NovelToon NovelToon
HATI EMAS

HATI EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

Seorang wanita dari abad ke-21, dikenal sebagai President's Shadow-pemimpin tertinggi dunia gelap dan mafia internasional-terbangun setelah kecelakaan kecil. Bukan di rumah sakit modern, melainkan di dunia yang sangat asing: dunia sebuah buku yang sering dibaca oleh sahabatnya.
Ia kini hidup sebagai Anthenia Blackwood, putri tunggal Duke Blackwood-gadis bangsawan yang dulu dikenal lembut, ceria, penakut, dan mudah gemetar di hadapan siapa pun. Namun jiwa di dalam tubuh itu telah berubah.

Di balik wajah tenangnya, Anthenia kini menyimpan:

• kecerdasan strategi,
• naluri pembunuh,
• dan mental baja seorang pemimpin dunia gelap.

Sang ayah, Duke Kaelen Blackwood, terkenal kejam dan tak kenal ampun pada musuh, namun berubah sepenuhnya saat bersama putrinya. Tak seorang pun berani menyentuh Anthenia-hingga Permaisuri Lunara Aurelius melihat gadis itu sekilas dan langsung menginginkannya sebagai menantu kekaisaran.

Calon suaminya adalah William Whiston, Putra Mahkota Kekaisaran Aurelius-p

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. The Secret Behind Closeness

Pagi hari — Kediaman Blackwood

Sunlight menyusup melalui jendela besar kamar Anthenia.

Ia duduk di tepi ranjang, menatap laporan wilayah yang belum disentuh.

Langkah ringan terdengar dari koridor.

“Lady Anthenia?” suara kecil namun tegas memanggil.

Nelia Whiston berdiri di depan pintu. Mata kecilnya merah karena menangis semalam, namun ia mencoba menahan diri.

“Anthenia… aku—aku ingin bicara denganmu,” kata Nelia tergagap.

Anthenia menoleh, menyadari ada sesuatu yang berat di mata gadis itu.

“Kau terlihat lelah… dan gelisah,” ucap Anthenia lembut.

“Masuklah.”

Nelia melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya.

Percakapan yang Membuka Luka

Nelia duduk di kursi dekat jendela, tangannya gemetar.

“Kakak… aku dengar lamaran dari Kairo,” katanya pelan.

“Sophia Karin Kairo… untukmu.”

Anthenia menunduk, mencoba menenangkan napasnya sendiri.

“Ya,” jawabnya singkat.

“Lamaran itu resmi. Disetujui Archduke.”

Nelia menutup mulutnya dengan telapak tangan.

“Tapi… aku tidak tahu kenapa hatiku terasa sakit,” bisiknya.

“Aku takut kakak bahagia… dengan orang lain.”

Anthenia tersentak sejenak.

“Orang lain?” gumamnya.

“Ini bukan tentangmu, Nelia. Atau tentangku. Ini… tentang kekaisaran.”

Nelia menggeleng cepat.

“Tapi hatiku… Kakak… aku hanya takut kehilanganmu.”

Anthenia menatap Neila yang sudah dia anggap adiknya.

Mata abu-abu itu seakan menelan segala kepedihan yang belum sempat diucapkan.

Ia melangkah mendekat.

“Dengar… aku menghargai perasaanmu. Dan aku tahu kau tidak ingin kehilangan kakakmu. Tapi keputusan ini… berada di tangan mereka yang lebih tinggi. Kita tidak bisa menolak Archduke.”

Nelia terdiam, menatap tangan Anthenia yang lembut menggenggam tangannya.

“Bagaimana kalau… Kakak sendiri tidak mau?”

Anthenia menutup mata sebentar.

Hatinya bergetar, tapi ia menahan diri.

“Kita akan menghadapi ini bersama.

Kau tetap kakakmu, Nelia.

Dan aku… akan tetap menjadi Anthenia Blackwood yang kau kenal,” ucapnya tegas.

Nelia menunduk, air matanya jatuh perlahan, namun kali ini ada sedikit lega.

“Baik… aku percaya padamu, Anthenia.”

Istana Araluen — Kamar William

Di sisi lain istana, William menatap peta wilayah dan dokumen pernikahan yang diterimanya dari Archduke.

Tangannya mengepal.

“Lamaran itu… terlalu cepat,” gumamnya.

“Tapi aku tidak bisa menolak langsung… Archduke sudah menyetujui.”

Ia menutup mata, mengingat wajah Anthenia di koridor.

Bayangan gadis itu yang menjauh, namun tetap kuat.

“Aku tidak ingin ini… tapi jika ini untuk kekaisaran, aku harus melindungi segalanya.

