansion mewah yang terasa seperti penjara berlapis emas, Aruna terjebak dalam dilema mematikan:
Menyelamatkan ibunya dengan tetap menjadi bagian dari dunia berdarah ini.
Atau melarikan diri sebelum ia benar-benar jatuh cinta pada sang bayi—dan ayahnya yang iblis.
"Dia memintaku memberikan hidup bagi anaknya, tanpa menyadari bahwa akulah yang sedang sekarat dalam genggamannya."
kepoin di malam Minggu, bikin malam Minggu mu lebih bermakna dengan sosok aruna dan dante
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina salsabila Alkhadafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Palung Keputusasaan dan Sumpah di Bawah Karang
Suara ombak yang menghantam dinding tebing kapur terdengar seperti raungan raksasa yang lapar. Di dalam gua bawah laut yang remang-remang, udara terasa lembap dan berbau lumut serta garam. Aruna bersandar pada dinding batu yang dingin, napasnya tersengal-sengal. Di pelukannya, Leonardo menggigil kecil, bukan hanya karena suhu yang turun drastis, tapi karena ia bisa merasakan ketakutan hebat yang memancar dari tubuh Aruna.
Dante berdiri beberapa meter di depan mereka, dekat pintu masuk gua yang sempit. Sosoknya hanya terlihat sebagai siluet hitam di bawah cahaya bulan yang memantul dari air laut. Ia memegang senjatanya dengan posisi siaga, matanya tidak pernah lepas dari jalan setapak di atas tebing yang baru saja mereka lalui.
"Dante... dia kedinginan," bisik Aruna. Suaranya gemetar. "Kita tidak bisa di sini selamanya. Leonardo bisa terkena hipotermia."
Dante tidak menoleh, namun bahunya tampak menegang. "Diamlah, Aruna. Jika kau bicara, suaramu akan bergema keluar. Para tentara bayaran itu memiliki mikrofon pengarah. Mereka sedang menyisir setiap inci garis pantai ini."
Aruna menunduk, menatap pergelangan tangannya. Tanda lahir berbentuk melati itu masih berdenyut merah redup. Rasa hangatnya kini menyebar hingga ke seluruh lengannya, memberikan sensasi aneh yang tidak alami. Ia menyadari bahwa selama Leonardo berada dalam dekapan eratnya, "kunci" itu akan terus aktif, mengirimkan sinyal biometrik yang—entah bagaimana—menjadi bagian dari sistem yang dirancang ayahnya.
"Kenapa ayahku melakukan ini padaku?" tanya Aruna lagi, kali ini lebih pelan, hampir seperti gumaman pada dirinya sendiri. "Kenapa dia menanamkan sesuatu yang berbahaya di dalam tubuh anaknya sendiri?"
Dante menurunkan senjatanya sejenak dan berbalik. Ia berjalan mendekati Aruna, lalu berlutut di depannya. Di kegelapan itu, mata Dante tampak berkilat oleh emosi yang rumit.
"Karena Adrian tahu dunia ini tidak mengenal belas kasihan," jawab Dante pelan. "Dia tahu bahwa jika dia hanya memberimu uang, kau akan dirampok. Jika dia memberimu emas, kau akan dibunuh. Tapi dengan menjadikanmu kunci fisik yang hidup, dia memaksaku—atau siapa pun yang menginginkan harta itu—untuk menjagamu tetap hidup, tetap sehat, dan tetap aman. Dia memberimu perlindungan lewat beban yang kau bawa."
"Perlindungan?" Aruna tertawa getir, meski air mata mulai menetes di pipinya. "Lihat kami sekarang, Dante! Kami terjebak di dalam gua, diburu seperti binatang. Jika ini yang dia sebut perlindungan, aku lebih baik hidup miskin di Jakarta daripada menjadi kunci berdarah ini."
Leonardo mulai merintih. Suara tangisannya yang kecil mulai membesar. Aruna segera mendekapnya lebih erat, mencoba menenangkan bayi itu. "Ssttt... sayang, jangan menangis. Ibu di sini."
