NovelToon NovelToon
Syifa Si Wanita Kukang - Tumbal 7 Malam

Syifa Si Wanita Kukang - Tumbal 7 Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Kutukan / Hantu
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eouny Jeje

​"Cantiknya memikat, pelukannya menjerat, malam ketujuhnya... membunuhmu tanpa sempat bertaubat."

​Dihina sebagai gadis penghibur tak laku, Syifa berubah menjadi primadona VIP yang dipuja setelah menerima minyak keramat dari Nenek Lamiang, dukun pedalaman Kalimantan. Syifa memiliki daya tarik mistis yang membuat setiap pria merasa dialah wanita paling suci yang pernah mereka sentuh. Namun, kecantikan itu menyimpan rahasia gelap tentang sebuah hitungan malam yang tak boleh dilanggar.

​Pelariannya ke Kalimantan
Mempertemukannya dengan Agung, arsitek yang terobsesi pada wanginya, dan Penyang, pemuda lokal yang mencium aroma maut di balik pesonanya. Di tengah persaingan dua pria itu, Syifa menyadari satu hal: ada harga nyawa yang harus dibayar tepat di malam ketujuh. Kini, sebelum hitungan terakhir tiba, Syifa harus memilih antara mengikuti nafsu yang menghancurkan atau melakukan pengorbanan terakhir yang akan mengubah wujudnya selamanya.

BERANI MELEWATI MALAM KE-6?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eouny Jeje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menuntut tumbal dalam satu malam

​"Kecantikan yang dibasuh siksaan; satu malam untuk raga yang hangus dalam pelukan maut."

......................

Syifa terpaku di depan cermin, napasnya memburu menciptakan kabut tipis pada permukaan kaca yang sedingin es. Di bawah temaram lampu kamar mandi yang berkedip gelisah, ia menatap pantulan dirinya dengan ngeri sekaligus takjub. Sosok di dalam kaca itu bukan lagi manusia; ia telah menjelma menjadi entitas dengan kecantikan yang tak tertandingi, sebuah mahakarya kegelapan yang sanggup meruntuhkan iman dan akal sehat pria mana pun.

​Wajahnya kini seputih porselen namun memancarkan aura pucat yang mistis. Matanya berubah menjadi sumur hitam yang dalam, seolah mampu menghisap cahaya dan jiwa siapa pun yang berani memandangnya. Bibirnya merekah merah pekat—bukan karena gincu, melainkan karena aliran darah yang bergejolak hebat di balik kulitnya. Ia menyadari kebodohan terbesarnya: ia mencari penebus kutukan ke ujung dunia, padahal sang Lamiang palsu itu tak pernah sedetik pun meninggalkannya. Iblis itu bersemayam di balik bayangannya, berjaga di sudut matanya saat ia terjaga, dan menatapnya dengan lapar saat ia terlelap dalam tidur yang paling dalam.

​Pandangannya jatuh pada botol hitam di atas wastafel yang berdenyut, seolah memiliki jantung yang berdetak. Cairan di dalamnya tidak lagi tenang; buih-buih hitam pekat mendidih hebat, meletup-letup mengeluarkan aroma karat darah dan tanah kuburan yang menyesakkan dada. Ini bukan lagi minyak pemikat, ini adalah racun maut yang terkonsentrasi.

​Dengan tangan gemetar, Syifa meraih botol panas itu. Ia mengambil tetes demi tetes minyak hitam yang mendidih, lalu mengoleskannya dengan saksama ke wajah, leher, dada, hingga ke inti raganya. Seketika, kulitnya melepuh secara gaib sebelum akhirnya menyatu kembali dengan paksa. Pori-porinya seakan disuntikkan cairan tembaga panas yang merombak seluruh jaringan tubuhnya. Rasa sakitnya luar biasa; ia seakan dikuliti hidup-hidup oleh api yang tak terlihat. Tubuhnya melengkung, mencengkeram pinggiran wastafel hingga buku jarinya memutih, menahan jeritan yang bisa mengundang maut. Siksaan ini adalah hukuman, cara sang Kambe mengingatkan siapa pemilik raga Syifa sebenarnya.