Termasuk perasaanku sendiri,” katanya lirih.

Ia menoleh ke jendela, menatap arah Blackwood,

di mana Anthenia kini kembali ke rumahnya sendiri.

“Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun… mengganggunya,” ucap William dingin.

Ruang singgasana Kaisar — siang hari

Udara aula terasa tegang.

Archduke Cedric Aurelius berdiri di hadapan Kaisar Whiston dan Permaisuri Lunara.

Suara tegasnya menggema di ruang tinggi.

“Ada satu cara,” ucap Archduke, menatap serius,

“jika Liam menolak lamaran itu.”

Kaisar menegang, matanya melebar.

Permaisuri Lunara mencondongkan tubuh, menahan napas.

Archduke berjalan perlahan di depan singgasana.

“Aku juga tahu Liam berat menerima pernikahan ini.

Tapi bagaimana lagi? Liam sudah 21 tahun…

dan putri Duke Kaelen Blackwood… secara langsung menolak, bukan?”

Hening menyelimuti aula. Kata-kata itu seperti palu menghantam dinding.

Kaisar menelan ludah.

“Putri Blackwood…? Kau maksud Anthenia?”

suara Kaisar terdengar serak, penuh cemas.

Archduke mengangguk.

“Ya. Dan kita tahu sikapnya tegas.

Jika Liam menolak lamaran Kerajaan Kairo,

ini bisa menjadi masalah besar bagi stabilitas kekaisaran.

Tapi jangan lupa—keputusan Liam tetap harus dihormati.”

Permaisuri Lunara menunduk pelan,

“Jadi maksud Ayah…?

Apakah ada cara agar Liam tetap menerima lamaran… meski hatinya menolak?”

Archduke tersenyum tipis—senyum yang tidak sepenuhnya ramah.

“Masih ada cara… tapi itu berarti kita harus menggunakan… pengaruh keluarga dan tradisi.

Kita tidak bisa membiarkan kekaisaran terguncang hanya karena hati seorang putra mahkota.”

Kaisar menegakkan tubuhnya, ketegangan terlihat jelas.

“Dan jika itu gagal?” gumamnya lirih.

Archduke menatap Kaisar dengan tajam.

“Jika gagal, kita harus siap menghadapi konsekuensi.

Dan ingat—Anthenia Blackwood bukan gadis biasa.

Dia memiliki keberanian dan naluri yang bahkan Liam… mungkin tidak bisa kendalikan sepenuhnya.”

Hening kembali menyelimuti aula.

Kata-kata Archduke menempel di benak semua yang hadir.

Semua menyadari satu hal: politik tidak pernah lunak, bahkan untuk anak sendiri.

Kamar Anthenia — Kediaman Blackwood, siang hari

Anthenia berdiri di depan jendela besar, menatap halaman kastil Blackwood.

Laporan tentang lamaran Kairo masih tersimpan di meja, tapi pikirannya terbang jauh.

“Archduke Aurelius… bahkan bisa memutuskan jalannya Liam…” gumamnya lirih.

Dadanya terasa sesak.

Jadi bukan hanya kekaisaran yang terlibat… aku juga… pikirnya sambil menekan telapak tangannya ke dada.

Ia memejamkan mata, mencoba menenangkan diri.

Namun detak jantungnya terlalu keras, hingga ia tersadar air matanya menetes.

“Ini… tidak boleh terjadi,” bisiknya.

“Tidak boleh… aku tidak boleh membiarkan diriku terlalu dekat…”

Langkah di depan pintu terdengar ringan.

Nelia, adik William yang masih tinggal di istana Araluen, muncul diam-diam.

“Anthenia… aku dengar tentang lamaran itu,” ucap Nelia dengan suara bergetar.

“Apakah… Kakak William akan benar-benar menikah dengan putri Kairo?”

Anthenia menoleh, wajahnya tetap tegar.

“Tidak ada yang tahu pasti, Nelia.

Yang jelas… aku harus bersiap. Dan kau juga.”

Nelia menunduk, menahan air mata.

“Kalau Kakak William menikah… aku… aku takut kehilangan dia.”

Anthenia menarik napas panjang.

“Kau tidak akan kehilangan siapa pun, Nelia.

Kita hanya harus bermain di bawah aturan mereka… dan tetap kuat.”

Istana Araluen — Kamar William

William menatap peta wilayah dan dokumen lamaran Kerajaan Kairo.

Tangannya mengepal, rahangnya kencang.

“Archduke sudah menetapkan semuanya,” gumamnya.

“Lunara menahan diri, tapi aku tahu dia setuju dengan langkah Ayahnya.

Dan jika aku menolak, kekaisaran bisa goyah…”

Ia menatap jendela.

