NovelToon NovelToon
Kontrak Dendam Ceo

Kontrak Dendam Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Pohon Rindang

"aku tidak mencintai mu,aira.aku hanya ingin melihat mu menderita. "
Arlan Dirgantara, CEO angkuh yang dipenuhi dendam, mengikat Aira Senja dalam sebuah kontrak kejam. Bagi Arlan, Aira adalah pengkhianat yang harus membayar kesalahan masa lalu. Bagi Aira, Arlan adalah luka terdalam sekaligus satu-satunya harapan.
Di bawah atap yang sama, kebencian bercampur dengan rindu yang tak pernah benar-benar padam. Saat rahasia masa lalu terungkap, dendam itu berubah menjadi obsesi.
Akankah kontrak ini berakhir dengan kehancuran…
atau justru menyatukan dua hati yang terluka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pohon Rindang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: KEMBALINYA SANG MANTAN

Jakarta siang itu terik. Matahari membakar aspal dan kaca-kaca gedung tinggi tanpa ampun.

Namun bagi Aira Senja, udara di luar sana terasa jauh lebih bersahabat dibandingkan suhu dingin yang menusuk tulang di dalam gedung Dirgantara Group.

Ia berdiri mematung di depan lift kaca menuju lantai 45. Di tangannya, sebuah map cokelat yang sudah lusuh diremas kuat-kuat—seolah benda itu satu-satunya pegangan agar ia tidak runtuh di tempat.

Ting!

Pintu lift terbuka.

Aira melangkah keluar dengan ragu. Suara sepatu haknya yang mulai aus menggema di lorong sunyi berlapis marmer mewah. Setiap langkah terasa berat, seolah menarik kembali ingatan dan ketakutan yang menghimpit dadanya sejak satu jam lalu.

Sejak panggilan dari rumah sakit itu datang.

“Mbak Aira, jika biaya administrasi ICU ibunya tidak segera dilunasi sore ini, dengan berat hati kami harus memindahkan ibu ke bangsal biasa.”

Suara suster itu masih terngiang, dingin dan tak memberi ruang tawar-menawar—seperti vonis yang sudah diputuskan jauh sebelum Aira sempat membela diri.

Ia menarik napas panjang, lalu merapikan kemeja putihnya. Kemeja itu sudah menipis karena terlalu sering dicuci dan disetrika. Ia tahu, pakaian itu jauh dari kata pantas untuk gedung semewah ini.

Tapi inilah yang terbaik yang ia miliki.

“Pelamar sekretaris pribadi untuk Pak Arlan?”

Seorang asisten pria menatapnya singkat. “Silakan masuk.”

Jantung Aira berdegup keras.

Ia tak pernah menyangka bahwa Dirgantara Group—tempat terakhir yang ingin ia datangi—adalah milik pria itu.

Arlan.

Nama yang selama lima tahun terakhir ia kubur dalam-dalam, namun tetap muncul diam-diam di setiap mimpi yang tak pernah benar-benar hilang.

Klek.

Aira mendorong pintu kayu jati itu perlahan.

Aroma sandalwood langsung menyergap indra penciumannya—wangi yang terlalu familiar. Dulu, aroma itu selalu membuatnya merasa aman. Kini, justru terasa seperti racun yang perlahan memenuhi paru-parunya.

Ruangan itu luas dan dingin. Dinding kaca memamerkan pemandangan pencakar langit Jakarta, seolah seluruh kota berada dalam genggaman seseorang di ruangan ini.

Di balik meja kerja besar yang tampak mahal, seorang pria duduk membelakangi pintu.

“Selamat pagi, Pak,” ucap Aira pelan. “Saya Aira Senja. Pelamar untuk posisi sekretaris.”

Suaranya bergetar. Ia hampir tak mengenalinya sendiri.

Hening.

Pria itu tak langsung menjawab. Detak jam dinding terdengar jelas, berpacu dengan degup jantung Aira yang kian tak terkendali.

Perlahan, kursi kerja itu berputar.

Dunia Aira seolah berhenti.

