Apa jadinya jika yang menjadi sekretaris di perusahaan adalah istri sendiri? jangankan bisa menggoda karyawan wanitanya bahkan untuk sekedar lirik sana-sini pun tidak akan bisa dilakukan.
Sementara itu, dibalik sikap ceria sang istri ternyata dia harus bertahan menghadapi keluarga suami yang sering menyindirnya karena belum dikaruniai anak. Akankah rumah tangga mereka bisa kuat ataukah harus hancur hanya gara-gara sang istri belum juga dikaruniai keturunan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9 Sebuah Pesan
Riki menepuk pundak Rio. "Sudah jangan sedih, mungkin belum saatnya saja kalian mempunyai anak," ucap Riki memberikan semangat.
"Entahlah Rik, padahal aku dan istri sama-sama sehat tidak ada masalah sama sekali," lirih Rio.
"Mungkin kalian terlalu sibuk, sabar pasti suatu saat nanti istri kamu juga akan hamil." Lagi-lagi Riki berusaha menghibur Rio.
"Oh ya, minggu depan anak-anak ingin mengadakan reuni SMA bagaimana? Apa kamu mau datang?" tanya Riki mengalihkan pembicaraan.
"Reuni? Di mana?" tanya Rio.
"Katanya sih di Jakarta ini karena teman-teman kebanyakan sudah bekerja di sini," sahut Riki.
"Entahlah, apa aku bisa datang atau tidak," ucap Rio sembari menyeruput minumannya.
"Kamu harus datang Rio, pasti teman-teman bahagia jika kamu datang. Dan dengar-dengar, Nathalie juga akan datang loh," seru Riki dengan menaik turunkan alisnya.
"Apaan sih, kok gitu?" sahut Rio terkekeh.
"Bukanya Nathalie mantan pacar kamu, dulu kalian adalah pasangan yang sangat cocok sampai-sampai kami mengira jika kalian akan berakhir ke pelaminan tapi nyatanya kalian malah putus. Sekarang Nathalie sudah menjadi model terkenal dan belum menikah, dia sangat cantik Rio, seperti anak remaja wajahnya gak pernah berubah," ucap Riki.
Rio terdiam, ucapan Riki membuat Rio kembali mengingat wajah Nathalie padahal selama ini dia sudah lupa. "Aku masukan nomor kamu ke grup ya, supaya kamu bisa tahu informasi mengenai reunian itu," ucap Riki.
"Boleh."
Rio pun memberikan nomor ponselnya, lalu Riki segera memasukan nomor Rio ke dalam grup WA. Seketika grup ramai, apalagi setelah Riki mengunggah foto dia bersama Rio di restoran itu. Kebanyakan para teman wanita dia mengatakan kalau Rio tampan dan masih seperti dulu, hanya saja bedanya sekarang sudah lebih dewasa.
Setelah bertemu Riki, Rio pun memutuskan untuk pulang karena waktu pun sudah malam. "Mas Rio kok belum pulang ya," gumam Ashika.
Ashika mondar-mandir di depan pintu merasa sangat khawatir. Tiba-tiba terdengar deru mobil Rio, seketika Ashika langsung membuka pintu dan menyambut kepulangan suaminya itu. Rii keluar dari dalam mobilnya dan seperti biasa menyunggingkan senyuman tampannya.
"Mas, aku khawatir banget," seru Ashika sembari memeluk suaminya itu.
"Kenapa khawatir, Mas sudah bilang akan pulang telat karena mau bertemu teman SMA," sahut Rio.
"Iya, tapi tetap saja aku khawatir," rengek Ashika.
Rio melepaskan pelukannya dan mencium bibir Ashika beberapa kali. "Kamu khawatir karena ini adalah hari pertama kamu tidak dekat-dekat dengan Mas jadi pikiran kamu ke mana-mana," ucap Rio.
"Rasanya rindu sekali tidak bertemu Mas sehari saja," rengek Ashika dengan manjanya.
"Dasar, ayo masuk!" ajak Rio.
Malam itu Ashika tidak masak karena memang Rio melarangnya soalnya Rio sudah makan dengan Riki. Sedangkan Ashika sendiri, dia masak mie untuk dirinya sendiri. Setelah selesai mandi dan berganti baju, keduanya naik ke atas ranjang dan mulai mengobrol seperti biasanya.
"Sayang, apa perlu Mas carikan asisten rumah tangga untukmu? Supaya ada yang bantuin kamu dan kamu juga tidak kesepian jika Mas bekerja," ucap Rio.
"Terserah Mas saja," sahut Ashika menurut.
"Bagaimana pun, Mas ingin kamu istirahat total biar kamu bisa cepat hamil," ucap Rio.
