Lima tahun sudah Nadira menjalani sebuah pernikahan. Lima tahun pula rahimnya dijadikan bahan cibiran, saat setiap kali mertuanya melontarkan kata-kata tajam. Mandul. Wanita bermasalah.
"Mas, aku sudah lelah menghadapi ibumu yang selalu menuduhku mandul. Padahal kenyataannya kamu jarang menyentuhku. Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" (Nadira)
Namun respon Ardian membuat Nadira terdiam.
"Sudahlah Nadira, gak usah di dengarkan ucapan Ibu. Jadi sabar saja. Lagian aku gak pernah menyembunyikan apapun darimu." (Ardian)
Bersabar, katanya.
Tapi sampai kapan kesabaran itu bisa bertahan?
Apakah dibalik ucapannya, Ardian menyembunyikan sebuah rahasia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengadilan Agama.
Seminggu berlalu sejak pagi terakhir itu.
Waktu berjalan seperti biasa, matahari tetap terbit dan tenggelam. Namun bagi Nadira, hari-hari terasa datar. Tanpa pesan. Tanpa suara yang memanggil namanya dari ruang lain.
Dan pagi ini, ia berdiri di depan Pengadilan Agama. Nadira baru saja turun dari mobil. Bukan sendiri. Seorang pengacara berjalan di sampingnya, map cokelat di tangan. Siska berada di sisi lain, wajahnya serius.
Langkah Nadira terhenti sejenak.
Ia menangkap sosok Ardian di ujung tangga. Pria itu berdiri tak jauh dari kedua orang tuanya. Kepalanya tertunduk, bahunya tak lagi setegap biasanya.
Lalu mata Nadira bergeser pada Bu Wani.
Wajah wanita itu pucat. Bibirnya rapat. Tak ada lagi kalimat tajam yang biasa meluncur.
Bahkan lihatlah. Sudah tahu kenyataannya, mulut pun tak mampu mengeluarkan hinaan.
“Nadira.”
Suara berat itu membuatnya menoleh.
“Pah,” sahutnya, ia tersenyum.
Pak Marlan berdiri beberapa langkah darinya. Sorot matanya tak lagi keras.
“Maaf sudah buat kamu menahan semuanya,” ucapnya pelan. “Sekali lagi, Papah mewakili Ardian dan Ibu mertuamu minta maaf sebesar-besarnya.”
Kepalanya mengangguk kecil. “Dira sudah memaafkan, Pah. Meski hati masih belum cukup menerima.”
Pak Marlan menarik napas panjang. “Lalu kedua orang tuamu di mana?” pandangannya menatap sekitar. “Gak ikut?”
Nadira menggeleng pelan. “Enggak, Pah. Dira gak mau mereka kepikiran dan khawatir. Biar nanti Dira yang bilang baik-baik ke Bapak sama Ibu.”
Ada jeda sebelum Pak Marlan mengangguk mengerti.
“Dira sayang!”
Suara perempuan itu terdengar familiar.
Nadira menoleh cepat. “Eh… Tante Rini?”
Belum sempat berkata apa-apa, tubuhnya sudah ditarik dalam pelukan hangat. Aroma parfum lembut menyentuh indra penciumannya.
“Yang sabar ya, Dira. Ada Tante di sini.”
Kelopak matanya terasa hangat, tapi ia menahannya.
“Iya, Tan.”
...
Ruang sidang terasa dingin, deretan kursi kayu, dan lambang negara yang tergantung di atas kursi hakim membuat suasana kaku.
Nadira duduk tegak di kursinya. Jemarinya bertaut di pangkuan. Tatapannya lurus ke depan, tenang di luar, meski detak jantungnya berdentum pelan.
Di sampingnya, pengacara membuka berkas. Siska dipanggil maju sebagai saksi.
Suara Siska terdengar jelas di ruangan itu. Ia menceritakan semuanya. Tentang pesan-pesan yang tak pantas.
Setiap kalimat menggantung di udara.
Sudut bibirnya terangkat tipis.
“Baik,” suara hakim terdengar tegas. “Apakah Saudari Nadira menuntut hak sebagai istri?”
Ruangan mendadak hening.
Nadira mengangkat wajahnya. Tatapannya sempat bergeser ke arah Bu Wani. Wanita itu menatapnya dingin, bibirnya tipis seperti menahan komentar.
Ia sudah paham maksud tatapan itu.
Jika ia menuntut hak, ia akan kembali disebut perempuan yang memanfaatkan harta putra mereka.
Nadira menggeleng pelan.
