NovelToon NovelToon
Cinta Aluna

Cinta Aluna

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wiji Yani

Aluna adalah gadis yang nyaris sempurna, pintar, cantik, dan menjadi pusat perhatian di SMA Bina Cendekia . Namun, hatinya hanya terkunci pada satu nama: Bara. Sahabat masa kecilnya yang pendiam, misterius, tapi selalu ada untuknya.
Sayangnya, cinta Aluna tak pernah sampai. Bukan karena Bara tak memiliki rasa yang sama, melainkan karena kehadiran Brian. Brian, cowok populer yang ceria sekaligus sahabat karib Bara, jatuh cinta setengah mati pada Aluna.
Bagi Bara, persahabatan adalah segalanya. Saat Brian meminta bantuannya untuk mendekati Aluna, Bara memilih untuk membunuh perasaannya sendiri. Ia menjauh, bersikap dingin, bahkan menjadi "kurir cinta" demi kebahagiaan Brian. Ia rela menuliskan puisi paling puitis untuk Aluna, meski setiap kata yang ia goreskan adalah luka bagi hatinya sendiri.
Aluna hancur melihat Bara yang terus mendorongnya ke pelukan orang lain. Ia merasa seperti barang yang sedang dioper, tanpa Bara tahu bahwa hanya dialah alasan Aluna tetap bertahan di sekolah itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 Tentang sebuah nama dihati Aluna

Langkah kaki Aluna terasa sangat berat saat meninggalkan kelas, namun hatinya jauh lebih berat. Ia berlari bukan karena takut pada Brian, tapi karena ia tidak sanggup melihat wajah Bara yang baru saja membunuh perasaannya dengan satu kalimat dingin. Di taman belakang sekolah yang sepi, Aluna akhirnya ambruk di bangku kayu. Isaknya pecah, memenuhi keheningan di bawah pohon-pohon yang seolah ikut merunduk sedih.

"Bara, kenapa kamu jahat banget..." bisiknya dengan suara yang hampir habis.

Ia teringat betapa hangatnya jaket Bara kemarin, dan betapa tajamnya penyangkalan Bara hari ini. "Kenapa kamu harus berbohong tentang perasaan kita? Kenapa aku yang harus kamu korbankan demi nama baikmu di depan Brian?"

Saat Aluna masih tenggelam dalam tangisnya, suara langkah kaki mendekat. Aroma maskulin yang sangat ia kenal menyapa indranya sebelum orang itu bersuara.

"Aluna..." panggil Bara lirih.

Sontak, Aluna segera menghapus air matanya dengan kasar. Ia berdiri, berniat pergi menjauh. Ia tidak ingin Bara melihat betapa hancurnya dia. Ia tidak ingin memberikan Bara kepuasan dengan melihat air matanya lagi.

"Lun, tunggu! Aku minta maaf," cegat Bara, mencoba menahan langkah Aluna.

Aluna berhenti, namun ia tetap membelakangi Bara. Punggungnya bergetar hebat menahan amarah dan kesedihan yang bercampur aduk.

"Untuk apa kamu ke sini, Bar?" tanya Aluna tanpa nada. "Mau mastiin kalau aku benar-benar percaya sama sandiwara kamu di kelas tadi? Atau mau mastiin kalau aku nggak akan membocorkan rahasia 'persahabatan' kalian?"

"Aku cuma nggak punya pilihan, Lun. Aku nggak mau Brian hancur," jawab Bara membela diri.

Aluna akhirnya berbalik. Matanya yang sembab menatap Bara dengan sorot yang begitu menyakitkan. "Terus kalau Brian nggak hancur, kamu pikir aku gimana? Kamu pikir hatiku ini terbuat dari batu sampai kamu bisa bilang 'nggak ada perasaan apa-apa' tepat di depan mataku?"

Bara terdiam, lidahnya mendadak kelu melihat luka yang begitu nyata di mata gadis itu.

"Makasih, Bar. Lewat kebohongan kamu tadi, aku akhirnya sadar," Aluna mencoba menahan tangis yang kembali mendesak. "Aku akhirnya tahu kalau di hati kamu, aku memang nggak pernah berharga, sampai harus kamu pertahankan di depan sahabatmu. Aku nggak lebih dari sekadar gangguan buat kamu dan Brian."

Setelah mengucapkan itu, Aluna melangkah pergi dengan langkah yang dipaksakan tegak. Ia meninggalkan Bara yang hanya bisa mematung, menatap tangan kosongnya yang ingin meraih Aluna. Di taman itu, Aluna tidak hanya meninggalkan Bara, tapi ia meninggalkan sebagian dari hatinya yang baru saja hancur berkeping-keping. Nama 'Bara' yang selama ini ia jaga, kini menjadi luka yang paling ia benci.

