Berabad-abad setelah perang yang menghancurkan dunia Avalon, perdamaian tidak lebih dari sebuah tirai rapuh yang menyembunyikan ambisi-ambisi kuno dan rahasia-rahasia yang telah lama terkubur. Kael Ashvern, seorang remaja dari desa Ashfall, menjalani kehidupan yang tenang—hingga sebuah tragedi mendadak memaksanya melangkah jauh melampaui batas segala yang pernah ia kenal, dan mengungkapkan bahwa kalung warisan orang tuanya adalah salah satu dari dua puluh Philosopher Stones, artefak paling kuat yang lahir dari sisa-sisa The Great War.
Diburu oleh faksi-faksi yang saling bersaing dan dibayangi oleh kekuatan gelap yang mulai menggeliat kembali, Kael perlahan memahami bahwa dirinya bukan sekadar korban takdir. Untuk bertahan hidup, ia harus menghadapi dunia di mana kekuatan besar tidak pernah datang tanpa pengorbanan.
Mampukah Kael melewati ujian-ujian yang menantinya dan mengungkap kebenaran di balik hilangnya kedua orang tuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon celvinworks, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batas Peradaban
Lima Fangwolf mengelilingi kami dalam formasi yang hampir sempurna—predator cerdas yang paham cara menjebak mangsa yang jumlahnya lebih sedikit. Aku berdiri di antara keluarga itu dan para monster, pedang terangkat dalam kuda-kuda yang Kakek ajarkan, napas sudah tersengal meski pertarungan belum dimulai.
Bodoh. Ini sungguh-sungguh bodoh.
Terlambat untuk mundur sekarang.
"Siapa kamu?!" pria dengan kapak itu berteriak, suaranya tebal dengan kecurigaan meski sudah jelas aku datang untuk membantu.
"Nanti!" aku membalas tanpa menoleh. "Selamat dulu, perkenalan belakangan!"
Azure Codex berdenyut keras di dadaku—ritme yang sudah mulai kukenali sebagai peringatan serangan yang akan datang. Dan memang benar, tiga detik kemudian dua Fangwolf dari kiri dan kanan melompat bersamaan, koordinasinya hampir sempurna.
Tapi kali ini aku lebih siap. Penglihatan yang sama seperti semalam muncul—lintasan serangan, timing, celah di antara keduanya—dan tubuhku bergerak mengikuti petunjuk yang muncul di benakku.
Aku tidak mundur. Aku melangkah maju, pedang mengayun horizontal dengan kekuatan penuh, mengenai Fangwolf di sisi kanan tepat di tenggorokannya saat melintas. Darah menyembur. Tubuh monster itu terjatuh ke samping dengan jeritan yang terpotong di tengah.
Yang kiri mendarat di belakangku, tapi sebelum sempat berputar untuk serangan kedua, kapak besar sang pria menghantam tengkorak monster itu dengan suara yang membuat perutku bergolak.
"Bagus!" ia berseru padaku. "Kita kerja sama!"
Aku mengangguk cepat, menggeser posisi lebih dekat ke keluarga itu agar kami bisa saling melindungi. Tiga Fangwolf yang tersisa menjadi lebih waspada—mereka baru saja kehilangan dua anggota kawanan dalam hitungan detik, dan naluri bertahan mulai mengalahkan naluri berburu.
Azure Codex berdenyut lagi, dan tiba-tiba aku tahu—mereka akan mundur. Tidak sekarang, tapi mereka akan mencoba beberapa kali lagi dulu sebelum memutuskan apakah ini masih layak dilanjutkan atau lebih baik mencari mangsa yang lebih mudah.
"Mereka akan mencoba satu serangan terakhir," aku memberitahu sang pria. "Jika kita bertahan, mereka akan lari."
Ia melirikku dengan mata yang penuh tanda tanya—bagaimana bisa aku tahu?—tapi tidak bertanya. "Baik. Aku ambil yang tengah, kamu tangani dua di sisi?"
"Ya."
Tiga Fangwolf menyerang bersama—nekat, habis-habisan, upaya terakhir sebelum mundur. Yang di tengah melompat tinggi ke arah pria dengan kapak itu, dua di sisi datang rendah mengincar kakiku dan wanita di belakang.
