NovelToon NovelToon
Kupilih Keduanya

Kupilih Keduanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Harem
Popularitas:951
Nilai: 5
Nama Author: A19

Zevanya Putri Wiratmadja. Putri tunggal seorang konglomerat kaya di Kotanya. Hidupnya sangat sempurna karena memiliki keluarga harmonis dan juga kakak laki-laki yang tampan. Namun siapa sangka? Diam-diam Vanya malah menyukai kakak laki-lakinya itu.

Saat Vanya dengan nekat akan menyatakan perasaannya, kakak laki-lakinya malah mengenalkan seorang wanita yang ia claim sebagai pacarnya.

Di tengah kekacauan hatinya, Vanya bertemu dengan laki-laki menyebalkan yang makin membuat kacau hari-harinya.

Akankah Vanya memilih untuk melupakan kakaknya? Ataukah Vanya lebih memilih untuk memperjuangkan cintanya? Atau malah pindah haluan dan memilih laki-laki menyebalkan yang sayangnya sangat tampan itu?

ikuti terus kisahnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Keanehan Vano

Bel istirahat telah berbunyi, Tian dan dua sahabatnya datang menghampiri untuk menuju ke kantin bersama.

"Hari ini kamu mau makan apa sayang?" tanya Tian lembut. Mereka berenam berjalan saling berdampingan.

"Idih banget kata gw mah" sinis Vano sambil pura-pura ingin muntah.

"Iya iya yang udah sayang-sayangan" sindir Radit ikut-ikutan.

"Biarin aja kenapa sih? Kalian berdua sewot amat deh! Kalo pengen ya ikutin sana!" bela Vanya dengan nada ngegas.

"Yaudah ayo sama lo aja" ucap Vano dengan nada genit.

"Woi woi woi Vano! Sejak kapan lo jadi tukang rayu begitu?" Tian berseru heboh. Jarang sekali ia melihat Vano mode Buaya.

"Cih! Jauh-jauh sana lo! Gw alergi sama buaya buntung Afrika" Vanya mendorong pelan Vano agar sedikit menjauh darinya.

"Bukan gaya lo banget Van jadi cowok genit" Radit geleng-geleng kepala.

"Cie cie Vanya" ledek Lea.

"Lo tuh punya pacar nggak sih?" tanya Rain yang di tujukan untuk Vano.

"Kenapa?" tanya Vano.

"Kalo punya pacar jangan godain cewek lain. Jangan jadi cowok brengsek!"

"Anjay Savage" sambar Tian.

"Gw cuman becanda doang elah" balas Vano untuk Rain.

"Kalo dia baper gimana?" tanya Rain lagi.

"Ya kalo dia baper gw pacarin lah" jawab Vano enteng.

"Gw yang ogah" ucap Vanya ngegas.

"Udah woi udah. Kalian mau pesen apa?" Lea mencoba menengahi.

"Vanya, pesenin ya ke pak Joko. Biar kita dapet jalur fast track" ucap Lea lagi.

"Lo kata Film apa jalur fast track. Yaudah cepetan! Kalian semua mau apa?" tanya Vanya.

Tiba-tiba seorang laki-laki paruh baya dengan seragam khas seorang koki mendatangi meja mereka berenam. Laki-laki itu berdiri di belakang Vanya lalu membungkuk hormat.

"Nona, hari ini anda ingin memesan apa?" tanya laki-laki itu dengan sopan.

"Nona?" seru Trio Edun bersamaan.

"Ah itu.... Kenalin ini Pak Joko. Oh iya pak, jangan panggil saya nona. Kita kan sama-sama kerja untuk keluarga Wiratmadja" Vanya mengedipkan matanya 3 kali ke arah laki-laki yang bernama Pak Joko itu.

'Ini maksutnya apasih? Nona Vanya lagi akting kah? Saya ikutin aja deh dari pada di pecat ' batin Pak Joko terheran-heran.

"Hah iya iya betul. Maaf mbak Vanya. Saya kadang suka susah nge bedain mbak Vanya sama putri nya Pak Danu" ucap Pak Joko mengikuti sandiwara Vanya.

"Yaudah kalian semua mau pesen apa?" tanya Vanya mengalihkan pembicaraan.