“Tidak perlu, Yang Mulia,” jawabannya ringan. Tanpa ragu.
Bukan karena tak berhak. Tapi karena ia tak ingin membawa apa pun dari pernikahan yang sudah mengikis harga dirinya.
Beberapa pertanyaan formal kembali dilontarkan. Suara kertas dibalik. Pena diketuk pelan.
Lalu—
Tok.
Suara palu menggema.
“Saudari Nadira dan Saudara Ardian telah resmi bercerai.”
Udara terasa berbeda setelah kalimat itu.
Tok.
Ketukan kedua terdengar, menegaskan akhir yang tak bisa ditarik kembali.
Nadira mengembuskan napas panjang. Bahunya turun perlahan. Ada ruang kosong di dada, namun bukan lagi sesak.
Akhirnya.
Tangannya tanpa sadar menyentuh perutnya yang masih rata. Senyum tipis terukir. Ia tak sendiri. Ada masa depan kecil yang menunggunya untuk diperjuangkan.
...
Di luar ruang sidang, langkahnya berhenti sejenak di hadapan Ardian.
“Tentang rumah itu,” ucapnya tenang. “Aku gak mau menempatinya, Mas. Terserah kamu mau jual atau enggak.”
Tak ada nada benci. Hanya keputusan.
“Bu Nadira, mobil sudah siap.”
Nadira menoleh pada Siska. Ia mengangguk kecil. “Baiklah.”
Sebelum melangkah pergi, pandangannya singgah pada Bu Wani. Tak ada kata yang keluar.
“Ayo, kita pergi sekarang.”
Siska mengangguk.
Mereka akhirnya melangkah, namun...
“Siska!”
Langkah Nadira terhenti di anak tangga terakhir. Suara itu terdengar keras.
Ia menoleh.
Tatapan Ardian menghujam lurus ke arah Siska. Tajam. Penuh amarah yang tak lagi disembunyikan.
“Pak Ardian? Ada apa?” suara Siska terdengar hati-hati.
“Bedebah! Kenapa kamu melakukan itu!” bentaknya.
Sebelum siapa pun sempat bereaksi, tangan Ardian sudah mencengkeram pergelangan Siska. Tarikannya kasar. Tubuh Siska terdorong sedikit ke depan.
“Aduh!” serunya, wajahnya meringis.
Nadira bergerak cepat. Tumitnya beradu keras dengan lantai marmer.
“Mas, lepasin Siska!” Suaranya tegas, tak lagi selembut tadi di ruang sidang. “Beraninya sama seorang wanita.”
Tangannya meraih lengan Ardian, mencoba melepaskan cengkeraman itu. Jari-jari Ardian memutih, emosinya jelas tak terkendali.
“Ardian, lepaskan!” suara Pak Marlan menggema dari belakang.
Beberapa pasang mata mulai memperhatikan. Bisik-bisik muncul.
Akhirnya cengkeraman itu mengendur.
Siska menarik tangannya cepat, mengusap pergelangan yang memerah.
Nadira langsung beralih menatapnya. “Gak papa?”
“Sedikit sakit, tapi gak papa, Bu Nadira,” jawab Siska pelan, menahan perih.
Nadira mengangguk kecil. Dadanya naik turun, namun wajahnya tetap tenang. Ia tak ingin memberi Ardian kepuasan melihatnya goyah.
“Ayo kita pergi sekarang saja, saya gak mau berlama-lama disini.”
“Dasar gak tahu malu! Saya sumpahin hidupmu lebih sengsara!”
Nadira menoleh kearah Bu Wani. Hanya membalas dengan senyuman tipis. Nadira menggenggam tangan Siska.
Ia berbalik. Langkahnya tegas menuruni tangga pengadilan, tanpa menoleh sedikitpun.
“Lihat, kurang baik apa Nadira sama kamu? Dia gak menuntut apa pun. Kamu malah menyia-nyiakan.”
Suara Pak Marlan masih terdengar keras di telinga Ardian.
Napasnya berat. Tanpa menjawab, langkahnya melewati kedua orang tuanya. Bahunya terasa kaku.
Kling.
Getaran ponsel membuatnya berhenti. Layar menyala.
“Mas, aku dengar kamu sudah bercerai. Itu berarti kamu sudah naik jabatan dong?”
Rahangnya mengeras. Jempolnya bergerak cepat.
“Kita bertemu di kafe.”
Kling.
Balasan masuk hampir seketika, tapi tak dibaca. Ponsel dimasukkan kembali ke saku, ia melangkah pergi.
Namun baru beberapa langkah...
“Mau kemana kamu?”