Aku menggeser bobot ke kiri, pedang terangkat memblokir taring Fangwolf yang mengincar kakiku, mengalihkan momentumnya ke atas, lalu berputar dan menebas ke bawah dengan bantuan gravitasi. Bilah memotong dari bahu ke dada—cukup dalam untuk luka fatal meski tidak langsung mati.
Monster itu ambruk melolong, darah menggenang di tanah.
Di sampingku, sang wanita menusukkan tombak panjangnya tepat ketika Fangwolf yang lain melompat—timing yang sempurna, monster itu pada dasarnya menancapkan dirinya sendiri pada momentum yang dibuatnya sendiri. Dan sang pria berhasil mengayunkan kapaknya ke samping, mengenai Fangwolf di tengah saat masih di udara dan melemparkannya beberapa meter sebelum menghantam tanah dengan tulang rusuk yang patah.
Dalam lima detik, semua tiga Fangwolf yang tersisa tergeletak mati atau sekarat.
Tidak ada yang bergerak sejenak. Kami hanya berdiri di sana, senjata masih terangkat, napas tersengal keras, menunggu serangan berikutnya yang tidak pernah datang.
"Mereka... mereka pergi," sang wanita berbisik, suaranya bergetar antara lega dan tidak percaya.
Sang pria menurunkan kapaknya perlahan, lalu berbalik menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca. "Kamu menyelamatkan kami."
Aku mengangkat bahu, tidak yakin harus berkata apa. "Kebetulan lewat."
"Kebetulan lewat?" Ia tertawa—suara serak antara histeris dan bersyukur. "Keberuntungan yang luar biasa buat kami, anak muda."
Anak perempuan yang tadi menangis tiba-tiba berlari dan memeluk kakiku, hampir membuatku terjatuh. "Terima kasih! Terima kasih sudah menyelamatkan Mama dan Papa!"
Aku membeku, tidak tahu harus berbuat apa. Berinteraksi dengan anak kecil memang bukan keahlianku—tumbuh besar terisolasi di Ashfall tidak memberiku banyak latihan untuk itu. Perlahan aku mengelus kepalanya dengan canggung. "Tidak apa-apa. Kalian sudah aman sekarang."
Sang ibu—ibunya—dengan lembut menarik anak itu kembali, tapi matanya memancarkan rasa terima kasih yang tulus saat bertemu dengan mataku. "Namaku Mira. Ini suamiku, Torin, dan putri kami, Ellie. Kami pedagang dari Millhaven, sedang mengumpulkan tanaman herbal langka ketika diserang."
"Kael," aku menjawab singkat, tidak menyebut nama keluarga. "Seorang pelancong. Menuju utara."
Torin mempelajariku lebih cermat, mata berpengalaman menilai pedangku yang berlumuran darah, kuda-kuda yang masih setengah bertahan meski ancaman sudah berlalu, cara aku bergerak selama pertarungan. "Kamu bukan pelancong biasa, Kael. Gerakan-gerakan itu—itu latihan tempur yang formal. Siapa yang mengajarimu?"
"Kakekku," aku menjawab, suaranya lebih dingin dari yang kumaksudkan. "Dia sudah meninggal."
Ekspresi Torin melunak sedikit. "Turut berduka." Ia berhenti, kemudian melanjutkan. "Kami berutang nyawa padamu. Setidaknya biarkan kami membantu—kamu bilang menuju utara? Millhaven tepat di jalur itu. Ikut bersama kami. Kami akan memastikan kamu tiba dengan selamat dan memberikanmu tempat tinggal, gratis."
Aku ragu. Surat Kakek bilang jangan percaya siapa pun, tapi juga bilang terimalah bantuan yang tulus ketika ditawarkan. Dan ekspresi Torin tampak ikhlas—tidak ada agenda tersembunyi, hanya utang budi yang ingin ia bayar.
Selain itu, bepergian sendirian menembus hutan ini ternyata jauh lebih berbahaya dari yang kubayangkan. Dua pertarungan dengan Fangwolf dalam dua hari—dengan laju ini, aku mungkin tidak akan sampai ke Academy dalam keadaan hidup.
"Baiklah," aku akhirnya berkata. "Terima kasih."
