Kayra Ardeane mengasingkan diri ke desa sunyi bernama Elara demi mengubur trauma masa lalunya sebagai ahli bedah. Namun, ketenangannya hancur saat seorang pria bersimbah darah menerjang masuk dengan peluru di dada. Demi sumpah medis, Kayra melakukan tindakan gila: merogoh rongga dada pria itu dan memijat jantungnya agar tetap berdenyut.
Nyawa yang ia selamatkan ternyata milik Harry, seorang predator yang tidak mengenal rasa terima kasih, melainkan kepemilikan. Di bawah kepungan musuh dan kobaran api, Harry memberikan ultimatum yang mengunci takdir Kayra.
"Pilihannya sederhana, Dokter. Mereka selamat dan kau ikut denganku, atau kita semua tetap di sini sampai musuh mengepung. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke tempat di mana aku tidak bisa melihatmu."
Terjebak dalam pelarian maut, Kayra menyadari satu hal yang terlambat, ia memang berhasil menyelamatkan jantung Harry, namun kini pria itu datang untuk mengincar jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Jantung di Telapak Tangan
Lampu operasi di atas kepala Kayra sempat berkedip beberapa kali, menciptakan bayangan yang menari-nari di atas rongga dada pria itu yang terbuka lebar. Di luar, suara angin malam Desa Elara yang biasanya menenangkan seolah lenyap, digantikan oleh suara mesin EKG tua yang memekikkan ritme tachycardia yang kacau.
Suasananya begitu mencekam, seolah-olah maut sedang berdiri tepat di belakang bahu Kayra, menunggu saat yang tepat untuk menjemput nyawa sang pasien.
"Dokter, tekanannya turun! 70 per 40 dan terus merosot!" Mia berteriak dengan suara yang pecah oleh tangis. Tangannya yang memegang retractor, alat penarik jaringan, bergetar hebat, membuat luka bedah itu tidak stabil dan berbahaya.
"Tetap di posisimu, Mia! Jangan biarkan klem itu bergeser sedikit pun!" bentak Kayra tanpa mengalihkan pandangan.
Keringat mengalir deras dari pelipis Kayra, merembes ke balik masker bedahnya, namun ia tidak peduli.
Di depannya, jantung pria itu, sang bos mafia, berdenyut dengan sangat lemah di balik lapisan selaput jantung yang robek. Darah terus merembes dari arteri yang pecah, memenuhi rongga dada lebih cepat daripada yang bisa disedot oleh alat suction tua milik puskesmas yang mulai mengeluarkan suara mendengis, tanda kelebihan beban.
BIP, BIP, BIP, BIPPPPPPP...
"Sial! Dia asystole!" Freya memekik, menatap layar monitor yang kini hanya menampilkan garis lurus yang mengerikan. Garis hijau yang menandakan berakhirnya kehidupan.
Dunia Kayra mendadak melambat. Suara pekikan Mia memudar, digantikan oleh gema traumatis dari dua tahun lalu yang seolah meledak di kepalanya. Di matanya, sosok pria di atas bed itu berubah menjadi wajah pasien masa lalunya yang gagal ia selamatkan.
Bayangan Dokter Adrianus, sang senior, seolah muncul kembali di sudut ruangan. Suara pria itu bergema di telinganya, bukan sebagai musuh, melainkan sebagai vonis akhir karirnya.
"Kau melakukan kesalahan fatal, Kayra. Tanganmu itu telah membunuhnya. Kau tidak akan pernah bisa menjadi dokter bedah lagi."
Tangannya membeku. Skalpel di jemarinya nyaris terjatuh ke lantai. Perasaan hancur yang dulu membuatnya lari ke Elara kini kembali mencekik lehernya.
"Dokter Kayra! Lakukan sesuatu! Dia pergi!" teriak Freya sambil terus memompa ambu bag atau kantung napas dengan panik.
Kayra memejamkan mata sedetik, menggigit bibir dalamnya dengan sangat keras hingga rasa amis darahnya sendiri menyadarkannya kembali ke realitas.
‘Tidak. Tidak lagi. Aku tidak akan membiarkan kematian menang malam ini. Tidak di tanganku.’
"Mia, ambil epinefrin! Sekarang!" Kayra menjatuhkan skalpelnya dan melakukan hal yang seharusnya mustahil dilakukan di puskesmas kecil. Ia memasukkan tangannya langsung ke dalam rongga dada pria itu.
Mia dan Freya terengah melihat pemandangan itu, wajah mereka memutih karena ngeri. Kayra melakukan open heart massage darurat, memijat jantung pria itu secara manual dengan telapak tangannya. Dinginnya otot jantung yang melemah itu bersentuhan langsung dengan jari-jari Kayra yang kini berlumuran darah hangat.
Satu tekanan... dua tekanan...