"Dia butuh makan lagi," ujar Dante. "Dan kau butuh menenangkannya agar kuncinya tidak mendingin. Jika frekuensi detak jantungmu berubah drastis karena panik, kunci itu akan menganggap subjek dalam bahaya dan akan mengunci akses selama dua puluh empat jam. Kita tidak punya waktu sebanyak itu."
Aruna menatap Dante dengan pandangan benci. "Kau hanya peduli pada kuncinya."
"Aku peduli pada nyawa putraku!" Dante membentak pelan, suaranya tertahan namun penuh penekanan. "Dan saat ini, nyawanya tergantung pada ketenanganmu. Jadi, demi Tuhan, Aruna... susui dia. Lakukan tugasmu sebagai satu-satunya orang yang bisa menjaganya tetap hidup."
Aruna menggigit bibirnya hingga berdarah. Dengan tangan gemetar, ia membuka kancing kemejanya yang sudah koyak di beberapa bagian. Saat Leonardo mulai menyusu, sebuah keheningan yang janggal menyelimuti gua itu. Suara isapan bayi yang ritmis menjadi satu-satunya melodi di tengah ancaman maut.
Dante duduk di lantai gua di depan Aruna. Ia tidak lagi menatap ke luar, melainkan menatap Aruna dan Leonardo. Di saat itulah, di tengah keputusasaan yang mencekam, Aruna melihat sisi lain dari sang penguasa mafia. Dante tampak lelah. Sangat lelah. Garis-garis di wajahnya menunjukkan beban dari ribuan keputusan berdarah yang pernah ia buat.
"Dante," panggil Aruna pelan. "Jika kita keluar dari sini hidup-hidup... apa yang akan kau lakukan pada tanda ini?"
Dante menatap pergelangan tangan Aruna. "Begitu brankas itu terbuka, tanda itu akan kehilangan fungsinya. Itu hanya dirancang untuk sekali pakai. Setelah itu, kau akan menjadi Aruna yang biasa lagi. Tidak ada lagi yang akan memburumu."
"Dan Leonardo?"
Dante terdiam. Ia mengulurkan tangan, menyentuh kaki kecil Leonardo yang menggantung di dekapan Aruna. "Leonardo akan tumbuh menjadi seorang Valerius. Dia akan memiliki segalanya. Kekuasaan, kekayaan, dan perlindungan yang tidak pernah dimiliki anak lain."
"Tapi dia tidak akan memiliki ibunya," sahut Aruna tajam. "Kau akan memisahkan kami."
"Itu demi kebaikannya, Aruna. Di duniaku, memiliki kelemahan adalah hukuman mati. Dan kau adalah kelemahan terbesarnya."
Tiba-tiba, suara ledakan kecil terdengar dari arah pintu masuk gua. Batu-batu kecil berjatuhan dari atap gua.
"Mereka menggunakan granat cahaya!" Dante segera berdiri, menarik Aruna ke bagian gua yang lebih dalam. "Mereka sudah tahu kita di sini!"
"Dante, apa yang harus kita lakukan?!" Aruna mendekap Leonardo yang kini menangis kencang karena kaget.
"Kau harus berenang," ujar Dante singkat. Ia menunjuk ke arah kolam air di bagian belakang gua yang terhubung langsung dengan lubang di bawah tebing. "Ada celah di bawah sana yang menuju ke teluk sebelah. Aku akan menahan mereka di sini."
"Berenang? Dante, aku membawa bayi! Aku tidak bisa menyelam sambil menggendongnya!"
Dante mencengkeram bahu Aruna, matanya menatap tajam ke dalam mata Aruna. "Dengarkan aku! Tas bayi ini kedap air untuk tiga menit. Aku akan mengikatnya di punggungmu. Kau hanya perlu menahan napas selama tiga puluh detik untuk melewati celah itu. Marco sudah menunggu dengan sekoci di sisi lain."
"Kau gila! Aku tidak bisa melakukannya!"
"KAU HARUS BISA!" Dante mengguncang bahu Aruna. "Jika kau tinggal di sini, mereka akan membunuhmu dan mengambil tanganmu. Jika kau pergi lewat air, kau punya peluang sepuluh persen untuk selamat. Pilih, Aruna! Sepuluh persen atau nol!"
