Genre: Dark Romance • CEO • Nikah Paksa • Obsesi • Balas Dendam
Tag: possessive, toxic love, kontrak nikah, rahasia masa lalu, hamil kontrak
“Kamu bukan istriku,” katanya dingin.
“Kamu adalah milikku.”
Nayla terpaksa menandatangani kontrak pernikahan dengan Arka Alveron — CEO muda yang dikenal dingin, kejam, dan tidak pernah gagal mendapatkan apa yang ia inginkan.
Awalnya, Nayla mengira kontrak itu hanya demi kepentingan bisnis.
Tiga bulan menjadi istri palsu.
Tiga bulan hidup di rumah mewah.
Tiga bulan berpura-pura mencintai pria yang tidak ia kenal.
Namun semuanya berubah saat Arka mulai menunjukkan sisi yang membuat Nayla ketakutan.
Ia mengontrol.
Ia posesif.
Ia memperlakukan Nayla bukan sebagai istri —
melainkan sebagai miliknya.
Dan saat Nayla mulai jatuh cinta, ia baru menyadari satu hal:
Kontrak itu bukan untuk membebaskannya.
Kontrak itu dibuat agar Nayla tidak bisa kabur.
Karena Arka tidak sedang mencari istri.
Ia sedang mengurung obsesinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jensoni Ardiansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KOREKSI
Lorong servis itu terasa seperti perut mesin yang sedang bernapas.
Udara dingin menempel di kulit Nayla, sementara lampu-lampu kecil di dinding menyala satu per satu, menciptakan jalur cahaya yang terlalu rapi untuk sebuah lorong tersembunyi. Di belakangnya, pintu servis masih terbuka setengah—sebuah garis tipis cahaya dari dunia “rumah” Arka yang kini terasa semakin jauh.
Tulisan digital di dinding masih menyala:
ACCESS DETECTED
STATUS: ACTIVE
CORRECTION PENDING
Suara Arka terdengar dari speaker kecil di atas kepalanya.
“Nayla,” katanya tenang,
“Kamu tidak seharusnya berada di sana.”
Nayla menggenggam tali tas kecilnya. “Aku hanya ingin keluar.”
“Keluar dari mana?” tanya Arka.
“Dari sistemmu.”
Beberapa lampu di lorong meredup. Lalu menyala lagi, lebih terang.
“Ini bukan sistemku,” jawab Arka. “Ini sistem yang melindungimu.”
Nayla melangkah satu langkah maju. “Kamu melindungimu sendiri.”
Keheningan sebentar.
Lalu terdengar bunyi klik—seperti pintu logam yang mengunci di kejauhan.
“Jangan bergerak,” kata Arka.
Nayla tidak menurut.
Ia melangkah lagi.
Panel kecil di dinding menyala merah.
WARNING — MOVEMENT DETECTED
Ia mempercepat langkah.
Lorong itu berbelok tajam ke kiri, lalu menurun. Bau logam dan lembap semakin kuat. Ia merasa seolah sedang masuk ke bagian tubuh rumah yang tidak ingin diperlihatkan.
“Nayla, berhenti,” suara Arka kini terdengar lebih dekat, lebih tegas.
Nayla berlari.
Lampu-lampu di belakangnya padam satu per satu, sementara di depannya, lampu menyala seperti mengundangnya maju.
Ia sampai di sebuah pintu besi kecil.
Di atas pintu itu, ada panel lain.
Ia menempelkan kertas kecil Laras ke panel itu—seperti yang ia lihat di map.
Panel berbunyi bip pelan.
ACCESS GRANTED
Pintu terbuka.
Dan Nayla melangkah masuk ke ruangan kecil berbentuk kotak, dindingnya dilapisi logam kusam.
Pintu menutup di belakangnya.
Klik.
Sunyi.
Lampu kecil menyala dari atas.
Tulisan baru muncul di dinding:
CORRECTION IN PROGRESS
Nayla menelan ludah.
“Apa ini?” bisiknya.
Speaker di sudut ruangan menyala.
“Ini ruang koreksi,” jawab suara Arka.