Perjalanan ke Millhaven memakan waktu sehari setengah—lebih cepat dari perkiraanku jika pergi sendirian. Torin tahu jalan pintas yang lebih aman, menghindari area yang biasanya menjadi wilayah monster berbahaya.
Kami berjalan dalam formasi: Torin di depan dengan kapak besar di bahunya, Mira dan Ellie di tengah membawa ransel penuh herbal yang sudah dikumpulkan, dan aku di belakang sebagai penjaga dengan pedang siap.
Ellie mengobrol sepanjang jalan—cerita tentang Millhaven, tentang toko keluarga mereka yang menjual herbal dan ramuan, tentang festival yang akan datang bulan depan. Aku hanya setengah mendengarkan, sebagian besar perhatian tetap waspada pada sekitar.
Tapi satu hal yang ia katakan menarik perhatianku.
"Banyak pelancong yang lewat Millhaven belakangan ini," Ellie berkata bersemangat, melompat-lompat sambil berjalan. "Papa bilang mereka semua menuju Arcanum Academy! Ada yang bilang ujian masuk tahun ini lebih sulit karena banyak yang mendaftar."
Aku melirik Torin. "Benar itu?"
Ia mengangguk tanpa menoleh, mata masih memindai jalan di depan. "Millhaven adalah kota terakhir sebelum memasuki wilayah Kerajaan Tengah—jalur utama ke Academy melewati sini. Setiap tahun menjelang ujian masuk, kota kami dipenuhi anak-anak muda yang berharap menjadi penyihir atau pejuang terkenal." Ia tersenyum tipis. "Bisnis kami selalu ramai di musim ini—mereka butuh ramuan, salep penyembuhan, pendorong stamina untuk perjalanan."
"Berapa lama dari Millhaven ke Academy?" tanyaku, berusaha terdengar santai meski jantung mulai berdegup lebih cepat.
"Dengan kereta di jalan raya, sekitar sepuluh hari. Dengan berjalan kaki..." Ia mengangkat bahu. "Dua minggu, mungkin tiga tergantung kecepatan dan cuaca."
Dua minggu lagi. Aku bisa bertahan dua minggu lagi.
Kami tiba di Millhaven saat senja—langit berwarna oranye kemerahan, matahari setengah tenggelam di cakrawala barat. Dari kejauhan aku sudah bisa melihat tembok kayu setinggi tiga meter yang mengelilingi kota, dengan menara pengawas di keempat sudutnya dan gerbang utama yang terbuka lebar menyambut para pedagang yang pulang.
Tidak sebesar kota-kota yang kulihat dalam buku gambar Kakek, tapi jauh lebih ramai dari Ashfall. Bahkan dari luar gerbang, aku sudah bisa mendengar keriuhannya—orang-orang berbicara, tertawa, berteriak menawarkan dagangan, kuda meringkik, gerobak berderit di sepanjang jalan berbatu.
"Selamat datang di Millhaven," Torin berkata dengan senyum bangga. "Kota kecil kami."
Kami melewati gerbang tanpa pemeriksaan—rupanya para penjaga mengenal Torin dan keluarganya, hanya melambaikan tangan dan berteriak "Selamat datang kembali!" sebelum membiarkan kami lewat.
Dan untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Ashfall, aku mengalami gegar budaya yang sesungguhnya.
Jalan utama Millhaven dipadati orang-orang dari berbagai ras—ratusan orang berjalan, berlari, berdiri dalam percakapan, duduk di depan toko. Bukan hanya manusia: beberapa kurcaci dengan jenggot panjang yang dikepang membawa palu-palu raksasa, sekelompok elf dengan telinga runcing dan gerakan anggun yang hampir terlihat seperti menari, bahkan satu orang beastfolk—tampaknya keturunan serigala dari telinga dan ekor itu—berdiri di luar tempat pandai besi dengan baju zirah yang belum selesai di tangan.
Toko-toko berjajar di kedua sisi jalan: pandai besi, penjahit, toko ramuan, toko serba ada, tavern, penginapan, bahkan yang tampaknya toko sihir dengan tongkat sihir dan wand yang dipajang di jendela. Lentera-lentera menyala satu per satu saat malam turun, menciptakan cahaya hangat yang membuat kota ini terlihat seperti sesuatu dari dongeng.
Ini... ini dunia yang sama sekali berbeda dari Ashfall.