Ardian menghentikan langkahnya, menoleh. “Ada urusan.”
“Pasti ingin menemui pria itu kan?”
Ardian berbalik, melanjutkan langkahnya tanpa menjawab.
“Ardian!”
Ardian tetap melangkah menuju mobil.
Mesin menyala setelah ia masuk. Tak lama mobil melaju meninggalkan halaman Pengadilan Agama, menjauh dari gedung tempat statusnya resmi runtuh.
“Lihat putramu?” sentak Marlan.
“Jangan melimpahkan kesalahan itu padaku, Mas. Itu salah...”
“Cukup!” potong Marlan cepat. “Disaat seperti ini kamu masih menyalahkan Nadira! Sementara Nadira selalu diam, pernahkan dia membuat masalah denganmu?”
Beberapa saat tak ada jawaban, Marlan berbalik dan pergi.
...
Beberapa waktu kemudian, mobil berhenti di depan sebuah kafe. Bangunan kecil dengan dinding kaca. Aroma kopi menyambut begitu pintu dibuka.
Ardian berdiri sejenak di ambang pintu. Pandangannya menyapu ruangan.
“Mas, di sini.”
Suara itu membuatnya menoleh. Wisnu duduk di sudut, melambaikan tangan kecil.
Ardian berjalan mendekat dan duduk tanpa basa-basi.
“Intinya saja,” ucapnya datar. “Aku disuruh ke Amerika buat bantu Gama.”
Wajah Wisnu berubah. “A—apa, Mas?”
“Itu karena semua keluarga tahu hubungan kita, Wisnu. Dan berita tentang kita yang masih terpampang di media sosial.”
Kalimat itu terasa pahit di lidahnya.
“Gak mungkin. Pasti karena mantan istri kamu yang ngadu, kan?”
“Bukan cuma mantan istriku.” Tatapannya tajam. “Siska bantu Nadira. Semua rahasia tentang kita kebongkar.”
Wisnu terdiam. Kekecewaan jelas terpancar di wajahnya. Tatapan yang tadi penuh harap kini goyah.
Ardian menatap meja. Ujung jarinya mengetuk pelan permukaan kayu. Semua yang selama ini disembunyikan rapi, runtuh dalam hitungan hari.
“Jadi kita harus bagaimana, Mas?” tanya Wisnu pelan.
“Entahlah,” jawaban itu keluar singkat. Kosong.
“Jangan bilang entahlah. Pikirkan solusinya.”
Ardian mengangkat wajah. Sorot matanya lelah. “Ini sudah terlanjur. Kamu mau putus, silakan.”
Ada jeda. Ketegangan menggantung di antara mereka.
“Aku gak mau putus, Mas,” suara Wisnu terdengar lebih tegas. “Kita lanjutkan. Kamu mau ke luar negeri pun aku ikut.”
Ardian menatapnya lama. Amerika. Perintah ayahnya. Pelarian atau kesempatan, ia sendiri tak yakin.
“Malam ini. Bersiaplah.”
“Iya, Mas.”
Ardian berdiri. Kursinya bergeser pelan. Tanpa menunggu lebih lama, langkahnya meninggalkan kafe.
Hidupnya memang runtuh di satu sisi. Tapi di sisi lain, ia masih memilih berjalan ke arah yang sama.
...
Mobil melaju membelah jalan siang yang padat. Deretan kendaraan bergerak pelan, lampu lalu lintas berganti warna, dan klakson sesekali terdengar bersahutan.
Nadira duduk di kursi belakang. Tatapannya lurus ke depan.
“Apa Bu Nadira lega sekarang?”
Suara Siska terdengar hati-hati dari kursi depan.
Nadira hanya berdeham pelan. Tak menoleh. Pandangannya tetap tertuju pada jalan yang terus memanjang di depan sana.
“Gak papa, Bu. Kalau memang harus berakhir begini,” lanjut Siska pelan. “Daripada bertahan. Sejak awal saya memang gak percaya. Kok tega Pak Ardian seperti itu.”
Nadira menarik napas dalam. “Biarkan saja,” ucapnya akhirnya, suaranya tenang. “Sekarang aku mau fokus pada masa depanku.”
Hening.
Beberapa saat Nadira kembali bersuara.
“Selama ini… aku selalu tertekan.”
Kaca jendela memantulkan sorot matanya yang redup namun tegas. Lima tahun menahan kata-kata tajam. Lima tahun menelan hinaan. Lima tahun berpura-pura semuanya baik-baik saja.
Nadira memejamkan mata sejenak, lalu membukanya kembali.