NovelToon NovelToon
Pengantin Tawanan

Pengantin Tawanan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Duniahiburan / Identitas Tersembunyi / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: lee Yana

Menceritakan tentang seorang gadis yang tiba-tiba dijadikan tawanan tepat di hari pernikahannya.

Dia dipaksa dan dibawa oleh sekelompok mafia kejam yang entah darimana asalnya.

Dalam sekejap hari bahagianya berubah menjadi bencana tak terduga yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Hal itu membuatnya sangat marah dan mengutuk para penjahat yang sudah membawanya.

Mereka menyeretnya masuk ke dalam dunia kegelapan, dimana semua hal yang berbau negatif menjadi normal dan wajar.

Sampai suatu hari satu persatu kebenaran mulai terungkap, hingga kejadian itu perlahan mengubah keadaan serta sudut pandangnya terhadap dunia.

Akankah gadis itu berhasil pulang dengan selamat dan kembali melanjutkan pernikahannya…???

Atau justru perasaannya berubah seiring berjalannya waktu…???

Nantikan kisah kelanjutannya ya………………….

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee Yana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sakit

Tanpa terasa siang berlalu begitu cepat, perlahan langit biru yang cerah itu berganti menjadi

jingga nan indah.

Nia terus menatap tebing curam yang berada tepat di bawah jendela kamarnya.

Pemandangan laut dan mataharinya begitu memukau, tapi apa artinya jika ia terpenjara dalam bangunan tersebut.

Dalam benaknya selalu terbesit ingin melarikan diri dari sana, tapi bagaimana caranya..??

Bahkan sepandai-pandainya Nia berenang akan mustahil rasanya jika ia nekat melompat dari ketinggian tebing itu.

Namun ada satu hal yang selalu membuatuya penasaran. Setiap malam Nia selalu melihat sebuah kapal melintas dari bawah tebing menuju ke suatu tempat.

Nia sering melambaikan tangan dan mengirimkan kode untuk meminta tolong, karena jarak yang terlalu jauh maka usahanya sia-sia.

Jangankan untuk merespon, bahkan ukuran kapal yang di bawah saja terlihat sangat kecil saat dilihat dari posisi Nia yang berada jauh di ketinggian.

Itulah sebabnya Veron menjadikan tempat itu sebagai markas bersama para anggota

Lannya, agar keberadaan mereka tidak mudah terjangkau oleh siapapun.

Tapi di jam yang sama, malam itu Nia sama sekali tidak melihat kapal melintasi perairan seperti biasanya.

Akhirnya dia memutuskan untuk keluar dan makan malam. Karena saat itu Veron juga pasti sudah pergi meninggalkan markasnya.

Namun alangkah terkejutnya Nia ketika ia keluar dari kamarnya, ternyata Veron masih tidur di sota dalam posisi yang sama.

Padahal biasanya lelaki itu sudah pergi entah kemana. Perlahan Nia mendekat dan mencoba membangunkan Veron, tapi tidak ada jawaban dari sang mafia.

Nia makin curiga karena Veron nampak pucat dan berkeringat di bagian wajahnya. Setelah diperiksa ternyata suhu tubuhnya sangat tinggi.

Pantas saja sejak pagi wajahnya terlihat seperti orang yang kelelanan.

Nia ingin mengabaikannya, tapi hati nuraninya sebagai sesama manusia tidak bisa diam saja Apalagi dia seorang mahasiswi kedokteran, Nia tidak mungkin membiarkan Veron terbaring lemah seperti sekarang.

Tapi baru saja Nia ingin menolong, tiba-tiba Benjamin masuk bersama anak buah lainnya.

Ben segera datang karena menyadari bosnya tidak terlihat keluar ataupun menghubunginya.

Dia yakin pasti sedang terjadi sesuatu pada Veron, itu sebabnya Ben langsung bergegas untuk memastikan keadaan di dalam.

"Berhenti...!! Apa yang kau lakukan…??" tanya Ben mengintimidasi.

"Aa... aku tidak melakukan apa-apa..." sahut Nia nampak gugup.

Gadis itu makin takut ketika Ben mulai memeriksa sisa kopi buatan Nia yang masih ada di atas meja.

"Siapa yang membuat ini...??!!" tanya Ben menatap penuh curiga sambil mencium aroma kopi tersebut.

"Kopi itu buatanku, tapi aku bersumpah tidak memasukkan apapun di dalamnya...!!" sahut Nia jujur seolah tahu kemana arah pertanyaan Benjamin.

Meski demikian, Nia tetap saja takut dan gemetar karena orang-orang itu tengah mengelilinginya dengan tatapan tajam.

Bahkan sebagian dari mereka sudah ada yang mengeluarkan pistol dari balik jasnya.

"Jangan khawatir Ben, aku hanya merasa tidak enak badan..." Gumam Veron masih dalam posisi tidur sambil memijat keningnya.

Seketika Nia merasa sedikit lega karena akhirnya bos mafia itu sendiri yang angkat bicara.

"Maaf Tuan, apa perlu saya bawakan dokter kesini...??"

"Tidak perlu Ben, aku hanya butuh istirahat kau cukup keriakan saja tugasmu seperti biasanya...”

Mendengar perintah itu akhirnya Ben dan yang lainnya kembali melanjutkan tugasnya masing-masing, walau tatapannya masih nampak curiga dengan Jenia.

"Tolong segera kabari saya jika butuh sesuatu Tuan..."

"Hmmm....”

Setelah semua orang pergi, kini tinggalah mereka berdua di tempat itu.

"Kenapa menatapku seperti itu..?? kau pasti kecewa kan karena aku masih hidup..??"

