Greta Oto Wright terlahir sebagai putri dengan mata yang berbeda warna (Heterochromia) sama seperti ayahnya, sebuah tanda yang diyakini membawa nasib buruk. Sejak dalam kandungan, seekor kupu-kupu kaca tembus pandang telah berterbangan di sekitar istana, seolah-olah menjaga dan mengawasinya.
Ketika tragedi menimpa kerajaan, Greta menjadi terisolasi, terperangkap oleh mitos, ketakutan, dan rahasia orang-orang terdekatnya. Dalam keheningan dan keterasingan, ia perlahan menyadari bahwa apa yang disebut kutukan itu mungkin adalah kekuatan yang tersembunyi dari dunia.
Note: Non Romance
Follow ig: gretaela82
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greta Ela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Greta Ketahuan
Saat kejadian batuk darah itu, Arion mulai lebih sering memperhatikan Chelyne, Ia takut istrinya mengalami hal yang lebih buruk lagi.
Pagi itu, Greta duduk di ranjang orang tuanya, sebentar lagi Greta akan tidur sendiri, tidak bersama orang tuanya lagi.
Ia memandangi toples kecil yang sudah menjadi dunianya sendiri. Kumbang koksi di dalamnya merayap pelan di antara daun-daun kecil yang ia ganti setiap hari. Greta menempelkan wajahnya ke kaca, tersenyum lebar.
"Kau mau keluar?" tanyanya lirih, seolah serangga itu bisa mengerti.
Ia membuka tutup toples sedikit saja, hanya untuk memberi udara lebih. Tapi kumbang itu bergerak lebih cepat dari yang ia perkirakan.
Dalam sekejap, sayap kecilnya terbuka, dan ia terbang keluar jendela yang sedikit terbuka.
Greta terkejut.
"Eh–tunggu!"
Tanpa berpikir panjang, Greta berdiri dan berlari keluar kamar. Ia melewati lorong castle dengan kaki kecilnya yang cepat, menuruni tangga tanpa memperhatikan apa pun selain titik merah kecil yang melayang menjauh.
Tak ada pelayan yang melihatnya maupun pengawal.
Ia berlari melewati halaman, keluar dari gerbang kecil yang biasa dipakai pelayan, dan terus mengikuti kumbang itu yang terbang rendah, seolah sengaja menunggunya.
Dunia di luar terasa lebih luas, lebih berisik, dan lebih asing, tapi Greta tidak takut. Ia hanya ingin kumbangnya kembali.
Kumbang itu akhirnya hinggap di sebuah daun jagung muda, di lahan petani yang baru ditanami.
Greta berhenti, terengah-engah, lalu mendekat pelan. Ia mengulurkan tangan kecilnya, berusaha tidak mengagetkan serangga itu.
Saat itulah seseorang melihatnya. Seorang pria paruh baya, petani yang sedang merapikan tanah, mengangkat kepalanya.
Awalnya ia hanya melihat seorang anak kecil berpakaian halus berdiri di tengah ladangnya. Ia hendak berteriak, menegur, ketika Greta menoleh
dan pria itu sangat terkejut.
Mata itu, satu biru langit dan satu lagi hazel.
Ia pernah melihat mata seperti itu. Ya, itu adalah mata raja mereka sendiri. Mata heterochromia yang sudah menjadi tradisi yang diturunkan untuk anak laki-laki kerajaan.
"Tidak mungkin..." gumamnya.
Greta berhasil menangkap kumbang koksinya dan tersenyum senang. Tanpa sadar, kakinya menginjak satu baris tanaman jagung yang baru tumbuh. Tanah yang lembap meninggalkan bekas telapak kaki kecil, menekan batang muda hingga roboh.
Pria itu tersentak.
"Hei!" teriaknya.
"Apa yang kau lakukan?!"
Greta terkejut. Ia menoleh, matanya membulat.
"Maaf..." katanya pelan, nyaris berbisik.
Petani itu mendekat beberapa langkah, amarah dan ketakutan bercampur di wajahnya. Ia menatap pakaian Greta, rambutnya, lalu kembali ke mata itu.
"Siapa kau?" suaranya bergetar.
Greta mundur selangkah. "Aku... aku Greta."
Nama itu membuat napas pria itu tertahan.
Greta.
Nama yang sebulan terakhir beredar di antara rakyat, disebut pelan-pelan, penuh tanya. Putri kerajaan yang katanya ada, tapi tak pernah terlihat.
Putri yang disembunyikan.
"Jadi... benar," gumamnya. "Raja tidak berbohong."
Greta tidak mengerti. Ia hanya memeluk kumbangnya.
"Aku tidak sengaja," katanya lagi, menunjuk tanaman yang terinjak.
"Maaf..."
Pria itu membuka mulut, hendak membentak, tapi sebelum kata-kata keluar, suara lain memotong.
"Maafkan kami."
Thaddeus berdiri di sana. Ia datang terlambat, napasnya terengah. Ia langsung berdiri di depan Greta, tubuhnya membentuk perisai kecil.
