Seorang gadis bernama bifolla queen zealia atau biasa dipanggil dengan zea, ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan cowok tampan dan populer di sekolahnya, saka zyzenio leonardo atau kerap dipanggil dengan leo. Meskipun leo adalah kakak kelasnya, zea tidak bisa menolak perasaannya. Namun, leo cuek dan tidak peduli dengan keberadaan zea. Zea pun memutuskan untuk mengejar leo dan mencoba mendapatkan perhatiannya. Tapi, apakah leo akan tetap cuek atau mulai menyadari perasaan zea?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marsanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecelakaan
Beberapa menit kemudian motor memasuki area perumahan zea, deretan rumah mulai terlihat, suasana jauh lebih tenang dibanding jalan utama tadi.
Leo sedikit memperlambat laju motornya. "Mana?" tanyanya singkat.
Zea tersadar dari lamunannya. "Hah?"
"Rumah lo." ucap leo lagi, nada tetap dingin dan datar. "Lewat mana?" lanjutnya.
"Oh….lurus kak." jawab zea cepat, berusaha tetap stabil.
Motor kembali melaju pelan, beberapa meter kemudian leo bertanya lagi tanpa menoleh. "Yang mana?" tanyanya.
"Itu kak yang ada pohon besar di ujung, yang pake pagar hitam." jawab zea.
Leo hanya berdecak pelan tanda mengerti, motor melaju sesuai arah yang zea tunjukkan.
Suasana semakin sunyi, anya suara mesin motor yang terdengar jelas di antara rumah-rumah yang mulai tertutup pagar.
"Ini?" tanya leo lagi ketika mereka mendekati satu deretan rumah.
"Iya kak."
Motor melambat, lalu berhenti tepat di depan rumah zea, mesin masih menyala beberapa detik sebelum akhirnya dimatikan.
Hening.
Leo tetap di atas motor dan zea turun perlahan.
"Makasih kak." ujar zea.
"Hm." jawaban singkat itu lagi.
Tidak ada tambahan apa-apa dan tidak ada basa-basi, tapi entah kenapa justru sikap dingin dan datar itu yang membuat zea makin sulit menjaga jarak.
Suasana perumahan tenang, hanya terdengar suara jangkrik samar dan hembusan angin yang lewat pelan. Zea berdiri di samping motor sambil memegang tali tasnya, ia masih berusaha terlihat biasa saja.
Zea menunggu entah menunggu apa, mungkin kalimat tambahan atau pertanyaan dari cowok itu, tapi leo tetap dengan wajah datarnya.
"Udah, masuk sana." kata leo singkat.
Zea mengangguk. "Iya kak."
Ia berbalik menuju gerbang dan membuka pagar pelan, tapi sebelum benar-benar masuk ia menoleh sedikit.
"Kak… hati-hati di jalan." teriaknya.
Leo sudah menyalakan mesin motornya lagi. "Ya." hanya jawaban singkat yang keluar dari mulut cowok itu.
Motor sport itu mundur sedikit dan berbalik arah, lalu melaju meninggalkan depan rumah zea tanpa banyak suara selain deru mesin yang menjauh. Zea berdiri beberapa detik di balik pagar sambil menatap punggung leo yang semakin kecil di ujung jalan.
Wajahnya tetap tenang, begitu motor itu benar-benar hilang dari pandangannya, zea langsung menutup pagar cepat dan berbalik menghadap halaman rumahnya.
"Oh my good, ya ampun…." bisiknya pelan, ia melompat-lompat dari tempat berdirinya. Ia menahan diri supaya tidak benar-benar salto di teras rumahnya sendiri.
Tadi leo tetap maksa ngantar dirinya dan itu cukup membuat hati zea berisik.
Zea menarik napas dulu sebelum benar-benar masuk ke dalam rumah, ia merapikan ekspresinya dan wajahnya ia atur kembali dengan tenang, tidak ada lagi senyum lebar yang tadi hampir tidak bisa dikontrol.
Pintu rumah dibukannya pelan, dan ia melangkah masuk dengan tas sekolah masih menggantung di bahunya, sepatu bahkan belum ia lepas.
Namun baru dua langkah menginjakkan kaki di ruang tamu, ia langsung merasa suasananya tidak biasa.
Mama berdiri di dekat meja, terlihat wajahnya tegang, sementara fira duduk di sofa dengan tangan saling menggenggam gelisah, udara terasa berat seperti sejak tadi dipenuhi kecemasan.
Begitu melihat zea, mama langsung bergerak cepat mendekat. "Zea! kamu dari mana aja nak?" suara mama terdengar lega sekaligus panik.
