NovelToon NovelToon
ISTRI KEENAM

ISTRI KEENAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Crazy Rich/Konglomerat / Office Romance
Popularitas:115.9k
Nilai: 5
Nama Author: Melon Milk

Sisi Caldwell dipaksa keluarganya mengikuti pesta kencan buta demi menyelamatkan perusahaan, hingga terpilih menjadi istri keenam Lucien Alastor, miliarder dingin yang tak percaya pada cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melon Milk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3

Rumah besar itu tampak megah dengan perpaduan arsitektur klasik dan modern yang memukau. Bangunannya berdiri kokoh di atas lahan lebih dari Lima ribu meter persegi, memancarkan kemewahan yang dingin dan berjarak. Mobil-mobil mewah silih berganti keluar masuk gerbang utama tanpa henti.

Sisi dipandu oleh penanggung jawab perjamuan menuju ruang tunggu, tempat puluhan wanita telah lebih dulu berkumpul. Begitu ia melangkah masuk, seluruh pasang mata langsung tertuju padanya.

Baru kali ini mereka melihat wanita cantik? batin Sisi sinis.

“Pertemuan resmi akan segera dimulai. Harap bersiap,” ujar petugas itu sambil membuka daftar registrasi dan mulai membacakan nama.

Wanita pertama yang dipanggil segera bangkit dan mengikuti petugas menuju ruang resepsi. Langkahnya tergesa, penuh antusiasme yang nyaris memalukan. Terlalu bersemangat. Terlalu berharap.

Sungguh wanita yang putus asa.

Sisi menelan senyum getir. Ia merasa kasihan pada mereka, termasuk pada dirinya sendiri.

Lima menit kemudian, wanita itu kembali. Riasannya luntur, air mata mengalir deras di pipinya.

“Kenapa dia menangis?” bisik seorang gadis pada temannya.

“Apa yang Lucien lakukan padanya?” sahut yang lain dengan nada penasaran.

Sisi tidak menyukai gosip, tetapi ia tetap memperhatikan. Wanita itu meraih tasnya dengan tangan gemetar lalu berlari keluar dari area perjamuan sambil terisak.

Drama apa lagi ini?

Menjengkelkan.

Satu per satu wanita keluar dari ruang resepsi dengan mata sembab dan wajah hancur. Bisik-bisik mulai memenuhi ruangan, suasana berubah tegang.

Kesabaran Sisi menipis.

Ia segera mengirim pesan pada sopirnya untuk mengambilkan saputangan cadangan dan perlengkapan rias dari mobil. Ia harus siap. Ia tidak akan membiarkan dirinya keluar dengan wajah berantakan seperti mereka. Jika harus ditolak, setidaknya martabatnya tetap utuh.

Tepat saat sopirnya tiba, petugas memanggil namanya.

“Sisi Caldwell.”

Sisi berdiri, merapikan gaunnya, lalu melangkah dengan percaya diri. Petugas memandunya hingga ke depan sebuah pintu besar dan membukakannya.

Ruangan itu luas, lapang, dan sunyi. Namun entah mengapa, ada tekanan aneh yang membuat udara terasa berat.

Pandangan Sisi langsung terpaku pada sosok pria yang duduk santai di sofa tengah ruangan.

Lucien Alastor.

Alisnya tebal dan tajam seperti mata pedang. Mata abu-abunya dingin, dalam, tanpa emosi, menatap tajam seolah mampu menembus pertahanan siapa pun. Bibirnya tipis, rahangnya tegas sempurna, tubuhnya tinggi dan kokoh, setiap detail sesuai dengan deskripsi yang pernah ia baca.

Kata tampan terasa terlalu dangkal.

Pria itu terlihat seperti makhluk ethereal, megah, berbahaya, seolah memang terlahir untuk memerintah dan membuat orang lain berlutut di hadapannya.

Namun Sisi tahu, penampilan adalah kebohongan paling indah.

Jangan pernah terpesona oleh wajah, katanya pada dirinya sendiri.

Ia menarik napas dalam, menegakkan sikap, lalu duduk di hadapan pria itu dengan elegan. Dengan tenang, ia meletakkan lima saputangan di atas meja di antara mereka.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Lucien sambil mengangkat alisnya.

“Aku menyiapkan saputangan,” jawab Sisi datar. “Kalau-kalau aku menangis karena Anda.”

Lucien terdiam sesaat, lalu tertawa pelan.

Astaga… kenapa dia harus setampan malaikat yang dibuang dari surga?

