NovelToon NovelToon
JANJI CINTA SELAMANYA

JANJI CINTA SELAMANYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Teen Angst / Romansa / Slice of Life / Konflik etika
Popularitas:690
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Vanya adalah putri kesayangan Hendra, seorang pria kaya yang memuja status sosial dan kasta di atas segalanya. Hidup Vanya terjepit dalam aturan emas ayahnya yang kaku, hingga sebuah tabrakan di pasar mengubah dunianya selamanya.

Arlan adalah pemuda liar, mandiri, dan hanya berbakti pada ibunya, Sujati. Sebagai seorang peternak dan penjual susu, Arlan dianggap "sampah" oleh Hendra. Namun, Arlan tidak pernah menundukkan kepala. Ia justru menantang dunia Vanya yang palsu dengan kejujuran dan cinta yang membara.

Saat cinta mulai tumbuh di antara perbedaan kasta, Hendra menyiapkan rencana keji untuk memisahkan mereka. Perpisahan tragis, pengorbanan nyawa, hingga munculnya Rayhan, seorang tentara gagah yang menjadi bagian dari cinta segitiga yang menyakitkan, akan menguji janji mereka.

Ini bukan sekadar cerita cinta biasa. Ini adalah tentang janji yang ditulis dengan air mata. Apakah Arlan dan Vanya bisa memenuhi Janji Cinta Selamanya mereka di tengah badai kasta dan rahasia masa lalu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: MURKA SANG PENGUASA SIMLA

BAB 4: MURKA SANG PENGUASA SIMLA

Matahari baru saja tenggelam di balik perbukitan Simla, meninggalkan semburat merah yang tampak seperti darah di cakrawala. Namun, bagi Vanya, keindahan itu terasa mencekam. Begitu ia melangkah masuk ke dalam rumah, keheningan yang tak wajar menyambutnya. Tidak ada suara tawa Gita atau gumaman Nenek Uma. Hanya ada suara detak jam besar di ruang tamu yang terdengar seperti vonis mati.

Di tengah ruangan, Hendra duduk di kursi kebesarannya. Di depannya, di atas meja marmer yang dingin, tersebar beberapa lembar foto.

Vanya mendekat dengan kaki gemetar. Dunianya serasa runtuh saat ia melihat foto-foto itu: fotonya saat sedang bersandar di dada Arlan, fotonya saat sedang tertawa bersama Sujati, dan fotonya saat menatap Arlan dengan pandangan yang tak bisa berdusta.

"Ke perpustakaan, katamu?" suara Hendra sangat rendah, namun sanggup menggetarkan pilar-pilar rumah itu.

"Ayah... aku bisa jelaskan..." bisik Vanya, air mata mulai menggenang.

Hendra berdiri perlahan, langkah kakinya mendekat seperti harimau yang siap menerkam. "Aku membesarkanmu dengan sutra, Vanya! Aku memberimu nama yang paling dihormati di seluruh Simla! Dan kau... kau menyeret namaku ke lumpur hanya untuk menemui binatang penjual susu itu?"

"Dia bukan binatang, Ayah! Dia manusia yang punya harga diri!" teriakan Vanya pecah.

PLAK!

Satu tamparan keras mendarat di pipi Vanya. Ini adalah pertama kalinya Hendra memukul putri kesayangannya. Vanya terjatuh ke lantai, tangannya menyentuh pipinya yang panas, namun rasa sakit di hatinya jauh lebih hebat. Santi yang melihat dari kejauhan hanya bisa menangis sambil menutup mulut, tidak berani melawan suaminya.

"Harga diri?" Hendra mendesis, ia berjongkok di depan Vanya, mencengkeram dagunya dengan kasar. "Akan kutunjukkan padamu apa yang terjadi pada orang rendahan yang mencoba menyentuh milik keluarga Kashyap. Gani! Bawa dia ke sini!"

Di luar, hujan mulai turun mengguyur Kota Simla dengan derasnya. Di halaman depan yang luas, sebuah pemandangan mengerikan tersaji. Arlan telah diseret oleh anak buah Hendra dan Gani. Kedua tangan Arlan diikat pada tiang kayu di tengah guyuran hujan. Ia tidak mengenakan baju, tubuhnya penuh dengan luka memar, namun matanya... matanya tetap menatap tajam, tidak menunjukkan secuil pun rasa takut.

Hendra menarik Vanya ke balkon agar ia bisa melihat segalanya. "Lihat, Vanya! Lihat pahlawanmu ini!"

"Arlaaan!" jerit Vanya histeris. Ia mencoba berlari turun, namun Hendra memegangi lengannya dengan kuat. "Ayah, hentikan! Aku mohon! Ini salahku, bukan salahnya!"