​Namun, akibat paling mengerikan berada pada vonis mata di balik warna minyak hitam yang mendidih itu. Siapa pun pria yang tak sengaja menatap matanya malam ini akan langsung terkunci dalam pesona mematikan. Minyak hitam itu telah mengubah tatapannya menjadi sebuah hisapan vakum gaib; pria mana pun yang menyentuh kulit porselennya tidak akan bertahan hingga tujuh malam. Hanya dalam satu malam, raga mereka akan hangus dari dalam, paru-paru mereka akan mengering, dan jantung mereka akan berhenti berdetak seketika saat menyentuh kulit Syifa yang beraroma maut.

​Untung saja... bisiknya, suaranya kini terdengar merdu namun bergaung seperti lonceng kematian. Untung saja aku sudah memintamu pergi, Agung.

​Setitik air mata jatuh, namun segera menguap di atas kulitnya yang panas oleh sihir. Jika Agung masih di sana, satu sentuhan kecil saja akan mengubah pria itu menjadi abu dalam sekejap. Kini, Syifa berdiri tegak sebagai bidadari maut; cantik tanpa tanding namun jiwanya hancur berkeping-keping. Setiap jengkal tubuhnya adalah nisan bagi siapa pun yang berani mendamba.

Syifa perlahan membuka pintu kamar mandi, membiarkan aura hitam berbuih yang menyelimuti tubuhnya mengalir keluar seperti kabut maut yang tak kasat mata. Ia bisa merasakan lapar sang inang yang menuntut tumbal segera, namun tangannya justru meraih ponsel yang tergeletak di meja.

​Tepat saat jemarinya menyentuh layar, ponsel itu berdering. Penyang.

​Syifa membiarkan dering itu membelah hening tanpa niat untuk mengangkatnya. Saat ini, prioritas utamanya adalah mempertahankan kecantikan porselen ini—meski harus dibasuh siksaan. Bagaimana ia bisa menemui Agung jika ia terlihat hina di bawah ancaman Kukang? Ia tak sanggup membayangkan jika Agung atau Penyang melihatnya berubah menjadi nenek-nenek renta yang menjijikkan; alih-alih ciuman mesra, ia pasti akan diusir pergi menyeberang jalan seperti rongsokan tak berguna.

​Ting!

​Sebuah pesan WhatsApp masuk. Syifa membukanya dengan malas. Penyang mengirimkan pesan panjang, menuntut uang ganti rugi atas kerusakan yang terjadi. Syifa mengernyit; ingatannya samar. Ia hanya ingat saat Agung mati-matian menahan ujung mandau yang melayang ke arah pria itu.

​Merasa ada yang mengganjal, Syifa akhirnya memutuskan untuk menelepon balik.

​"Apakah aku menghancurkan segalanya?" tanya Syifa langsung saat sambungan terhubung.

​Suara Penyang terdengar datar di seberang sana. "Ya. Aku cuma berdiri diam, tapi Syifa yang lempar-lempar barang. Tak satupun benda yang aku terbangkan padamu, kan?"

​Syifa terdiam sejenak, dadanya berdegup kencang. "Lalu mandau itu? Bukan kau juga yang mengendalikannya?"

​"Bukan. Mandau itu tiba-tiba datang sendiri. Bergerak seperti punya nyawa," jawab Penyang singkat.

​Klek!

​Syifa langsung mengakhiri pembicaraan. Bulu kuduknya meremang. Jawaban itu mengonfirmasi dugaannya: Penyang bukan sekadar pemuda biasa. Dia adalah keturunan asli dan murni dari garis darah keramat yang mampu memicu reaksi gaib bahkan tanpa ia sadari.

​Tanpa pikir panjang, Syifa menyalin nomor rekening yang dikirimkan Penyang ke aplikasi m-banking-nya. Angka ratusan juta adalah hal kecil baginya. Berkat harta peninggalan Broto, uang sebanyak itu hanyalah recehan demi menjauhkan gangguan dari sosok sekramat Penyang. Namun, saat transaksi berhasil, bayangan hitam di cermin seolah kembali berbisik, mengingatkannya bahwa uang tidak bisa membeli nyawa yang harus ia setor malam ini.