"Menakjubkan, bukan?" Mira tersenyum, melihat ekspresiku—yang mungkin dengan jelas menunjukkan wajah orang desa yang pertama kali melihat kota. "Millhaven mungkin kecil dibandingkan kota-kota besar di Kerajaan Tengah, tapi kami punya semua yang dibutuhkan seorang pelancong."
Aku hanya bisa mengangguk, tidak yakin bisa membentuk kata-kata yang koheren sekarang.
Torin tertawa, menepuk bahuku. "Ayo, toko kami tidak jauh. Pasti kamu kelelahan—mandi air panas, makanan layak, dan kasur yang beneran adalah yang paling kamu butuhkan sekarang."
Ia tidak salah. Tapi saat kami berjalan melalui kerumunan, sesuatu membuat Azure Codex berdenyut pelan—bukan seperti peringatan, lebih seperti... kesadaran. Seperti batu itu mengindera sesuatu di kota ini, sesuatu yang familiar namun tidak bisa kupastikan apa.
Aku melirik ke kanan dan kiri, mata memindai kerumunan dengan cermat. Tidak ada yang terlihat mencurigakan—semua orang sibuk dengan urusan masing-masing, tidak ada yang menatapku lebih lama dari biasanya.
Tapi perasaan itu tidak hilang.
Ada seseorang di kota ini yang sedang mengawasi.
Toko Torin dan Mira menempati gang kecil yang bercabang dari jalan utama—bangunan dua lantai dengan papan kayu bertuliskan "Greenleaf Apothecary" tergantung di atas pintu. Lantai pertama adalah toko, rak-raknya penuh dengan botol herbal kering, cairan berwarna-warni, dan salep dalam stoples kaca. Lantai kedua adalah tempat tinggal keluarga.
"Kamu bisa tidur di kamar tamu," Mira berkata, menunjuk tangga kayu yang mengarah ke atas. "Tidak besar, tapi bersih dan ada kasur yang layak. Besok kita bicara lebih banyak—kamu pasti punya banyak pertanyaan tentang perjalanan ke Academy."
"Terima kasih," aku berkata, kali ini dengan tulus. "Aku benar-benar menghargai ini."
Torin melambaikan tangan. "Kamu menyelamatkan nyawa kami, Kael. Ini bukan apa-apa dibandingkan itu."
Ellie sudah berlari ke atas, bergerak dengan energi yang entah bagaimana masih berlimpah meski sudah berjalan seharian. Mira mengikutinya lebih lambat, membawa ransel herbal yang mungkin akan ia proses nanti.
Aku berdiri di toko sejenak, mata memindai rak-rak dengan penasaran. Begitu banyak ramuan yang tidak kukenali—"Elixir Penglihatan Malam", "Ramuan Pemulihan Mana", "Penawar Racun - Tingkat Tinggi", "Pendorong Kekuatan Sementara"—dan harganya... astaga, mahal sekali. Satu botol kecil Ramuan Pemulihan Mana seharga dua koin emas. Itu penghasilan sebulan seorang petani Ashfall.
"Koleksi yang mengesankan," sebuah suara berkata dari belakang, hampir membuatku melompat keluar dari kulitku.
Aku berputar cepat—dan mendapati sesosok yang berdiri di pintu toko yang tidak kusadari terbuka. Seorang perempuan, mungkin awal dua puluhan, dengan rambut perak panjang yang dikepang longgar menjuntai di bahu, mata berwarna amber yang bersinar samar dalam cahaya toko yang redup, dan senyum kecil yang entah mengapa membuat bulu kudukku berdiri.
Ia mengenakan jubah perjalanan yang tampak mahal—kain gelap dengan rune enchantment yang hampir tidak terlihat di sepanjang tepinya—dan pedang pendek tergantung di pinggangnya dalam sarung yang terawat baik.
"Maaf, hari ini sudah tutup," aku berkata, sengaja membuat suaraku lebih formal. Ada sesuatu dari perempuan ini yang membuat nalurinya berteriak.
Senyumnya sedikit melebar. "Aku tidak datang untuk berbelanja." Matanya beralih dari wajahku ke dadaku—tepat di tempat Azure Codex tersembunyi di balik jubahku—lalu kembali ke mataku. "Aku datang untuk mengamati."