"Cih jahat sekali pikiranmu...!! Padahal aku hanya diam dan tidak mengatakan apapun. Aku

hanya berpikir ternyata orang sepertimu bisa sakit juga..."

"Tentu saja, aku juga manusia..." sahut Veron singkat.

“Ngomong-ngomong terimakasih karena sudah menolongku dari tuduhan anak buahmu…”

“Tidak perlu berterimakasih, aku hanya bicara sesuai fakta, bukan untuk menolongmu…!!”

Kemudian lelaki itu mencoba bangkit dan berjalan menaiki tangga ke lantai atas, namun baru beberapa langkah tubuhnya sudah nyaris ambruk.

Beruntung Nia yang berada di belakangnya siaga dan langsung membantu memapahnya.

Veron ingin menolak, tapi dia bahkan terlalu lemah untuk sekedar melangkah.

Malam itu untuk pertama kalinya Nia memasuki dan melihat isi ruang pribadi Veron. Ternyata di dalamnya tidak ada apa-apa saat lampu di hidupkan.

Hanya ada satu tempat tidur king size dan satu lemari pakaian dengan nuansa putih.

Awalnya Nia pikir ruangan tersebut dipenuhi dengan berbagai macam senjata yang menempel di semua sisi dindingnya.

Namun lagi-lagi tebakannya salah. Tapi ada beberapa hal yang cukup menarik perhatiannya.

Tepat di atas nakas serta di bawah jendela kamar, terdapat pot bunga Venus flytrap (Dionaea muscipula) yang merupakan tanaman karnivora unik pemakan serangga.

Tanaman itu nampak tumbuh dengan subur dan cantik, karena Veron selalu merawatnya dengan baik dan hati-hati.

Lalu hal yang tidak kalah menarik adalah, di kamar itu juga terdapat satu buah akuarium berukuran sedang yang isinya dipenuhi dengan ikan piranha perut merah, yang mana ikan tersebut merupakan spesies piranha paling ganas terhadap manusia.

Nia merasa kagum sekaligus bergidik ngeri ketika melihat peliharaan Veron. Menurutnya yang paling lucu di antara semuanya hanyalah Cloud si kakak tua putih yang sangat cerewet.

"Apa kau perlu sesuatu...??" tanya Nia nampak cemas, namun orang yang ditanya hanya diam saja tanpa merespon apa-apa.

Selang beberapa saat lelaki itu nampaknya sudah benar-benar tertidur, sementara Jenia tetap berada di tempat itu bersama Veron.

Dia mencoba untuk keluar tapi tidak bisa, karena ternyata ruangan tersebut langsung terkunci secara otomatis dan hanya bisa dibuka dengan sidik jari Veron.

Tapi anehnya meskipun terjebak disana, Nia sama sekali tidak merasa panik ataupun khawatir.

Baginya saat itu Veron hanyalah seorang pasien yang sedang terbaring sakit.

Gadis itu terus memandanginya cukup lama. Semakin di perhatikan paras tampannya semakin membuat Nia seolah terhipnotis, bahkan ketika tidur pun wajahnya begitu tenang dan meneduhkan.

Kalau dilihat sekilas pasti tidak akan ada yang percaya kalau Veron adalah seorang mafia.

“Hmm… padahal kalau bicaranya bisa sedikit lebih lembut, pasti dia akan sangat sempurna.." gumam Nia berandai andai.

Makin hari entah kenapa Nia merasa kalau Veron tidak seburuk yang dia pikirkan.

Awalnya Nia sangat ketakutan saat pertama mereka membawanya ke markas.

Nia sampai berpikir dia akan disiksa terus menerus hingga hidupnya berakhir di tangan para mafia kejam itu.

Tapi nyatanya sampai hari ini dia masih baik-baik saia. Meski sampai sekarang dia masih sangat kesa karena mentaluya di bantal habis-habisan oleh Veron.

Sampai kapanpun Nia tidak akan pernah melupakan kejadian dimana pestanya dihancurkan.

Dia juga tidak akan lupa dengan setiap suara ledakan peluru yang mengarah tepat ke atas kepalanya.

Nia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika saat itu dia tidak bisa menahan diri dan bergerak saat Veron menarik pelatuknya.

Mungkin saja nyawanya sudah melayang detik itu juga.

Namun di sisi lain dia percaya dengan kata-kata Veron.

"Selama kau diam dan tidak bergerak, maka semuanya akan baik-baik saja..." kalimat tersebut terus terngiang di kepalanya seperti mantra.

Padahal sebelumnya Nia sangat ketakutan karena Veron berkata itu adalah pertama kalinya dia belajar menembak.

Beberapa jam kemudian suhu tubuh Veron mulai kembali normal. Dia terbangun karena mendengar suara aneh di sampingnya.

Ternyata gadis itu sedang tertidur pulas sambil mendengkur.

Veron juga mendapati kain kompres yang masih menempel di wajahnya. Nampaknya Nia ketiduran setelah terjaga sepanjang malam.

Kemudian Veron bangkit dan menutupi tubuh Nia dengan selimut hangat.

“Ibu…. Ibuu…. Jangan tinggalkan aku buu, kumohon jangan tinggalkan aku…” tiba-tiba gadis itu mengigau memanggil Ibunya.

Perlahan air matanya mengalir membasahi wajah cantiknya, Nia menangis pilu dalam mimpinya.

Nampaknya ia punya kenangan buruk yang hingga saat ini terus membekas dalam hatinya.

Tanpa sadar Veron mulai berempati terhadap gadis di sampingnya.

Sebuah perasaan yang tidak pernah ia miliki sebelumnya.

Apakah rasa itu akan tumbuh dan berkembang seiring berjalannya waktu…??

Entahlah, hanya waktu yang bisa menjawabnya.

…………………………………………………………………………………

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!