"Adikku tidak sengaja. Aku akan mengganti tanaman itu."
Petani itu menatap Thaddeus, lalu kembali ke Greta. Matanya menyipit.
"Jadi ini benar," katanya lebih keras.
"Putri itu ada. Dan dia–"
"Cukup," potong Thaddeus tegas. "Dia masih kecil."
"Tapi mitos itu tidak," balas pria itu, suaranya meninggi.
"Kau tahu mitosnya, bukan? Heterochromia pada perempuan. Pembawa sial!"
Greta menggenggam baju Thaddeus. Beberapa petani lain mulai mendekat. Mereka melihat mata Greta, melihat tanaman yang terinjak, dan bisikan mulai menyebar.
"Matanya..."
"Benar seperti cerita lama."
"Pantas disembunyikan."
Petani paruh baya itu menunjuk ladangnya.
"Lihat! Baru saja dia datang dan ladangku sudah rusak!"
"Itu tidak disengaja!" Thaddeus berteriak. "Dia hanya anak kecil!"
"Tapi kenapa dia yang heterochromia, bukan kau?" sahut seseorang.
"Bukankah laki-laki seharusnya yang membawa tanda itu?"
"Dan kenapa raja menyembunyikannya selama ini?" tambah yang lain.
Pria itu melangkah mundur, ketakutan jelas di wajahnya.
"Pembawa sial!" teriaknya tiba-tiba. "Jauhkan dia dari sini!"
Kata itu menggema. Greta terkejut, matanya berkaca-kaca. Ia tidak mengerti arti kata itu, tapi ia merasakan nadanya.
Thaddeus tidak menunggu lagi. Ia mengangkat Greta ke dalam pelukannya dan berlari.
Ia tidak menoleh. Tidak menjawab teriakan.
...****************...
Ia hanya berlari kembali ke arah castle, jantungnya berdetak keras, pikirannya kacau.
Di belakangnya, rakyat mulai ribut. Berita menyebar lebih cepat dari langkah kaki.
Ketika Thaddeus tiba di castle, penjaga langsung panik.
"Putri keluar?" seru seseorang.
Berita itu sampai ke Arion seperti petir.
Ia berlari keluar kamar, wajahnya pucat. Ketika melihat Greta di pelukan Thaddeus, menangis tanpa suara, Arion merasa dadanya runtuh.
"Ayah…" Greta meraih leher ayahnya.
Arion memeluknya erat seolah takut ia akan menghilang.
"Apa yang terjadi?" tanya Arion dengan suara bergetar.
Thaddeus menjawab singkat. "Mereka melihat matanya."
Arion menutup mata. Itu saja sudah cukup.
Di luar tembok castle, rakyat mulai berkumpul. Tidak menyerang, tapi gelisah.
Mereka akhirnya tahu alasan di balik pengasingan itu. Mitos yang selama ini hanya bisikan, kini punya wujud nyata.
Putri kerajaan dengan mata berbeda yang menginjak ladang rakyat. Bagi rakyat itu adalah tanda pembawa sial.
Rakyat percaya pada mitos, mereka tidak peduli apa yang akan raja katakan, yang mereka tahu ialah putri kerajaan itu pembawa sial.
"Greta, kamu dari mana?" tanya Chelyne sambil batuk-batuk
Arion perlahan menyerahkan Greta pada Chelyne, Ia pergi dari kamar.
Perlahan, Arion berdiri di jendela, memandang rakyatnya sendiri dengan mata yang kini dipenuhi ketakutan. Arion tidak takut pada musuh luar, melainkan pada kepercayaan yang tumbuh di dalam kerajaannya sendiri.
"Yang Mulia, ini obat anda."
Grace yang baru selesai membuat racikan obat Chelyne pun terheran-heran. Ia meletakkan segelas obat diatas meja.
"Maaf Yang Mulia, apa yang terjadi?" tanya Grace
"Rakyat sudah melihat Greta dan..." batuk itu terus berlanjut
"Ibu!" ujar Greta sambil memeluk Chelyne
"Jadi, rakyat sudah tahu, Yang Mulia?" tanya Grace lagi
Chelyne meminum ramuan obat itu lalu mengangguk pelan dan memeluk Greta.
"Iya, Grace. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi."
Grace menunduk
"Oh," katanya lirih. "Begitu."
Ia tidak bertanya lagi bahkan tidak kelihatan panik. Grace Hanya berdiri sejenak, lalu mengambil kembali gelas yang sudah kosong.
"Yang Mulia harus banyak beristirahat," ujarnya.
"Situasi seperti ini bisa membuat tubuh semakin lemah. Saya akan memastikan tidak ada yang mengganggu kamar ini," lanjutnya.
"Dan saya akan mengawasi dapur. Ramuan untuk Yang Mulia akan saya buat sendiri."
Chelyne mengangguk lemah.
Grace melangkah keluar kamar dengan langkah tenang. Begitu pintu tertutup, wajahnya berubah. Senyumnya kembali muncul setelah sekian lama.
"Akhirnya." Batinnya.