Zivara Amaira adalah gadis yatim piatu yang tinggal bersama paman dan bibinya. Tempat yang seharusnya menjadi perlindungan justru berubah menjadi luka. Sebuah fitnah yang direncanakan oleh sepupunya membuat Zivara harus pergi. Tanpa diberi kesempatan membela diri, Zivara diusir dan dipaksa menelan hinaan atas kesalahan yang tak pernah ia lakukan.
Di sisi lain, Arga Aksara Wisesa adalah pria dingin dan misterius, yang tak memikirkan cinta. Ia hanya fokus pada pekerjaan dan keponakan kecilnya yang harus kehilangan kedua orang tuanya akibat kecelakaan setahun yang lalu.
Dua jiwa yang berbeda dipertemukan oleh takdir. Namun masa lalu, ambisi orang-orang di sekitar mereka, dan rahasia yang perlahan terkuak mengancam kebahagiaan yang baru saja tumbuh.
Akankah cinta mampu menyembuhkan luka yang terlalu dalam, atau justru membuka pintu bagi pengkhianatan yang lebih menyakitkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra za, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Sifat Julia
“Ar Arga… kamu sudah pulang?”
Suara Julia terdengar gugup saat melihat sosok pria itu berdiri di ambang pintu kamar.
“Apa yang baru saja kau katakan, Julia?” tanya Arga dingin. Suaranya rendah, namun sarat kemarahan.
“A aku tidak mengatakan apa-apa,” sanggah Julia berusaha membela diri “Aku hanya menemani Luna. Dia sedang demam.”
Arga tersenyum sinis. Langkahnya perlahan mendekati Julia, tatapannya tajam seolah menguliti gadis itu.
“Kau pikir aku tidak mendengar apa pun?”
Julia terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa, Julia yakin semakin ia menjawab semakin terlihat kesalahannya.
“Jadi selama ini… begini sifatmu yang sebenarnya?” lanjut Arga pelan, namun justru terdengar mengerikan.
“Aku bisa menjelaskan, Arga. Ini tidak seperti yang kamu bayangkan,” ucap Julia mencoba meraih tangan Arga.
Arga menepisnya.
Julia tidak menyerahkan, "kamu tahu kan aku begitu menyayangi Luna, mana mungkin aku melakukan yang tidak-tidak padanya. Kalau kamu tidak percaya kamu tanya kan saja pada pelayan." Julia berusaha meyakinkan Arga.
“Aku tidak butuh penjelasanmu. Sekarang juga, keluar dari rumahku.”
Nada suaranya tegas, tanpa celah untuk dibantah.
Rasa bersalah langsung memenuhi dada Arga. Selama ini ia terlalu percaya pada Julia. Ia membiarkan topeng kebaikan itu menipu matanya, dan hampir melukai satu-satunya keponakan yang harus ia lindungi dan sayangi.
“Maafkan aku, Arga. Tolong dengarkan aku dulu”
“KELUAR!” teriak Arga keras, tanpa memberikan kesempatan pada Julia.
Julia terjingkat kaget. Ia belum pernah melihat Arga semarah ini. Dengan langkah gontai dan wajah menahan kesal, ia akhirnya pergi. Dalam hatinya, ia berjanji akan kembali. Ia tak akan menyerah semudah ini.
Di ranjang, Luna hanya terdiam. Namun wajah kecilnya tampak lebih tenang. Ia tidak takut melihat kemarahan Arga. Ia justru merasa lega. Akhirnya, Om nya tahu siapa Julia sebenarnya.
Begitu pintu tertutup, Arga mengembuskan napas panjang, mencoba meredakan amarahnya. Ia lalu menoleh dan melangkah mendekati Luna.
“Om…”
Suara Luna lirih.
Arga duduk di sisi ranjang, lalu langsung memeluk keponakannya erat.
“Luna, maafkan Om. Maafkan Om karena lalai. Kenapa kamu tidak pernah bercerita?” ucap Arga penuh penyesalan.
Luna membalas pelukan itu.
“Ini bukan salah Om. Tante Julia memang pandai menutupi sifat aslinya,” jawab Luna lembut.
"Yang penting sekarang Om sudah tahu bagaimana sifat Tante Julia sebenarnya." Kata Luna masih dalam pelukan Arga.
“Kenapa Om sudah pulang?” tanya Luna kemudian. “Padahal Luna sudah mengatakan pada Bi Rina, supaya tidak memberi tahu Om?”
“Bukan Bi Rina,” jawab Arga. “Bi Wina yang menelepon Om. Dia bilang Luna demam dan Julia datang ke rumah. Makanya Om langsung pulang.”
Arga mengusap rambut Luna.
“Dan saat sampai, Om sengaja tidak langsung masuk. Agar Om bisa melihat apa yang Julia lakukan.”
Luna mengangguk pelan, lalu menatap Omnya.
“Om akan kembali ke kantor?”
“Iya,” jawab Arga. “Masih ada pekerjaan penting yang harus Om selesaikan. Kenapa?”
