NovelToon NovelToon
Kehidupan Yang Tercuri

Kehidupan Yang Tercuri

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Misteri / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Mata Batin
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di kota Lentera Hitam yang dingin, Arlan hidup sebagai kurir spesialis pencari barang hilang. Namun, sebuah distorsi visual di dapur rumahnya menghancurkan segalanya: ibunya yang sedang memasak memiliki tahi lalat di sisi wajah yang salah. Wanita itu tampak sempurna, kecuali satu hal—ia bernapas secara manual, sebuah gerakan dada kaku yang hanya dilakukan untuk meniru manusia.

Arlan menyadari dunianya sedang diinvasi secara halus oleh "Para Peniru", entitas yang mencuri identitas fisik namun gagal menduplikasi emosi. Setiap kali seseorang asli "terhapus", sebuah Koin Perak misterius tertinggal sebagai fragmen memori yang hilang. Misteri memuncak saat Arlan menemukan arsip rahasia: apartemennya seharusnya sudah hangus terbakar sejak 2012. Jika semua orang telah mati belasan tahun lalu, siapa sebenarnya yang selama ini hidup bersamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 Latihan Melihat Echo

Arlan terbangun dengan sentakan kecil di ulu hatinya. Udara di dalam bilik kecil itu terasa padat, berbau campuran antara debu perpustakaan dan sisa-sisa pelumas mesin yang menguap. Ia menatap langit-langit beton yang rendah, mencoba menyelaraskan kesadarannya dengan kenyataan bahwa ia tidak lagi berada di apartemen Sektor Tujuh yang kini telah terhapus dari peta. Di samping tempat tidurnya, jaket Archivist kelabu itu tersampir, tampak seperti kulit baru yang menanti untuk dikenakan.

Ia teringat jabat tangan Dante yang kasar dan hangat di malam sebelumnya. Kehangatan yang membuktikan bahwa di bawah tanah ini, kehidupan bukan sekadar kode perak yang dingin. Namun, rasa aman itu hanya bersifat sementara. Arlan tahu, kenyataan bahwa ia adalah "Darah Murni" hanyalah tiket masuk ke dalam peperangan yang jauh lebih besar.

"Kau sudah bangun, Kurir?"

Suara Mira terdengar dari balik tirai kanvas. Arlan bangkit, mengenakan jaketnya, dan merasakan berat yang pas di bahunya. "Sejak kapan kau di sana?"

"Cukup lama untuk mendengar napasmu yang tidak sinkron," jawab Mira saat ia menyibak tirai. Ia membawa nampan dengan dua cangkir logam. "Dante menunggumu di Kolam Refleksi. Dia bilang, jika kau ingin selamat di luar sana, kau harus berhenti melihat dunia dengan cara manusia biasa."

Arlan menerima cangkir itu, menyesap kopi hitam yang pahitnya membakar lidah. "Melihat tanpa mata? Itu yang dia katakan semalam. Kedengarannya seperti omong kosong filosofis."

Mira menatap Arlan dengan serius, matanya yang tajam seolah mampu menembus keraguan pria itu. "Bagi para Peniru, realitas adalah kalkulasi. Mereka menduplikasi kita berdasarkan apa yang terlihat di permukaan. Tapi mereka memiliki satu kelemahan teknis: lag frekuensi. Cahaya tidak pernah bisa benar-benar menyusul kebohongan mereka dalam waktu yang bersamaan."

"Dan kolam itu akan membuktikannya?"

"Kolam itu akan melatihmu untuk melihat retakan pada cermin dunia," bisik Mira. "Ayo. Dante bukan orang yang suka menunggu."

Ruang Pantulan yang Cacat

Mereka berjalan menyusuri labirin pipa uap yang mendesis pelan hingga sampai di sebuah ruangan yang jauh lebih dingin. Di tengahnya, terdapat kolam beton berisi air yang permukaannya begitu tenang, menyerupai lembaran kaca hitam. Tidak ada lampu listrik di sini; hanya beberapa lampu minyak yang diletakkan di sudut-sudut ruangan, membiarkan cahaya kuningnya menari-nari di atas air.

Dante berdiri di tepi kolam, menatap pantulannya sendiri. Ia tidak menoleh saat Arlan mendekat.

"Dunia yang kau kenal adalah hasil rendering yang hampir sempurna, Arlan," suara Dante bergema di dinding lembap. "Tapi setiap mesin memiliki batas kecepatan proses. Para Peniru, bahkan yang paling canggih sekalipun, mengalami keterlambatan sepersekian detik saat mereka berinteraksi dengan permukaan reflektif."

