DI LARANG MENJIPLAK CERITA INI!!!
"Jangan pernah berpikir buat bisa keluar dari dunia gue! Kalau sampai lo nekat kabur, berantakan hidup lo.
Ngerti?"
"Who are you? Siapa lo berani ngancam gue?"
"Kalau lo nggak amnesia, gue suami lo sekarang. Gue cuma mau lo nurut. Gampang, kan?"
_____________________________________
Fattah Andara Fernandez-badboy utama SMA Taruna Jaya Prawira yang memegang bidak king. Di kenal kasar dengan karisma menindas.
Fattah memiliki segalanya. Membuat dia dengan mudah mengikat sesuatu dan menghancurkan apapun yang dia mau.
Kecuali satu...
Aqqela Calista.
Karena pembalasan dendam atas kematian Sandrina -kekasihnya, ayah Aqqela tewas. Tidak puas, Fattah justru menarik Aqqela dan menjeratnya dalam ikatan pernikahan yang sama sekali tidak dia inginkan.
Membawa Aqqela ke Jakarta Selatan dan meninggalkan segalanya di Jakarta Pusat termasuk Oliver Glenn Roberts-pacarnya sekaligus musuh Fattah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kapten cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Membenci Kamu
"Andrew, gimana hasilnya? Maaf, baru datang! Pesawat kami sempat delay tadi," ujar Erni menghampiri pengacaranya Michael.
"Kita menang, kan? Pria itu pasti di tahan, kan?" serobot Tio adik kandung Michael.
Andrew yang baru keluar dari ruang sidang, tampak memijit pangkal hidungnya.
"Kita kalah. Jordan Davian Fernandez terbukti tidak bersalah. Dia tidak akan di tahan."
Tio tersentak kaget, "Gi-gimana bisa? Bukannya kita punya banyak bukti kuat buat menyudutkannya? Salah satunya keterangan dari Aqqela, kan?" kesal Tio.
"Pengadilan tetap menetapkan bahwa Donny Michael meninggal karena bunuh diri. Dan nggak ada unsur pembunuhan. Kita tidak bisa apa-apa."
"Omong kosong macam apa ini? Jelas-jelas kakakku di bunuh."
Andrew menggeleng pelan, "Saya juga melihat bukti dari video yang mereka berikan selama proses persidangan. Di sana, pak Michael melompat sendiri dari gedung tinggi itu karena ingin kabur dari mereka saat di interogasi."
"Brengsek! Aku yakin ada permainan besar di belakangnya. Video itu pasti palsu."
Andrew menggeleng pelan.
"Tidak. Video itu sudah aku lihat ke-asliannya. Pihak dari mereka juga mengakui jika sedang terlibat masalah dengan pak Michael."
Andrew mendesah berat dan melanjutkan, "Dan sialnya, problem itu berhubungan dengan Sandrina. Gadis yang satu tahun lalu tewas di bunuh oleh kakakmu. Itu artinya, penjahatnya di sini bukan mereka, tapi Michael itu sendiri."
Tio tersentak dan membulatkan mata kaget.
"Nggak mungkin. Aku yakin-"
"Sayang, jangan keras-keras kalau ngomong! Kamu harus tau yang kamu hadapi sekarang adalah pak Jordan. Aku yakin di sini banyak banget mata-matanya," decak Erni istrinya.
Andrew mengangguk, "Benar. Dia masuk jajaran petinggi perusahaan besar di Indonesia. Dia juga memiliki kekuatan penuh di negara ini. Tentang Sandrina, dia adalah kekasih putranya. Dan karena power yang dia miliki, mereka dengan mudah mendapatkan CCTV restoran yang sempat di lenyapkan dulu."
"Ck, sial."
"Rasanya mau usaha untuk mencari keadilan pun sia-sia. Kita bukan lawan yang sepadan untuk seorang Jordan Davian Fernandez. Bahkan tidak ada satu media pun yang meliput kasus ini."
Tio dan Erni hanya mendesah berat, dengan bahu melemas.
Bahkan Tio mengusap wajahnya merasa putus asa. Pria itu sendiri tak menyangka, jika kakaknya akan berurusan dengan monster itu.
Dan bagaimana bisa, Donny Michael menjadi pembunuh gadis belia?
"Udahlah, kita berhenti! Kita bukan orang kaya, yang bisa membungkam apapun dengan uang seperti mereka," ujar Erni.
