Arkan, seorang pemuda yang dianggap sampah kultivasi, ternyata menyimpan kekuatan terlarang di telapak tangannya. Saat 5 elemen bersatu dengan kehampaan Void, satu galaksi pun harus tunduk. Saksikan perjalanan Arkan
Body Tempering
Qi Gathering
Qi Foundation
Core Formation
Soul Realm 2 pengikut nya
Earth Realm
Sky Realm cici
Nirvana Realm arkan
Dao Initiate
Dao Master Dao arkan& cici
Sovereign
Divine
Universal (Kaisar Drak)
Eternal Ruin (Puncak Arkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roni alex saputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Singularitas Qi Lin — Lahapnya Lima Elemen di Lembah Suci
Lembah Penjaga Suci biasanya bermandikan cahaya emas dari Gerbang ke-6, namun siang itu, cahaya matahari seolah diperas habis dari langit. Sebuah titik hitam pekat muncul di angkasa—sebuah Black Hole kecil yang berdenyut, mengisap awan dan udara di sekitarnya hingga menciptakan keheningan yang menyakitkan telinga.
Dari pusat kegelapan itu, Arkan melangkah keluar. Jubah hitamnya berkibar, dan di belakangnya, samar-samar terlihat siluet agung Dewi Qi Lin yang dikelilingi oleh lima bola energi berwarna-warni.
"Bocah sombong!" raung Tetua Agni-Kala dari barisan koalisi 15.000 murid. "Kau pikir lubang hitam kecil itu bisa menandingi cahaya suci tiga sekte? Murid-murid, lepaskan Formasi Pemusnah Surga!"
[Bagian 2: Tiga Bayangan Maut]
Arkan bahkan tidak menoleh. "Srikandi, Cici, Liem... bersihkan kerikil di bawah kaki-Ku."
Ketiganya melesat seperti anak panah yang lepas dari busurnya.
Liem-Banyu bergerak dengan Frequency Shift, menebas leher ratusan murid dalam satu tarikan napas hingga darah mereka membeku oleh suhu nol mutlak
Srikandi-Tan menghantamkan tinjunya, memicu Elemen Tanah yang diperkuat gravitasi Black Hole, membuat bumi menelan ribuan murid Sekte Perisai Suci sekaligus.
[Bagian 3: Manifestasi Lima Elemen & Singularitas]
Melihat pasukannya dibantai, tiga Tetua Nirvana Realm itu gila karena murka. Mereka menyatukan kekuatan, memanggil Pedang Keadilan raksasa yang terbuat dari cahaya murni setinggi seratus meter.
"Mati kau, Arkan!"
Arkan hanya mengangkat satu tangan. Di telapak tangannya, sebuah Singularitas terbentuk—titik gravitasi tak terbatas.
"Lima elemen, tunduk pada kehendak-Ku," bisik Arkan dingin.
Seketika, pedang cahaya raksasa itu tidak meledak saat menghantam Arkan. Sebaliknya, pedang itu terdistorsi. Cahaya murni itu terhisap masuk ke dalam tangan Arkan, berubah warna menjadi merah (Api), biru (Air), kuning (Tanah), hijau (Angin), dan ungu (Petir).
Arkan tidak menahan serangan itu; ia melahapnya.
[Bagian 4: Arsitektur Abu]
"Kembalikan pada mereka," perintah Arkan pada manifestasi Dewi Qi Lin.
TEKNIK KOSMIK: HUJAN LIMA BENCANA!
Dari tangan Arkan, energi yang ia lahap tadi ditembakkan kembali dalam bentuk badai lima elemen yang diperkuat daya hancur Black Hole.
Api yang membakar jiwa.
Petir yang menghancurkan raga.
Angin yang menyayat ruang.
Air yang menenggelamkan harapan.
Tanah yang meruntuhkan segalanya.
BOOOOOOM!
Dalam satu dentuman tunggal, markas koalisi tiga sekte itu runtuh. Menara-menara emas mereka berubah menjadi Arsitektur Abu. Lima belas ribu murid dan tiga Tetua Nirvana itu lenyap tanpa sisa, raga mereka terurai menjadi partikel dasar oleh kekuatan Qi Lin. Lembah yang tadinya megah, kini hanya menyisakan kawah hitam yang mati.