Arlan berdiri di samping mentornya, menatap air. "Aku hanya melihat pantulanku sendiri. Sedikit lebih kusam, tapi tetap aku."

"Itu karena kau masih melihat dengan otakmu, bukan dengan insting kurirmu," Dante berbalik, menatap tajam ke mata Arlan. "Kau kurir barang hilang, bukan? Kau dilatih untuk melihat kancing yang lepas, pola sidik jari yang kabur, atau arah jahitan yang salah. Sekarang, gunakan ketelitian itu pada cahaya."

Dante mengambil sebuah kerikil kecil dan menjatuhkannya ke tengah kolam. Riak air mulai menyebar.

"Lihat bayanganku di air," perintah Dante.

Arlan memfokuskan pandangannya. Saat riak air menyentuh pantulan Dante, ia melihat sesuatu yang aneh. Tubuh fisik Dante tetap diam, namun bayangannya di air tampak bergetar satu detik setelah air beriak. Ada jeda—sebuah tarikan statis yang tidak wajar.

"Itu... bayanganmu tertinggal?" Arlan mengerutkan kening, matanya mulai terasa pedih.

"Itu disebut Lag Visual," jelas Dante. "Di dunia luar yang dipenuhi lampu merkuri hijau-kebiruan, mata manusia biasa akan mengabaikan ini sebagai gangguan cahaya. Tapi di sini, kau harus belajar menguncinya. Sekarang, giliranmu. Masuklah ke dalam air."

Arlan ragu sejenak sebelum menanggalkan sepatunya dan melangkah ke dalam kolam. Airnya dingin menusuk tulang, jenis dingin endotermik yang mengingatkannya pada saat-saat ia berpapasan dengan patroli Eraser di gang lembap.

"Tatap pantulanmu, Arlan. Jangan berkedip," instruksi Dante. "Mira, matikan satu lampu minyak."

Ruangan menjadi lebih gelap. Arlan dipaksa untuk lebih mengandalkan persepsi sensoriknya. Ia menatap wajahnya sendiri di air. Matanya mulai terasa panas, seolah-olah ada butiran pasir perak yang menggores korneanya. Tekanan mental mulai meningkat; ia mulai merasa pusing, seolah-olah dunianya sedang diputar balik.

"Dante, mataku... ini sakit sekali," keluh Arlan, suaranya parau.

"Jangan tutup matamu! Jika kau menutupnya sekarang, kau akan kehilangan frekuensi itu selamanya!" Dante berteriak. "Fokus pada detak jantungmu. Sinkronkan dengan riak air!"

Arlan merasa hampir pingsan. Bayangannya di air mulai tampak retak, berubah menjadi serpihan statis kelabu yang mengerikan. Ia melihat wajahnya di air mulai menyerupai topeng tanpa fitur yang pernah ia lihat pada penjaga gerbang distrik. Rasa takut menghujamnya; apakah ia sebenarnya juga seorang salinan?

Dalam keputusasaan, Arlan mengingat pesan ayahnya dalam memori kunci tua: Jangan melihat langsung ke dalam api.

Ia tidak lagi memaksakan pandangan lurusnya. Arlan menggeser titik fokusnya. Ia menggunakan penglihatan tepi—melihat sedikit ke arah samping, pada titik buta di mana cahaya dan bayangan bertemu. Secara tidak sengaja, ia menerapkan solusi ketiga; ia tidak melawan rasa sakitnya, tapi ia mengalirkan fokusnya ke area yang tidak terlalu terbebani oleh cahaya langsung.

Seketika, rasa panas di matanya mereda. Dan di sana, di sudut matanya, ia melihatnya.

Bayangannya di air tidak lagi diam. Pantulan Arlan di air tampak sedang memegang Koin Perak yang bersinar, padahal tangan Arlan yang asli kosong di atas permukaan air. Ada jeda waktu yang nyata. Ia melihat bayangannya berkedip lebih lambat darinya.

"Aku melihatnya..." bisik Arlan. "Bayanganku... dia tidak mengikutiku dengan benar."

Dante tersenyum tipis, sebuah ekspresi langka yang menunjukkan kepuasan. "Selamat, Arlan. Kau baru saja menembus Tingkat Dua. Kau baru saja melihat Echo."

Arlan melangkah keluar dari kolam, tubuhnya gemetar karena kelelahan dan kedinginan. Mira segera menyampirkan handuk kering ke bahunya.

"Bagaimana rasanya?" tanya Mira lembut.

"Melelahkan," jawab Arlan sambil menyeka matanya yang masih sedikit berair. "Dunia terasa seperti rekaman video yang rusak. Aku tidak tahu apakah aku bisa melihat sesuatu dengan normal lagi setelah ini."

