Sejak kecil, Ariya Raditya sudah mengikat Arumi Devita Ningrum dengan sebuah janji.
“Kamu harus jadi pengantinku.”
Janji yang terdengar polos saat kanak-kanak itu berubah menjadi luka saat dewasa. Hasutan, salah paham, dan pengkhianatan membuat mereka saling membenci, hingga Ariya memilih menikahi perempuan lain.
Namun takdir tidak pernah lupa pada janji lama. Sebuah kecelakaan membuat Ariya lumpuh. Calon pengantinnya kabur di hari pernikahan.
Dan Arumi… dipaksa menggantikan posisi yang seharusnya bukan miliknya. Menikahi pria yang dulu ia cintai. Menjadi istri dari lelaki yang kini membencinya.
Terikat oleh janji masa kecil yang kembali ditagih dengan kejam. Apakah ini akhir dari luka… atau awal dari cinta yang lebih menyakitkan?
Penasaran? Yuk ikuti cerita Ramanda dan jangan lupa berikan dukungannya ya terimakasih 🙏🏻.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EGO YANG MENJULANG TINGGI.
Suasana ruang makan di kediaman Ferdiansyah malam itu terasa sangat mencekam. Denting sendok yang beradu dengan piring porselen terdengar begitu nyaring karena tidak ada satu pun orang yang berniat membuka suara. Ferdiansyah menatap kursi kosong di samping anaknya, lalu beralih menatap Heny dengan kening berkerut.
"Mah, apakah Arumi belum pulang juga? Ini sudah lewat jam makan malam," tanya Ferdiansyah dengan suara rendah namun tegas.
Heny menghentikan aktivitas makannya sejenak dan menghela napas panjang. "Belum, Pah. Kata supir yang tadi mengantarnya, Arumi ada jadwal operasi mendadak. Mungkin selesainya larut malam."
Ferdiansyah terdiam. Pandangannya beralih pada Ariya yang duduk tepat di hadapannya. Pria itu tampak tenang, bahkan terlihat sangat menikmati suapan demi suapan makanannya tanpa menghiraukan ketidakhadiran istrinya. Tak ada sedikit pun raut cemas atau rasa ingin tahu di wajah Ariya tentang keadaan Arumi yang baru saja menjalani hari pertama sebagai istrinya di tengah kondisi fisik yang lelah.
Melihat ketidakpedulian itu, Ferdiansyah tiba-tiba meletakkan sendoknya dengan kasar dan bangkit dari duduknya. "Pah? Mau ke mana? Makanannya belum habis," tanya Heny terkejut.
"Papa mendadak kehilangan selera makan, Mah. Malas rasanya duduk di satu meja dengan orang angkuh yang tidak punya perasaan sama sekali," sahut Ferdiansyah tajam sambil menatap Ariya sekilas, lalu bergegas pergi meninggalkan ruangan itu.
Heny hanya bisa mengusap dadanya pelan, mencoba meredam sesak. Ia menatap Ariya yang kini berhenti mengunyah namun tetap terlihat tidak merasa bersalah. Ariya meletakkan sendoknya, lalu menatap sang ibu dengan tatapan menuntut.
"Kenapa Papa dan Mama berubah secepat itu? Mengapa kalian semudah itu memaafkan Arumi setelah apa yang dia lakukan lima tahun lalu?" tanya Ariya dengan nada penuh kebencian.
Heny perlahan bangkit dari kursinya, matanya berkaca-kaca menatap putra tunggalnya. "Itu karena kami sudah mengetahui kebenarannya, Ariya. Kami bukan orang yang ingin memelihara kebencian di atas kebohongan."
Heny melangkah mendekat, lalu menepuk pundak Ariya dengan lembut namun penuh penekanan. "Jika kamu tidak ingin menyesal terlalu dalam di kemudian hari, maka carilah kebenaran itu sendiri, Nak. Jangan biarkan egomu menghancurkan dirimu dan wanita yang seharusnya kamu lindungi."
Setelah mengucapkan kalimat yang terdengar seperti peringatan itu, Heny pun pergi, meninggalkan Ariya yang mematung sendirian di ruang makan yang dingin. Ariya tertegun, otaknya mulai berputar memikirkan mengapa semua orang di sekitarnya—ayahnya, ibunya, bahkan Bisma—mengatakan hal yang hampir sama.
"Apa yang sebenarnya mereka ketahui? Mengapa semua orang membela wanita munafik itu?" gumamnya lirih. Namun, bayangan Arumi yang turun dari motor pria lain kembali melintas di benaknya, membakar rasa penasaran itu dengan api kebencian. "Cih, tidak mungkin. Aku tidak akan tertipu lagi oleh wajah polos itu."
Ariya memutar kursi rodanya menuju lift khusus yang telah dipasang di rumah itu agar ia bisa mengakses lantai dua. Saat ia sampai di balkon lantai atas, telinganya menangkap suara raungan mesin motor yang berhenti tepat di depan gerbang rumahnya. Dengan rasa ingin tahu yang besar, ia mengintip dari balik pagar balkon.
