Caroline Watson mengorbankan seluruh masa mudanya demi pria yang ia cintai. Ia setia berdiri di sisi suaminya, menyingkirkan impian pribadinya sendiri. Namun pada akhirnya, pria itu justru menceraikannya dengan alasan yang kejam—Caroline tidak mampu memberinya seorang pewaris. Keputusan itu meninggalkan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Dengan hati hancur, Caroline memilih menghilang dari hidupnya.
Lima tahun kemudian, ia kembali menginjakkan kaki di negeri itu, ditemani seorang bocah laki-laki kecil dengan wajah polos yang menawan.
Kehidupan barunya yang selama ini tenang mulai terguncang ketika mantan suaminya mengetahui kebenaran—bahwa Caroline telah melahirkan seorang putra. Seorang anak yang memiliki darahnya.
Namun kali ini, Caroline bukan lagi perempuan lemah yang dulu pernah ia tinggalkan. Ia telah berubah menjadi sosok yang jauh lebih kuat dan tak mudah disentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewisusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ratu Ular
Hampir malam ketika Caroline tiba di rumahnya—rumah William.
Sebenarnya, Caroline tidak ingin kembali ke rumah ini lagi. Namun, ia perlu mengambil semua barang miliknya, dan yang paling penting, ia perlu menghapus semua jejak keberadaannya di rumah itu.
Dia tidak ingin meninggalkan apa pun untuk William agar mengingatnya. Dia ingin pria itu melupakannya karena ia pun akan melakukan hal yang sama.
...
Ketika Caroline selesai memarkir mobil sewaannya di halaman depan, ia melihat Milla muncul dari pintu utama. Hanya dengan melihat ekspresi khawatir di wajah Milla saja sudah cukup membuat Caroline tahu bahwa sesuatu sedang terjadi di dalam.
Caroline menghela napas dalam-dalam sebelum keluar dari mobil, “Bibi, kenapa wajahmu terlihat begitu kesal?”
“Nona muda, seseorang sedang menunggumu,” kata Milla dengan nada khawatir. Caroline bisa menebak siapa orang yang ia maksud.
“Ratu Ular?” kata Caroline santai sambil berjalan menuju pintu. Ia sudah menyiapkan dirinya untuk menghadapi ibu mertuanya untuk terakhir kalinya sebelum meninggalkan rumah ini.
Milla tidak mengatakan apa-apa selain mengangguk. Ia mengambil tas Caroline dan berjalan mengikuti Caroline masuk ke dalam.
“Bibi, apakah kau sudah selesai mengemas semua barang yang aku minta?”
“Ya. Aku sudah mengemas semua barangmu dan menurunkan semua fotomu di rumah ini. Tapi—” Milla berhenti sambil menghentikan langkahnya.
Caroline juga berhenti lalu menoleh untuk menatap Milla.
“Nona, aku tidak masuk ke kamar Nona muda… maksudku kamar William. Kau tahu, pembantunya selalu menjaga kamar itu dan tidak pernah membiarkan siapapun masuk selain dirinya, bukan!?” katanya dengan suara pelan, takut ada orang yang mendengar pembicaraan mereka.
Caroline sedikit mengernyit, namun sedetik kemudian ia tersenyum sambil menepuk bahu Milla dengan lembut.
“Bibi, jangan khawatir. William tidak akan pernah menyimpan fotoku di dalam kamar tidur dan ruang kerjanya…” Bibirnya menampilkan senyum samar yang nyaris tak terlihat ketika ia mengingat betapa dinginnya William terhadapnya selama empat tahun pernikahan mereka.
Hanya sedikit orang yang tahu bahwa mereka tidak berbagi kamar tidur yang sama. Mereka memiliki kamar masing-masing. William hanya mengunjungi kamarnya ketika ia ingin bercinta dengannya. Hidupnya di rumah ini seperti seorang wanita istana dalam drama sejarah Timur, sebagai seorang selir.
Selama ini, ia berkhayal bahwa William memiliki perasaan padanya, meskipun hanya sedikit, itulah sebabnya ia menerima pengaturan ini.
Milla kehabisan kata-kata dan merasa sangat kasihan pada Nona mudanya. Ia tahu betapa menyedihkannya hidup Caroline di rumah ini, tetapi ia tidak bisa mengubah keputusan Caroline untuk pergi karena ia tahu bahwa Caroline benar-benar mencintai William. Ia hanya bisa melindungi Caroline jika ada yang mencoba menyakitinya secara fisik.