"Ayo, berdetaklah! Jangan mati di depanku!" bisik Kayra dengan gigi terkatup.
Ia bisa merasakan tekstur jantung pria itu di telapak tangannya. Lembut namun mulai kehilangan daya lenturnya. Kayra memijat dengan ritme yang presisi, setiap gerakannya adalah upaya untuk menjadi mesin pompa buatan bagi pria yang bahkan tidak ia ketahui namanya. Ia mengabaikan rasa perih di otot lengannya, mengabaikan trauma yang berteriak di otaknya.
Bip...
Garis di monitor melompat kecil.
Bip... Bip...
"Ritme kembali! Sinus Bradikardia!" Mia berseru di sela isak tangisnya.
Kayra tidak berhenti. Dengan kecepatan yang hanya dimiliki oleh ahli bedah kelas atas yang telah melatih motoriknya selama belasan tahun, ia meraih jarum jahit bedah. Ia harus menjahit arteri yang robek itu di tengah denyutan jantung yang baru saja kembali.
Jarum itu menembus jaringan dengan presisi milimeter. Satu jahitan, dua jahitan, simpulnya begitu rapi dan kuat, sebuah karya seni medis yang lahir di tengah kekacauan berdarah. Saat simpul terakhir diikat, pendarahan hebat itu tiba-tiba berhenti.
Kini, di atas meja operasi darurat itu, sosok itu terbaring kaku. Dada pria itu kini terbebat perban tebal yang mulai merembeskan warna merah muda, tanda bahwa pendarahan internal telah terkontrol meski belum sepenuhnya stabil.
Sebuah selang dada mencuat dari sela iganya, terhubung ke botol drainase yang menampung cairan merah gelap. Pria itu tampak seperti prajurit yang kalah, namun aura dominan yang memancar dari tubuhnya tetap terasa menyesakkan, bahkan dalam kondisi tak berdaya.
BRAK!
Pintu ruang bedah ditendang dari luar hingga menghantam dinding. Pria beralis luka itu masuk dengan pistol yang masih setia di genggamannya. Di belakangnya, dua pria lain berjaga dengan mata liar.
"Bagaimana?" desis pria itu, matanya terpaku pada sosok bosnya yang tak bergerak.
"Aku berhasil mengeluarkan proyektil dan menjahit arteri jantungnya," jelas Kayra dengan nada dingin yang asing bagi telinganya sendiri. Ia melepas sarung tangan lateksnya yang merah pekat dengan sekali sentakan.
"Tapi dia kehilangan terlalu banyak darah. Jika dalam dua jam tidak ada transfusi yang cocok, semua kerja kerasku akan sia-sia,” sambungnya.
Pria beralis luka itu mendekat, ujung pistolnya kini mengarah ke dada pasien yang baru saja diselamatkan Kayra. "Kau bilang kau bisa menyelamatkannya, Dokter. Jangan mencoba bermain dengan kami."
"Aku dokter, bukan Tuhan!" bentak Kayra, amarahnya meledak melampaui rasa takutnya. Ia melangkah maju, menantang maut yang hanya berjarak beberapa inci dari wajahnya.
"Jika kau ingin dia hidup, suruh anak buahmu memeriksa golongan darah mereka sekarang! Aku butuh golongan darah yang sama dengannya. Sekarang, atau bersiaplah mencari peti mati untuk bosmu!"
Pria itu terpaku sejenak, melihat otoritas luar biasa yang terpancar dari mata Kayra, sebelum akhirnya memberi isyarat pada anak buahnya di luar untuk melakukan perintah sang dokter.
Kayra kembali terpaku pada monitor. Meski merangkak naik, tekanan darah di angka 80/50 mmHg masih sangat kritis, setiap tetes yang merembes ke botol drainase adalah sisa nyawa yang terus bocor.
"Mia, pasang colloid tambahan! Kita harus menjaga volumenya sampai darah datang," perintah Kayra tegas tanpa menoleh.
Mia bergerak goyah memenuhi instruksi, sementara Freya dengan tangan gemetar menghitung sisa klem dan kasa, memastikan tidak ada instrumen tertinggal di dalam rongga dada, sebuah prosedur standar yang tetap dijaga Kayra meski di bawah todongan senjata.
Tiba-tiba, sebuah erangan rendah memecah keheningan dari meja operasi.
Kayra tersentak. Refleks, ia mendekatkan wajahnya ke arah pasien. "Tuan? Bisa kau mendengarku?"
Mata pria itu terbuka perlahan, lalu iris hitamnya yang tajam langsung mengunci pandangan Kayra, tatapan predator yang terluka.
"Khianat!" desisnya dengan suara pecah layaknya kertas robek.
Sebelum Kayra bereaksi, tangan besar itu menyambar pergelangan tangannya. Cengkeramannya begitu kuat hingga Kayra merasa tulangnya nyaris remuk.