Ziva Putri Willson, putri bungsu keluarga Willson, adalah perpaduan sempurna antara kecantikan, kecerdasan, dan kepercayaan diri setinggi langit. Di usianya yang masih muda, dia telah menjadi desainer ternama yg namanya menggema hingga ke mancanegara.
Damian Alexander, CEO muda yang dikenal kejam dan dingin. Baginya, hidup hanyalah deretan angka dan nilai saham. Dia sangat anti pada wanita karena menganggap mereka makhluk paling merepotkan di dunia.
"Dengar, Tuan CEO, kamu mungkin bisa membeli saham dunia, tapi kamu tidak bisa membeli hak untuk mengatur kapan aku harus bernapas. Jadi, simpan wajah sok kuasamu itu untuk rapat, bukan untukku." -Ziva.
"Aku sudah menghadapi ribuan musuh bisnis yang licin, tapi menghadapi satu wanita bermulut tajam seperti dia jauh lebih menguras energi daripada akuisisi perusahaan. Tapi justru itu yang membuatnya berbeda." — Damian.
Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Si Tuan Dingin yang mulai kehilangan akal sehatnya, atau Nona cerewet berwajah manis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
FITTING BAJU PENGANTIN
Ziva mengambil satu gaun, lalu masuk ke ruang ganti, untuk mencoba nya, apakah cocok dengan dirinya atau tidak.
Beberapa menit kemudian, Ziva keluar dengan gaun ball gown besar berwarna putih gading. Gaun itu indah, namun desainnya terlalu klasik dan puffy untuk selera Ziva yang modern.
Melihat Ziva keluar dengan gaun pengantin nya, Damian yang duduk di sofa panjang khusus tamu VIP, mendongak.
Matanya menyapu penampilan Ziva dari atas hingga bawah, dengan Ekspresi datar.
Benar-benar pria menyebalkan!
"Bagaimana?" tanya Ziva, sengaja memutar tubuhnya untuk membuat gaun itu terlihat lebih buruk.
"Apakah cukup produktif untuk kontrakmu?" tanya Ziva, menekan setiap katanya.
"Terlalu banyak bahan," jawab Damian singkat.
"Ganti!"
Ziva berdecak kesal, lalu kembali masuk ke ruang ganti, untuk mencoba gaun yang lain.
Gaun kedua adalah gaun model mermaid dengan detail renda yang rumit.
Gaun itu memeluk lekuk tubuh Ziva dengan sempurna, menonjolkan siluetnya yang indah.
Kali ini, Ziva melangkah keluar dengan sedikit percaya diri, dia melirik Damian, berharap melihat sedikit pun reaksi. Namun, pria itu hanya menyesap kopi yang disiapkan Riko, lalu menggelengkan kepala pelan.
"Tidak cocok, terlalu biasa," ucap Damian, seenak nya.
"Biasa?" tanya Ziva membelalakkan matanya.
"Ini gaun rancangan desainer internasional!" seru Ziva, geram dengan komentar dari Damian.
"Aku tidak peduli siapa yang merancang, aku hanya peduli hasilnya," jawab Damian dingin.
Ck
Terpaksa Ziva harus masuk lagi ke ruang ganti, karena gaun kedua belum cocok untuk si taun Dingin itu.
Ziva mencoba gaun ketiga, keempat, kelima dan ke enam.
Setiap kali dia keluar dari ruang ganti, Damian selalu memberikan komentar singkat yang membuat Ziva semakin frustrasi, dan ingin mencakar wajah Damian yang sok ganteng itu.
Gaun A-line dengan sweetheart neck line.
"Terlalu feminin."
Gaun slip dress satin minimalis.
"Terlalu santai."
Gaun off-shoulder dengan belahan tinggi.
"Tidak elegan."
Sebanyak itu gaun yang sudah di coba oleh Ziva, tapi dengan tanpa persaan, Damian mengomentari tidak cocok.
Desainer butik dan para asisten mulai terlihat panik, mereka saling berbisik, tidak mengerti selera calon pengantin pria yang super dingin ini.
Bahkan Riko pun terlihat menahan napas setiap kali Damian membuka suara, dan menolak setiap gaun yang Ziva kenakan.
"Aku sudah tidak punya gaun lain yang bisa ku coba!" ucap Ziva dengan nada putus asa setelah mencoba gaun ketujuh, sebuah gaun boho-chic yang sebenarnya sangat cocok dengannya.
"Tidak ada yang cocok dengan seleraku," ucap Damian sambil berdiri.
Damian berjalan mendekat, mengamati Ziva dari jarak dekat.
"Aku ingin sesuatu yang berbeda, sesuatu yang unik. Seperti dirimu," ucap Damian, melihat Ziva dari atas sampai ke bawah.
Ziva cukup terkejut mendengar pujian samar dari Damian, namun dia segera mengenyahkan pikiran itu.
"Aku desainer, kenapa kamu tidak biarkan aku saja yang merancang gaunku sendiri?" tanya Ziva, baru ingat profesi nya.
"Aku ingin kamu mengenakan gaun yang kupilih. Gaun yang mencerminkan siapa kamu di mataku," jawab Damian menatap Ziva lekat.