"Iya, Masku sayang," sahut Ashika.
"Ya, sudah sekarang kita tidur Mas sudah sangat lelah."
Keduanya pun mulai merebahkan tubuhnya, tidak membutuhkan waktu lama keduanya mulai masuk ke dalam mimpi masing-masing. Jam sudah menunjukan pukul 23.00 malam, Rio terbangun karena mendengar suara ponselnya. Dengan mata yang masih ngantuk, dia pun membuka ponselnya dan ternyata sebuah pesan di grup WA.
"Rio, aku sangat merindukanmu dan aku harap kamu akan datang di acara reunian kita nanti."
Deg...
Jantung Rio tiba-tiba saja berdetak kencang, dia melihat Ashika dan ternyata Ashika sudah terlelap. Tiba-tiba saja, pesan itu menghilang dan ternyata pesannya sudah dihapus oleh pemilik nomor itu. Pemilik nomor itu ternyata Nathalie yang tidak lain dan tidak bukan mantan Rio waktu di SMA.
Rio kembali mengingat waktu SMAnya, dulu keduanya putus karena beda visi dan misi saja bukan karena ada masalah serius. Rio waktu itu harus pindah ke Jakarta dan kuliah di Jakarta sedangkan Nathalie tidak bisa ikut kuliah bersama Rio karena Nathalie ingin mengejar cita-citanya menjadi seorang model. Hingga akhirnya mereka pun putus karena dua-duanya tidak bisa menjalani hubungan jarak jauh.
"Nathalie," batin Rio.
Pada saat Rio sedang melamun, sebuah pesan kembali masuk dan kali ini Nathalie mengirimkan pesannya ke nomor pribadi Rio. "Apa kabar, Rio!"
Tangan Rio mulai bergetar, dia bingung harus apa. Kalau dibalas, dia takut Ashika tahu dan marah tapi jika tidak dibalas tanganya terasa gatal ingin membalasnya. Cukup lama Rio melihat layar ponselnya, hingga Ashika pun menggerakan tubuhnya dan Rio pun kaget lalu menyimpan ponselnya kembali.
Rio mulai merebahkan tubuhnya dan tidak membalas pesan itu.
***
Keesokan harinya...
Seperti biasa keduanya sarapan bersama, mereka berdua saling bercanda dan tertawa bersama. Hingga ponsel Rio kembali berbunyi tanda ada sebuah pesan yang masuk.
"Kenapa pesan aku tidak dibalas? Aku tidak sabar menghadiri reuni itu dan aku ingin cepat-cepat bertemu denganmu."
"Siapa, Mas?" tanya Ashika.
Rio langsung memasukan ponselnya ke dalam saku jas. "Biasa si Ikbal, katanya siang ini aku ada rapat," sahut Rio gugup.
"Oh, nanti Mas pulang tepat waktu 'kan? Gak ke mana-mana dulu?" tanya Ashika.
"Iya, sayang," sahut Rio.
"Baguslah, karena aku nanti akan masak yang enak untukmu," ucap Ashika antusias.
"Wah, jadi tidak sabar nunggu sore. Apa sekarang Mas jangan masuk ke kantor saja? nemenin kamu disini?" goda Rio.
"Ih, apaan sih? Jangan dong, sudah sana berangkat kerja nanti kesiangan," ucap Ashika sembari mendorong tubuh Rio pelan.
"Baiklah, Mas berangkat ke kantor dulu. Kamu hati-hati ya, di rumah dan tunggu Mas pulang nanti. Oh iya, nanti siang sepupunya pembantu Mama datang ke sini," ucap Rio.
"Ok."
Rio pun mencium seluruh wajah Ashika dan dia segera pergi ke kantor. Selama dalam perjalanan, Rio teringat terus akan pesan yang dikirim oleh Nathalie. "Kenapa dia terus saja mengirim pesan kepadaku? Kalau terus-terusan begini, busa-bisa ketahuan sama Ashika. Aku harus keluar dari grup WA dan memblokir nomor Nathalie," batin Rio.
Pada saat lampu merah, tanpa ragu-ragu Rio pun langsung memblokir nomor Nathalie karena dia tidak mau sampai Ashika salah paham. Dia juga meminta maaf kepada Riki karena dia harus keluar dari grup WA dan syukurlah Riki mengerti tanpa banyak pertanyaan. Tidak membutuhkan waktu lama, dia pun sampai di kantor dan dia mulai bekerja kembali tanpa memikirkan Nathalie.
.lili kyk nya kecintaan sm boy deh..
.ayo lili sadar lah . tunjukan km kuat.. jg nangisan