“Koreksi apa?” Nayla bertanya.
“Koreksi arah.”
Nayla menekan telapak tangannya ke pintu. “Buka pintunya, Arka.”
Keheningan.
Lalu suara mesin halus terdengar.
Dinding di depan Nayla menyala, menampilkan layar besar.
Di layar itu, muncul rekaman video.
Seorang wanita berdiri di lorong yang sama—rambutnya sedikit lebih pendek dari Nayla, wajahnya pucat, tapi matanya penuh perlawanan.
LARAS WIDYA.
Nayla membeku.
Laras menatap kamera dan berkata:
“Kalau kamu melihat ini, berarti kamu seperti aku.”
Laras tersenyum tipis. “Aku tidak menunggu.”
Rekaman itu terpotong.
Tulisan di bawahnya muncul:
STATUS: PENDING — LAST LOCATION UNKNOWN
Nayla menghela napas terputus.
“Kamu menahannya di sini,” katanya lirih.
“Aku mencoba menyelamatkannya,” jawab Arka.
“Dengan mengurungnya?”
“Dengan memberinya waktu untuk berubah pikiran.”
Nayla menatap layar. “Dan dia tidak.”
“Dan dia pergi,” ucap Arka pelan.
Nayla menutup mata sejenak. “Lalu kamu membuat sistem yang lebih ketat.”
Arka tidak menyangkal.
“Dan sekarang aku di sini,” lanjut Nayla. “Menunggu ‘koreksi’.”
Keheningan lagi.
“Nayla,” suara Arka terdengar lebih lembut, “kamu tidak seperti mereka.”
“Karena aku belum pergi?”
“Karena kamu masih bicara denganku.”
Nayla membuka mata. “Aku masih di sini karena kamu menutup semua pintu.”
Mesin berdengung pelan.
Tulisan di dinding berubah:
CORRECTION STAGE 1 — ACCESS REDUCTION
Nayla merasakan panel kecil di tasnya bergetar—ponsel “luar” miliknya meredup lalu mati total.
“Arka,” ucap Nayla, suaranya bergetar, “ini bukan cinta.”
“Ini perlindungan,” jawab Arka.
“Ini ketakutanmu,” balas Nayla.
Mesin berhenti berdengung.
Beberapa detik terasa seperti jam.
Akhirnya, suara Arka kembali terdengar:
“Kamu boleh kembali ke kamarmu.”
Pintu terbuka perlahan.
Lorong kembali terlihat—sunyi, rapi, dan dingin.
Namun sekarang, Nayla tahu:
Ia baru saja masuk ke jantung sistem.
Dan sistem itu…
baru saja menyentuhnya kembali.
Di luar sana, Raka menatap layar ponselnya yang tak mendapat balasan.
Pesan terakhir Nayla hanya satu baris:
Kalau aku tidak menjawab, cari Laras Widya.
Raka berdiri.
Dan untuk pertama kalinya, ia memutuskan:
Ia tidak akan menunggu lagi.
Lorong itu terasa berbeda saat Nayla melangkah keluar.
Bukan karena lampunya berubah—lampu tetap sama, putih dan rapi—melainkan karena dirinya yang berubah. Ia tidak lagi hanya takut. Di balik gemetar yang belum sepenuhnya reda, ada tekad yang mulai mengeras, seperti logam yang ditempa.
Pintu ruang koreksi menutup di belakangnya dengan suara klik yang halus. Tulisan digital di dinding meredup, kembali menjadi dinding polos yang seolah tidak pernah menyimpan apa pun.
Nayla berdiri sebentar, mengatur napas.
Panel kecil di tasnya—ponsel luar—sudah mati total. Layarnya gelap, seperti sebuah dunia yang dimatikan paksa. Ia meraba tas itu, memastikan map Laras masih ada. Ada. Tipis, namun berat.
Ia melangkah.
Setiap langkah seperti menghitung waktu—berapa lama lagi sebelum sistem menyadari bahwa ia bukan sekadar “bergerak”, tapi sedang belajar.