Di bawah sana, tampak Arumi turun dari sebuah sepeda motor. Pria yang memboncengnya tampak memberikan helm kepada Arumi dengan gerakan yang sangat akrab bagi Ariya. Amarah Ariya kembali tersulut.
"Pantas saja dia menolak dijemput supir. Rupanya dia ingin berduaan dengan kekasih gelapnya," desis Ariya dengan kepalan tangan yang menguat.
Tak lama kemudian, Arumi melangkah masuk ke dalam rumah. Langkah kakinya terdengar berat, wajahnya tampak sangat pucat di bawah sinar lampu lobi. Saat ia masuk ke ruang tamu, Heny sudah menunggunya dengan wajah cemas.
"Arum, kamu sudah pulang? Ayo makan dulu, Mama sudah siapkan makanan hangat untukmu," sambut Heny dengan nada bicara yang sangat lembut.
Arumi memaksakan sebuah senyum tipis. "Maaf, Tante. Tadi Arum sudah makan sedikit di kantin setelah selesai operasi. Arum hanya butuh istirahat sekarang."
Wajah Heny mendadak berubah sedih. "Apakah kami benar-benar tidak pantas untuk menjadi mertuamu, Arum? Mengapa kamu masih memanggil kami Tante dan Om?"
Arumi tersentak, ia tampak merasa sangat bersalah. "Ah, bukan begitu, Tante. Eh, maksud Arum, Mama. Maafkan Arum, Arum hanya belum terbiasa dengan status baru ini."
Ferdiansyah yang kebetulan lewat segera menengahi. "Sudahlah Mah, biarkan Arumi istirahat. Dia terlihat sangat lelah. Pergilah ke kamar, Arum."
Setelah mendapatkan izin, Arumi segera melangkah menuju kamar Ariya. Begitu pintu terbuka, ia melihat Ariya sedang berusaha dengan payah untuk berpindah dari kursi roda ke atas tempat tidur. Refleks, Arumi melangkah maju untuk membantu, namun gerakannya terhenti saat ia teringat rasa panas di pipinya pagi tadi. Ia mengurungkan niatnya dan memilih untuk masuk ke kamar mandi.
Gedebuk!
Suara benda berat jatuh ke lantai terdengar sangat keras. Arumi yang baru saja melepas hijabnya di depan cermin kamar mandi langsung tersentak. Tanpa berpikir panjang, ia berlari keluar dengan rambut panjangnya yang terurai indah. Ia mendapati Ariya sudah tersungkur di lantai samping tempat tidur.
"Ariya! Kamu tidak apa-apa?" seru Arumi panik sambil berjongkok untuk mengangkat tubuh suaminya.
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotor itu!" bentak Ariya sambil berusaha menepis tangan Arumi. "Tanganmu habis memegang laki-laki lain di luar sana, jangan bawa kuman itu ke tubuhku!"
Arumi tidak mempedulikan hinaan itu. Ia tetap mengerahkan seluruh tenaganya untuk menarik tubuh Ariya. Dengan susah payah, ia berhasil menaikkan Ariya kembali ke atas kasur. Ariya yang tadinya ingin terus memaki, mendadak kehilangan kata-kata.
Matanya terpaku pada sosok wanita di hadapannya. Arumi tidak memakai hijab. Sejak SMA, Ariya tidak pernah lagi melihat rambut teman masa kecilnya itu. Kini, ia melihat rambut hitam pekat yang begitu panjang dan tampak sangat lembut tergerai menutupi bahu Arumi yang mungil. Ada aroma lavender yang lembut tercium saat rambut itu tertiup angin dari jendela.
Ariya tertegun. Kecantikan Arumi tanpa hijab seolah memukul kesadarannya sejenak. Namun, ego pria itu terlalu tinggi untuk mengakui kekagumannya.
Setelah memastikan Ariya aman di atas tempat tidur, Arumi segera kembali ke kamar mandi tanpa sepatah kata pun. Tak lama kemudian, ia keluar dengan mengenakan piyama panjang dan hijabnya sudah kembali menutupi rambut indahnya. Ia tidak melirik Ariya sama sekali.
Arumi berjalan menuju sofa di dekat jendela, membaringkan tubuhnya yang sudah sangat lelah di sana. Ia memunggungi Ariya, berusaha mencari posisi nyaman untuk memejamkan mata.
Ariya masih duduk bersandar di tempat tidur, menatap punggung Arumi dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa penasaran yang mulai menggelitik, namun rasa benci tetap mendominasi. Ia teringat kejadian jatuh tadi, betapa lemahnya dirinya sekarang. Dan betapa kuatnya Arumi yang tetap membantunya meski baru saja ia maki dengan kasar.
"Kenapa dia diam saja? Kenapa dia tidak membalas makianku?" gumam Ariya dalam hati.
Keheningan malam itu terasa begitu berat. Di satu sisi, ada luka yang kian menganga karena fitnah, dan di sisi lain, ada kebenaran yang mulai mengetuk pintu kesadaran, namun masih tertutup rapat oleh dinding ego yang menjulang tinggi.
semoga ingatanmu kembali tak lama setelah Ariya mampu berjalan & terbang ke Sumatra