Karina rela melepaskan identitas dan membuang kemewahan yang dimilikinya sebagai putri tunggal keluarga Wijaya hanya untuk bersama Agus, ia jatuh cinta pada Agus karena kebaikan dan kejujurannya.
Pernikahannya tampak begitu sempurna dan bahagia, hingga Agus pun sudah menjadi pria sukses berkat dukungan dan bantuan Karina. Sayangnya dengan kesuksesannya, Agus justru terlena dan mengkhianati pernikahan yang sudah terjalin selama bertahun-tahun itu.
Bagaimana kisah selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada pernikahan Karina dan Agus? Apa yang akan dilakukan Karina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu Sama Seperti Ayahmu
Karina berdiri di trotoar yang retak dan menatap bayangannya di kaca sebuah halte bus yang kusam, ia hanya mengenakan kemeja katun lama dan celana kain yang warnanya sudah sedikit turun. Namun, tulang pipinya yang tegas dan sorot matanya yang tajam tidak bisa menyembunyikan garis keturunan bangsawan bisnis yang mengalir di darahnya.
Karina melangkah menyusuri trotoar di kawasan yang dahulu merupakan taman bermain bagi strategi bisnisnya yang brilian, ironisnya kini ia berada di sini bukan sebagai nyonya besar pemegang saham, melainkan sebagai seorang wanita yang menggenggam map plastik berisi fotokopi KTP dan ijazah lama yang sudah menguning.
Setiap gedung pencakar langit yang ia lewati seolah mengejeknya, ia melihat logo Grup Wijaya dan Agus Materialindo terpampang bersamaan di sebuah papan reklame digital raksasa. Wajah Agus ada di sana, tersenyum pongah dengan tulisan tokoh inspiratif tahun ini, Karina memalingkan wajah dan rasa mual mulai mengaduk perutnya.
Karina mencoba memasukkan lamaran ke beberapa kantor distributor bangunan skala menengah. Namun, sayangnya Karina belum diterima.
Karina keluar dari kantor itu dengan bahu yang merosot, matahari Jakarta membakar kulitnya yang kini tak lagi tersentuh perawatan spa mahal. Saat ia sedang berdiri di depan sebuah kafe mewah, mencoba mengatur napas dan menahan lapar agar uangnya cukup untuk makan malam anak-anak, sebuah mobil Rolls Royce Phantom berwarna hitam legam berhenti tepat di sampingnya.
Seorang pria tua dengan rambut yang seluruhnya memutih namun tetap terlihat gagah dalam setelan jas formal keluar dari mobil, pria itu terpaku dan matanya yang tajam di balik kacamata emasnya bergetar hebat saat melihat sosok wanita di trotoar itu.
"Karina?" suara pria itu berat dan penuh emosi.
Karina menoleh dan jantungnya seolah berhenti berdetak, "Paman... Paman Andri?" gumam Karina.
Pria itu adalah Andri Wijaya, adik kandung almarhum Ayah Karina, Baskoro Wijaya. Paman Andri adalah orang yang paling keras menentang pernikahan Karina dengan Agus dua puluh tahun lalu.
"Astaga, Karina... Apa yang terjadi padamu?" Paman Andri mendekat, tangannya gemetar ingin menyentuh bahu keponakannya yang kini tampak begitu rapuh.
Paman Andri menatap pakaian murah yang dikenakan Karina dan map lamaran kerja di tangannya, "Kenapa putri mahkota Grup Wijaya berdiri di pinggir jalan seperti pengemis?" tanya Paman Andri.
Karina menunduk dan air mata yang sejak pagi ia tahan hampir saja tumpah, "Aku... aku baik-baik saja, Paman," jawab Karina.
Paman Andri memberi isyarat kepada pengawalnya untuk menjauh lalu ia menatap Karina dengan tatapan memohon, "Pulanglah, Karina. Cukup sudah permainan hidup sederhana ini, kau tahu kan kalau Ayahmu sudah meninggal dua tahun lalu. Ayahmu sangat merindukanmu, Karina, dia tidak pernah menghapus namamu dan dia meninggalkan semuanya untukmu," ucap Paman Andri.
Karina tahu jika Ayah Baskoro memang sudah meninggal dua tahun lalu, bahkan diam-diam Karina datang ke pemakamannya untuk memberikan penghormatan terakhir. Bukan hanya itu, setaip ulangtahun orangtuanya, Karina akan mengajak Ella dan Aisha pergi ke makam kedua orangtuanya.
