Ririn tidak menyangka, nasibnya akan seperti ini. Setelah kedua orang tuanya meninggal, Seluruh kekayaan Orang tuanya di curi Akuntan keluarganya, dan Akuntan itu kabur keluar negri.
Rumahnya di sita karena harus membayar hutang, dan sekarang Ririn harus tinggal di rumah Sahabat Anggie.
Anggie menawarkan pekerjaan kepada Ririn sebagai Disagner di perusahan IT ternama, tanpa Ririn tau ternyata perusahan IT itu milik mantan pacarnya Baskara, yang punya dendam kesumat sama Ririn.
Apa yang akan terjadi dengan Ririn akan kah dia bertahan dengan pekerjaannya karena kebutuhan, Atau kah dia akan menemukan cinta yang lama yang sempat terputus karena salah paham
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Tetap Sahabat mu
Anggie berdiri di depan pintu apartemen Ririn cukup lama tangannya terangkat, lalu turun lagi. Napasnya tidak teratur. Ada rasa takut bercampur malu yang membuat dadanya sesak.
Kata-kata yang pernah dia ucapkan tentang Ririn berputar di kepalanya, tajam, menyakitkan 0pdan sekarang terasa begitu kejam.
Akhirnya, Anggie mengetuk pelan pintu itu pun terbuka berlahan.
Ririn muncul dengan kaus rumah dan rambut diikat asal. Begitu melihat Anggie, ekspresi Ririn berubah kaget.
“Anggie?” Suaranya ragu “Lu… kenapa ke sini?”
Anggie menelan ludah matanya sudah berkaca-kaca.
“Boleh gue masuk?” tanya Anggie lirih.
“Sebentar aja… ada yang pengen gue omongin.” kata Anggie lagi sedikit canggung.
Ririn mengangguk, menyingkir sedikit memberi Anggie jalan kemudian mereka duduk berhadapan di sofa kecil. Hening menggantung cukup lama Anggie memeluk tasnya erat-erat, seolah itu satu-satunya pegangan.
“Gue…” suaranya Anggi bergetar memulai pembicaraan.
“Gue datang buat minta maaf, Rin.” kata Anggie lagi akhirnya.
Ririn mengangkat wajahnya perlahan dia belum merespon apapun
“Maaf?” ulang Anggie pelan Anggie menarik napas panjang, lalu akhirnya menangis.
“Gue jahat sama Lu,” kata.Anggie terbata-bata.
“Gue ngomong hal-hal buruk… Gue ikut nyakitin lu, padahal lu sahabat gue.”
Ririn terdiam masih belum merespon bukan karena apa-apa dia hanya bingung harus bagaimana.
“Gue terbawa emosi,” lanjut Anggie sambil menyeka air mata.
“Gue dengar omongan orang, gue percaya cerita sepihak, Gue… bahkan nggak sempat nanya ke lu Rin.”
Ririn tetap menunduk tangannya saling menggenggam.
“Gue juga mau minta maaf atas nama Kak Dewi,” ujar Anggie lagi.
“Dia… dia terlalu jauh Kata-katanya ke lu nggak pantas, gue seharusnya bisa cegah, tapi gue malah ikut diam.”
Suara Anggie pecah.
“Gue benci diri sendiri karena itu.”
Ririn bangkit dari duduknya lalu mendekat kearah Anggie, Anggie refleks mendekat juga.
“Rin… kalau lu marah, gur ngerti. Kalau lu nggak mau ketemu gue lagi juga nggak apa-apa,”
Kalimatnya terputus ketika Ririn memeluknya erat hangat. Anggie terkejut, tubuhnya kaku beberapa detik sebelum akhirnya runtuh dalam pelukan itu.
“Gue nggak bisa marah sama lu gie,” kata Ririn pelan di bahu Anggie.
“Nggak bisa.” kata Ririn lagi pelan, Anggie terisak air matanya mulai turun.
“Padahal gue nyakitin lu…” sahut Anggie masih menangis.
Ririn menggeleng pelan lalu dia berkata.
“Karena lu ada buat gue waktu semua orang pergi,” jawab Ririn lirih.
“Waktu gue sendirian, waktu gue nggak punya siapa-siapa, lu nolongin gue tanpa banyak tanya.”
Anggie menangis lebih keras.
“Gue nggak sanggup benci orang yang pernah jadi sahabat gue,” lanjut Ririn dengan suara bergetar.
“Apalagi lu gie”
Anggie memeluk Ririn balik, kali ini lebih kuat.
“Maafin gue, Rin… tolong maafin gue,” katanya sambil terisak.
“Gue janji gue akan jadi sahabat yang nerima lu apa adanya,”
“Iya gue maafin,”
“Dari awal gue udah maafin.” jawab Ririn tanpa ragu.
Mereka menangis bersama bukan karena luka yang sama, tapi karena akhirnya tidak sendirian lagi.
Beberapa saat kemudian, mereka duduk berdampingan, kepala saling bersandar.
“Gue takut kehilangan lu Rin,” kata Anggie pelan.
“Takut lu bener-bener pergi dari hidup gue.”
Ririn tersenyum tipis, matanya masih basah.
“Gue mungkin marah,” kata.Ririn jujur.
“Tapi gue cuman punya satu sahabat lu Gie”
Anggie menggenggam tangan Ririn.
“Kali ini… gue bakalan jadi sahabat yang baik,” ucapnya tegas.
“Siapa pun yang nyakitin lu, gue nggak akan diam lagi.”
Ririn mengangguk pelan.
“Terima kasih,” katanya lembut.
“Itu aja udah cukup buat gue gie.”
Di ruangan kecil itu, dua perempuan yang sama-sama pernah salah dan pernah terluka akhirnya saling memaafkan dan memilih tetap berdiri bersama.