Mirasih gadis yatim piatu yang di tinggal orang tuanya karena kecelakaan, di adopsi Pamannya.Tapi di balik kebaikan semu pamanya,ternyata semua harta ayah ibu nya di ambil semua ,dia dijadikan pembantu,kerap di siksa dan di pukuli hingga di jadikan tumbal pesugihan nya kepada genderuwo.Hanya secercah harapan kepada Aditya yang membuatnya kuat dan sabar menghadapi semuanya.. Apakah Aditya jujur dan setia janjinya kepada Mirasih?Sampai kapanpah Mirasih menjadi pengantin Ki Ageng sang Genderuwo itu ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegagalan Broto
Keserakahan adalah penyakit yang tidak pernah mengenal kata sembuh. Bagi Paman Broto, melihat Mirasih yang kini bergelimang harta dan dihormati seluruh desa bukanlah sebuah kebanggaan, melainkan sebuah ancaman.
Setiap keping emas yang keluar dari tangan Mirasih untuk membangun balai desa atau menyantuni anak yatim terasa seperti sembilu yang menyayat jantungnya. Di mata Broto, harta itu adalah haknya sebagai kepala keluarga, sebagai orang yang telah "berkorban" menyerahkan keponakannya kepada sang penguasa hutan.
"Ibu lihat tidak?" gerutu Broto suatu malam di kamar pribadinya, suaranya pelan namun penuh penekanan. "Dia membagi-bagikan uang di pasar tadi siang. Semua orang memujinya seperti dia itu bidadari turun dari langit. Kalau terus begini, kekuasaanku di rumah ini benar-benar hilang. Dia bukan lagi keponakan yang bisa kita suruh-suruh mencuci piring."
Bibi Sumi yang sedang menghitung tumpukan kain sutra pemberian Mirasih pun menghentikan kegiatannya. "Lalu kita harus bagaimana, Pak? Dia sekarang dilindungi oleh 'Tuan' itu. Kita salah sedikit saja, leher kita taruhannya. Ingat waktu Bapak dicekik waktu itu?"
Broto mendengus, memegang lehernya yang seolah-olah masih menyisakan rasa perih. "Justru karena itu! Kita harus membuat dia kembali bergantung pada kita. Dia harus merasa bahwa tanpa kita, dia akan celaka di hadapan 'Tuan'. Mirasih itu masih muda, dia cuma menang karena punya uang. Aku punya rencana."
Rencana Broto adalah sebuah muslihat kuno yang licik. Ia berniat memanipulasi ritual persembahan malam Selasa Kliwon mendatang. Ia ingin membuat Mirasih seolah-olah telah melanggar pantangan ghaib, sehingga Mirasih ketakutan dan meminta perlindungan kepadanya sebagai satu-satunya orang yang "paham" cara bernegosiasi dengan Genderuwo tersebut. Dengan begitu, kendali harta dan kekuasaan akan kembali ke tangan Broto.
Keesokan harinya, Broto mulai menjalankan siasatnya. Ia diam-diam mendatangi seorang dukun pelintir dari desa seberang yang terkenal bisa memanipulasi aura ruangan. Broto meminta dupa khusus yang jika dibakar akan menimbulkan bau yang sangat dibenci oleh mahluk ghaib jenis Genderuwo—bau minyak kayu putih yang dicampur dengan belerang murni.
"Jika bau ini tercium saat ritual, sang penguasa akan murka. Dia akan mengira persembahannya menolaknya atau ada pengkhianatan di dalam rumah ini," bisik sang dukun saat menyerahkan bungkusan hitam kepada Broto.
Broto tersenyum licik. Ia membayangkan Mirasih yang akan gemetar ketakutan saat sang Genderuwo mengamuk, dan saat itulah ia akan tampil sebagai penyelamat, pura-pura menenangkan sang mahluk dengan imbalan seluruh kunci penyimpanan emas dialihkan kepadanya.
Malam Selasa Kliwon pun tiba. Suasana rumah terasa lebih dingin dari biasanya. Mirasih, seperti biasa, sudah bersiap di kamarnya. Ia mandi bunga setaman, mengenakan kebaya hijau botol yang elegan, dan menyanggul rambutnya dengan bunga kantil. Wanginya memenuhi lorong rumah.