'Vanya.... Vanya.... Demen banget sih lo sandiwara jadi orang miskin ' batin Lea.

Vano menatap lekat ke arah Vanya 'Kok gw malah jadi curiga sesuatu ya'

"Woi! Cepetan lo mau pesen apa? Ngapain lo liatin gw kayak gitu? Lo mau gw hajar hah!"

"Nggak nggak, Sorry. Yaudah gw pesen Mie Ayam aja 1 sama air mineral dingin 1"

Setelah mereka berenam selesai memesan makanan, Pak Joko pun pamit untuk menyiapkan makanan mereka semua.

"Vanya" panggil Radit.

"Apaan?" jawab Vanya cuek.

"Tadi kata orang itu, elo mirip sama anak nya bos lo. Emang iya ya?" tanya Radit penasaran.

"Eh iya tadi gw denger juga. Waktu itu juga kalian bilang kalau Rain ini masih sodaraan sama keluarga Konglomerat itu. Menurut lo gimana Rain, Vanya mirip ngga sama sodara lo?" Tian ikut-ikutan. Ia juga sangat penasaran dengan Putri tunggal keluarga kaya raya itu.

Rain menatap Vanya meminta pertolongan. Ia sungguh takut salah ucap dan membuat kesal sepupunya.

"Nanti kapan-kapan kalian juga bakalan tau. Anak bos gw pernah bilang kalo udah waktu nya dia bakalan mau tampil "

"Maksutnya bakalan di publish gitu kah?" tanya Vano.

"Iya" Vanya memperlihatkan wajah penuh keyakinan, sehingga Trio Edun tidak berani bertanya-tanya lagi.

"Oh iya sayang, nanti aku ada rapat Osis. Kamu pulang duluan aja ya" ucap Lea sambil menyenderkan kepala nya ke lengan kiri Tian.

"Nanti aku ada latihan basket sayang. Kemarin kita bertiga udah daftar ke pelatihnya. Katanya sih nanti kita mau di uji, kira-kira bakalan di masukin ke tim inti atau ke tim cadangan" jawab Tian sambil mengelus pelan kepala Lea yang menyender padanya.

"Wah jadi pengen nonton ih. Sumpah kalo kayak gini aku pasti bakalan susah buat fokus ke rapat nanti" wajah Lea langsung berubah cemberut.

"Woi Rain, tukeran dong. Lo kan tim Cheers, kalo tim basket mau tanding kalian juga bakalan latian juga kan?" Lea menegakkan tubuhnya. Kepala nya ia tolehkan ke arah Rain yang sedang bermain ponsel.

"Dih, dulu lo gw ajak masuk Cheerleader kagak mau. Nyesel kan lo sekarang" balas Rain tanpa mengalihkan pandangan nya dari layar ponsel.

"Vanya, nanti lo nonton gw ya biar gw makin semangat" ucap Vano tiba-tiba.

"Ogah. Lo pikir gw kurang kerjaan apa!" balas Vanya ngegas.

"Emang lo mau kemana sih Van?"

"Buset dah. Ini si Vano lagi becanda doang apa serius beneran pengen di liat Vanya sih?" ucap Tian dengan tatapan menggoda.

"Jujur aja deh lo, kalo emang beneran suka sama Vanya" lanjutnya menggoda lagi.

"Pacar lo boleh gw gampar nggak sih mulutnya?" tanya Vanya dengan wajah serius. Tangan kirinya mengelus tangan kanan yang mengepal seakan siap menghajar siapapun kapan saja.

Seketika Tian menelan kasar ludahnya 'Anjir lah nih cewe serem banget cok'

"Sayang, tolong aku" Tian menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Lea seolah meminta perlindungan.

"Mending lo pacarin Raza aja Van, biar nggak di godain buaya terus" ucap Rain sambil melirik ke arah Vano.

"Dari kemaren lo gencar banget nyuruh gw sama Raza. Di bayar berapa lo sama dia?" tanya Vanya mulai kesal.

"Dari sekian laki-laki di sekeliling kita, kayaknya cuman dia yang keliatan baik"

"Woi woi woi, jadi maksut lo gw nggak keliatan cowo baik-baik gitu?" Tian merasa tak terima.

