Yohan, seorang pemuda urban, mewarisi rumah bobrok di Yalimo dan bertekad menjualnya. Rencananya terhalang oleh roh ibunya, Sumiati, yang terikat pada tanah itu oleh 'Janji Darah'. Dalam upaya investigasi yang membawanya jauh ke pedalaman Papua, Yohan harus mengorbankan identitas modernnya (Pertukaran Jiwa) demi membebaskan Sumiati. Setelah berhasil, ia secara tidak sengaja melepaskan Kutukan Primordial yang lebih tua—energi jahat yang sebelumnya ditahan Sumiati—dan dipaksa menjadi 'Penjaga Pusaka' sejati. Yohan memimpin komunitas melawan serangan hukum dan militer korporat, yang berpuncak pada kemenangan spiritual atas kekayaan. Perjalanannya berakhir ketika ia menyadari bahwa pengorbanan terbesar bukanlah aset, melainkan kemampuan untuk memimpin dengan kerendahan hati dan tanpa kepastian diri, mengubahnya dari pewaris sinis menjadi pemimpin spiritual yang utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehadiran yang Menganggu
Yohan menahan keinginan untuk berlari. Keberadaan sosok tinggi, kurus, yang menghilang di balik tikungan, seolah merangkak masuk ke dalam jendela kamar terkunci milik almarhumah ibunya.
Ilusi optik. Kelelahan setelah perjalanan, bisik akalnya putus asa. Ia bergerak maju dengan kaki yang kaku. Ketika sampai di jendela, udara dingin masih menyelimutinya. Bau kamboja busuk, yang begitu diasosiasikan dengan jenazah dan keheningan, menusuk. Yohan menggertakkan gigi.
Ia mendorong daun jendela yang sudah tua dan berat itu, menutupnya dengan suara derit yang memekakkan. Ia tidak peduli seberapa kencang atau rapuh bunyi itu.
Yohan menghabiskan setengah jam berikutnya, menjepit celah jendela dan daun pintu Sumiati dengan obeng dan kain lap tua. Dia mandi air dingin untuk membersihkan pikiran, memaksakan logikanya untuk kembali.
Namun, kepalanya terasa sakit dan tinitus mendera. Udara di rumah ini terasa berat dan marah. Yohan akhirnya roboh ke ranjang tua di kamar depan. Di ambang subuh, ketika kabut tipis merangkak dari pegunungan dan menaungi Yalimo, Yohan terbangun. Bukan karena dingin atau suara nyamuk, melainkan karena bisikan. Sangat dekat, seperti air mengalir, suara isakan itu datang dari balik pintu kamar ibunya yang ia yakini telah disegel.
Suara itu terdengar basah, penuh keputusasaan, mengulang pola nada rendah seperti mantra duka yang tidak pernah selesai.
“Tidaaaaak… Tidaaak…”
Yohan menahan napas. Ia melompat dari tempat tidur. Tangannya gemetar mencari benda berat, ia hanya menemukan tas kulitnya.
Ia menyentuh daun pintu Sumiati. Itu terkunci rapat. Kain dan obeng yang dipasang Yohan tidak bergeser.
“Sumiati. Kalau itu kamu. Diam,” kata Yohan parau, terkejut mendengar dirinya sendiri memohon kepada roh yang baru ia sadari nyata.
“Aku janji. Aku akan pergi dari sini. Tapi jangan lakukan ini.”
Isakan itu terpotong, diganti keheningan mutlak. Kemudian, hening itu pecah oleh suara yang paling mengerikan dari semuanya: tawa cekikikan—tertawa sambil menangis, penuh rasa sakit, terdengar seperti suara wanita yang lehernya dicekik dari belakang. Tawa itu membeku di tulang Yohan. Itu adalah tawa yang penuh kebencian dan kelegaan.
Yohan berlari. Ia masuk ke kamar mandi, mengunci dirinya, dan duduk di lantai hingga matahari terbit.
Aku harus pergi sekarang. Urusan bisnis lebih dulu. Kalau ini bisa dijual, ini akan jadi masalah orang lain.
***
Tepat pukul sepuluh pagi, mobil SUV hitam metalik mengilap tiba di depan rumah Yohan. Kedatangannya menantang kondisi jalan desa Yalimo yang berlumpur. Kontras mencolok. Yohan, meskipun hanya tidur kurang dari dua jam, menyambutnya dengan dasi yang diikat rapi. Kembali ke identitas pebisnis membuatnya merasa aman.