Dante mendekat, wajahnya kembali mengeras. "Kau tidak punya waktu untuk mengeluh. Kemampuan melihat Echo bukan untuk pajangan. Besok, kau harus menggunakan mata itu untuk kembali ke tempat yang paling berbahaya bagi seseorang dengan darah murni seperti dirimu."

Arlan mendongak. "Kantor kurir?"

"Benar," Dante mengangguk. "Kau harus menyusup kembali sebagai mata-mata. Manifes pengiriman tahun 2012 masih tersimpan di arsip pusat logistik. Kita butuh data itu untuk mengetahui siapa saja manusia asli yang sudah digantikan sebelum penghapusan massal Sektor Tujuh terjadi."

Arlan mengepalkan tangannya. Rasa nyeri di matanya berubah menjadi tekad yang dingin. "Aku akan mengambilnya. Aku punya hutang pada mereka yang hilang di apartemen itu."

Mata yang Terkoyak

Arlan terduduk di lantai beton yang kasar, mengabaikan rasa dingin yang menjalar dari celana kainnya yang basah kuyup. Ia menatap telapak tangannya sendiri. Di bawah cahaya lampu minyak yang remang, kulitnya tampak bergetar—bukan karena kedinginan, melainkan karena otaknya masih berusaha memproses lag frekuensi yang baru saja ia kunci. Dunia tidak lagi tampak sebagai satu kesatuan yang solid; melainkan dua lapisan realitas yang dipaksa bertumpuk namun gagal menyatu dengan presisi.

"Jangan mencoba melawan distorsinya, Arlan," suara Dante terdengar lebih lembut, namun tetap mengandung otoritas. "Jika kau mencoba menyatukan kedua gambar itu dengan paksa, saraf optikmu akan pecah. Biarkan matamu menerima ketidaksinkronan itu sebagai informasi, bukan sebagai gangguan."

Arlan menarik napas manual, mencoba menstabilkan debar jantungnya yang berpacu. "Bagaimana kau bisa hidup seperti ini setiap hari, Dante? Melihat dunia yang terus-menerus bergoyang seperti kaset rusak?"

Dante berjalan mendekat, bayangannya di dinding beton tampak meliuk lebih lambat daripada gerakan tubuhnya. "Kau akan terbiasa. Martabat manusia terletak pada kemampuannya untuk beradaptasi dengan penderitaan demi sebuah kebenaran. Para Peniru tidak bisa merasakan ini. Bagi mereka, realitas adalah garis lurus yang sempurna. Cacat yang kau lihat sekarang adalah bukti bahwa kau masih hidup."

Mira berjongkok di samping Arlan, memberikan sebuah botol kecil berisi cairan bening. "Teteskan ini. Ini ekstrak air raksa yang sudah dinetralkan untuk mendinginkan saraf matamu. Kau baru saja memaksakan indra Fragment milikmu berevolusi menjadi Echo. Tekanannya sangat besar."

Arlan menerima botol itu dan meneteskannya ke mata. Rasa dingin yang luar biasa langsung menyebar, meredam sensasi terbakar yang tadi menyiksa. "Terima kasih, Mira. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika aku tidak menemukan kalian."

"Kau akan tetap menjadi kurir yang bingung sampai suatu hari kau menghilang secara permanen," potong Dante dingin. Ia kembali ke meja petanya. "Dengar, Arlan. Kemampuan Tingkat Dua ini bukan sekadar alat deteksi. Ini adalah perisaimu. Di kantor kurir nanti, kau akan dikelilingi oleh para Peniru yang sedang menyamar sebagai rekan-rekan lamamu. Mereka akan mencoba berinteraksi denganmu, mengajakmu bicara, bahkan menyentuhmu."

Arlan bangkit perlahan, kakinya masih terasa sedikit goyah. "Dan aku harus berpura-pura tidak melihat perbedaan pada bayangan mereka?"

"Tepat sekali," Dante mengetuk permukaan peta. "Itu adalah ujian penyamaran yang paling berat. Kau harus melihat kebohongan mereka dengan jelas di permukaan reflektif, namun wajahmu harus tetap sedatar permukaan air kolam ini. Satu kedipan mata yang menunjukkan kecurigaan, dan mereka akan tahu bahwa kau bukan lagi bagian dari simulasi mereka."

Persiapan di Ambang Pintu

Arlan melangkah menuju meja, menatap manifes logistik yang sudah kusam. Di sana, ia melihat namanya sendiri tercatat sebagai pengirim paket terakhir ke Sektor Tujuh sebelum distrik itu dinyatakan "terhapus". Sebuah rasa pahit muncul di pangkal tenggorokannya. Ia mengingat paket itu—paket yang berisi gigi susunya sendiri, sebuah jangkar trauma yang dikirimkan oleh dirinya yang lain di masa lalu.