Suara langkah kaki berat mulai terdengar di mulut gua. Cahaya lampu senter mulai menyapu dinding batu.
"Cepat, Aruna! Pakai ini!" Dante memakaikan tas bayi kedap air itu pada Aruna. Ia memastikan Leonardo aman di dalamnya, memberikan oksigen darurat kecil yang terpasang di tas tersebut.
Aruna menangis, ketakutan luar biasa menyergapnya. Namun saat ia melihat Dante yang mulai mengisi ulang pelurunya dengan ekspresi pasrah, ia menyadari sesuatu.
"Kau tidak akan ikut?" tanya Aruna.
Dante tersenyum, sebuah senyuman yang sangat pahit namun penuh arti. "Seseorang harus tetap di sini untuk memastikan mereka tidak mengejarmu ke air. Pergilah, Aruna. Jaga anakku. Dan jaga kunci itu... demi ibumu."
Dante mendorong Aruna menuju pinggir kolam air yang gelap. Sebelum Aruna melompat, Dante menarik tengkuknya dan mencium dahi Aruna dengan sangat lama.
"Jika kau berhasil sampai ke daratan, pergilah ke alamat yang ada di saku tas bayi itu. Marco akan membawamu ke tempat aman. Jangan pernah kembali untukku."
"Dante—"
"LOMPAT SEKARANG!"
Aruna memejamkan mata, memeluk tas bayi di punggungnya, dan melompat ke dalam air dingin yang gelap. Dinginnya air terasa seperti ribuan jarum yang menusuk kulitnya. Ia mulai menyelam, mengikuti cahaya samar yang datang dari bawah batu karang.
Di atas air, ia mendengar suara tembakan yang bertubi-tubi. Suara teriakan Dante yang menggelegar menantang musuhnya menjadi suara terakhir yang ia dengar sebelum air menutupi seluruh pendengarannya.
Aruna berenang sekuat tenaga. Paru-parunya terasa akan meledak, namun ia terus memikirkan Leonardo. Ia terus memikirkan denyut di pergelangan tangannya. Aku harus hidup. Aku harus hidup.
Setelah apa yang terasa seperti selamanya, Aruna muncul ke permukaan di sisi lain tebing. Udara segar masuk ke paru-parunya dengan kasar. Ia terengah-engah, segera menarik tas bayi ke depan.
"Leo? Leo?!"
Ia membuka penutup tas dengan tangan gemetar. Leonardo menangis keras—suara yang paling indah yang pernah didengar Aruna. Bayi itu selamat. Bayi itu masih bernapas.
Di kejauhan, di atas tebing gua tadi, Aruna melihat api berkobar. Suara ledakan besar meruntuhkan mulut gua itu, menutup jalan bagi siapa pun untuk keluar atau masuk.
Aruna menangis tersedu-sedu di atas sekoci kecil yang tiba-tiba muncul di dekatnya. Marco berada di sana, menariknya naik dengan wajah yang pucat.
"Di mana Dante?" tanya Marco.
Aruna tidak menjawab. Ia hanya menatap gua yang sudah runtuh itu. Ia tahu, mulai malam ini, ia bukan lagi hanya ibu susu yang melarikan diri. Ia adalah pemegang kunci terakhir dari kekaisaran Valerius, dan ia baru saja kehilangan pria yang—tanpa ia sadari—telah menjadi pelindung sekaligus penjara bagi hatinya.
"Kita harus pergi, Nona," ujar Marco. "Dante sudah memberikan perintahnya."
Aruna mendekap Leonardo, memberikan ASI-nya kembali untuk menenangkan bayi yang terguncang itu. Sambil menatap api yang membara di tebing, Aruna bersumpah dalam hati: Ia akan membuka brankas itu, ia akan mengambil warisannya, dan ia akan memastikan tidak ada seorang pun yang bisa menyentuh Leonardo lagi.
Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan Aruna Salsabila kini bukan lagi seorang mangsa. Ia adalah sang pembawa kunci.