Alya Maheswari, seorang gadis dewasa yang harus menelan pahitnya percintaan. bagaimana tidak, kedua orang yang ia percaya, Randa sang pacar dan Relia adik kesayangannya. Keduanya tega bermain api di belakang dirinya.
Hingga suatu malam datang, di saat kedua orang tua Randa datang ke rumahnya, gadis itu sudah merasa berbunga-bunga, karena pasti kedatangan mereka ingin memintanya baik-baik.
Tapi kenyataannya tidak seperti itu, kedua orang tua Randa membawa kabar tentang gadis yang di maksud yaitu Ralia, sang adik yang saat ini tengah mengandung benih kekasihnya itu.
Hati Alya hancur, lebih parahnya lagi keluarganya sendiri menyuruhnya untuk mengalah dan menerima takdir ini, tanpa memikirkan perasaannya.
Karena sakit hati yang mendalam Alya pun memutuskan untuk ikut program transmigrasi ke suatu desa terpencil tanpa memberi tahu ke siapapun.
Di desa yang sejuk dan asri itu, Alya belajar bercocok tanam, untuk mengubah takdirnya, dari wanita yang tersakiti menjadi wanita tangguh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Alya terbangun ketika cahaya masuk dari celah jendela, bukan karena suara apa pun. Tubuhnya masih terasa lelah, tapi bukan lelah yang menekan. Lebih seperti sisa-sisa sakit yang belum sepenuhnya pergi.
Ia duduk di ranjang lebih lama dari biasanya. Menarik napas. Menghembuskan pelan.
Dari luar, terdengar langkah kaki di tanah basah. Alya tidak langsung bangun. Ia tahu langkah itu.
Beberapa detik kemudian, suara Bayu terdengar dari depan rumah. Tidak keras saat memanggil nama.
“Al.”
Alya berdiri, merapikan rambut seadanya, lalu membuka pintu.
Bayu berdiri dengan caping di tangan. Di tangannya yang lain, bungkusan nasi beralas daun pisang.
“Isun gawe mung sitik,” katanya. “Mangan sulung, mene seng kosong.” (Aku masak sedikit. Makan dulu, biar perutmu nggak kosong.)
Alya menerima bungkusan itu. Tangannya menyentuh ujung jari Bayu sebentar, tidak terlalu buru-buru, bahkan nasi itu sampai ke tangannya dengan baik.
“Aku belum lapar,” katanya jujur.
Bayu mengangguk. “Seng paran-paran disimpen bain.” (Tidak apa-apa. Disimpan saja.)
Ia duduk di bangku dekat pintu. Tidak ikut masuk. Menunggu tanpa terlihat menunggu.
Alya membuka bungkusan itu perlahan. Nasi hangat, sayur bening, dan ikan asin kecil. Sederhana. Tapi perut Alya merespons lebih dulu sebelum pikirannya.
Ia makan pelan. Bayu tidak memperhatikan secara terang-terangan. Ia memandangi halaman, memeriksa tali caping, membiarkan Alya makan dengan ritmenya sendiri.
Setelah selesai, Alya meletakkan bungkusan kosong.
“Aku masih agak pusing,” katanya.
Bayu menoleh. “Ojo dipaksa. Awak riko durung waras temenan.” (Jangan memaksa. Tubuhmu belum sembuh sepenuhnya.)
Alya mengangguk. Kata belum selesai itu terasa ramah.
Bayu berdiri. “Isun neng sawah sulung. kadung ono paran-paran, isun mulih." (Aku ke sawah dulu. Kalau ada apa-apa, aku pulang.)
Ia melangkah pergi, meninggalkan jejak kaki di tanah lembap, Alya menutup pintu. Kembali ke kamar. Kali ini ia tidur lagi, tanpa rasa bersalah.
☘️☘️☘️☘️
Siang menjelang tanpa suara keras. Alya bangun ketika matahari sudah tinggi. Kepalanya lebih ringan. Ia mandi, mengganti baju, lalu duduk di teras. Angin lewat membawa bau tanah dan rumput.
Bayu belum kembali. Alya tidak bertanya-tanya berlebihan. Ia hanya duduk, membiarkan waktu berjalan, namun di dalam hati kecilnya ia merasa ketenangan yang ia sendiri belum bisa mengungkapkannya.
Cara lelaki itu memperlakukannya dengan baik, memberinya ruang, dan menghargainya sebagai perempuan. Bukan mendiamkan ataupun menghiraukan tanpa ada alasan yang jelas.
"Dia baik, tapi aku belum berani mengambil kesimpulan dia baik karena apa," gumamnya sendiri sambil menikmati desir angin dari sawah yang hijau membentang.
Alya masih duduk di teras depan, tanpa ia sadari dari kejauhan wajah lelah itu mulai mendekat. Bayu datang, saat matahari sudah condong sedikit. Bajunya basah keringat. Ia berhenti di pagar.
“Kelendi kondisi riko?” (Keadaanmu gimana?)
“Lebih enak,” jawab Alya.
Bayu mengangguk puas. “Bagus.”
Ia tidak menyuruh Alya apa pun. Tidak mengajak. Tidak menahan. Ia hanya duduk sebentar, minum air, lalu berdiri lagi.
“Isun mulih sulung. Bengi isun masak.” (Aku pulang dulu. Nanti malam aku masak.)
Alya terkejut kecil. “Kamu nggak capek?”
Bayu mengangkat bahu. “Biasa, engko hun gowo merene yo." (Biasa nanti aku bawa ke sini ya.)
Ia pergi sebelum Alya sempat mengatakan apa pun lagi, dan Alya hanya bisa menatap punggung pria itu dari kejauhan.