“Kau pikir aku akan membuatmu menangis seperti mereka?” tanyanya.

“Ya,” jawab Sisi tanpa ragu. “Tidak ada satu pun dari mereka yang keluar dengan senyuman. Aku tidak ingin keluar dengan wajah hancur.”

“Karena mereka mengecewakanku,” kata Lucien santai. “Jawaban mereka buruk.”

Sisi mengangkat alis.

“Lalu jawaban seperti apa yang Anda inginkan?” tanyanya.

Ia menahan kejengkelannya. Ia tidak menyukai nada merendahkan pria itu.

“Lihat saja,” jawab Lucien malas.

“Baik. Katakan,” balas Sisi tidak sabar, meski jantungnya berdegup lebih cepat.

Ini pertama kalinya. Ia tidak tahu pertanyaan seperti apa yang akan dihadapi.

“Berapa kali aku bercerai?” tanya Lucien.

“Lima kali,” jawab Sisi cepat. Fakta umum. Semua orang tahu.

“Menurutmu,” lanjut Lucien, “pria yang gagal mengatur keluarganya sendiri… pantaskah memimpin perusahaan besar?”

Sisi menghela napas.

“Ya,” jawabnya tenang. “Masalah keluarga dan bisnis adalah dua hal berbeda. Mengelola perusahaan membutuhkan kecerdasan dan kerja keras. Sementara keluarga membutuhkan kehangatan dan empati. Kesalahan terbesar adalah mencampuradukkan keduanya.”

Lucien menatapnya lama, lalu menyeringai tipis.

Apa arti seringai itu? batin Sisi curiga.

“Siapa namamu?” tanyanya.

“Sisi Caldwell.”

“Kau boleh pergi.”

Sisi langsung berdiri karena kaget, matanya berkedip beberapa kali.

Ia tidak salah dengar.

Namun ia menolak pergi begitu saja.

“Apakah Anda akan memilihku?” tanyanya langsung.

Putus asa. Ya. Tapi ia tidak peduli.

“Kenapa aku harus memilihmu?” tanya Lucien pelan. “Beri aku alasan yang masuk akal.”

“Karena aku akan menjadi istri keenammu,” jawab Sisi mantap, “dan wanita terakhir yang akan kau nikahi.”

Lucien mendengus.

“Istri terakhir?” ulangnya. “Sombong.”

Sisi menyeringai. Ia tidak mundur, meski aura pria itu kini terasa semakin mengintimidasi. Ia harus menelan harga dirinya. Pria ini adalah satu-satunya jalan keluar dan senjata untuk melawan keluarganya.

“Kenapa? Anda tidak percaya?” godanya. “Atau Anda takut aku benar-benar bisa membuat Anda jatuh cinta, Tuan Lucien?”

Wajah Lucien mengeras.

Namun Sisi tidak peduli.

“Baik,” ujar Lucien akhirnya sambil berdiri. “Aku akan mencobanya. Bukan karena keyakinan, tapi karena keberanianmu.”

Ia menatap Sisi tanpa emosi.

“Tapi ingat satu hal. Siapa pun yang kupilih, aku tidak berniat mencintainya.”

Baiklah. Misi selesai.

Sisi tersenyum lebar.

Ia selangkah lebih dekat pada rencananya.

“Aku akan memastikan,” ucapnya lembut namun penuh keyakinan, “bahwa aku adalah istri keenam… dan istri terakhirmu.”

1
Mira Hastati
bagus
Enong Nuraini
iyaa kenapa buka selvar sja yg di jodohkan dneg. lucien🤭
Enong Nuraini
kasian sisi
cutriara
seru
Surmanti Surmanti
kenapa gambar novelnya diubah? padahal gambar awal lebih cocok dengan karakter Lucien yg datar, dingin 🤭
Ana Akhwat
Miris juga seorang perempuan berstatus istri tapi kelakuannya pada laki-laki lain seperti perempuan murahan
Ana Akhwat
🤣🤣🤣astage sisi sungguh luar biasa usilmu
Ana Akhwat
Bagus Sisil tingkat kan sifat tengilmu biar si Lucian yang sombong itu bertekuk lutut padamu
Ana Akhwat
Saya suka sikap sisi yang berani😁
kalea rizuky
emang kayak lacur
kalea rizuky
sisi kayak lacur
kalea rizuky
MC sok kuat tp ngemis ngemis males ddh
Nesysila_088
/Drool/
fau.syifa20
seruu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!