NovelToon NovelToon
Istri Jenderal Yang Mencuri Hatinya

Istri Jenderal Yang Mencuri Hatinya

Status: tamat
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Era Kolonial / Mengubah Takdir / Cewek Gendut / Tamat
Popularitas:2.6M
Nilai: 5
Nama Author: ICHA Lauren

Aku membuka mata di sebuah ranjang berkelambu mewah, dikelilingi aroma parfum bunga yang asing.
Cermin di depanku memantulkan sosok wanita bertubuh besar, dengan tatapan garang dan senyum sinis—sosok yang di dunia ini dikenal sebagai Nyonya Jenderal, istri resmi lelaki berkuasa di tanah jajahan.

Sayangnya, dia juga adalah wanita yang paling dibenci semua orang. Suaminya tak pernah menatapnya dengan cinta. Anak kembarnya menghindar setiap kali dia mendekat. Para pelayan gemetar bila dipanggil.

Menurut cerita di novel yang pernah kubaca, hidup wanita ini berakhir tragis: ditinggalkan, dikhianati, dan mati sendirian.
Tapi aku… tidak akan membiarkan itu terjadi.

Aku akan mengubah tubuh gendut ini menjadi langsing dan memesona.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ICHA Lauren, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku-lah Ibu Mereka

Nateya masih larut dalam dunia tinta dan kertas. Jemarinya menari di atas lembaran, seperti seorang penyair yang menuliskan sumpah pada dirinya sendiri.

Namun, suara berderit pintu depan membuat gerakan tangan Nateya terhenti. Suara langkah masuk terdengar jelas, diikuti suara Bi Warti yang menyapa penuh hormat.

"Silakan masuk, Nona Amara."

Tak berselang lama, suara berat Victor menyusul. "Nona, mari. Tuan Elias belum pulang, tapi Nyonya Seruni ada di dalam."

Nateya mendengus dalam hati. Lihatlah, bahkan pembantu dan ajudan yang seharusnya berpihak padanya justru menyanjung-nyanjung wanita ular itu.

Amara, si tokoh utama yang selalu disorot cahaya, sementara Seruni hanya ditinggalkan dalam gelap.

Meski begitu, tekad Nateya justru semakin kuat.

Tidak apa. Kali ini, dia yang akan menulis ulang kisahnya.

Jika dalam novel aslinya Amara adalah sang bunga harum yang dielu-elukan semua orang, dan Seruni hanyalah duri yang disalahkan, maka dia akan membalikkan takdir itu. Lihat saja bagaimana dunia ini akan berubah.

Dengan gerakan tenang, Nateya meletakkan pena di samping kertas, lalu berdiri.

Ketika langkah-langkah kecil memasuki ruang tengah, kedua bola matanya langsung tertuju pada dua anak kembar yang membuat jantungnya berdegup lebih kencang. Julian, putra sulung dengan tatapan tajam meski masih kecil, menggandeng tangan seorang gadis mungil berwajah pucat. Anelis, gadis bisu yang matanya seindah cahaya bulan, tampak sedikit letih setelah sekolah.

Senyum lembut spontan muncul di wajah Nateya. Ia melangkah maju, tangannya terulur ingin menyentuh rambut Anelis, sekadar merasakan kehangatan putri kecilnya.

Namun, gerakannya tertahan tiba-tiba. Julian melangkah cepat ke depan, berdiri kokoh menghadang. Tangan mungil Julian terentang melindungi adiknya. Suaranya bergetar, tapi penuh keberanian.

"Nyonya, jangan memukul adik saya. Dia baru pulang sekolah. Tadi juga sempat jatuh di sekolah."

Nateya terperangah. Nyonya? Anak sekecil itu menyebut ibunya dengan panggilan dingin nan berjarak.

Ia teringat sejenak pada sejarah kolonial, ketika anak-anak menyebut ibu mereka dengan panggilan Moeder. Bukan Nyonya—sebutan asing yang lebih pantas untuk majikan, bukan seorang ibu.

Perih menjalar di dada Nateya. Bukan perih miliknya, melainkan luka Seruni yang tiba-tiba ia rasakan. Luka seorang ibu yang diasingkan dari hati anak-anaknya sendiri.

"Aku tidak ingin menyakitinya, Julian," ucap Nateya dengan suara lirih. "Aku hanya ingin memeluk Anelis, bukan memukulnya."

Sebelum Nateya sempat melangkah lagi, sebuah bayangan bergerak mendekat. Amara.

Wanita itu melangkah anggun dengan gaun berenda kuning. Wajahnya seketika memucat ketika matanya menangkap sosok Seruni yang berdiri di hadapannya.

Kebaya hitam elegan yang membalut tubuh gendut itu terlihat pas dan berwibawa. Riasan wajah yang membingkai mata dan bibir tampak begitu halus, bahkan lebih menawan daripada riasan yang ia kenakan hari ini.