Zea terkejut. "Lho….zea baru pulang sekolah ma." jawab zea.
Mama menghela napas panjang. "Tadi mama telpon kamu berkali-kali tapi nggak kamu angkat."
Zea buru-buru mengambil ponselnya, namun layar ponselnya gelap.
"Lowbet ma, tadi ponsel zea habis batre." ujarnya pelan.
Raka menghembus napas berat. "Pantes aja nggak bisa dihubungi."
Raka berdiri tak jauh dari ruang tamu, masih mengenakan jaket hitam yang baru saja ia ambil dari kamarnya. Beberapa menit lalu ia sudah siap berangkat untuk menjemput zea bahkan helmnya sudah dipegang ditangannya, tapi sebelum sempat keluar rumah suara pintu depan terbuka lebih dulu, dan menampilkan gadis mungil yang mereka khawatirkan kehadirannya sejak tadi.
"Emang ada apa?" tanya zea pelan, perasaan tidak enak mulai muncul.
Fira menatap zea dengan wajah serius. "Pak rio kecelakaan ze."
Kalimat itu membuat tubuh zea terasa dingin. "Apa?" suaranya hampir tidak terdengar.
Mama menahan diri agar tetap tenang. "Iya, tadi waktu mau jemput kamu, mobil kamu ditabrak truk dari samping."
Zea langsung membeku tanpa berkata sepatahpun.
"Papa sekarang lagi di rumah sakit, ponsel pak rio retak dan rusak, jadi nggak bisa hubungi siapa-siapa lagi, makanya mama panik karena kamu juga nggak bisa dihubungi." ujar mamanya.
"Terus pak rionya gimana ma?" tanya zea.
"Tadi papa telpon, katanya kondisinya stabil tapi tangan kirinya patah dan harus dipasang pen.”
"Kasian pak rio ma." ujar zea pelan, matanya mulai berkaca-kaca.
"Iya, mama juga kaget banget dengarnya." jawab mama lembut.
"Untungnya papa bilang pak rio masih sadar waktu dibawa ke rumah sakit, dia bahkan masih sempat minta maaf karena nggak bisa jemput kamu." lanjut mamanya.
Zea menelan ludah. "Dia… minta maaf?" tanyanya.
“Iya, padahal itu bukan salah dia, truknya yang nyelonong dari samping." jawab mama.
"Mobilnya….?" zea bertanya lirih.
"Lecet parah di bagian samping, tapi nggak sampe hancur." jawab raka.
Tas di bahu zea perlahan terasa berat, zea memegang ponselnya yang mati itu erat-erat. Kalau saja baterainya tidak habis, mungkin ia bisa tau lebih awal kondisi pak rio.
"Mereka di rumah sakit mana ma?" suaranya kini pelan.
Baru beberapa menit lalu ia masih berceloteh girang di jalan, sekarang dadanya terasa sesak mendengar kabar ini.
"Di rumah sakit pusat kota, papa lagi urus administrasi di IGD." jawab raka dengan cepat, seolah sudah siap sejak tadi.
"Papa kenapa nggak jemput zea aja dulu." gumamnya lirih.
Mama mendekat dan memegang bahunya. "Bukan papa nggak mau jemput kamu nak." ucap mama pelan tapi tegas.
"Waktu kejadian kondisi pak rio harus langsung ditangani, papa nggak mungkin ninggalin dia sendirian di situ." lanjut mama.
Zea menunduk.
"Papa juga sempat bilang, kalau situasinya memungkinkan dia pasti tetap jemput kamu, papa justru khawatir kamu belum sampai rumah, makanya kami panik waktu kamu nggak bisa dihubungi."
Raka melirik tas di bahu zea. "Lo pulang naik apa dek?" tanya raka.
Zea terdiam sepersekian detik.
"Dianter….temen." jawabnya singkat, ia tidak ingin pembahasan melebar ke mana-mana sekarang.
Raka mengangguk tanpa curiga. "Syukurlah."
Fira berdiri dari sofa. "Jadi kita ke rumah sakit sekarang?"
"Iya, mama juga mau lihat langsung." jawab mama zea.
Zea langsung melepas sepatunya cepat-cepat, tangannya sedikit gemetar.
"Aku ikut."
Raka mengangguk. "Ya jelas ikut, lo juga harus lihat kondisi mobilnya nanti, itu kan mobil lo."
Beberapa menit kemudian mereka sudah bersiap keluar rumah dan raka yang menyetir, sepanjang perjalanan zea hanya menatap jendela tanpa banyak bicara. Tidak ada percakapan di dalam mobil, hanya suara mesin dan gesekan ban dengan aspal yang menemani perjalanan mereka menuju rumah sakit.
Bersambung