Perasaan Kaylee Lumiere didasari oleh kasih sayang yang begitu besar sehingga ia rela menomorduakan kebahagiaannya sendiri.
Ia lebih memilih mendengarkan cerita cinta Atlas Theodore dengan wanita lain daripada mengambil risiko menyatakan cinta dan kehilangan kehadiran Atlas selamanya. Baginya, "memiliki Atlas sebagai sahabat" jauh lebih baik daripada "kehilangan Atlas karena cinta yang ditolak."
Kaylee Sudah ahli Menekan rasa cemburu, sesak napas, dan teriakan di dalam hati yang ingin mengatakan, "Seharusnya aku yang ada di posisi itu."
Kaylee merasa seperti berdiri di balik kaca bening. Ia bisa melihat Atlas dengan sangat jelas, menyentuhnya, dan mengetahui setiap rahasia terkecilnya, namun ada penghalang tak kasat mata yang mencegahnya untuk melangkah lebih jauh. Ia adalah orang paling dekat, sekaligus orang paling jauh dari hati Atlas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan yang Memuakkan
Tujuh belas tahun telah berlalu sejak badai di Italia mereda, dan genetik Theodore memang tidak pernah gagal. Garniel Michel Theodore, yang kini akrab dipanggil Niel, telah tumbuh menjadi pemuda yang sanggup menghentikan napas siapa pun yang memandangnya.
Dengan tinggi 185 cm, bahu kokoh seperti ayahnya, dan mata dingin yang seolah mampu menembus jiwa, Niel adalah penguasa tak mahkota di Helsinki International School.
Berbeda dengan Atlas yang dulu lebih ekspresif, Niel tumbuh menjadi pribadi yang irit bicara dan sangat dingin. Ia memiliki kelompok pertemanan yang solid, namun ia selalu menjadi kutub utara di tengah mereka. Namun, ada satu hal yang sanggup merusak ketenangan es milik Niel setiap harinya, Elizaveta Petrovna.
Pagi itu, di koridor kelas 12, suara denting sepatu hak tinggi yang beradu dengan lantai marmer sudah terdengar dari jarak lima puluh meter. Belum lagi suara cempreng yang sangat dibenci Niel.
"Oh my God, girls! Kalian harus lihat tas limited edition ini. Papaku baru saja mengirimkannya langsung dari Paris pagi ini. Cuma ada lima di dunia, dan salah satunya ada di tanganku!" seru Eliza dengan nada angkuh yang dibuat-buat.
Eliza adalah putri seorang pengusaha minyak asal Rusia. Wajahnya cantik, namun di mata Niel, kecantikan itu terkubur di bawah riasan yang terlalu tebal, terutama bibirnya yang selalu dipulas lipstik merah menyala. Ia adalah model remaja yang sombong, tidak terlalu pintar di kelas, dan hobi utamanya hanyalah pamer di depan dayang-dayang pemujanya.
Niel, yang sedang duduk di kursi taman koridor sambil membaca jurnal arsitektur milik ayahnya, hanya mengerutkan kening. "Cerewet," gumamnya rendah, suaranya sedingin es.
Eliza, yang merasa semua orang harus memperhatikan keberadaannya, sengaja berhenti di depan Niel. Ia mengibaskan rambut pirangnya yang panjang, menyebarkan aroma parfum menyengat yang membuat hidung Niel gatal.
"Hei, Niel Theodore. Kenapa mukamu ditekuk terus? Apa kamu iri karena tidak bisa membeli tas ini untuk pacar imajinermu?" tanya Eliza sambil tertawa mengejek, matanya yang besar menatap Niel dengan sombong.
Niel menutup jurnalnya dengan suara brak yang cukup keras. Ia berdiri, membuat Eliza harus mendongak jauh untuk menatap matanya.
"Singkirkan barang murahmu itu dari hadapanku, Petrovna," ucap Niel dengan nada datar namun menusuk. "Dan hapus lipstik merahmu itu. Kamu terlihat seperti badut yang baru saja memakan korban, bukan seperti model."
Wajah Eliza memerah padam. "Apa?! Kamu bilang ini barang murah? Dan kamu menghinaku badut?!"
"Berisik," potong Niel pendek. Ia melangkah pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan Eliza yang berteriak-teriak kesal di belakangnya.
"Niel! Aku belum selesai bicara! Dasar manusia batu!" teriak Eliza, suaranya menggema di seluruh koridor, membuat Niel semakin muak.
Ketidaksukaan Niel pada Eliza mencapai puncaknya saat jam pelajaran Matematika. Eliza, yang memang tidak pintar, terus saja mengeluh karena kukunya yang baru saja di-manicure patah saat mencoba mengerjakan soal di papan tulis.
"Aduh, ini soalnya kenapa susah banget sih? Kukuku jadi rusak! Niel, kamu kan pintar, cepat kerjakan ini untukku!" perintah Eliza tanpa tahu malu.
Niel tidak bergeming dari kursinya. Ia bahkan tidak melirik sedikit pun. "Tanganmu diciptakan untuk bekerja, bukan hanya untuk dipamerkan. Kalau bodoh, setidaknya jangan berisik," ucapnya dingin dari balik buku.
Satu kelas langsung terdiam. Teman-teman Niel hanya bisa menahan tawa, sementara Eliza hampir menangis karena malu dan marah. Bagi Niel, Eliza adalah definisi dari segala hal yang ia benci, sombong, kosong, dan sangat mengganggu ketenangannya.
Setiap kali Niel pulang ke rumah, Atlas sering bertanya tentang harinya di sekolah.
"Gimana sekolahnya, Niel? Ada gadis yang menarik perhatianmu?" tanya Atlas sambil merangkul Kaylee di ruang tengah.
Niel hanya mendengus. "Hanya ada satu gadis Rusia yang berisik seperti burung beo dan sangat pamer. Aku muak melihatnya setiap hari," jawabnya ketat.
Atlas dan Kaylee saling berpandangan, menyembunyikan senyum mereka. Mereka teringat masa lalu mereka sendiri, bagaimana benci dan cinta seringkali hanya dibatasi oleh selembar kertas tipis.
"Hati-hati, Niel. Kadang orang yang paling kamu benci adalah orang yang paling sering muncul di pikiranmu," goda Kaylee lembut.
Niel tidak menjawab. Ia hanya masuk ke kamarnya, membanting tasnya, dan tanpa sadar teringat kembali pada bibir merah Eliza yang bergerak-gerak saat memarahinya tadi.
"Gadis bodoh," gumamnya lagi, mencoba mengusir bayangan Eliza dari kepalanya, namun entah kenapa, aroma parfum mawar milik gadis itu justru seolah tertinggal di jaketnya.
🌷🌷🌷🌷🌷
Lanjut Cerita Niel Yaa, Makasih Sudah baca😍