Caroline menyerahkan kunci mobilnya kepada Milla, “Bibi, bawa semua barangku dan barangmu ke mobil. Kita akan meninggalkan rumah ini malam ini setelah aku menyelesaikan urusanku di sini,” katanya sambil tersenyum untuk meyakinkan Milla bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Setelah melihat Milla pergi, senyumnya perlahan menghilang. Ekspresi manisnya berubah dingin, siap menghadapi sang ratu ular.
Caroline menarik napas dalam sebelum melangkah dengan percaya diri menuju ruang tamu.
Dia berusaha mempertahankan senyum Monalisa, meski di dalam hatinya ia sedikit khawatir Brenda Silverstone, ibu mertuanya, bisa melihat isi hatinya yang hancur. Ia tidak boleh terlihat lemah di hadapan wanita ini.
“Ibu,” sapa Caroline terlebih dahulu.
Meskipun ia membenci Brenda, sebagai sesama wanita, ia kagum pada bagaimana Brenda menjaga kecantikan dan tubuhnya. Ia masih terlihat muda meskipun usianya hampir enam puluh. Ia selalu tampil sempurna di hadapan orang lain, dengan riasan tebal dan tatanan rambut yang indah.
Caroline tidak pernah melihat Brenda mengenakan pakaian rumah yang santai, ia selalu tampil dengan gaun mahal nan indah dari merek ternama.
“Maaf, Ibu, aku pulang terlambat. Jika Ibu meneleponku lebih awal, aku akan pulang lebih cepat,” kata Caroline dengan ekspresi minta maaf yang dibuat-buat. Namun, ia tidak mendapatkan respons apa pun dari Brenda, hanya tatapan sinis.
Caroline tidak mempermasalahkan cara Brenda memandangnya. Ia dengan tenang duduk berhadapan dengan Brenda sambil mempertahankan senyumnya.
Melihat betapa tenangnya Brenda sekarang, belum mulai menghujatnya, Caroline bisa menebak bahwa Brenda masih belum tahu tentang perceraiannya dengan William. Karena jika wanita ini tahu, ia pasti sudah mengusirnya dari rumah.
“Ibu, mengapa Ibu menungguku di sini? Apakah ada sesuatu yang penting yang ingin Ibu bicarakan denganku?” Caroline bertanya lagi, mengingat kata-kata Milla bahwa Brenda telah menunggunya sejak sore.
Ekspresi dingin Brenda perlahan berubah ketika ia tersenyum, meskipun senyum itu tidak mencapai matanya.
Caroline tidak terkejut melihat senyum dingin Brenda, ia sudah terbiasa melihatnya. Ia hanya membalas senyum itu sambil menunggu Brenda berbicara.
Setelah beberapa detik keheningan, Brenda akhirnya berkata, “Jangan panggil aku IBU.” Suara dinginnya akhirnya terdengar, mengejutkan Caroline.
‘Hah… Dia sudah tahu!?’ Caroline bertanya dalam hati.
“Mengapa kau masih muncul di sini? Lebih baik kau pergi dari tempat ini, Caroline!” Mata Brenda begitu tajam, seolah ingin menampar Caroline dengan tatapannya.
“Aku terkesan kau sudah tahu soal itu…” jawab Caroline santai sambil menyandarkan punggungnya ke sofa. Ia merasa rileks, tidak perlu lagi berpura-pura.
Brenda terkejut melihat betapa tenangnya ekspresi Caroline sekarang. Ia mengira Caroline akan membuat keributan di rumah ini karena William menceraikannya.
Hal yang paling ia khawatirkan adalah Caroline akan mendatangi media dan menceritakan pernikahannya dengan William, tetapi ia menunggu sepanjang hari, dan tidak ada apa pun yang terjadi.
Namun, hingga kini, Brenda masih belum merasa lega, khawatir Caroline memiliki rencana licik di balik punggung mereka—mempermalukan reputasi keluarga Silverstone.
‘Perempuan murahan ini pasti puas dengan uang yang diberikan William padanya. Itulah sebabnya ia terlihat begitu tenang dan setuju untuk diam tentang pernikahannya dengan William?’ pikir Brenda.
Setelah beberapa detik berlalu, Brenda akhirnya berbicara, “Tentu saja aku tahu,” ia berhenti sejenak ketika senyum jahat perlahan muncul di bibirnya, “—karena aku yang memaksa William untuk menceraikanmu.”
Caroline tertegun tanpa kata-kata mendengar apa yang ia dengar.
tapi juga kasian Caroline dibohongin 😢
keluarga ini ribet banget
ditampar → bangkit → balas semuanya
ini baru definisi wanita kuat 😭
Benjamin kelihatan panik tapi masih sok kuasa
Caroline kuat banget, ditampar tapi masih bisa berdiri dan melawan
keluarga Watson ini toxic parah