"Tau tuh. Lo nggak liat muka gw udah kaya calon penghuni surga apa?" Vano ikut-ikutan tak terima.

"Gw nyimak aja deh" ucap Radit cuek.

"Yeyyy makanan datang. Bodo amat lah sama kalian semua. Makan nomer satuuuu" sorak Lea saat melihat beberapa pelayan yang datang.

"Kalian semua diem! Mending kita makan aja biar kenyang" perintah Lea. Semua makanan sudah tertata rapi di atas meja mereka.

Mereka pun menurut dengan ucapan Lea. Saat tengah makan dengan damai, tiba-tiba Raza menghampiri meja mereka.

"Vanya, nanti lo ada rapat PMR ngga?" tanya Raza dengan nada lembut seperti biasanya.

"Kenapa?" tanya Vanya cuek.

"Nanti gw ada tanding basket. Lo nonton ya, gw pengen masuk ke Tim Basket sekolah demi elo Vanya" Raza berdiri diantara kursi yang Vanya duduki dan Vano yang duduk di sebelah Vanya.

'Nih cowo mau nya apasih?' tanya Vano di dalam hati.

"Lah ngapain? Emang gw nyuruh elo?"

"Plisss Van.... Kalo nanti gw bisa jadi tim inti, lo mau ya dinner sama gw" mohon Raza.

"Hah? Tapi.... "

"Plisss Van" potong Raza cepat.

"Hm. Tapi nanti, kalo gw udah selesai rapat" balas Vanya sedikit ketus.

"Iya iya ngga papa Van. Beneran ya gw tunggu" raut wajah Raza langsung berubah sumringah.

"Yaudah kalo gitu gw mau ke kelas dulu. Tapi beneran ya Van, nanti ke lapangan"

"Iya iya ah. Udah sana! Gw mau makan" usir Vanya.

Raza pun meninggalkan meja mereka dengan hati berbunga-bunga.

"Kok lo iyain sih? Tadi gw yang nyuruh lo nggak mau" ucap Vano tiba-tiba dengan nada sedikit ngegas.

Semua mata di meja itu menatap ke arah Vano dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.

"Kok jadi lo yang nggak terima?" tanya Tian heran.

"Sumpah lo aneh banget Vano" Radit geleng-geleng kepala.

"Eh lupain aja ucapan gw tadi. Mungkin gw habis salah minum obat"

"Ck ck ck, aneh" Tian berdecak sambil geleng-geleng kepala.

"Pacaran aja udah kalian berdua. Gw liat-liat kalian tuh cocok. Sama-sama plenger nya" ledek Lea sambil menyedot es teh yang tinggal setengah gelas.

'Sial! Gw tuh sebenernya kenapa sih? Bikin malu aja' gerutu Vano di dalam hatinya.

"Gw ke kelas duluan ya, mau ngembaliin buku ke perpustakaan" Vanya mulai beranjak berdiri. Bahkan sebelum teman-teman nya sempat membalas, Vanya sudah pergi meninggalkan kantin.

"Kenapa tuh anak?" tanya Rain heran.

"Gara-gara Vano palingan" jawab Tian dengan wajah tanpa dosa.

"Lah, napa jadi gw anjir?"

"Terus siapa lagi? Masa gw sih?" Radit yang sedari tadi lebih banyak diam ahirnya ikutan menimpali.

"Au ah gelap. Gw mau balik ke kelas aja daripada di salahin mulu. Hati moengil ku sungguh terluka" Vano ikutan meninggalkan kantin dengan wajah pura-pura terluka.

"Alay banget temen lo" ucap Rain.

"Sebenarnya gw males ngakuin nya" balas Radit.

"Ah yaudah lah. Kita balik aja yuk" ajak Lea.

"Sayang, ikuttt" rengek Tian.

"Lebih males lagi liat mereka" Rain dan Radit pun ahirnya meninggalkan Lea dan Tian begitu saja.

"Woi Rain! Kok gw ditinggal sih!" teriak Lea hingga membuat seisi kantin melirik ke arahnya.

"Yaudah kita ke kelas bareng aja yuk sayang. Gandengannnn" rengek Tian lagi sambil mengambil tangan Lea untuk ia gandeng.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!