“Luna ikut, ya, Om,” pinta Luna pelan.
Arga menggeleng lembut.
“Bukan Om tidak mau mengajak Luna. Tapi Luna masih demam. Luna istirahat dulu di rumah, ya.”
“Tapi Luna sudah mendingan,” rengek Luna berharap Arga berubah pikiran.
“Tidak,” kata Arga tegas. “Luna istirahat hari ini. Kalau sudah sembuh, besok Luna ikut Om ke kantor.”
Wajah Luna yang tadinya ditekuk langsung berseri.
“Benar, Om? Besok Luna boleh ikut?”
“Iya,” jawab Arga sambil tersenyum. “Om janji.”
"Yeee, janji ya om", ucap Luna kegirangan.
---
Julia melangkah keluar dari rumah Arga dengan langkah cepat. Pintu ditutupnya dengan keras, cukup untuk membuat para pelayan saling berpandangan heran.
“Kenapa Nona Julia kelihatannya menahan marah?” bisik salah seorang pelayan.
“Tidak usah dipikirkan,” sahut Bi Wina tenang. “Nanti juga kalian akan tahu.”
Mendengar penjelasan Bi Wina para pelayan pun tidak ambil pusing. Meskipun ada sebagian yang merasa penasaran, karena selama ini Julia terlihat begitu baik. Kenapa sampai ia pulang dengan keadaan seperti itu.
Di luar rumah, Julia langsung masuk ke mobilnya. Tangannya mengepal di atas setir.
“Aku tidak akan menyerah begitu saja,” gumamnya penuh dendam, lalu melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
Tak lama kemudian, mobil Julia memasuki halaman rumahnya. Ia turun dengan wajah masam dan langkah penuh amarah, lalu langsung naik ke lantai atas tanpa menyapa siapa pun.
“Julia, kamu kenapa?” tanya Diana heran. “Cepat sekali pulangnya. Biasanya kalau sudah ke rumah Arga, kamu bisa seharian di sana.”
Julia tak menjawab. Ia langsung naik kelantai atas dan menghilang di balik pintu kamarnya. Diana hanya diam ditempat tanpa bermaksud mengejar Putri nya.
Waktu makan malam telah tiba, namun Julia tak kunjung keluar.
“Julia ke mana, Ma? Kenapa belum turun?” tanya Steven.
“Mungkin masih di kamar,” jawab Diana. “Tadi siang dia pulang dengan wajah masam. Mama tanya, dia langsung naik tanpa bicara.” lanjut Diana mengabarkan perilaku aneh Julia siang tadi
“Ada apa sebenarnya?” Steven jadi penasaran.
“Mama juga nggak tahu, pa. Mama tanya Julia langsung naik kekamar nya. Papa tunggu sebentar ya! Biar Mama panggil dulu.”
Steven hanya mengangguk tanda setuju.
Diana berjalan ke lantai atas dan mengetuk pintu kamar Julia.
Tok...Tok...Tok
Pintu terbuka. Julia berdiri dengan wajah kesal, matanya masih memancarkan kekesalan.
“Sudah waktunya makan malam. Ayo turun,” ucap Diana lembut.
“Julia tidak lapar, Ma. Kalian makan saja dulu,” jawab Julia dingin.
“Kamu kenapa? Sejak pulang tadi kelihatannya kesal sekali,” tanya Diana cemas.
“Arga tahu apa yang aku lakukan pada keponakannya,” jawab Julia akhirnya.
“Apa?”
Suara Steven terdengar. Ia rupanya menyusul Diana karena merasa terlalu lama dan penasaran dengan apa yang terjadi pada putri nya.
“Bagaimana bisa ketahuan?” tanya Steven penuh penekanan
“Aku juga tidak tahu, Pa!” balas Julia emosi. “Aku tidak menyangka Arga pulang siang itu. Tanpa sepengetahuanku, dia sudah berdiri lama dan mendengar semuanya.”
“Lalu?” tanya Diana
“Dia langsung mengusirku,” jawab Julia lirih, namun penuh luka.
“Habis sudah,” desah Steven frustasi. “Hilang kesempatan kita menjadi bagian dari keluarga Wisesa!”
Steven menatap putrinya tajam.
“Papa tidak mau tahu. Kamu harus membujuk Arga agar memaafkanmu. Masa mendekati anak kecil saja kamu tidak bisa? Padahal tinggal selangkah lagi kamu bisa menjadi nyonya di rumah itu!”
Julia dan Diana terdiam.
Beberapa saat kemudian, Julia mengangkat wajahnya.
“Julia akan berusaha lagi, Pa,” ucapnya penuh tekad. “Julia juga tidak mau kehilangan Arga begitu saja.”
“Makanya,” sahut Diana sambil menghela napas, “kamu jangan ceroboh. Sekali lagi kamu salah langkah, semuanya bisa benar-benar berakhir.”
Julia mengepalkan tangannya perlahan.
Di matanya, ambisi itu belum padam, justru semakin menyala.