Dari mobil itu keluar dua pria bersetelan mahal. Yang utama, Bapak Wanto, pengembang perumahan dari Surabaya, menjabat tangan Yohan dengan senyum bersemangat.
“Maaf, Tuan Yohan. Agak jauh ya dari kota. Tapi seperti yang saya bilang, lokasi di kaki gunung dan berdekatan sungai begini adalah hidden gem,” kata Wanto, matanya mengawasi pekarangan yang rimbun.
“Terserah Anda,” jawab Yohan cepat.
“Saya butuh proses penjualan secepatnya. Marta, Kepala Desa, mempersulit birokrasi, mengatasnamakan ‘adat’. Jika Anda bisa menghadapinya dengan jalur notaris Jakarta, akan sangat membantu.”
“Ah, desa-desa di daerah memang selalu begitu. Tapi jangan khawatir, dana kami cukup kuat untuk mempercepat segalanya. Asal batas tanahnya jelas.” Wanto mengambil dokumen legal Yohan.
“Dua hektar di lahan yang paling ujung sana, ya? Yang langsung berbatasan dengan hutan lindung. Itu nanti buat pengembangan tahap kedua, hotel dan resort pegunungan.”
Wanto melambai pada anak buahnya yang sudah siap dengan pita ukur dan alat pemetaan GPS. “Ayo, Yohan. Tunjukkan pada kami batasan persisnya. Saya harus konfirmasi konturnya hari ini.”
Yohan merasa sedikit ngeri saat berjalan ke bagian paling ujung propertinya. Inilah area yang dilarang ibunya (atau bayangannya) dimasuki semalam. Area itu ditandai oleh pohon kamboja tua dan sebuah pagar bambu yang sudah ambruk—dekat dengan aliran anak sungai.
Saat mereka mencapai pohon kamboja, suasana menjadi sunyi aneh. Keringat Yohan tiba-tiba menguap, meninggalkannya dengan sensasi dingin di kulit.
“Oke, Pak Yohan, menurut peta digital kami, area inilah yang paling berpotensi dikeruk. Dasar tanahnya keras dan sepertinya sangat cocok untuk fondasi kuat,” jelas Wanto, menginjak tanah dengan sepatu bot kulit mahalnya.
“Kami akan mulai dengan membersihkan kamboja ini dulu. Kurang artistik.”
Tiba-tiba, kamera video di tangan asisten Wanto mati total. Layarnya menghitam dengan bunyi dengungan tinggi yang tajam.
“Pak? Batrenya penuh tadi,” lapor asisten itu gugup.
“Halah, paling kualitas barangnya,” desah Wanto, mengambil alat ukur dari tasnya. Dia menyenggol salah satu gundukan tanah, mencoba menandai titik dengan paku pancang logam.
Saat paku pancang menyentuh tanah, itu bukan lagi dengungan. Tanah di bawah sepatu bot Wanto mulai bergetar. Yohan tidak yakin apakah itu gempa lokal kecil atau bukan, tetapi getaran itu lokal, hanya dirasakan di area berbatuan dekat kamboja tua.
Yohan, panik, teringat isakan dari dalam rumah. Jangan ganggu dia. Jangan ganggu tanahnya.
“Bapak, kayaknya di sini sering ada pergeseran tanah. Mungkin sebaiknya….”
Belum selesai Yohan berbicara, Wanto berteriak kesakitan.
“Aduh!”
Salah satu batuan sungai yang cukup besar di dekat kaki Wanto, seukuran kepala manusia, tiba-tiba terlempar horizontal, mengenai tulang kering Wanto dengan kekuatan brutal. Wanto langsung jatuh, memegang kakinya.
“Batu itu bergerak! Ada yang melemparnya!” seru Wanto, wajahnya memucat, matanya menatap liar ke semak-semak kosong di belakang pohon kamboja.
Yohan merasakan rambutnya berdiri. Dia juga tidak melihat siapa pun. Dia hanya melihat gerakan lateral batu itu. Mustahil.
“Ini cuma batu jatuh, Pak. Jangan panik,” Yohan berusaha rasional.