Di kejauhan, bayangan menara Blackwood terlihat samar.

Anthenia… pikirnya.

Jika aku menikah demi kekaisaran, apakah aku akan kehilanganmu selamanya?

William menutup mata, menarik napas panjang, dan menepuk meja.

“Tidak. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi… tapi aku harus bermain sesuai aturan terlebih dahulu.

Aku harus mengulur waktu… sambil tetap menjaga apa yang penting.”

Di luar jendela, matahari kian condong ke barat.

Di balik cahaya senja,

keduanya—Anthenia dan William—terhubung oleh sesuatu yang tak bisa diucapkan: rasa yang harus ditahan.

Paviliun Selir — Heilen

Heilen mendengar kabar itu melalui pengawal pribadinya.

Ia menatap keluar jendela, senyum tipis muncul di bibirnya.

“Jika lamaran ini berhasil… pondasi kekaisaran akan semakin kuat.

Tapi…,” gumamnya, matanya berkilat licik,

“Anthenia Blackwood… gadis itu, selalu menjadi masalah.”

Ia mengepalkan tangan.

“Dan aku tidak akan tinggal diam.”

Ruang Singgasana Kaisar — siang menjelang sore

Udara di aula berat. Kaisar Whiston duduk tegang di singgasananya, sementara Archduke Cedric Aurelius berdiri di depannya, wajahnya tanpa ekspresi.

Permaisuri Lunara Aurelius tetap tenang, tapi matanya tajam, menatap setiap gerakan suami dan ayahnya.

“Liam tidak mudah menerima lamaran ini,” kata Archduke dengan nada dingin.

“Dan jika putri Duke Kaelen Blackwood menolak secara langsung… kita harus siap menghadapi konsekuensi.”

Kaisar menelan ludah, wajahnya pucat.

“Archduke… maksud Ayah… apakah ini berarti kita akan memaksanya?”

Archduke tersenyum tipis, hampir tak terlihat.

“Tentu saja tidak secara langsung.

Tapi ada cara agar Liam menerima lamaran ini—dengan menghormati tradisi dan pengaruh keluarga.

Jika ia menolak, kekaisaran bisa terguncang.

Dan kita tidak bisa membiarkan itu terjadi.”

Permaisuri Lunara menunduk sebentar.

“Kita berbicara tentang Liam… dan Anthenia Blackwood,” ucapnya pelan, suaranya nyaris tak terdengar.

“Dia… gadis itu tidak akan diam saja, Ayah.”

Archduke menatapnya tajam.

“Justru karena itu ia berbahaya.

Tapi Liam adalah darah Aurelius. Jika ia memutuskan… ia tetap akan mengikuti aturan.

Namun kita harus menyiapkan langkah jika ia menolak—dan jika Anthenia mengganggu jalannya.”

Kaisar menunduk.

Ia sadar: keputusan Archduke bukan sekadar lamaran, tapi pusaran yang bisa menahan atau menghancurkan segalanya.

Koridor Istana — Kamar William

William berdiri di jendela, menatap halaman istana yang diterangi cahaya senja.

Dokumen lamaran dari Kerajaan Kairo tergeletak di meja, rapi dan resmi.

Tangannya mengepal, rahangnya mengeras.

“Jika aku menolak lamaran ini, kekaisaran akan terguncang,” gumamnya.

“Tapi jika aku menerima… aku akan kehilangan sesuatu yang… tidak seharusnya hilang.”

Ia menoleh ke arah luar jendela, bayangan menara Blackwood terlihat samar.

Anthenia… pikirnya, wajahnya muncul begitu jelas di benaknya.

Jika aku menikah demi kekaisaran, aku mungkin akan kehilanganmu selamanya…

Namun William menutup mata, menenangkan diri.

“Tidak, aku harus mengulur waktu.

Aku akan menjaga segalanya—kekaisaran, hatiku, dan dia,” gumamnya tegas.

Kediaman Blackwood — malam menjelang

Anthenia duduk di meja kayu besar, menatap laporan wilayah dan kabar lamaran Kairo yang baru ia terima.

Hatinya bergetar, namun ia menahan air mata.

Jika Liam menikah demi kekaisaran… aku harus siap.

Ia menatap jendela, bayangan langit malam memantulkan wajahnya sendiri.

“Jane… kau bilang penyesalan lebih berbahaya daripada rasa sakit,” gumamnya.

“Tapi bagaimana jika rasa sakit ini tidak bisa kuhindari?”

Di luar, suara angin malam berdesir, membawa kabar bahwa dunia politik Araluen mulai menekan setiap langkahnya.

Dan Anthenia menyadari satu hal: pertarungan yang sebenarnya baru dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!