Melihat Karina yang hanya diam, Paman Andri pun kembali bersuara. "Paman tahu, kamu belum siap untuk kembali. Ini kartu nama Paman, kalau kamu sudah memutuskan untuk kembali, jangan lupa hubungi Paman kapan saja, Paman akan selalu menunggu kedatanganmu," ucap Paman Andri dan memberikan kartu namanya pada Karina.
"Paman, maaf. Karina tidak bisa kembali, Karina sudah mengewakan keluarga Wijaya dan Karina tidak pantas untuk kembali," ucap Karina.
"Kamu sama seperti Ayahmu, sangat keras kepala. Asal kamu tahu, meskipun kamu sudah mengecewakan keluarga Wijaya, tapi Ayahmu tetap memikirkanmu. Seluruh saham Grup Wijaya, aset di luar negeri, properti di Singapura dan London, semuanya atas namamu. Ayahmu sudah mewariskan seluruh hartanya untukmu, Ayahmu tidak pernah melupakanmu, bahkan diakhir hidupnya, dia berharap bisa bertemu denganmu," ucap Paman Andri.
Paman Andri terdiam sejenak, menatap Karina yang masih terpaku seperti patung lalu ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah amplop hitam kecil dengan stempel lilin Grup Wijaya yang masih utuh.
"Ayahmu menyimpan ini di brankas pribadinya. Dia bilang, 'Andri, jika suatu hari kau melihat Karina dalam kesulitan, jangan paksa dia untuk bicara, tapi berikan ini padanya.' Dia tahu, Karina... dia tahu hatimu lebih kuat dari egomu," ucap Paman Andri dengan nada yang melembut.
Karina menerima amplop itu dengan tangan gemetar, bau kertas mahal itu mengingatkannya pada aroma ruang kerja ayahnya yang selalu dipenuhi bau cerutu dan buku-buku lama, kenangan masa kecil saat ia duduk di pangkuan sang ayah sambil belajar membaca laporan keuangan seketika membanjiri benaknya.
"Paman harus pergi ke pertemuan direksi sekarang, tapi ingat satu hal," Paman Andri menatap tajam ke arah gedung tinggi di seberang jalan, tempat logo Agus Materialindo bersinar angkuh.
"Harimau tidak akan pernah menjadi kucing hanya karena dia bersembunyi di semak-semak, darah Wijaya tidak akan pernah bisa diencerkan oleh kemiskinan," lanjut Paman Andri lalu masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan Karina yang berdiri sendirian di trotoar.
Karina memasukkan amplop dan kartu nama tersebut kedalam tasnya lalu ia kembali melangkah menyusuri trotoar panas untuk mencari pekerjaan dan tujuannya adalah deretan ruko perkantoran yang mungkin membutuhkan tenaga administrasi atau akuntan.
Dengan ijazah lamanya dan pengalaman dua puluh tahun mengelola keuangan perusahaan Agus dari nol hingga go public, ia yakin secara teknis ia lebih dari mumpuni. Namun, setiap kali ia menyodorkan cv sederhana yang baru ia cetak di warnet tadi pagi, para manajer hrd hanya menatapnya sebelah mata.
"Ibu sudah terlalu lama tidak bekerja di kantoran secara formal, pengalaman mengelola bisnis suami... maaf, kami butuh yang lebih muda dan paham sistem digital terbaru," ucap seorang pria muda di sebuah perusahaan logistik dengan nada meremehkan.
Cukup lama ia berkeliling, namun hasilnya tetap sajam Tudak ada yang mau memberikan Karina kesempatan, Karina lelah dan akhirnya ia memilih berhenti di depan sebuah toko elektronik besar yang memasang deretan televisi layar datar di etalase depannya. Kerumunan orang tampak berkumpul di sana, bisik-bisik mereka terdengar penuh kekaguman dan gunjingan, Karina secara naluriah ikut menoleh ke arah layar raksasa itu.
Ketika melihat berita di layar raksasa itu, jantungnya seolah berhenti berdetak, ia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.
Di layar televisi, saluran berita hiburan dan bisnis sedang menyiarkan secara langsung sebuah acara yang sangat megah dengan judul berita di baris bawah layar tertulis: Pernikahan Abad Ini! Raja Material Agus Hendrawan Resmi Mempersunting Sabrina Kartika Dalam Pesta Mewah Di Hotel Wijaya.
.
.
.
Bersambung.....