Broto berjalan mengendap-endap di belakang rumah. Saat ia yakin Mirasih sudah berada dalam kondisi meditasi menunggu kedatangan suaminya, Broto meletakkan dupa beracun itu di bawah lubang ventilasi kamar Mirasih. Ia menyalakannya, lalu segera bersembunyi di ruang tengah bersama istrinya, menunggu badai itu datang.
"Pak, aku takut... kalau rencanamu gagal bagaimana?" bisik Bibi Sumi gemetar.
"Diam saja! Sebentar lagi kita akan dengar dia berteriak minta tolong," sahut Broto penuh percaya diri.
Benar saja, tak lama kemudian, suasana rumah mendadak mencekam. Angin kencang bertiup entah dari mana, membanting pintu-pintu hingga berderit keras. Suara geraman rendah yang sangat dalam mulai terdengar, membuat fondasi rumah seolah bergetar. Broto tersenyum dalam kegelapan; ia yakin sang Genderuwo sudah mencium bau dupa itu dan mulai murka.
Namun, sesuatu yang tidak disangka oleh Broto terjadi.
Bukannya teriakan minta tolong dari Mirasih yang terdengar, melainkan suara tawa yang nyaring dan dingin. Tawa Mirasih.
"Paman... Paman benar-benar berpikir bahwa mainan kecil seperti ini bisa menipu dia?" suara Mirasih menggema di ruang tengah, meski ia masih berada di dalam kamarnya.
Pintu kamar Mirasih terbuka dengan dentuman keras. Mirasih melangkah keluar dengan tenang. Di belakangnya, tampak sebuah bayangan hitam raksasa yang tingginya hampir menyentuh langit-langit, dengan mata merah yang menyala-nyala seperti bara api neraka. Aroma dupa belerang milik Broto seketika lenyap, kalah telak oleh aroma melati yang kini berbau seperti darah segar.
Broto dan Sumi langsung terjatuh dari kursi mereka, bersujud di lantai dengan tubuh gemetar hebat.
"A-ampun, Mir... Paman tidak bermaksud..." gagap Broto, wajahnya pucat pasi hingga ke telinga.
Mirasih mendekati pamannya. Ia tidak lagi tampak seperti manusia biasa. Matanya berkilat dengan energi ghaib yang sangat kuat. Ia memegang bungkusan sisa dupa milik Broto yang entah bagaimana sudah berada di tangannya.
"Paman ingin membuat 'suamiku' marah kepadaku?" tanya Mirasih sambil berjongkok di depan Broto. "Paman ingin aku ketakutan dan menyerahkan kunci-kunci emas itu kembali padamu?"
Mirasih melemparkan dupa itu ke wajah Broto. "Paman lupa satu hal. Aku bukan lagi Mirasih yang dulu gampang Paman tindas. Aku adalah istrinya. Jiwaku sudah menyatu dengannya. Setiap gerak-gerikmu, setiap bisikan busukmu di kamar itu, suamiku sudah menceritakannya padaku bahkan sebelum Paman melakukannya."
Tiba-tiba, tangan ghaib sang Genderuwo mencengkeram bahu Broto. Bukan cekikan di leher kali ini, melainkan sebuah tekanan yang membuat tulang bahu Broto terdengar retak.
Krak!
"AAAGHHH!" jerit Broto kesakitan.
"Hentikan, Tuan," ucap Mirasih tenang kepada sosok di belakangnya. "Jangan bunuh dia sekarang. Dia masih harus melihat bagaimana aku menghancurkan segala martabatnya di desa ini."
Tekanan itu dilepaskan. Broto tersungkur, memegangi bahunya yang lunglai.
"Dengar, Paman," bisik Mirasih tepat di telinga Broto yang sedang merintih. "Setiap keping emas yang keluar dari rumah ini adalah milikku. Setiap kehormatan yang didapat keluarga ini adalah karena aku. Jika Paman mencoba bermain api sekali lagi, aku tidak akan memintanya berhenti. Aku akan membiarkan dia memakan perlahan-lahan organ dalammu sementara Paman masih dalam keadaan sadar. Mengerti?"