Untuk pertama kalinya, Amara melihat kakak tirinya tidak seperti biasanya. Seruni bukan wanita berantakan yang mudah dipermalukan, melainkan sosok yang mampu mencuri perhatian.

Namun, kekaguman berselimut dengki itu hanya berlangsung sekejap. Amara cepat mengganti ekspresinya, menempelkan topeng kepura-puraan. Wajahnya dilukis dengan gurat prihatin yang manis, suaranya melayang lembut penuh simpati.

"Benar kata Julian," ucapnya manja, matanya menatap Nateya seolah menegur dengan kasih. "Kak Seruni jangan kasar terus pada anak-anak. Mereka sudah jelas tidak mau didekati, jadi jangan memaksa."

Kata-kata itu menetes bagaikan madu, tetapi Nateya tahu persis, di balik kelembutannya tersimpan racun.

Julian dan Anelis spontan mundur sambil menutup mata. Mereka menghitung dalam hati, detik-detik di mana amarah ibu kandung mereka akan meledak, lalu mengusir Amara dari rumah.

Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Nateya maju dengan tenang ke hadapan Amara, mengulurkan tangan, dan meraih topi putih yang menutupi rambut panjang nan terawat milik sang adik.

Sontak, tubuh Amara bergetar, takut jika Seruni yang beringas ini akan menjambak rambutnya.

"Apa yang kau lakukan, Kak? Aku hanya ingin melindungi anak-anak, kenapa kau mau malah berbuat kasar padaku," tanya Amara dengan nada dibuat-buat.

Senyum sinis tersungging di bibir Nateya. Ia memutar-mutar topi itu di tangannya sejenak, seolah sengaja mempermainkan perasaan Amara. Kemudian, dengan tenang, Nateya mendekat dan memasangkan topi itu lagi di kepala sang adik.

"Ck, sejak kecil sifatmu tidak pernah berubah, Adikku. Kau ini terlalu pengecut dan suka berpikiran negatif. Aku hanya mengagumi topimu. Harus kuakui bahwa kau sangat berbakat dalam hal merias diri. Tapi—"

Nateya menjeda kalimatnya sembari mencodongkam wajah ke arah Amara.

"Kau sama sekali tidak cocok menjadi seorang ibu. Kau bahkan belum pernah mengandung dan melahirkan. Lalu, bagaimana bisa mengajariku?" sarkas Nateya.

"Daripada kau mencoba menarik simpati kedua anakku, lebih baik kau cari kesibukan sendiri. Bukankah banyak pria yang ingin menjadi suamimu di luar sana? Pilihlah satu di antara mereka, daripada kau bersusah payah mendekati suami orang."

Setelah berkata demikian, Nateya berbalik lalu menggendong Anelis dengan gerakan tiba-tiba. Julian yang berada di samping Anelis, bahkan tak sempat menghalangi.

Sebelum membawa Anelis ke kamarnya, Nateya menoleh sekali lagi kepada Amara.

"Ikatan darah antara ibu dan anak sangat kental. Tidak akan bisa diputus oleh wanita munafik. Lebih baik kau pulang saja, di sini tidak ada kerjaan lagi."

1
tanpa nama
suami mu di makan adik tirmu seruni🤣
tanpa nama
jangan sampai si aldric ini jiwa pacar jiwa seruni yang nyasar🤣
tanpa nama
coba kau bayangkan obat bisu untuk anak mu seruni siapa tau bisa sembuh🤣
tanpa nama
setidaknya kekayaan mideren ikut jadi ga sia sia mati 🤣
tanpa nama
enak kali matinya lalu pindah jiea terus harta hartanya di nikmati pacar dan sahabatnya🤣
meutia candra
entah kenapa endingnya suka dengan mayor, walau suka juga dengan aldrich tp mayor benar2 cinta dalam diam tanpa syaraay huaaa
aeni
sangat bagus
𝕭'𝐒𝐧𝐨𝐰 ❄
yes cerai cerai cerai
Hana Nisa Nisa
keren
Noorjamilah Sulaiman
mantap
Nur Hayati
semangat nateya💪
Noorjamilah Sulaiman
wah,nmpknya 2org itu penyamar Kali ya bajul hitam
Noorjamilah Sulaiman
aduh seruni,mn Aldrich?
Noorjamilah Sulaiman
jerenal Elias baik jgk cuma tidak tegas Dan tiada pendirian
Noorjamilah Sulaiman
semangat seruni
Noorjamilah Sulaiman
gas terus Aldrich 🤣
Noorjamilah Sulaiman
wah sm aldric saja😍
Noorjamilah Sulaiman
bgs seruni
Noorjamilah Sulaiman
klu ikut tajuk novel,seruni ttp dgn suaminya ya gaiss
Noorjamilah Sulaiman
waduh jgn jatuh cinta y rigar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!