Cinta mempertemukan kembali batas antara dua dunia, kehilangan, keajaiban yang terlahir dari luka.
Antara masa lalu dan masa depan, dua wanita, hidup dan mati.
Kinan hanya satu pilihan bertahan di "ruang masa " atau turun untuk cinta terakhirnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cahaya Samar
Kinan merasakan rindu yang begitu membuncah didalam jiwanya, ia ingin masuk kembali tapi sesuatu yang lebih inti, lebih… dari pada dirinya sendiri hilang.
Ia melihat tangannya—atau bayangan dari tangan yang dulu pernah ada, cahayanya tak lagi berdenyut, dulu hampir padat kini tembus pandang, kehampaan menembus jiwa, secara perlahan menghapus dirinya sendiri.
“Bu,” panggilnya suaranya terdengar jauh sisa gema yang terlambat menyusul.
Perempuan itu sudah ada di sana selalu ada. Mata birunya tampak lebih gelap dari pada biasanya.
“Kamu merasakannya,” ujarnya pelan seperti bukan pertanyaan..
“Aku lebih redup,” bisiknya. “Lebih tipis, apakah itu normal?”
“Lihat dirimu,” katanya.
Kinan menatap saat pertama tiba di Ruang Tunggu, ia masih utuh, cahayanya stabil, kehadirannya jelas masih terasa seperti seseorang bernama Kinan, namun sekarang ia seperti asap tertiup angin.
“Dari satu mimpi?” suaranya retak. “Cuma satu kali?”
“Itu bukan sekadar mimpi, Kinan, kamu menjadi nyata menyentuh dunia fisik, meski sebentar. Kamu menggerakkan udara. menghadirkan waktu, wewangian, Itu bukan interaksi tapi manifestasi.”
Kata itu terasa seperti vonis menghujam
“Dan manifestasi,” lanjutnya, “memakan esensi.”
Esensi.Bukan energi yang bisa dipulihkan dengan istirahat.Tapi bagian terdalam dari keberadaan.
“Kalau begini terus?” tanyanya meskipun ia sudah tahu jawabannya.
“Kalau dilanjutkan kamu tidak akan mati karena kamu sudah mati, hanya saja akan… habis menjadi bagian dari Ruang Tunggu, dan kembali ke alam selanjutnya”
Lebih buruk dari kematian.Menjadi latar belakang bagi penantian orang lain.
Kinan melihat dirinya lagi. Ada bagian di lengannya yang hampir tak terlihat. Jika ia memfokuskan pandangan, bagian itu menghilang sejenak—seolah tak pernah ada.
“Berapa lama?” suaranya hampir tak terdengar.
“Tergantung seberapa banyak dirimu yang kamu beri,” jawabnya “Setiap kunjungan menggerus, setiap sentuhan mencabut sedikit demi sedikit.”
Kinan terdiam. Ia tahu setiap hembusan angin yang menyentuh wajah Raka, setiap wangi melati yang ia kirim, setiap kehadiran samar di sisinya—semua dibayar dengan dirinya sendiri.
Tapi ia juga tahu sesuatu yang lebih kejam.
Jika ia berhenti, Raka bisa tenggelam.
" Aku nggak bisa berhenti,” katanya akhir
Cahayanya berkedip lemah. “Kalau aku berhenti, dia hancur. Aku lihat sendiri Raka nyaris ikut aku.”
“Dan kalau kamu teruskan, kamu akan hilang sebelum dia sembuh.”
Sunyi menggantung di antara mereka.
Dua pilihan menyelamatkan Raka, menghapus diri sendiri.Atau bertahan dan membiarkannya perlahan runtuh.
“Ini nggak adil,” bisiknya.
“Cinta jarang adil,”
“Kamu pernah kayak aku kan?”
“Aku pernah punya tujuan, ingin membuatnya bahagia dari jauh, merasakan bahwa aku masih ada.”
Ia berhenti sejenak.
“Tapi lama-lama aku lupa tujuannya. Aku hanya menunggu memastikan ia tidak melupakanku.”
Nada suaranya menipis.
“Dia menunggu juga. Bertahun-tahun. Tidak menikah lagi. Tidak benar-benar hidup. Ia hidup setengah, karena aku tak pernah benar-benar pergi.”
Kinan membeku.
“Dan ketika ia mati,” lanjut Hana, “ia tidak datang ke sini. Ia sudah terlalu lelah terlalu kosong. Aku bahkan tak ingat lagi wajahnya saat itu.Itu yang paling mengerikan bukan kehilangan.Tapi lupa kenapa dulu kamu rela kehilangan segalanya.
Kinan merasa ketakutan dingin merayap di dalam cahaya. Itu bisa jadi dirinya.“Aku nggak akan jadi begitu,” katanya pelan.
“Kamu sudah di jalur yang sama,” jawabnya jujur.
Cahaya Kinan berkedip lagi—lebih lemah.
“Tapi bedanya,” lanjut Kinan “Aku nggak mau dia menunggu. Aku mau dia hidup sampai ke titik di mana dia nggak butuh aku lagi."
“Itu artinya suatu waktu kamu harus benar-benar melepaskan.”
Kata itu seperti retakan melepaskan berarti berhenti mengunjungi, berhenti menyentuh dan berhenti memastikan.
Melepaskan berarti mempercayai.
“Aku takut.".
“Bagus, takut membuatmu berhati-hati.
Kamu harus istirahat sekarang. Kalau kamu mau mencoba masuk lagi dalam kondisi ini, kamu mungkin tak akan kembali.”
“Ke Ruang Tunggu?”
" Jiwa mu akan beralih kedalam tidur panjang sampai dunia berakhir."
Itu bukan ancaman. Itu perhitungan.
Kinan mencoba merasakan sisa dirinya. sesuatu yang hangat. Kecil. Tapi keras kepala.
Cinta.
Aneh—cinta tidak ikut menipis. Justru semakin tajam. Seolah ketika segalanya hilang, hanya itu yang tersisa.
“Aku akan istirahat, Tapi bukan untuk menyerah agar menjadi lebih kuat.”
“Belajarlah hadir tanpa masuk. Menguatkan tanpa menyentuh. Itu lebih sulit… tapi lebih aman.”
Kinan membiarkan cahayanya berhenti bergetar tidak mencoba pergi, menembus dunia.
---
Raka terbangun tengah malam tidak ada wangi melati atau angin yang bergerak rasa yang berbeda, Ia duduk di tepi ranjang, menatap ruang kosong.
“Nan…” bisiknya pelan.Dadanya masih sakit. Tapi tidak menghancurkan.
Ia tidak tahu kenapa malam ini tidak merasa sendiri tanpa tanda, suara.
hanya ruang yang terasa… cukup.
Di Ruang Tunggu, cahaya hampir padam mulai stabil. Tidak lagi terang seperti dulu atau terancam hilang.
Ia tidak tahu berapa lama harus beristirahat.
Cinta memang punya harga. Dan jika ia tidak berhati-hati, harga itu adalah dirinya sendiri.
mampir 🤭