"Ah, si Bayu selalu seperti itu," gumam Alya.
☘️☘️☘️☘️☘️
Senja turun perlahan. Alya menyalakan lampu ruang tamu, setelah beberes tadi, rumah Halimah terlihat begitu rapi, sejenak gadis itu tersenyum sendiri setelah bertukar kabar dengan sahabatnya itu.
Saat ini Alya sedang melangkah ke dapur, ia menata meja makan sebentar, agar terlihat lebih rapi dan lenggang, gadis itu sengaja, tidak memasak, karena ia menunggu ucapan seseorang tadi yang ingin membawa makanan ke rumahnya.
"Bayu kok belum datang ya," ucap Alya sendiri.
Setelah bergumam seperti itu, tiba-tiba saja terdengar suara langkah yang sudah tidak asing lagi. Ya Bayu datang lagi, di saat langit sudah gelap setengah.
Ia masuk membawa panci kecil. Meletakkannya di atas kompor.
“Riko lungguho baen,” katanya.(Kamu duduk saja.)
Alya menurut. Ia duduk di bangku kayu, kedua kakinya menapak lantai semen yang dingin. Dari sana, ia memperhatikan Bayu memasak.
Api kompor tidak terlalu besar. Bayu memutarnya sedikit lebih kecil, seolah tahu aroma bawang tak perlu dipaksa keluar. Pisau di tangannya bergerak pelan, irisan bawang tidak tipis, tidak tebal—cukup. Setiap kali minyak mulai terlalu panas, ia menggeser wajan sedikit, bukan mematikan api, hanya menenangkan.
Tidak ada percakapan besar. Hanya bunyi cess pelan saat bawang masuk minyak, denting sendok kayu menyentuh wajan, dan napas Bayu yang teratur.
Sesekali, Bayu melirik ke arah Alya. Tidak lama. Hanya memastikan ia masih duduk, masih baik-baik saja.
Alya menyadarinya. Dan entah kenapa, ia pura-pura tidak tahu.
Saat masakan hampir matang, Bayu mengambil piring. Ia memilih piring yang utuh, tanpa retak di pinggir. Ia menyendok nasi lebih dulu, lalu lauk. Tidak banyak. Tidak terlalu sedikit. Porsi orang yang sedang tidak enak badan.
Ia menaruh piring Alya lebih dulu di meja kecil. Setelah itu baru mengambil piringnya sendiri.
"Mangano sulung," ucap Bayu datar namun penuh perhatian. (Makan dulu)
"Makasih Bay," sahut Alya.
Mereka makan berhadapan. Tanpa meja besar. Tanpa jarak resmi. Hanya dua kursi kayu dan ruang yang cukup untuk merasa aman.
Alya makan pelan. Bayu tidak mengawasi. Tapi ketika Alya berhenti terlalu lama, Bayu berkata ringan. "Mangano, gulakane adem." (Dimakan nanti dingin)
Bukan perintah. Lebih seperti pengingat kecil agar ia tidak lupa pada tubuhnya sendiri. Di tengah makan, Alya berkata pelan, hampir seperti bicara pada diri sendiri,
“Aku hari ini nggak kepikiran yang aneh-aneh kan," ucapnya dengan lirih, karena sejatinya hati perempuan mudah luluh dengan perhatian kecil seperti ini.
Bayu mengangkat kepala. Sendoknya berhenti di udara. “Iyo?” (Iya?)
“Iya," sahut Alya sedikit terkejut, tidak menyangka jika Bayu akan mendengarnya.
Bayu mengangguk kecil. Lalu ia melanjutkan makan, seolah kalimat itu cukup disimpan saja.
Setelah selesai, Bayu mengumpulkan piring. Alya refleks berdiri. “Aku bantu—”
Bayu menggeleng, cepat tapi halus.
“Ojo. Riko durung waras temenan.” (Jangan. Kamu belum benar-benar sembuh.)
Ia mengambil piring dari tangan Alya sebelum sempat diprotes. Saat jari mereka bersentuhan, Bayu tidak buru-buru menarik. Hanya cukup lama untuk memastikan piring itu aman di tangannya.
Alya kembali duduk. Dadanya terasa hangat, bukan karena diperhatikan, tapi karena tidak diperlakukan seperti orang yang harus kuat.
Bayu langsung membawa piring kotor itu ke tempat cucian, tangan kokohnya begitu gesit mencuci piring bekas makan itu, hingga membuat mata Alya sedikit memperhatikan.
'Sudah tampan, gagah baik pula,' pujian itu meluncur di dalam hati tanpa ia sadari.
Setelah memastikan dapur sudah bersih Bayu memutuskan pulang, Alya mengantarnya sampai pintu. Angin malam masuk sebentar, membawa bau tanah basah.
“Makasih,” kata Alya.
Bayu berhenti di ambang pintu. Menatapnya, lalu berbicara. “Isun teko mergo riko ana.” (Aku datang karena kamu ada.)
Ia tidak menunggu jawaban. Tidak menambahkan apa pun. Hanya mengangguk kecil, lalu melangkah pergi.
Alya menutup pintu pelan. Malam berjalan tanpa tergesa. Untuk pertama kalinya sejak lama, Alya tidur bukan karena kelelahan melainkan karena hatinya sedang tidak waspada.
Dan itu cukup, baginya untuk perlahan melupakan kesakitannya.
Bersambung ...
Double up ya ...
Kasih komen dong kak biar lapakku ramai
bikin alya lupa sama kisah pedih hidupnya
thor novelnya jgn trllu kaku dong