"Kamu aman di sini, Aura. Dunia luar itu jahat, hanya saya yang tidak akan pernah menyakitimu."
Kalimat itu adalah mantra sekaligus kutukan bagi Aura. Di usia 21 tahun, Arfan seharusnya menjadi pelindung, tapi baginya, Arfan adalah bayangan yang menelan kebebasannya. Setiap langkah Aura diawasi, setiap napasnya harus berizin.
Aura terjebak di antara dua pilihan, mencintai pria yang rela mati demi menjaganya, atau membenci pria yang perlahan membunuh jiwanya dalam sangkar emas bernama kasih sayang.
Ketika rahasia di balik sikap posesif Arfan mulai terkuak, sanggupkah Aura melarikan diri? Atau justru ia akan selamanya terkunci dalam Penjara Cinta yang ia bangun sendiri?
"Sebab bagiku, kehilanganmu adalah satu-satunya dosa yang tidak bisa kumaafkan." — Arfan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patriciaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 - Bima Marah dengan Bunda
Aura menyeka air matanya dengan kasar menggunakan ujung jilbab. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba memasok oksigen ke paru-parunya yang terasa menyempit. Ia tahu, jika ia keluar dengan wajah hancur, Zahra dan Mawar akan curiga dan masalah akan semakin panjang. Maka, dengan sisa kekuatan yang ada, Aura memaksakan sebuah senyuman, senyum hampa yang tidak sampai ke mata dan melangkah kembali ke aula utama.
"Ra! Lo dari mana aja sih? Lama banget, gue nyaris lapor polisi tau nggak!" seru Zahra saat melihat Aura muncul. Zahra melipat tangan di dada, matanya menatap tajam ke arah Arfan yang sedang berdiri di depan grup lain. "Gue beneran nggak suka sama tempat ini. Orangnya juga... vibes nya aneh banget, sok sempurna."
Aura hanya terkekeh pelan, sebuah tawa yang terdengar sangat dipaksakan. "Maaf, Zah. Perut aku beneran nggak enak tadi, kelamaan di toilet."
Mawar muncul tak lama kemudian, wajahnya pucat pasi namun ia berusaha tetap menunduk, menghindari kontak mata dengan siapa pun. Aura melirik Mawar, dan untuk sejenak, kedua pasang mata itu bertemu. Ada sebuah pemahaman pahit di antara mereka, mereka berdua sama-sama sedang disandera oleh rahasia pria yang sama.
"Baik, adik-adik sekalian. Mari kita lanjut ke ruangan terakhir," suara Arfan kembali menggema, merdu dan berwibawa.
Arfan berjalan memimpin rombongan, menjelaskan filosofi di balik setiap goresan kuasnya dengan sangat detail. Aura terpaksa berdiri tak jauh dari pria itu, mendengarkan setiap kata-katanya seolah-olah ia adalah murid yang patuh. Sesekali, Arfan menoleh ke arah Aura, memberikan senyum tipis yang hanya dimengerti oleh mereka berdua, sebuah senyum kemenangan.
Zahra terus menggumamkan kekesalannya di samping Aura. "Kenapa sih dia harus liatin lo terus? Risih banget gue liatnya. Ra, ayo deh kita buruan balik ke bus."
Aura hanya mengangguk pelan. "Sabar, Zah. Bentar lagi juga selesai."
Di dalam hatinya, Aura menjerit. Setiap detik yang ia habiskan di galeri ini terasa seperti berjalan di atas paku panas. Ia ingin berteriak, ia ingin lari, ia ingin semua kegilaan ini berakhir. Namun, bayangan Arfan yang menekan tubuhnya di pintu studio tadi masih terasa begitu nyata. Aura tahu, ia tidak sedang menghadapi pria biasa, ia sedang menghadapi seseorang yang sudah memetakan masa depannya tanpa seizinnya.
Begitu tur berakhir, Arfan berdiri di dekat pintu keluar, menjabat tangan para guru dan menyapa beberapa murid dengan ramah. Saat giliran Aura lewat, ia sengaja melambatkan gerakannya.
"Hati-hati di jalan, Aura. Jangan lupa istirahat yang cukup," ucap Arfan lembut. Suaranya terdengar seperti perhatian seorang kakak kelas yang baik bagi orang lain, namun di telinga Aura, itu adalah pengingat, aku mengawasimu.
"Terima kasih, Kak," jawab Aura singkat, suaranya nyaris berbisik. Ia tidak berani menatap mata Arfan, ia segera menarik tangan Zahra untuk menjauh sejauh mungkin dari bangunan megah yang terasa seperti penjara itu.
Aura masuk ke dalam bus sekolah, duduk di kursi paling belakang, dan menyandarkan kepalanya ke kaca jendela. Dunianya baru saja berubah menjadi labirin tanpa jalan keluar.
...****************...
Siang itu, rumah terasa sepi namun gerah. Bima melangkah masuk dengan napas terengah, peluh membanjiri kaus oblongnya yang menghitam karena noda oli. Perutnya sudah keroncongan minta diisi setelah seharian berjibaku dengan mesin motor di bengkel.