Tanganku sedikit melayang ke arah pedang yang masih bersandar di dinding dekat tangga. "Mengamati apa?"
"Kamu," ia menjawab sederhana, melangkah masuk ke toko dengan gerakan yang terlalu anggun untuk manusia biasa. "Atau lebih tepatnya, apa yang kamu bawa."
Jantungku berhenti satu denyutan. Ia tahu. Entah bagaimana, ia tahu tentang Azure Codex.
"Aku tidak mengerti maksudmu," kataku, mundur perlahan ke arah tangga dan pedangku.
Ia tertawa—suara rendah yang entah mengapa terdengar seperti lonceng peringatan. "Santai, Kael. Aku bukan musuhmu. Setidaknya, belum tentu." Ia berhenti beberapa meter jauhnya, tangan terangkat dalam gestur damai. "Namaku Lyra. Dan aku punya... katakanlah, ketertarikan pada Philosopher Stones."
Sial. SIAL.
"Aku tidak punya—"
"Jangan berbohong," ia memotong, meski suaranya tidak bermusuhan—hanya terdengar geli. "Azure Codex berdenyut di dadamu setiap kali kamu merasa terancam. Aku bisa merasakan sisa-sisa magisnya dari tiga blok jauhnya. Kamu perlu belajar menyembunyikannya lebih baik kalau tidak mau setiap pemburu batu di benua ini mengejarmu."
Aku tidak bergerak, tidak berbicara—hanya menatapnya dengan setiap naluri bertahan berteriak untuk lari atau bertarung.
Lyra menghela napas, menggelengkan kepala pelan. "Aku tidak akan mengambilnya, bodoh. Kalau mau, sudah kulakukan ketika kamu bertarung dengan kawanan Fangwolf itu tiga hari lalu di hutan." Ia sedikit mencondongkan tubuh ke depan, mata amber itu mengunci pada mataku. "Aku hanya ingin memperingatkanmu: Millhaven penuh dengan pelancong yang menuju Academy, tapi tidak semuanya murid yang polos. Beberapa adalah pemburu—mencari artefak, mencari kekuasaan, mencari Stones."
"Kenapa memberitahuku ini?" tanyaku, suara rendah dan waspada.
Senyumnya berubah—menjadi sesuatu yang lebih tulus, tapi juga lebih sedih. "Karena kamu mengingatkanku pada seseorang. Seseorang yang juga membawa beban terlalu berat untuk usianya." Ia berbalik, berjalan ke arah pintu. "Berhati-hatilah, Kael. Jangan percaya siapa pun sepenuhnya—bahkan orang-orang yang tampak membantu. Di dunia ini, semua orang punya agenda."
Ia berhenti di ambang pintu, sedikit menoleh ke belakang. "Oh, dan satu hal lagi—Azure Codex tidak hanya menganalisis teknik tempur. Ia bisa menganalisis segalanya. Sihir, pola, kelemahan, bahkan orang-orang. Pelajari cara menggunakannya dengan benar sebelum terlambat."
Dan kemudian ia menghilang ke dalam kerumunan malam, meninggalkan aku berdiri sendirian di toko itu dengan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.
Siapa sebenarnya ia? Dan mengapa ia tahu begitu banyak tentang Azure Codex?
Malam itu aku tidak bisa tidur.
Kamar tamu yang Mira siapkan nyaman—kasur dengan matras yang layak untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumah aman, selimut hangat, bahkan jendela kecil menghadap jalan sehingga aku bisa melihat kota yang masih ramai meski sudah larut.
Tapi pikiranku tidak mau berhenti berputar—segalanya bercampur menjadi satu kekacauan yang membuat kepalaku berdenyut.
Aku duduk di tepi kasur, mengangkat liontin Azure Codex untuk memeriksa lebih dekat. Batu biru itu bersinar samar dalam cahaya bulan yang merembes melalui jendela, kabut yang berputar di dalamnya bergerak lambat seolah memiliki kehidupan sendiri.
"Kamu bukan sekadar alat, bukan?" aku berbisik padanya. "Kamu... sesuatu yang lebih. Sesuatu yang hidup, mungkin?"