"Lalu, bagaimana dengan Aqqela? Dia yatim piatu sekarang," ujar Andrew.
Tio sendiri tersentak. Menoleh kiri kanan mencari keponakannya itu.
"Aqqela kemana? Dia datang, kan?"
"Entahlah. Sejak membuat kekacauan di ruangan sidang karena masih tidak terima dengan hasilnya, dia langsung pergi," ujar Andrew.
"Kasihan anak itu," gumam Tio.
Erni melirik suaminya jengkel, "Mas, kita sudah buat kesepakatan ya kalau Aqqela jangan sampai ikut kita."
"Sayang, tapi cuma aku keluarga di-"
"Mas, kita ini hidup pas-pasan di Kalimantan. Kita sudah punya banyak anak di sana. Masa mau nambah beban lagi? Enggak, pokoknya aku nggak mau."
Sementara itu, di balik dinding gedung pengadilan tinggi Jakarta Pusat, Aqqela yang mendengarkan obrolan mereka hanya bisa diam dengan mata berkaca-kaca.
"Langsung siapkan schedule saya untuk siang ini sampai sore nanti! Saya akan ke kantor sekarang."
"Baik pak Jordan."
Kepala Aqqela menoleh.
Sorot matanya berubah melihat pria ber-jas hitam itu memasuki Limosin hitam dan di kawal ketat oleh ajudan serta mobil polisi bak seorang presiden.
Sementara ayahnya sudah tewas dan tidak mendapatkan keadilan apa-apa.
Tubuhnya merosot ke bawah. Gadis itu duduk di lantai, memeluk kedua lututnya sambil menelungkupkan wajahnya di lipatan tangan dan mengeluarkan isakan pelan.
"Pa, gimana ini? Aqqela harus apa sekarang?" gumamnya terisak.
Pelukannya pada lutut kian menguat, "Aqqela takut sendirian di sini..."
Ketegarannya sudah benar-benar hancur sekarang.
Di sisi lain, Fattah menghentikan langkahnya saat melihat Aqqela tak jauh darinya. Pemuda itu membeku, melihat Aqqela tengah menangis sendirian.
"Tuan muda, kita pulang sekarang?"
Suara ajudannya membuat Fattah mengerjap-ngerjap pelan.
"Hm, kita pulang sekarang," jawabnya datar dan berlalu pergi.
***
Tapi sial, Fattah tidak benar-benar bisa pergi.
Sudah satu jam, dan dia masih betah untuk duduk di mobilnya yang sedang berhenti di halaman besar pengadilan tinggi Jakarta Pusat.
Sesekali merunduk bermain gameonline, tapi matanya tidak berhenti melirik ke luar, lewat jendela kaca yang dia turunkan.
"Ck, dia kemana, sih?" gerutunya.
"Sepertinya nona Aqqela masih di dalam," lapor sopirnya.
"Iya, gue tau." Fattah mendengus emosi.
Sopirnya cuma bisa meringis kecil. Sudah terbiasa dengan sifat anak majikannya yang tak jauh berbeda dengan sang ayah.
Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.
"Tuan muda, tadi kami melihat paman dan bibi nona Aqqela sudah pulang," lapor satu ajudan mendekati mobil.
"Lah, kok bisa? Lo semua tuh becus kerja nggak, sih? Masa awasin satu cewek doang nggak bisa?" sentak Fattah marah.
"I-iya, tapi nona Aqqela masih di dalam. Terakhir yang saya lihat, dia masuk toilet."
Fattah mendengus jengkel.
"Awasin! Jangan sampai kecolongan!"
"Baik."
Fattah kembali merunduk ke games-nya. Jari-jemarinya bergerak lincah di sana, dengan telinganya di tutup headphone putih.
"Nona Aqqela sudah keluar."
Fattah menoleh. Matanya menangkap sosok gadis yang dia tunggu sedang berjalan gontai sambil memegang tali tas selempangnya.
Dengan cepat Fattah berlari keluar menghampirinya dan berhenti tepat di depannya, membuat wajah Aqqela reflek menubruk dadanya.
"Eh, maaf! Saya nggak-" Ucapan Aqqela terhenti, tepat saat dirinya mendongak melihat wajah itu lagi.
Garis wajah Aqqela langsung berubah dingin.