Rahang yang lebih tegas. Rambut tertata rapi. Tatapan hitam pekat yang menekan tanpa perlu usaha.

Arlan Dirgantara bukan lagi pria hangat yang dulu berjanji akan menikahinya.

Pria di hadapannya kini adalah penguasa.

“Lama tidak bertemu, Aira.”

Suara bariton itu berat, datar—dan mematikan.

“Atau haruskah aku memanggilmu… sang pengkhianat?”

Dada Aira terasa dihantam keras. Ia berusaha tetap berdiri tegak meski lututnya gemetar.

“Arlan, aku—”

“Jangan sebut namaku.”

Nada suara Arlan rendah, nyaris tenang. Justru itulah yang membuat udara di ruangan itu membeku. Rahangnya mengeras, seolah ada sesuatu yang ditahannya dengan susah payah.

“Jangan kotori namaku dengan mulutmu.”

Arlan berdiri. Tinggi dan dominan. Aira refleks mundur setengah langkah.

Setiap langkah pria itu mendekat terasa seperti ancaman nyata.

Ia berhenti tepat di hadapannya—terlalu dekat.

Tanpa peringatan, Arlan merampas map cokelat di tangan Aira dan menjatuhkannya ke lantai. Kertas-kertas di dalamnya berhamburan, seperti harga diri Aira yang direnggut tanpa sisa.

“Kau pikir setelah apa yang kau lakukan lima tahun lalu,” ucap Arlan dingin, “kau bisa datang ke sini dan mengemis pekerjaan dariku?”

Pandangan sinis itu menyapu kemeja tipis Aira tanpa belas kasihan.

“Ke mana perginya pria kaya yang dulu membuatmu membuangku seperti sampah?”

Aira memejamkan mata. Air mata menggenang, tapi ia menahannya.

Jika saja kau tahu kebenarannya, Arlan.

Namun nyawa ibunya lebih penting daripada penjelasan apa pun.

“Aku butuh pekerjaan ini, Pak Arlan,” ucapnya lirih namun tegas.

“Aku akan melakukan apa pun… selama ibuku hidup.”

Arlan tertawa pendek. Kering. Tanpa kehangatan.

“Apa pun?”

Ia berbalik, mengambil sebuah dokumen, lalu melemparkannya ke atas meja.

“Tanda tangani. Ini bukan kontrak kerja biasa.”

Ia menatap Aira tanpa ekspresi.

“Ini kontrak penebusan dosa.”

Tangan Aira gemetar membaca setiap poin. Napasnya tercekat saat matanya tertumbuk pada satu kalimat:

Seluruh waktu dan hidup pihak kedua berada di bawah kendali penuh pihak pertama.

“Penalti satu miliar?” suaranya nyaris tak terdengar.

Arlan mendekat, berbisik di dekat telinganya.

“Bukankah kau bilang akan melakukan apa pun demi uang?”

Nada suaranya rendah. Kejam.

“Tanda tangani. Biaya ICU ibumu lunas dalam sepuluh menit.”

Ia berhenti sejenak.

“Tolak… dan kau bisa melihatnya mati sore ini.”

Aira membeku.

Arlan tahu segalanya.

Dengan tangan gemetar dan air mata yang akhirnya jatuh, Aira menandatangani kontrak itu. Setiap goresan tinta terasa seperti mengubur sisa hidup yang pernah ia impikan.

“Pilihan yang cerdas, Aira.”

Arlan mengambil kembali kertas itu.

“Selamat datang di nerakamu.”

Pintu itu sudah terbuka lebar.

Dan kali ini, Aira sendiri yang melangkah masuk ke dalamnya.

1
Arkana Luis
bagus.
sangat seru
Rumah Berpenghuni
ayo thor lanjut an nya mana
Rumah Berpenghuni
iss si arlan jahat, tapi aira nya kasian🥺
Pohon Rindang: makasih udah mampir ☺
total 1 replies
Rumah Berpenghuni
semangat author, seru nii
Pohon Rindang: makasih semangat nya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!