[Bagian 5: Sovereign yang Terlambat]
Di tengah keheningan maut itu, sebuah tekanan raksasa turun dari langit. Lux-Aeterna, Senopati 6 berperingkat Sovereign, muncul dengan sayap cahaya murni yang megah. Namun, wajahnya yang agung berubah menjadi pucat saat melihat lembah itu sudah kosong—hanya ada Arkan yang berdiri tenang dengansisa-sisa energi Black Hole yang masih berputar di jarinya.
"Kau... monster macam apa kau ini?" suara sang Sovereign bergetar.
Arkan menatapnya dengan mata yang sedalam kegelapan abadi. "Aku adalah akhir dari cahayamu, Lux-Aeterna. Bersiaplah, karena jiwamu akan menjadi santapan berikutnya bagi Eternal Ruin-ku."
Lux-Aeterna meraung, sebuah suara yang menggetarkan fondasi ruang di Lembah Penjaga Suci. Sebagai seorang Sovereign, ia adalah hukum. Tubuhnya mendadak diselimuti zirah emas cair yang memancarkan suhu jutaan derajat, membakar oksigen di sekitarnya hingga hampa. Di tangannya, muncul sebuah tombak cahaya—Aegis-Sun—senjata tingkat tinggi yang ditempa dari inti bintang mati.
"Lancang! Seorang Nirvana Realm berani bicara tentang melahap jiwaku?!" Lux-Aeterna melesat, kecepatannya melampaui batas penglihatan. Tombaknya menusuk ke arah jantung Arkan, membawa tekanan yang mampu membelah benua.
Namun, Arkan tidak bergeming. Di mata Arkan yang terhubung dengan Singularitas, gerakan sang Sovereign terasa lambat dan penuh celah.
[Momen Epic 1: Perisai Black Hole]
Tepat sebelum ujung tombak itu menyentuh kulitnya, Arkan mengangkat satu jari. Di ujung jarinya, sebuah titik Black Hole seukuran kelereng muncul. Secara instan, energi Sovereign yang masif itu mulai terdistorsi. Cahaya emas yang agung itu melengkung, terhisap masuk ke dalam titik hitam tersebut tanpa sisa.
Lux-Aeterna terbelalak. "Apa?! Hukum cahayaku... ditelan?!"
"Bukan ditelan," Arkan mencengkeram batang tombak itu dengan tangan kosong. Tangannya tidak terbakar, justru energi panas dari tombak itu diserap oleh Elemen Air kosmiknya yang dingin. "Tapi diproses menjadi bahan bakar kenaikan tingkatku."
[Momen Epic 2: Manifestasi Lima Elemen & Dewi Qi Lin]
Arkan menghentakkan kakinya ke udara. Tiba-tiba, di belakangnya muncul bayangan Dewi Qi Lin yang kini memadat sempurna. Lima ekor Dewi Qi Lin itu bercahaya dengan lima warna elemen berbeda, melilit tubuh Lux-Aeterna seperti rantai dimensi.
"Elemen Tanah: Penjara Inti Bintang!"
Gravitasi di sekitar Lux-Aeterna meningkat sejuta kali lipat. Sang Sovereign itu jatuh berlutut, zirahnya retak karena tekanan berat yang tidak masuk akal.
"Elemen Petir: Penghakiman Void!"
Langit yang hitam pekat menyambar dengan kilat ungu. Setiap sambaran petir bukan menghancurkan tubuh fisik, melainkan membakar Soul Realm Lux-Aeterna. Sang Senopati 6 itu berteriak histeris—sebuah pemandangan ngeri bagi siapa pun: seorang Sovereign memohon ampun di depan Nirvana Realm.
"Kau bicara tentang cahaya seolah-olah kau pemiliknya," Arkan menatap mata emas musuhnya yang mulai meredup. "Tapi di hadapan Eternal Ruin, cahayamu hanyalah lilin kecil yang menunggu untuk ditiup."