Fattah mengusap pangkal hidungnya sebentar, "Kenapa waktu itu lo kabur dar-"
Fattah mendelik kecil saat Aqqela melewatinya dengan tidak peduli.
Asem nih cewek.
"Aqqela!" Reflek dia mengambil lengannya untuk menghentikan.
"Ck, apa sih lo?"
Aqqela menepis tangannya kasar, membuat Fattah kaget karena di semprot cewek ini.
"Mau kemana?"
"Bukan urusan lo!" Aqqela kembali berjalan pergi.
Fattah mendecak dan menyusulnya lagi.
"Balik bareng gue!" katanya menahan kasar tangan Aqqela.
"Gue nggak mau."
"Aqqela, pulang sama gue! Gue antar lo ke rumah."
"Gue udah bilang nggak mau, ya nggak mau. Apaan, sih?" sentak Aqqela marah.
ini. Fattah terkejut saat di dorong kasar cewek
"Puas kan lo sekarang? Ini kan kehancuran yang lo bilang sama gue pas di sekolah? Iya, kan?" Air mata Aqqela kembali menetes di pipinya.
"Kalau lo tanya sekarang apa gue udah hancur? Iya, gue udah hancur setelah papa gue kalian bunuh. Dan gue benci banget sama lo sekarang," katanya meradang.
Fattah menjilat bibir bawahnya kesal, "Bokap lo itu bunuh diri. Semua udah jelas di persi
"Tau bullshit nggak lo? Gue tau banget, orang kaya kayak kalian bisa bungkam semuanya pakai uang."
"Apa lo bilang?" Fattah memekik tajam.
Aqqela melengos, lalu menghapus air matanya sesaat dan berjalan pergi.
"Aqqela, gue belum selesai ngomong, ya!"
Aqqela tidak peduli. Tapi terkejut saat tangannya di cengkram oleh Fattah dengan kasar.
"Jangan bikin gue marah! Pulang sama gue!" tegasnya.
Fattah tidak mau gadis ini nekat bunuh diri dengan terjun ke sungai atau nabrak kereta misalnya.
"Berhenti gangguin gue!" Aqqela menjerit marah, "Elo mau apalagi sebenarnya? Belum cukup kematian papa gue buat keluarga lo? Harusnya kalian udah puas, kan? Nyawa udah di bayar sama nyawa. Gue nggak punya siapapun lagi sekarang. Kalian udah ambil satu-satunya keluarga yang gue punya."
Aqqela mengalihkan wajah sambil menghapus air matanya.
"Gue minta maaf buat semuanya! Maaf karena papa gue udah bunuh orang yang lo cinta." Aqqela mendongak menatap Fattah.
Pemuda itu diam seribu kata dengan perasaan mencelos.
"Tapi apa lo pernah mikir sebelumnya? Suatu saat nanti, bakalan ada cewek lain yang bisa buat lo jatuh cinta lagi. Bakalan ada yang gantiin Sandrina di hati lo. Tapi gue? Gue nggak akan pernah nemuin pengganti papa gue."
Cengkraman tangan Fattah perlahan melonggar. Tenggorokan pemuda itu terasa di cekik sekarang.
Aqqela mendongak dengan mata berkaca-kaca, "Masalah kita selesai di sini. Gue berharap, kita nggak akan pernah ketemu lagi. Gue nyesel kenapa harus ketemu manusia monster kayak lo dan bokap lo."
Dan setelahnya, Aqqela pergi meninggalkan Fattah begitu saja.
Pemuda tampan itu hanya membeku diam, tidak lagi mengejar.
Entahlah, perasaan bersalah itu tiba-tiba menyelimutinya.
"Ah, brengsek!"
"Tuan muda, di suruh bapak langsung pulang ke Jakarta Selatan sekarang."
"Bisa diem nggak lo?" semprot Fattah marah-marah, membuat ajudannya kaget.
***
Aqqela duduk di kursi taxi.
Gadis cantik berponi rata itu memandang keluar jendela dengan tatapan tak terbaca.
"Neng, sudah sampai!"
Aqqela menoleh, "Makasih ya, pak!" katanya serak.
"Iya neng!"
Aqqela turun dari taxi yang berhenti di depan rumahnya.
Namun saat baru akan masuk, dia tertegun menemukan Oliver duduk di atas motor besarnya sambil bermain HP.
"Oliver?"
Pemuda itu reflek mendongak. Dia tersentak dan segera menghampiri.
