cerita fantasi berlatarbelakang zaman majapahit, ada plot twistnya, ada pengkhianatannya, penghiatan cinta, sahabat, ada percintaan, percintaan sebelah tangan, cinta segitiga, ada intrik sosial ada intrik politik, pemeran utama adalah anak penguasa yang terbuang, dihinakan, terlunta-lunta dengan dibenci karena orang tuanya yang dicap penghianat, pada akhirnya dia menapak sedikit demi sedikit dengan menyembunyikan identitas, merangkak naik kekuasaan untuk membalas dendam, pemeran utama tidak baik-baik amat, dia juga menggunakan cara-cara untuk mencapai tujuan baik itu cara licik, pura2 menjalin hubungna asmara, pura-pura bersahabat untuk mencapai tujuan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 21 — PERBURUAN DIMULAI
Tidak ada aba-aba.
Tidak ada teriakan.
Hanya satu anak panah saja yang menancap di batang pohon—tempat Raka berdiri beberapa detik lalu.
Thuk.
Bunyi itu pendek. Tepat sasaran. Tapi cukup untuk membuat muka Raka menjadi pusat pasi karena terkejut.
“Cepat lari dan sembunyi,” kata nenek tua itu cepat. Bukan teriak. Bukan bisik. Suara orang yang sudah tahu apa artinya terlambat untuk bergerak.
Mereka bergerak serempak.
Bukan lari—tetapi belum, karena musuh belum diketahu lokasinya. Mereka menyebar, memotong arah, menuruni kontur tanah yang lebih gelap. Hutan berubah wajah. Semak-semak makin rapat. Akar-akar keluar dari tanah seperti jebakan yang sengaja dipasang alam.
Raka tersandung. Dia hampir jatuh. Dan tangan seseorang dengan releks tinggi menariknya dari belakang.
“Angkat kaki mu Raka. Jangan diseret,” gumam suara itu.
Napas Raka memburu. Dadanya panas. Udara terasa basah dan berat, seperti dipaksa masuk.
Di belakang—atau mungkin di samping—ada gerakan lain. Tidak keras. Tidak panik. Justru terlalu rapi.
Mereka tidak mengejar. Mereka mengurung.
“Ke kiri!” seseorang berbisik.
Belum sempat Raka berpikir, tubuhnya sudah ditarik ke arah yang dimaksud. Sebuah anak panah melesat dari kanan, memotong udara setinggi dada.
Wuuut.
Anak panah itu menancap di tanah berlumpur. Bergetar pelan.
Raka menelan ludah.
“Raka, jangan lihat,” kata nenek itu dari depan. “Perhatikan langkahmu.”
Mereka berlari.
Kini benar-benar berlari.
Tanah berubah licin. Bau rawa makin tajam. Nyamuk beterbangan, tapi tidak ada waktu untuk menepis nyamuk-nyamuk tersebut.
Satu orang di belakang tersandung. Ada bunyi tertahan—ah!—lalu sunyi.
Raka refleks menoleh.
“Jangan menoleh kebelakang, lurus!” bentak seseorang.
Terlambat.
Ia melihatnya sekilas. Tubuh itu tergeletak miring. Sebuah bayangan melintas cepat. Sebilah bilah pendek berkilat, lalu menghilang lagi ke balik semak.
Tidak ada jeritan panjang. Tidak ada perlawanan.
Hanya satu tubuh yang tidak bergerak lagi.
Raka merasa tengkuknya dingin.
“Terus lari Raka jangan berhenti!” nenek itu memerintah.
Mereka menuruni lereng kecil dan tiba di tepi sungai. Airnya gelap, mengalir cepat, penuh cabang dan dedaunan.
“Nek apa kita harus nyebrang!” seru seseorang.
“Jangan,” kata nenek itu cepat. “Mereka sundah menunggu didepan.”
Seolah membenarkan, dari seberang terdengar plung kecil. Sesuatu menyentuh air—bukan jatuh, tapi masuk dengan sengaja.
“Mereka sudah ada di dua sisi,” kata seorang lelaki dengan napas berat. “Kita dipaksa jalan lewat Rawa.”
Nenek itu mengangguk singkat. “terpaksa kita ke hulu. Lewat rawa, persiapkan dirimu.”
Beberapa wajah ragu. Rawa berarti lambat. Rawa berarti jebakan.
Tapi pilihan untuk melarikan diri sudah habis.