Tidak ada jawaban—seperti biasa. Tapi entah mengapa aku merasa batu itu mendengarkan. Mendengarkan dan... menunggu. Menunggu aku untuk... apa? Menjadi lebih kuat? Memahami kekuatannya sepenuhnya? Atau ada agenda lain yang belum kuketahui?
Terlalu banyak misteri. Terlalu banyak yang tidak kuketahui.
Tapi satu hal yang pasti: besok aku akan pergi ke Hunter's Guild seperti yang sudah kurencananakan. Mendaftar sebagai hunter peringkat terendah, mengambil quest-quest kecil untuk penghasilan dan pengalaman, mengumpulkan informasi tentang Academy, tentang Philosopher Stones, tentang... segalanya.
Aku berbaring, menatap langit-langit kayu dengan retakan-retakan kecilnya. Suara kota perlahan memudar seiring malam yang semakin larut—toko-toko tutup, orang-orang pulang ke rumah, hanya sesekali penjaga patroli yang lewat dengan langkah berat dan obor yang membuat bayangan menari di dinding.
Mataku terasa berat. Kesadaran perlahan-lahan tergelincir pergi.
Dan untuk pertama kalinya sejak Kakek meninggal, aku tidur tanpa mimpi buruk.
Di sebuah ruangan gelap entah di mana jauh dari Millhaven, sesosok duduk di kursi besar yang lebih menyerupai singgasana daripada perabot biasa, jari-jari mengetuk sandaran tangan dengan ritme yang sabar namun entah mengapa terasa mengancam.
Di hadapan mereka, sebuah kristal komunikasi bersinar, memproyeksikan gambar Lyra yang berdiri di atas atap dengan latar belakang Millhaven di belakangnya.
"Laporkan," sosok itu berkata—suara dalam, terdistorsi, tidak mungkin mengidentifikasi jenis kelamin atau usia.
"Azure Codex terkonfirmasi," Lyra menjawab dengan formalitas yang berbeda dari sikapnya yang santai ketika berbicara dengan Kael. "Anak itu—Kael—memilikinya. Batu sudah sebagian terbangun, merespons situasi tempur. Ia belum tahu sepenuhnya sejauh mana kekuatannya."
"Bagus." Sosok itu berhenti mengetuk, sedikit mencondongkan tubuh ke depan. "Dan yang lainnya? Shadow Syndicate? Gereja? Patroli Academy?"
"Semua mengamati, tapi belum ada yang bergerak secara agresif. Shadow Syndicate tampaknya menunggu sampai ia mencapai Academy—lebih mudah mengambilnya di sana dengan banyak saksi untuk menciptakan alibi. Gereja mengirim pengamat tapi tidak lebih dari itu. Academy... Kepala Sekolah Eldrin punya patroli tersembunyi yang melindungi anak itu dari jarak jauh."
"Menarik." Jeda panjang. "Dan penilaianmu tentang anak itu?"
Lyra tersenyum tipis. "Polos. Idealistis. Tapi... ada sesuatu di matanya. Tekad yang tulus, bukan sekadar balas dendam atau ambisi. Ia menginginkan kebenaran, ingin mengerti. Tipe yang bisa menjadi pahlawan... atau senjata yang sempurna, tergantung siapa yang membentuknya."
"Hmm." Sosok itu bangkit, berjalan ke jendela besar yang menghadap lanskap yang hampir tidak terlihat dalam kegelapan. "Lanjutkan pengamatan. Jangan ikut campur kecuali benar-benar diperlukan. Biarkan ia berkembang secara alami—Batu akan memilih jalannya sendiri, dan kita hanya perlu... sedikit mengarahkan ketika waktunya tepat."
"Dipahami, Guild Master."
Proyeksi itu menghilang, meninggalkan sosok itu sendirian dalam kegelapan.
"Azure Codex," sosok itu bergumam pada diri sendiri. "Batu Ingatan Sempurna. Jika legenda itu benar, kamu adalah kunci untuk membuka rahasia yang bahkan para dewa ingin dilupakan."
Sosok itu tertawa—rendah, gelap, tidak menjanjikan sesuatu yang baik.
"Mari kita lihat, anak muda. Mari kita lihat seberapa jauh kamu bisa bertahan di dunia ini sebelum kebenaran itu menghancurkanmu... atau membentukmu menjadi sesuatu yang jauh lebih besar."