Langkah kaki Aluna yang menjauh terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur akhir dari segalanya. Bara tetap berdiri di sana, membeku seperti patung di tengah taman yang mulai temaram. Ia tertunduk lesu, tidak sanggup lagi membalas sorot mata Aluna yang tadinya penuh cinta, namun kini hanya menyisakan amarah dan kehancuran.

Angin sore berembus dingin, membawa sisa isak tangis Aluna yang masih tertinggal di udara. Bara merasa oksigen di sekitarnya mendadak hilang.

"Aluna..." bisiknya, namun nama itu tertahan di tenggorokan.

"Kamu benar, Lun. Aku ini memang pengecut," gumam Bara dengan suara parau yang nyaris pecah. "Bahkan aku tidak berani jujur tentang perasaan ini di depan Brian... Maafin aku, Aluna. Maaf."

Kalimat itu terlambat. Sangat terlambat. Kalimat itu hanya bergema di antara pepohonan sepi, Bara merasa kakinya lemas, seolah seluruh kekuatannya dicabut paksa dari tubuhnya.

Bruk......

Bara jatuh terduduk di kursi taman yang masih menyisakan jejak air mata Aluna. Ia menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangan, meremas rambutnya dengan frustrasi yang luar biasa. Dunianya yang tadinya ia pikir bisa dikendalikan dengan kebohongan, kini hancur berantakan.

Bara masih terduduk di kursi taman itu, menatap kosong ke arah jalan setapak tempat Aluna menghilang. Ia memang telah berhasil meyakinkan Brian. Ia telah berhasil memadamkan api kecurigaan di mata sahabatnya itu dengan satu kebohongan yang terlihat sangat meyakinkan. Namun, harga yang harus ia bayar ternyata jauh lebih mahal dari yang ia duga.

Melihat sorot mata Aluna yang penuh kekecewaan, adalah luka yang paling menyakitkan.

Dengan tangan yang masih gemetar, Bara merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan sebuah gelang sederhana yang melingkar di pergelangan tangannya—gelang pemberian Aluna beberapa waktu lalu. Ia mengusap permukaan gelang itu dengan ibu jarinya, seolah bisa merasakan kehadiran Aluna di sana.

"Luna..." bisiknya lirih, suaranya tercekat di tenggorokan.

Ingatannya melayang pada kejadian beberapa hari lalu, saat ia dengan penuh penyesalan meminta maaf karena telah bersikap kasar pada gadis itu. Ia ingat betapa tulusnya Aluna memaafkannya, betapa manisnya senyum gadis itu yang memberikan kesempatan kedua.

"Baru kemarin aku meminta maaf karena sudah kasar sama kamu, Lun," gumam Bara, air mata mulai jatuh tak terbendung di pipinya. "Tapi sekarang... sekarang aku malah mengulangi kesalahan yang sama. Bahkan kali ini jauh lebih sakit."

Isaknya pecah. Bara meremas gelang itu kuat-kuat di dalam genggamannya, hingga kuku-kuku jarinya memutih. Rasa sesak di dadanya seolah ingin meledak. Ia membenci dirinya sendiri. Ia membenci fakta bahwa ia adalah seorang pengecut yang lebih memilih bersembunyi di balik kata 'persahabatan' daripada mengakui satu kejujuran yang bisa menyelamatkan hatinya dan hati Aluna.

Langit yang sejak tadi mendung seolah tidak lagi sanggup menahan beban. Tetesan air mulai jatuh satu per satu, hingga sedetik kemudian, hujan turun dengan derasnya, mengguyur seluruh area taman sekolah.

Bara tidak bergerak sedikit pun. Ia tidak beranjak untuk mencari tempat berteduh. Ia membiarkan tubuhnya basah kuyup, membiarkan air hujan menyamarkan air mata yang terus mengalir dari matanya yang memerah.

Di bawah guyuran hujan itu, Bara hanya bisa menangis dalam diam.hujan terasa begitu dingin dan menyakitkan, seolah alam semesta sedang menghukumnya atas kebohongan yang ia ciptakan sendiri.

Bersambung.......

Jangan lupa like dan beri rating lima ya kak 🙏 biar aku lebih semangat 🙏 Terimakasih semoga rezekinya lancar dan sehat selalu amin 🤲 🤲

1
Dian Fitriana
update
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!