Mereka berbelok. Masuk ke tanah lunak yang menghisap kaki. Setiap langkah perlu tenaga dua kali lipat. Air berlumpur naik sampai betis, lalu lutut.
Raka hampir menangis.
Setiap suara terasa terlalu keras. Setiap percikan seperti panggilan maut.
Tiba-tiba—thap!
Sesuatu melilit pergelangan kaki Raka.
Ia terjatuh ke depan. Lumpur menelan tangannya. Rasa dingin menjalar sampai tulang.
“Raka!” seseorang berteriak.
Sebuah tangan memegang bahunya, berusaha menarik. Tapi lilitan itu kuat.
“Tenang jangan panik!” nenek itu datang cepat. Tangannya menghantam lumpur, meraba, lalu menarik sesuatu—tali rotan tipis dengan duri kecil.
“Jebakan,” gumamnya. “Sengaja ditinggal.”
Wuuut!
Anak panah lain menancap tak jauh dari kepala Raka.
Kali ini lebih dekat.
“Angkat dia!” perintah nenek itu.
Dua orang menarik Raka. Kakinya bebas, tapi tertinggal rasa perih. Kulitnya sobek. Darah bercampur lumpur.
Mereka kembali bergerak, lebih cepat, lebih kacau.
Di belakang, suara langkah makin jelas. Mereka tidak terburu-buru. Mereka menunggu buruannya kelelahan, apalagi dengan membawa seorang anak kecil yang tentunya menghambat perjalanan Tim Raka.
Seseorang di samping Raka tersandung kedua kalinya.
“Jangan berhenti, Lanjutkan perjalanan!” teriak nenek itu, tanpa menoleh.
“Aku—” suara itu tercekat.
Raka menoleh lagi, refleks.
Ia melihat orang itu berdiri setengah, wajahnya pucat. Dari balik semak, sebuah bayangan muncul.
Bilah pendek berkilat lagi.
Seseorang mencoba menolong—terlambat.
Tubuh itu jatuh ke air rawa dengan suara berat.
Pluk.
Air berguncang. Lalu tenang.
Raka merasa mual.
Jumlah mereka berkurang. Ia bisa merasakannya, meski tak sempat menghitung.
“Kenapa mereka tidak langsung saja menghabisi kita Nek?” Raka terengah bertanya.
Nenek itu menjawab tanpa menoleh. “Karena ini bukan masalah cepat atau lambar Raka.”
“Lalu soal apa Nek?”
Soalnya…,” nenek itu berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “soal membuat kita terpecah belah sendiri.”
Tiba-tiba, dari depan, suara desir cepat. Bukan anak panah.
Sesosok tubuh melompat dari balik pohon, langsung ke arah nenek tua itu.
Gerakannya cepat. Terlalu cepat untuk ukuran orang biasa.
Nenek itu mengangkat lengannya. Tang! Bilah pendek menghantam besi tipis yang tersembunyi di balik kainnya.
Benturan keras. Percikan kecil.
Dua tubuh berpisah.
“Bawa lari Raka!” teriak nenek itu.
Raka ditarik lagi. Kali ini hampir terjungkal.
Di belakang, suara benturan terdengar—pukulan, kaki menghantam, napas berat. Pertarungan singkat, brutal, tanpa kata.
Raka tidak berani menoleh.
Ia hanya tahu satu hal: suara itu tidak akan lama.
Cepat, efisien pembunuhan yang rapi dan terukur.
Ketika mereka akhirnya keluar dari rawa, Raka kehabisan nafas. Kakinya gemetar. Dunia terasa berputar.
Mereka berhenti di balik gugusan batu besar.
Jumlahanggota kelompok mereka kini… lebih sedikit lagi. Tidak ada lagi anak-anak yang ikut rombongan, mereka sudah mengambil langkah mereka sendiri bersama orang tuanya.
Nenek tua itu menghitung cepat dengan mata. Rahangnya mengeras.
“Ini baru permulaan, sebentar lagi serangan susulan akan terjadi” katanya pelan.
Raka bersandar ke batu, terengah. Tangan dan kakinya gemetar tak terkendali.
“Aku… aku hampir mati,” katanya lirih.
Nenek itu menatapnya. Tatapan yang sama seperti kemarin. Tenang. Terlalu tenang.
“Kamu masih hidup toh,” jawabnya. “Makanya mereka akan terus menyerang karena