Namun, kata-katanya mengkhianati dirinya. Di hadapan mereka, salah satu batang pohon kamboja tua tiba-tiba mengeluarkan suara crack keras, dan batangnya terlihat membengkok paksa ke bawah, seolah ditekuk oleh tangan tak kasat mata yang marah.
Batang pohon itu tidak patah. Itu hanya membengkok, menyiratkan beban yang tidak mungkin.
Asisten Wanto mulai berlari kembali ke SUV mereka. Wanto yang kesakitan berusaha bangkit, matanya penuh horor saat ia melihat bayangan. Bayangan di mana pohon kamboja yang membengkok itu seharusnya menghasilkan bayangan.
“Bukan, bukan hanya itu. Lihat itu! Ada seorang wanita tinggi… di balik kamboja itu…,” bisik Wanto dengan napas tersengal, kini benar-benar ketakutan.
“Dia… dia hanya berdiri dan menonton kita.”
Yohan menoleh, tidak ingin percaya. Dan di antara celah dahan kamboja, Yohan melihatnya. Siluet ramping yang sama seperti semalam. Sangat tinggi. Wajahnya gelap oleh kabut tipis yang aneh. Dan kali ini, Yohan merasakan bukan hanya kesedihan dan kemarahan, tetapi kepemilikan yang murni dan total. Tanah ini milikku.
Wanita itu mengangkat tangan kirinya yang panjang dan kurus. Dia tidak menunjuk, tetapi melakukan gerakan menghalau yang lambat, mengisyaratkan mereka untuk segera pergi.
“Ayo, Pak Wanto! Lupakan kesepakatan ini! Ini tanah terkutuk!” teriak Yohan, tidak peduli pada citra bisnisnya lagi. Dia hanya ingin menjauh. Logikanya lenyap. Ini spiritual. Ini ibunya.
Wanto yang pincang memandang Yohan dengan mata panik.
“Kamu... kamu sudah tahu tentang hantu itu? Kenapa kamu jual ke saya? Sialan!”
“Aku juga nggak tahu apa-apa! Semuanya dimulai setelah aku sampai di sini!” Yohan mencoba membantu Wanto berjalan.
Wanto mengibaskan tangan Yohan, ketakutannya lebih besar dari sakit.
“Saya tarik kembali penawaran. Semua biaya investigasi ini kamu tanggung. Kita tidak pernah bertemu. Dan saya bersumpah saya akan black-list properti ini ke semua klien saya! Aku nggak mau kembali ke sini!”
Dengan lutut berdarah dan hati hancur, Wanto didukung asistennya, berlari compang-camping kembali ke SUV mewah mereka, meninggalkan pita ukur dan GPS, serta jejak kotor di karpet rumah Yohan. Ban SUV berputar gila-gilaan saat mobil itu keluar dari Yalimo.
Yohan berdiri sendirian di pekarangannya yang sunyi. Nafasnya terengah. Rencana bisnisnya hancur dalam hitungan detik oleh kekuatan yang tidak pernah dia anggap nyata.
“Kau menakuti ku... tapi kamu juga menghancurkan kesempatanku untuk membebaskan mu, Bu,” bisik Yohan kepada udara dingin di sekitar kamboja tua.
***
Aku harus pergi dari sini, ulang Yohan dalam benak, kali ini dipenuhi urgensi mutlak.
Dia berlari keluar, ingin menanyakan noda darah ini kepada siapa pun, kepada Marta yang sinis sekalipun, tetapi ia justru berpapasan dengan tetangga rumah di ujung jalan. Seorang wanita tua dengan mata yang lembut, mengenakan sarung tenun, sedang menyiram bunga. Namanya Ina.
Yohan mendekat terburu-buru, tanpa basa-basi ia meraih Ina yang tua dan lemah.
“Ina, kamu lihat sesuatu di sini tadi? Ada seseorang di dekat jendela, bayangan wanita, atau....” Yohan ragu menceritakan tentang batu melayang itu.
Ina membalikkan badan dengan sangat lambat. Matanya yang gelap memandang Yohan dengan rasa kasihan yang tak terbatas, namun tidak ada kejutan di dalamnya.
“Semua orang di Yalimo sudah melihat. Entah kamu pura-pura tidak lihat, atau kamu memang sudah tuli,” ujar Ina, suaranya tenang, berbeda dengan kekacauan Yohan.