Broto hanya bisa mengangguk-angguk sambil menangis ketakutan. Ia menyadari bahwa rencananya untuk merebut kembali kekuasaan telah gagal total. Mirasih bukan lagi pion yang bisa ia gerakkan; Mirasih adalah sang Ratu yang kini memegang kendali atas hidup dan matinya.
Keesokan paginya, kegagalan Broto semakin nyata. Ia harus menanggung rasa sakit di bahunya yang tidak bisa sembuh dengan pengobatan biasa. Setiap kali ia mencoba bicara keras kepada pekerja di rumahnya, suaranya hilang, seolah-olah ada yang menyumbat tenggorokannya.
Mirasih justru tampil semakin bersinar. Pagi itu, ia mengumpulkan para sesepuh desa di halaman rumahnya yang luas.
"Mbah Lurah, para sesepuh sekalian," ucap Mirasih dengan suara anggun yang menggema. "Saya ingin mengumumkan bahwa mulai hari ini, seluruh urusan pembangunan desa dan dana sosial akan saya kelola sendiri melalui yayasan keluarga yang saya bentuk. Paman Broto sedang kurang sehat, jadi beliau akan lebih banyak beristirahat di dalam."
Para sesepuh mengangguk setuju dengan antusias. "Tentu, Nduk Mirasih. Kami jauh lebih percaya padamu. Selama ini pun kami tahu, kaulah yang paling peduli pada kami."
Mirasih melirik ke arah jendela lantai atas, di mana Paman Broto mengintip dengan wajah penuh kebencian sekaligus ketakutan. Mirasih tersenyum penuh kemenangan. Ia telah berhasil memotong "kaki" pamannya. Kini, Broto hanyalah seorang tawanan di istananya sendiri, dipaksa melihat keponakannya dipuja-puji sementara ia sendiri kehilangan segala otoritasnya.
Keinginan Mirasih untuk membangun "kerajaan" kecilnya semakin tak terbendung. Ia memerintahkan pembangunan pasar desa yang baru, yang lokasinya tepat berada di tanah yang dulunya sangat diinginkan oleh Broto untuk membangun gudang pribadi.
"Kenapa di sana, Mir? Itu kan tanah yang mau Bapak pakai?" tanya Siska dengan berani meski suaranya bergetar.
Mirasih menatap sepupunya itu dengan dingin. "Karena aku ingin tanah itu berguna untuk orang banyak, bukan untuk memuaskan keserakahan bapakmu. Dan Siska... sebaiknya kamu mulai belajar mencuci bajumu sendiri.
Simbok di rumah ini sekarang hanya mendengarkan perintahku."
Siska terdiam, wajahnya merah padam menahan malu, namun ia tidak berani melawan. Ia melihat bagaimana ibunya, Bibi Sumi, kini bahkan takut menatap mata Mirasih.
Dominasi Mirasih di desa benar-benar mutlak. Ia bukan lagi sekadar gadis bodoh; ia adalah pemegang kendali nasib banyak orang. Namun, di tengah semua keberhasilan itu, di tengah kegagalan paman dan bibinya mengontrolnya, Mirasih merasa ada sesuatu yang kurang.
Kini, ia hanya menunggu satu hal lagi. Sebuah puncak dari drama yang ia bangun di atas penderitaan batinnya. Ia menunggu laki-laki yang ia yakini telah berkhianat di Jakarta untuk pulang dan melihat semua kemegahan ini. Ia ingin Aditya melihat betapa tingginya tahta yang ia duduki sekarang, sebuah tahta yang dibangun dari sisa-sisa hati yang telah Aditya hancurkan (setidaknya dalam pemahaman Mirasih yang telah terdistorsi).
membawa Ningsih ke desa adalah
kehancuran mu
sampai kapan kau biarkan keadaan bgini
bahkan kau pun tak kan bisa membawa Mirasih kembali menemukan jiwa nya yg tergadai iblis
menarik kembali Mirasih yg dlu Aditya
selama kemewahan dari iblis dinikmati Mirasih yg dgn sukarela menggadaikan nyawa nya
semua kepalsuan itu di tanganmu sendiri Mirasih ...
mata hati mu tertipu iblis yg dulu kau benci
jodoh ngga ya sama mas Budi
kabut ghoib genderuwo tak akan membiarkan Mirasih lepas darinya
mungkin kah Budi penawar luka Mirasih setelah kehilangan Aditya