"Kamu kemana aja, sih? Susah banget aku hubungin," kata Oliver khawatir.
Aqqela jadi diam dan memandang pemuda itu dengan kerlipan berubah.
"Are you okay? Semuanya baik-baik aja, kan?" tanya Oliver cemas.
Aqqela mengulum bibir, tersenyum dan akhirnya mengangguk.
"Iya, aku baik-baik aja kok. Emangnya bakal kenapa?"
Oliver mendengus, "Kamu sering bolos akhir-akhir ini. Kayak aneh aja ketua OSIS yang biasanya rajin tiba-tiba jadi suka bolos."
Aqqela tersenyum getir.
"Tau nggak, semua guru di sekolah sampai ngomelin aku. Katanya bu Endang gini, 'Pasti Aqqela ketularan kamu nih, jadinya suka bolos. Jangan suka ajak Aqqela yang nggak bener yaa Oliver! Awas kamu'," dumel Oliver menirukan suara gurunya yang cempreng itu.
"Padahal aku ngajak kamu bolos sekali doang.
Itu pun kepepet karena udah telat," lanjutnya menggerutu.
Aqqela mencoba terkekeh, walau dia mengalihkan wajah dan menghapus setetes air mata yang sempat jatuh lagi.
"Aku lagi ada masalah. Maaf, ya!"
Oliver terkejut, "Masalah apa? Kamu nggak ada cerita apa-apa."
Aqqela tercekat dan kehilangan kata-katanya.
Iya, memang tidak ada yang tau tentang hal ini, bahkan kematian ayahnya selain tetangganya.
Tidak ada yang bertanya banyak.
Mereka hanya membantu untuk menguburkan setelah jenazah ayahnya di mandikan di rumah sakit selesai di otopsi dan di antarkan polisi ke rumah. Mereka hanya taunya ayah Aqqela meninggal karena kecelakaan.
Sekali lagi, tidak ada portal berita yang berani menaikkan kasusnya. Kejadian ini di buat seakan-akan tidak pernah ada.
Aqqela hanya menggeleng.
"Bukan hal penting kok. Oh ya, mau masuk? Aku bikinin kamu minum."
Aqqela beranjak lebih dulu hendak masuk rumah.
Dia takut Langit bertanya banyak.
Dia takut Oliver tau bahwa Aqqela hanya anak pembunuh yang sekarang sedang menerima karma dari perbuatan ayahnya.
"Aqqela, ada apa? Kalau ada masalah cerita!
Aku juga pengen tau." Oliver mencegahnya pergi.
Mata Aqqela mulai berkaca-kaca.
"Aku beneran nggak papa," katanya serak.
Oliver tersentak karena itu, "Hei, kalau nggak papa, nggak nangis gini harusnya..."
Aqqela menggigit ujung bibirnya, membuat Langit berdecak frustasi.
"Sayang, ada yang jahat sama kamu? Ngomong sama aku biar aku hajar orangnya!"
Tangis yang coba Aqqela tahan sejak tadi, pada akhirnya tumpah di sana.
Oliver makin kaget. Tapi pemuda itu tidak bertanya banyak, selain maju memeluknya dengan erat.
"Nangis aja nggak papa!" bisiknya sambil mendekap tubuh Aqqela yang bergetar pelan.
Kedua tangan Aqqela dengan gemetar membalas pelukan Oliver. Gadis itu menumpahkan segalanya di dada Oliver.
"Kamu jangan bikin aku khawatir kayak gini, dong! Kamu kenapa sebenarnya?" kata Oliver serak, tetapi pelukannya tak di lepaskan.
Tidak jauh dari keduanya, sebuah mobil sedan mewah baru saja berhenti.
Kaca mobil belakang di turunkan, memperlihatkan pemuda tampan berkaca mata hitam menatap kedua remaja itu datar.
Dia ke sini hanya ingin memastikan gadis itu benar-benar sudah pulang, setelah memaki-makinya tadi dan tak mau pulang bersama.
Ya, terserah.
Kemarahan Aqqela padanya bukan hal yang perlu dia pikirkan.
Itu nggak penting.
Meski tangannya terkepal hingga buku-buku jarinya menonjol kuat. Entah kenapa justru terpaku melihat Aqqela dan Oliver yang berpelukan.
Fattah melengos, berusaha menguasai diri.
"Jalan, pak!"
***