Hendra memberi isyarat pada Gani. Gani mengambil sebuah cambuk kulit dan mulai menghantamkannya ke punggung Arlan.

CRAAAK!

Setiap kali cambuk itu mengenai kulit Arlan, Vanya berteriak seolah-olah cambuk itu mengenai tubuhnya sendiri. Namun Arlan tidak berteriak. Ia hanya mengerang rendah, otot-ototnya menegang, dan darah segar mulai bercampur dengan air hujan, mengalir di punggungnya yang kokoh.

"Minta ampun!" teriak Gani sambil terus mencambuk. "Minta ampun pada ayahku dan berjanji kau akan pergi dari Simla!"

Arlan mengangkat kepalanya yang basah. Melalui rasa sakit yang luar biasa, ia menatap ke atas, ke arah balkon tempat Vanya berdiri. Ia tersenyum—sebuah senyuman tipis yang penuh dengan tantangan.

"Aku tidak... akan pernah... meminta ampun pada pria yang hatinya lebih busuk dari kotoran sapi," ucap Arlan terbata-bata namun penuh penekanan.

Hendra semakin murka. Ia mengambil tongkat kayu dari salah satu pengawalnya dan turun ke bawah. Ia menghampiri Arlan yang sudah lemas.

"Kau pikir kau pemberani?" Hendra menghantamkan tongkat itu ke perut Arlan. "Kau hanyalah debu di bawah sepatuku! Aku bisa melenyapkanmu dan ibumu dalam satu malam, dan tidak akan ada satu orang pun di Simla ini yang berani bertanya ke mana kalian pergi!"

Hendra kemudian beralih pada Vanya yang sudah berlutut di balkon sambil meronta-ronta. "Dengar Vanya! Jika kau bertemu dengannya lagi, atau bahkan menyebut namanya lagi, aku tidak akan hanya mencambuknya. Aku akan memastikan ibunya menderita di jalanan!"

Setelah Hendra dan anak buahnya masuk ke dalam, meninggalkan Arlan yang terkulai lemas dalam ikatan, Vanya berhasil melepaskan diri dari pegangan ibunya. Ia berlari menembus hujan, kakinya bertelanjang dada menginjak kerikil tajam hingga ia sampai di depan Arlan.

"Arlan... Arlan, maafkan aku..." Vanya menangis sejadi-jadinya. Tangannya yang gemetar mencoba membuka ikatan tali di tangan Arlan. "Ini semua gara-gara aku. Seharusnya aku tidak pernah datang ke rumahmu."

Arlan membuka matanya perlahan. Wajahnya pucat pasi, namun saat melihat Vanya, ada binar yang kembali muncul. "Jangan... jangan menangis, Vanya. Luka ini akan sembuh..."

"Kenapa kau tidak meminta maaf saja? Kenapa kau begitu keras kepala?"

Arlan menyentuh wajah Vanya dengan tangannya yang terikat, menyeka air mata gadis itu dengan ibu jarinya yang kasar. "Karena jika aku menyerah... maka ayahmu benar. Bahwa uang bisa membeli segalanya, termasuk kebenaran. Aku tidak akan membiarkan dia memenangkan itu."

"Aku akan membawamu pergi dari sini," ucap Vanya penuh tekad.

"Tidak," Arlan menggeleng. "Pulanglah. Jika dia melihatmu di sini, dia akan semakin menyakitimu. Pergilah, Vanya. Tapi ingat satu hal..." Arlan terbatuk, mengeluarkan sedikit darah. "Dia bisa menghancurkan tubuhku, tapi dia tidak bisa menyentuh apa yang aku rasakan padamu. Di Simla ini, hanya kaulah satu-satunya hal yang murni yang pernah aku temukan."

Vanya mencium tangan Arlan yang penuh luka, membiarkan air matanya jatuh bersatu dengan darah pria itu. Di bawah langit Simla yang kelam dan badai yang mengamuk, sebuah ikatan darah telah terbentuk. Ini bukan lagi sekadar rasa penasaran seorang gadis kaya, melainkan sebuah Janji Cinta yang ditulis dengan rasa sakit.

Vanya berdiri, menatap rumah megahnya yang kini tampak seperti neraka. Ia menoleh ke arah Arlan untuk terakhir kalinya malam itu. "Aku berjanji, Arlan. Apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah membiarkan dia menang atas kita."

1
falea sezi
mending bawa pergi jauh deh arlan
falea sezi
ksian bgt arlan knp semua novel mu isinya sedih teros kapan bahagia nya q baca semua nya tp isinya menderita trs jd g mood baca pdhl mau ksih hadiah jd males
falea sezi
menyimakkk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!