Di ujung lorong, Nayla berhenti. Kamera kecil di sudut langit-langit berputar, mengikuti gerakannya. Ia mengangkat wajahnya, menatapnya lurus.
“Aku tidak akan diam,” bisiknya, seolah kamera itu bisa mendengar.
Ia berbelok menuju lorong utama dan kembali ke kamarnya. Pintu kamar terbuka—tidak terkunci. Itu terasa seperti undangan… atau jebakan.
Ia masuk, menutup pintu perlahan, lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya gemetar, tapi ia memaksa diri untuk berpikir.
Ruang koreksi bukan penjara.
Itu ruang tunggu.
Dan ruang tunggu berarti: sistem menunda, bukan menghapus.
Artinya, ia masih punya waktu.
Beberapa menit kemudian, pintu kamarnya diketuk.
“Nayla.”
Suara Arka terdengar lebih dekat daripada biasanya.
Ia membuka pintu.
Arka berdiri di sana, jasnya masih rapi, wajahnya tetap tenang—namun mata itu menyimpan kelelahan yang tidak pernah Nayla lihat sebelumnya.
“Kamu menakut-nakuti sistem,” katanya.
Nayla menatapnya. “Atau kamu?”
Arka tidak langsung menjawab. Ia masuk dan menutup pintu.
“Kamu membuat grafik kepatuhanmu turun drastis,” lanjutnya. “Itu memicu koreksi.”
“Berarti sistemmu rapuh,” balas Nayla. “Ia panik karena satu orang ingin pergi.”
Arka menghela napas kecil. “Sistem ini tidak dibuat untuk panik. Ia dibuat untuk mencegah kehilangan.”
“Siapa yang kamu takut kehilangan?” tanya Nayla pelan.
Arka terdiam.
Ia memandang jendela, lalu berkata lirih, “Seseorang yang pergi dan tidak kembali.”
Nayla menahan napas. “Laras.”
Arka tidak menyangkal.
“Kamu tidak bisa memenjarakan dunia hanya karena satu orang,” lanjut Nayla. “Kamu membuat rumah ini jadi mesin.”
“Mesin yang melindungi,” jawab Arka.
“Mesin yang menghapus pilihan,” Nayla membalas.
Arka menatapnya. “Aku akan melonggarkan satu akses.”
Nayla mengernyit. “Satu?”
“Akses taman belakang. Pada jam tertentu.”
Nayla menahan senyum pahit. “Itu bukan kebebasan.”
“Itu kepercayaan,” ucap Arka.
“Kepercayaan yang dihitung jam,” Nayla menghela napas. “Baik. Aku terima.”
Arka menatapnya lama, seolah mencoba membaca pikiran Nayla. Lalu ia berbalik dan pergi.
Pintu tertutup.
Namun tidak terkunci.
Malam itu, Nayla membuka map Laras lagi.
Ia menyalin angka-angka dan catatan kecil ke buku catatannya—menulis cepat, rapi, seperti seseorang yang sedang menyalin peta sebelum peta itu dirampas.
Ia menambahkan satu catatan:
Ruang koreksi \= ruang tunggu.
Pending ≠ selesai.
Ada celah.
Ia menutup buku dan menyembunyikannya di balik lapisan kain tas kecil.
Lalu ia duduk, menatap jendela.
Lampu taman belakang menyala.
Akses yang dilonggarkan.
Jam yang dihitung.
Sebuah celah kecil—namun cukup untuk melihat langit tanpa kisi.
Dan untuk pertama kalinya, Nayla merasakan sesuatu yang lebih tajam dari takut:
Ia sedang mempelajari sistem yang mengurungnya.
Di luar tembok tinggi itu, Raka berhenti di sebuah bengkel kecil. Ia menatap ponselnya—tidak ada balasan.
Namun ia membuka catatan yang ia buat sendiri:
Cari Laras Widya.
Sponsor.
Program Retensi — fase percobaan.
Ia menghela napas.
“Na, aku tidak akan berhenti,” gumamnya.
Dan di dalam rumah yang terlalu rapi itu, sistem tetap berjalan—
tidak tahu bahwa salah satu variabelnya sedang berubah.