Desainer butik, yang tadinya panik, tiba-tiba mendapatkan ide.
"Tuan, Nona, kami memiliki satu gaun yang baru tiba dari Negara B, itu adalah rancangan khusus yang sangat eksklusif. Mungkin itu akan cocok," ucap nya tersenyum, ramah.
"Keluarkan," perintah Damian, dingin.
Ziva dengan enggan kembali masuk ke ruang ganti, namun kali ini dengan sedikit rasa penasaran.
"Dasar pria menyebalkan," gumam Ziva, menggerutu kesal.
Desainer itu segera mengeluarkan gaun yang akan Ziva coba.
Gaun itu berwarna putih bersih, tanpa banyak detail bling-bling, namun bahannya yang jatuh begitu elegan.
Potongan halter neck menonjolkan bahu dan tulang selangkanya, sementara bagian belakangnya memiliki detail backless yang sangat anggun.
Gaun itu juga menggunakan kain sutra mengalir bebas hingga ke lantai, memberikan kesan mewah namun sederhana.
Setelah kurang lebih sepuluh menit di ruang ganti, Ziva keluar dengan perasaan yang berbeda, gaun itu terasa seperti kulit keduanya. Sederhana, namun kuat dan berkelas, seperti dirinya.
Damian yang tadinya berdiri sambil melihat-lihat koleksi dasi pria, tiba-tiba mematung.
Tatapannya terkunci pada Ziva, untuk pertama kalinya, ekspresi dingin di wajahnya luntur.
Mata tajamnya sedikit melebar, bibirnya sedikit terbuka, dan ada kilatan kekaguman yang jelas di kedua matanya.
Ziva memperhatikan reaksi Damian, dan untuk pertama kalinya, dia merasa puas. Senyum tipis terukir di bibirnya.
"Bagaimana?" tanya Ziva, suaranya sedikit lebih lembut dari sebelumnya.
Damian tidak menjawab, dia melangkah mendekat, dengan tatapan mata tidak lepas dari Ziva, tanpa di duga, Damian mengulurkan tangannya, menyentuh lembut kain di lengan Ziva.
"Ini, yang kumau," ucap ucap Damian, suaranya terdengar sedikit serak.
Ziva merasakan sensasi geli di kulitnya saat sentuhan Damian.
Jantungnya berdegup kencang, saat dia menatap mata Damian yang kini tidak sedingin biasanya lagi, melainkan seperti ada genangan air yang gelap dan memikat.
Desainer dan asisten butik tersenyum lega, bahkan Riko akhirnya menghela napas panjang, seolah beban berat baru saja terangkat dari pundaknya.
"Gaun ini sempurna untukmu, Ziva," ucap Damian, suaranya kembali datar namun ada nada kepuasan yang tidak bisa disembunyikan.
"Unik tapi indah, seperti dirimu," bisik Damian, pelan.
Blush
Rasa panas menjalar di pipi Ziva, keberanian Ziva yang biasanya seolah pergi entah kemana, dan dia hanya bisa mengangguk kaku, masih sedang terkejut dengan respon Damian.
Sepertinya, Tuan Es itu memang memiliki selera yang tak terduga, pikir Ziva.
Baru saja suasana di dalam butik mulai mencair, tiba-tiba keheningan yang canggung itu dipecahkan oleh suara dering telepon yang nyaring.
Dret
Dret
Dret
Riko, yang berdiri beberapa langkah di belakang Damian, segera merogoh saku jasnya.
Wajahnya seketika berubah tegang menerima panggilan itu, dia buru-buru mendekat dan berbisik di telinga Damian.
"Tuan, maaf mengganggu.Tuan Besar menelepon, ada masalah darurat di kantor pusat, proyek akuisisi di sektor energi mengalami kendala teknis dari pihak pemerintah, dan para direksi meminta kehadiran Anda sekarang juga untuk rapat luar biasa," ucap Riko, menyampaikan pesan yang baru diterima dari Tuan besar nya.
Seketika rahang Damian mengeras, tatapannya yang tadi sempat melunak saat menatap Ziva, kini kembali menajam dan dingin.
Efisiensi dan bisnis selalu menjadi prioritas utamanya, tidak peduli se spesial apa pun momen yang sedang berlangsung.
Damian melirik jam tangannya, lalu beralih menatap Ziva yang masih berdiri anggun dengan gaun pengantinnya.
"Aku harus pergi," ucap Damian tanpa basa-basi, suaranya kembali ke mode otoriter yang kaku.
Ziva yang tadinya sempat merasa baper karena tatapan Damian, seketika tersadar.
"Apa? Baru saja kita menemukan gaunnya, dan kamu mau pergi begitu saja?" tanya Ziva mendengus sebal, perasaan kesalnya kembali memuncak.
abang posesif vs clon suami kutub....🤣🤣🤣
crazy up dpng thorrrrr
koreksi ya semangat
bru brbgi air mnum aja udh baper...
kbyang nnti kl udh nkah,trs tnggal srumah....atw sekamar pula.....🤭🤭🤭