Ia langsung menuju dapur, berharap ada ketenangan di sana. Namun, baru saja ia hendak menarik kursi, Bunda muncul dari arah kamar dengan raut wajah yang tampak sedang memikirkan sesuatu.
"Bim, sudah pulang? Kebetulan, makan dulu Nak, Bunda sudah siapkan makanan," ucap Bunda lembut. Namun, Bunda tidak berhenti di situ. Ia duduk di hadapan Bima, menatap anak laki-lakinya itu dengan ragu. "Bunda mau tanya... kamu tahu tidak kenapa sudah lama sekali Nak Arfan tidak main ke sini? Bunda jadi merasa tidak enak, biasanya dia sering bawakan obat atau sekadar tanya kabar Bunda."
Deg.
Bima yang baru saja memegang sendok, mendadak kaku. Kalimat Bunda barusan seperti siraman bensin di atas bara api yang selama ini ia jaga agar tidak meledak. Rasa lelah, lapar, dan sisa-sisa kekesalannya di bengkel mendadak memuncak.
"Kenapa sih, Bun? Kenapa harus nama itu lagi yang disebut?" suara Bima meninggi, membuat Bunda sedikit tersentak. "Bima yang banting tulang dari pagi sampai sore di bengkel, Bima yang tiap hari urusin rumah, tapi yang Bunda kangenin malah orang asing itu?"
"Bukan begitu, Bim... Bunda cuma merasa ada yang kurang kalau dia tidak—"
"Kurang apa? Kurang sopan santunnya? Kurang barang-barang pemberiannya?" Bima memotong dengan nada sarkas yang tajam. Ia meletakkan kembali sendoknya ke atas meja hingga menimbulkan bunyi berdenting yang nyaring. Selera makannya hilang tak bersisa. "Terserah Bunda deh. Kalau Bunda emang ngerasa dia lebih perhatian dibanding anak sendiri, mending dia aja yang jadi anak Bunda!"
Bima bangkit dengan kasar, kursinya bergeser menimbulkan decit yang menyakitkan telinga. Hatinya panas bukan main. Ia merasa perjuangannya sebagai laki-laki di rumah ini selalu kalah saing dengan citra sempurna yang dibangun Arfan.
"Bima pergi. Malam ini Bima nggak pulang ke rumah," ucap Bima dingin. Kalimatnya singkat, namun penuh penekanan.
Meskipun dadanya bergemuruh hebat karena emosi, Bima tidak kehilangan adabnya. Ia menyambar tangan Bunda, menciumnya dengan cepat sebagai tanda salim, sebuah bentuk hormat yang sudah mendarah daging. Namun, setelah itu, ia langsung berbalik dan melangkah lebar menuju pintu depan.
"Bima! Tunggu dulu, Bim!" panggil Bunda dengan suara bergetar.
Bima tidak menoleh. Ia menaiki motornya, menghidupkan mesin dengan raungan yang keras seolah sedang meluapkan amarahnya, lalu melesat pergi meninggalkan rumah.
Bunda terdiam di depan meja makan, menatap piring Bima yang masih utuh dengan perasaan sedih. Beliau tidak menyangka pertanyaannya akan memicu amarah besar putra sulungnya itu. Padahal, Bunda punya rencana manis. Beliau ingin merayakan ulang tahun Aura tepat jam 12 nanti malam sebagai kejutan, dan beliau merasa butuh bantuan laki-laki untuk menyiapkan segalanya.
"Bima... kamu kok jadi keras begini, Nak?" gumam Bunda lirih.
Karena Bima sudah terlanjur berkata tidak akan pulang malam ini, Bunda merasa bingung. Beliau tidak mungkin menyiapkan kejutan itu sendirian di tengah kondisinya yang belum pulih total. Tanpa pikir panjang, dan dengan niat yang sangat polos, Bunda meraih ponselnya.
Satu nama yang selalu dianggapnya sebagai sosok pemuda paling baik dan bisa diandalkan ia hubungi.
"Halo, Nak Arfan? Maaf mengganggu waktunya... Iya, Nak. Ini, Bunda ada rencana buat kasih kejutan ulang tahun Aura jam 12 malam nanti. Tapi Bima sedang pergi... Apa Nak Arfan keberatan kalau Bunda minta tolong dibantu persiapannya malam ini?"
Di seberang telepon, di sebuah ruangan yang dipenuhi bau cat minyak dan mawar kering, Arfan menarik napas panjang. Sebuah senyum miring tersungging di bibirnya.
"Sama sekali tidak keberatan, Bunda. Kebetulan saya memang sudah menyiapkan kado spesial untuk Aura. Saya akan ke sana segera Bunda" jawab Arfan, suaranya terdengar begitu santun dan menenangkan, menutupi getaran obsesi yang meluap-luap.
Bersambung.......
Assalamualaikum semuanya, jangan lupa like dan komen ya🫶🏻.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