"Kenapa mereka membiarkan arsip 2012 tetap ada?" tanya Arlan sambil menyentuh kertas itu.

"Karena mereka malas," jawab Mira sambil merapikan peralatan medisnya. "Para Peniru bekerja berdasarkan efisiensi maksimal. Mereka merasa telah menghapus realitas fisiknya, jadi mereka menganggap data digital dan fisik yang terkubur di gudang tua tidak lagi relevan. Mereka tidak menyangka ada orang yang cukup gila untuk kembali ke sana hanya untuk membaca tumpukan kertas berdebu."

"Dan besok, orang gila itu adalah aku," Arlan menyunggingkan senyum tipis yang getir.

Dante menatap Arlan dengan saksama. "Ambil koin perakmu dan kunci tua itu. Masukkan ke dalam saku tersembunyi di jaket Archivist-mu. Jangan pernah biarkan benda itu terlihat. Ingat, Arlan, kau adalah 'Wadah'. Apa pun yang terjadi di kantor kurir nanti, jangan biarkan emosimu meluap. Jika kau marah, frekuensi tubuhmu akan naik, dan sensor di kantor itu akan menangkap anomali keberadaanmu."

"Aku mengerti," Arlan mengambil kunci rumahnya. Benda itu terasa hangat, kontras dengan udara bunker yang dingin. "Aku akan menjadi kurir yang paling tidak menonjol di seluruh Lentera Hitam."

"Bagus," Dante berbalik membelakangi mereka, kembali ke dalam kesendiriannya yang dingin. "Mira akan menunjukkan jalur tikus menuju saluran pembuangan Sektor Empat. Dari sana, kau akan muncul tepat di belakang gudang logistik. Masuklah sebelum matahari simulasi terbit."

Arlan menoleh ke arah Mira yang sudah bersiap di ambang pintu lorong. Sebelum melangkah, ia sempat melirik kembali ke arah kolam refleksi. Di permukaan air yang kini kembali tenang, ia melihat bayangannya sendiri sedang menatapnya balik dengan sorot mata yang jauh lebih tajam. Bayangan itu tidak lagi tampak takut.

"Dante," panggil Arlan sebelum menghilang ke dalam kegelapan lorong.

Dante tidak menoleh, hanya menghentikan kegiatannya sejenak. "Ya?"

"Terima kasih karena tidak membiarkan mataku tertutup tadi," ucap Arlan tulus.

Dante hanya mendengus pelan, namun Arlan bisa melihat bahu mentornya itu sedikit melentur. Arlan melangkah mengikuti Mira, menuju kegelapan yang akan membawanya kembali ke pusat kebohongan. Di dalam benaknya, ia sudah mulai memetakan wajah-wajah rekan kerjanya, mencoba membayangkan bagaimana bayangan mereka akan tertinggal di lantai keramik kantor yang mengkilap besok pagi.

Ia bukan lagi Arlan yang hanya bisa meratapi tahi lalat ibunya yang salah posisi. Sekarang, ia adalah mata yang akan menelanjangi setiap jengkal kepalsuan di kota ini.

1
prameswari azka salsabil
tetap berjuang arlan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
semangat arlan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
novel.misteri yang unik
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
wah gimaba nih. di mana yang aman
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 5 replies
prameswari azka salsabil
ayo arlan ungkap misterinya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
,wuih maduk ruang mayat
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
ayo arlan semangat
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
misteri yang bagus
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
tetap semabgat ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
gigi susunya dulu😄
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 5 replies
prameswari azka salsabil
kondisi yang sungguh misteriys
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 4 replies
prameswari azka salsabil
ayo tetap semangat arlan
Indriyati: mantap deh
total 3 replies
prameswari azka salsabil
cerianya bagus dan tanpa horor mistis
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 6 replies
prameswari azka salsabil
wah benar benar misteri yang kebtal
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 6 replies
prameswari azka salsabil
oh tokih seorang kurir ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 7 replies
Indriyati
novel ini memberikan nuansa misteri yang kuat sejak awal. ddan nuansa misterinya bukan mengarah ke horor sehingga cocok untuk pembaca yang tidak suka novel horor yang seram. cerita di.novel ini sungguh membuat saya penasaran mengenai apa yang terjadi sebemarnya. novel ink cukup menghibur dan tidak membosankan. semoga penulis tetap membuat karya yang bagus dan menarik. semangat ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 11 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!