Cahaya di tubuh Lux-Aeterna memudar, diserap habis masuk ke dalam pori-pori kulit Arkan. Setiap tetes energi Sovereign itu membuat aura Arkan semakin gelap dan berat. Langit di atas mereka mulai retak, tanda bahwa batas dunia ini hampir tak mampu menampung keberadaan Arkan lagi.
Dengan satu remasan terakhir, tubuh Lux-Aeterna hancur menjadi partikel cahaya yang langsung ditelan kegelapan Arkan. Lembah itu kembali hening. Tidak ada lagi Senopati 6. Tidak ada lagi koalisi tiga sekte. Yang tersisa hanyalah Arkan, sang Penguasa Kosmik yang kini selangkah lagi menuju Eternal Ruin yang hakiki
Arkan memejamkan mata, merasakan ledakan kekuatan di dalam dirinya. "Satu mangsa lagi... dan pintu keabadian akan terbuka untukku."
Keheningan yang mencekam menyelimuti Lembah Penjaga Suci. Sisa-sisa energi Black Hole milik Arkan masih berdenyut pelan di udara, menghisap setiap suara dan partikel debu yang tersisa. Di tengah kawah raksasa yang dulunya adalah markas megah koalisi tiga sekte, tiga sosok berdiri mematung.
Srikandi-Tan adalah yang pertama menurunkan tinjunya. Napasnya masih menderu, uap panas keluar dari tubuhnya yang telah ditempa Star-Density. Matanya yang tajam menatap punggung Arkan dengan rasa takjub yang nyaris menyerupai ketakutan.
"Dia... dia baru saja melahap seorang Sovereign," bisik Srikandi pelan. Suaranya bergetar, bukan karena lemah, tapi karena jiwanya baru saja menyaksikan sesuatu yang melampaui logika dunia kultivasi. "Bahkan dengan pondasi Earth Realm-ku, aku merasa seperti sebutir pasir di hadapan badai saat Tuan melepaskan Singularitas Qi Lin tadi."
Di sampingnya, Liem-Banyu perlahan menyarungkan pedangnya. Gerakan tangannya yang biasanya stabil kini tampak sedikit kaku. Sebagai pengguna Frequency Shift, ia bisa merasakan betapa hancurnya struktur ruang dan waktu di sekitar Arkan saat ini.
"Tuan tidak hanya membunuhnya, Srikandi," timpal Liem dengan nada dingin namun penuh hormat. "Tuan menghapus eksistensinya. Tidak ada reinkarnasi, tidak ada sisa sukma. Lux-Aeterna kini telah menjadi bagian dari energi kosmik Tuan. Kecepatan evolusi ini... melampaui apa pun yang tertulis dalam sejarah kuno."
Sementara itu, Cici melayang turun dengan sayap api ungunya yang mulai meredup. Sebagai pemilik Soul Realm dan pemahaman Dao Initiate, ia adalah yang paling sensitif terhadap perubahan aura. Ia bisa melihat bayangan Dewi Qi Lin di belakang Arkan kini tidak lagi samar, melainkan terlihat lebih nyata, lebih gelap, dan lebih haus.
Cici berlutut satu kaki di tanah yang menghitam, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Jarak antara kita dan Tuan semakin menjauh. Kita harus melampaui batas kita sendiri jika ingin terus berdiri di belakang bayangannya."
"Bersihkan tempat ini," perintah Arkan, suaranya bergema seperti guntur yang jauh. "Jangan biarkan ada satu pun jejak dari sekte-sekte sampah ini yang tersisa. Dunia harus tahu bahwa siapa pun yang menghalangi jalan Penguasa Kosmik hanya akan menjadi arsitektur abu di bawah kaki-Ku."
Ketiganya menjawab serempak, suara mereka memecah kesunyian lembah yang kini telah menjadi kuburan massal bagi lima belas ribu nyawa.
"Siap, Tuan!"
Arkan melangkah pergi, setiap jejak kakinya meninggalkan tanda hangus di tanah. Perburuan berikutnya telah dimulai, dan kali ini, seluruh wilayah kekaisaran akan gemetar karena sang pemangsa sejati baru saja menyelesaikan "sarapan"-nya.