Syifa melangkah tergesa meninggalkan area rumah sakit, menghindari sorot lampu jalanan yang terlalu terang. Ia berhenti di depan sebuah toko pakaian kecil di pinggiran jalan yang sudah tutup, namun etalasenya masih menyisakan cahaya remang. Dengan gerakan tangan yang kini sekuat baja akibat pengaruh minyak hitam, ia merusak kunci pintu samping, masuk ke dalam kegelapan toko tanpa ragu.

​Ia memilih baju secara acak dari manekin terdekat—sebuah gaun mini berbahan kulit sintetis hitam dengan potongan yang sangat sederhana. Secara manusiawi, ia mengganti pakaian rumah sakitnya yang berbau obat di balik bayangan rak.

​Namun, ada keajaiban yang mengerikan terjadi. Apa pun yang melekat pada tubuh Syifa saat ini, betapa pun acak atau sederhananya pakaian itu, ia tetap terlihat tak tertandingi. Sihir dari minyak mendidih itu seolah menyulap kain murahan menjadi sutra yang mematikan. Kecantikannya memancar menembus serat pakaian, membuat siapa pun yang berpapasan dengannya di jalanan menuju club malam langsung pangling, terpaku, dan tak mampu memalingkan wajah.

​Begitu ia melangkah masuk ke dalam club, dentuman musik seolah menyesuaikan diri dengan irama jantungnya yang berdenyut panas. Di bawah lampu neon yang berputar liar, Syifa berdiri sebagai pusat gravitasi kegelapan.

Ia tidak membuang waktu. Sasarannya adalah sebuah ruang VIP di pojok tempat tiga pria mapan sedang berpesta, tawa mereka keras dan sombong di bawah pengaruh alkohol yang pekat.

​"Boleh aku bergabung?" suara Syifa terdengar seperti melodi surgawi, namun bagi sang Kambe, itu adalah suara lonceng kematian.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
@🏡s⃝ᴿ yayuk
waduh agung akan mati kah
@🏡s⃝ᴿ yayuk
waduh ini kapan berkahir kasihan jadi tumbal
@🏡s⃝ᴿ yayuk
waduhhh
@🏡s⃝ᴿ yayuk
lhaaa trus kemana itu kukang nya
@🏡s⃝ᴿ yayuk
aduhh gila ini pengeruh iblis
@🏡s⃝ᴿ yayuk
ahhaha perempau memang banyak drama tak ada yg bisa mengerti 😝
@🏡s⃝ᴿ yayuk
ahahahhaha aq ngakak baca artinya juga 🤣🤣🤣
@🏡s⃝ᴿ yayuk
hiiii ngeri sekali ya
@🏡s⃝ᴿ yayuk
iblis twtaplah iblis
@🏡s⃝ᴿ yayuk
wow
karena apa coba
@🏡s⃝ᴿ yayuk
waduhh piye jal
@🏡s⃝ᴿ yayuk
waduhh bodoh sekali tp apa boelh di katanya kan
Mersy Loni
lanjut thor
@🏡s⃝ᴿ yayuk
wow lgsg kena target
Mersy Loni
aku tuh masih sedih sma broto jd tolong jangan nambah lagi ya, jgn biarkan agung juga pergi Thor.
Jeje: ya jgn ada kepikiran ke situ dlu kasian agungnya
total 3 replies
@🏡s⃝ᴿ yayuk
lah dalah
@🏡s⃝ᴿ yayuk
efekmya kok sampe gitu ya
@🏡s⃝ᴿ yayuk
minta sama sifa dia kaya raya lho
@🏡s⃝ᴿ yayuk
g kebanyang ya gimna ngerinya
@🏡s⃝ᴿ yayuk
kacau sudah berapa harga semua yg ada di etalse itu hadeg berhamburan sudah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!