Yohan menarik tangannya, merasa malu karena didapati dalam keadaan panik.
“Apa yang dilihat? Wanto, calon pembeliku, sangat ketakutan. Dia mengklaim ada wanita tinggi di bawah kamboja. Dia bilang itu kamu… Sumiati.”
Ina mengangguk perlahan, lalu menatap langsung ke mata Yohan. Yohan menyadari Ina tidak hanya melihatnya, tapi melihat ke dalam jiwanya.
“Itu adalah Sumiati. Dia tidak membiarkan. Dia tahu, anakku, apa yang kamu rencanakan. Kami di sini, semua tetua, sudah katakan itu padamu.”
“Mengapa dia bertindak begini? Jika dia tersiksa, dia harusnya mau bebas! Kenapa dia menghalangi aku untuk menjual? Jika aku tidak menjualnya, aku tidak bisa membayar biaya pelepasan adat itu!”
“Kau harus tanyakan itu pada ayahmu. Dia meninggalkan warisan yang berat, dan juga janji yang berat.” Ina menggoyangkan tangannya pelan, mengusap kerut di sudut matanya.
“Maksudmu janji adat dari Marta? Itu cuma alasan legal untuk menahan tanahku.”
Ina menggeleng.
“Ini lebih dalam dari itu, Yohan. Itu adalah Janji Darah yang disumpah oleh leluhurmu—disumpah di atas nyawa seorang wanita, agar rohnya menjadi Penjaga Batas. Aku pernah mendengar ceritanya. Sumiati telah diikat, Yohan.”
Ina mendekat, pandangannya dingin menusuk. “Jika ikatan ini begitu kuat sampai ibumu menghalangi kebebasannya sendiri, itu karena tanah yang kamu injak ini tidak boleh berpindah tangan ke orang luar.”
“Aku... aku hanya ingin tahu bagaimana cara agar rohnya pergi. Ada jejak aneh di rumah, Ina. Sidik jari, merah. Mungkinkah ada orang yang bermain-main? Wanto yang takut dan menjahili saya?” Yohan mengeluarkan sidik jari itu dari dalam kantong celana.
Semua usahanya untuk percaya ini kebohongan.
Ina hanya melirik sidik jari itu sekilas. Sama sekali tidak terkejut, seperti melihat lumut di tembok.
“Roh yang terikat dan dianiaya selalu meninggalkan jejak, Nak. Ghurungh menyebutnya sidik jari kekal.” Ina menarik Yohan lebih dekat.
“Dengarkan baik-baik. Dia adalah milik tanah ini, bukan milikmu lagi. Dan dia tidak akan melepaskan apa pun yang menjadi miliknya. Termasuk batas itu. Jika kamu tetap ngotot ingin menjual, rohnya akan menarik kembali kamu, agar kamu tinggal di sini dan menjadi gantinya. Selamanya.”
Aku terperangkap. Tapi jika ibuku memang terikat oleh Janji Darah, aku tidak akan meninggalkannya begitu saja untuk orang lain hadapi. Tekad baru muncul, lebih kuat daripada rasa takut. Ini bukan lagi tentang menjual tanah; ini tentang memecahkan masalah ini demi dirinya sendiri.
“Baik. Aku nggak akan jual,” janji Yohan kepada Ina, kepada tanah, dan kepada Sumiati yang terikat.
“Tapi aku juga nggak akan tinggal di sini sebulan. Aku akan mencari jalan pintas untuk pelepasan Janji Darah ini. Akan kulawan ritual ayahku.”
Ina hanya mendesah pelan. “Waktu itu adalah janji para tetua untuk melindunginya. Kenapa kamu ingin melawan apa yang tidak kamu pahami?”
“Karena dia mengorbankan Ibuku! Aku perlu tahu mengapa mereka—ayahku dan tetua desa—melakukan ritual busuk ini!” balas Yohan. Ia menatap Ina sejenak, lalu berbalik, kembali ke rumah, dokumen bisnisnya tak lagi penting. Kini yang ia cari hanyalah petunjuk legal, atau apa pun yang membantunya mendapatkan kebebasan.
Dia tahu hanya ada satu tempat tersisa yang bisa memberikan petunjuk, meski ia tahu,,,,,