NovelToon NovelToon
ARTHUR: Warisan Yang Tidak Lengkap

ARTHUR: Warisan Yang Tidak Lengkap

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan
Popularitas:334
Nilai: 5
Nama Author: DavidTri

Arthur tumbuh di bawah perlindungan seorang pelayan tua yang setia, tanpa pernah benar-benar memahami ayahnya dan apa yang telah ia tinggalkan. Ketika waktu mulai merenggut kekuatan pelindung lamanya, Arthur dipaksa menghadapi dunia yang selama ini dijauhkan darinya dunia yang dibangun di atas hutang lama, keputusan sunyi, dan enam nama yang tidak pernah disebutkan secara utuh.

Sedikit demi sedikit, Arthur menemukan bahwa kebaikan ayahnya di masa lalu telah membentuk takdir banyak orang, namun juga meninggalkan retakan yang kini mengincar dirinya.

Di antara latihan, pengkhianatan yang tidak terucap, dan sosok-sosok yang mengawasi dari kejauhan, Arthur harus memilih:
meneruskan warisan yang tidak lengkap atau menyerah bahkan sebelum ia sempat memutuskan...

baca novelnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DavidTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9 - Sebuah Tawa serta Penderitaan

Jamuan Makan Resmi Sang Marquis Florence

Aula makan keluarga Florence jauh lebih hangat dibanding Aula Agung, namun kehangatan itu terasa seperti topeng. Lampu kristal rendah menggantung, memantulkan cahaya keemasan pada meja panjang. Di atasnya tersaji anggur merah, roti gandum lembut, daging panggang berlapis rempah, kue berlapis-lapis, dan buah-buahan musim gugur.

Para penerus duduk tidak sepenuhnya acak.

Posisi mereka diatur dengan rapi cukup rapi untuk disebut sopan, cukup strategis untuk disebut berbahaya.

Arthur duduk bersama Elrian, Seren, dan si berotot Gareth di sisi kiri meja. Dari seberang meja, Albrecht New Gate mengangkat gelas anggurnya.

“Sangat menarik bukan?, saat kita...” katanya sambil tersenyum miring,

“Melihat bagaimana noda darah masih menempel di baju seseorang saat menghadiri jamuan bangsawan hahaha.”

Beberapa tawa kecil terdengar. Tidak keras. Tidak berlebihan.

Arthur mengangkat matanya perlahan.

“Kami datang dari perjalanan panjang, Sir Albrecht” jawabnya tenang.

“Hutan Nostradus tidak menyediakan air hangat dan sabun bagi bangsawan yang manja.”

Elrian menahan senyum.

Gareth mengangguk kecil, seolah jawaban itu telah ia perkirakan.

Albrecht hendak membuka mulut lagi, namun Luwhin Viremont menyela dengan suara lembut.

“Setidaknya mereka datang dengan hidup-hidup, bukankah begitu tuan Albrecht?” katanya sambil memutar gelasnya.

“Banyak yang tak bisa berkata hal sama tentang hutan itu.”

Tatapannya meluncur ke Arthur dingin, menilai.

Di sisi lain meja, Selwyn Orynth berbicara pada Iris Elyndor.

“Kau tampak lebih tenang dari yang kukira, Iris” ujar Selwyn.

“Pertemuan seperti ini biasanya membuat orang gelisah.”

Iris tersenyum ramah.

“Aku percaya masa depan tidak ditentukan oleh suara paling keras, tetapi” katanya.

“Melainkan oleh mereka yang tahu kapan harus diam.”

Kalimat itu terdengar indah dan ambigu.

Rhea Caldern berbincang dengan Edric Norrveil, suara mereka rendah.

“Jika kekaisaran jatuh,” kata Edric,

“itu bukan karena musuh kita terlalu kuat, tapi karena bangsawannya terlalu sibuk saling mengukur.”

Rhea mengangguk pelan.

“Dan terlalu sedikit yang mau berdiri ketika waktunya tiba.”

Tatapan Rhea sempat melirik ke arah Arthur bukan dengan simpati berlebihan, melainkan pengakuan diam-diam.

Percakapan Arthur & Para Sahabat

Elrian menyandarkan siku ke meja.

“Jadi, begini Arthur...” bisiknya,

“berapa lama menurutmu sebelum seseorang mulai menyinggung kejatuhan ayahmu secara terang-terangan?”

Arthur memotong dagingnya perlahan.

“Mereka sudah melakukannya dari tadi, Elrian” jawabnya pelan.

“Hanya saja dengan cara yang lebih sopan.”

Seren berbicara tanpa menoleh.

“Btw empat pasang mata terus mengarah padamu sejak kau duduk, rasanya pengen aku tusuk saja.”

Gareth menambahkan,

“Dan dua di antaranya sedang menghitung keuntungan.”

Arthur menghela napas perlahan.

Ia tidak tersenyum. Tidak juga menegang.

“Biarkan mereka menghitung dan menilai, Karena...” katanya.

“Aku masih belajar memahami angkanya.”

Percakapan yang Lebih Berbahaya

Di ujung meja, Varyn Polein berbicara lirih dengan Oscar Halbrecht.

“Moren terlalu baik, Oskar” kata Varyn datar.

“Dan anaknya… terlalu tenang.”

Oskar menyeringai.

“Justru itu yang biasanya berbahaya bagi kita Sir.”

Saat hidangan kedua disajikan, Darian Pelgrave akhirnya berbicara suaranya lembut, hampir tenggelam oleh suara alat makan.

“Seseorang pernah berkata, Jika...” ucapnya,

“‘Jika seseorang memerlukan pertolongan, maka itu sudah cukup alasan.’’’

Arthur terhenti.

Ia menoleh.

Darian menatap lurus ke arahnya.

“Aku sedang bertanya-tanya, untuk Arthur” lanjut Darian,

“apakah kau mewarisi kalimat itu… atau hanya namanya saja.”

Hening singkat menyelimuti meja.

Arthur menoleh tidak tergesa, tidak ragu.

“Aku belum tahu apa yang kumiliki, Sir” katanya jujur.

“Tapi aku tahu apa yang tidak akan kulakukan.”

Ia menatap satu per satu wajah di meja.

“Aku tidak akan berpura-pura tidak mengingat.”

Tidak ada tepuk tangan.

Tidak ada sorakan.

Namun beberapa penerus menunduk.

Beberapa tersenyum kaku.

Dan beberapa mulai menilai Arthur bukan lagi sebagai anak dari keluarga yang hampir kehilangan kejayaan mereka.

Saat jamuan berakhir, anggur hampir habis, dan senyum-senyum mulai luntur.

Arthur berjalan keluar aula.

Di luar ia bertemu dengan Toxen, lalu Toxen berbisik pelan, "Malam ini mereka berbicara.”

Arthur menjawab tanpa menoleh,

“Besok… mereka akan mulai bergerak.”

Dan jauh di balik dinding Marquis Florence,

sebuah pertemuan lain yang tidak diundang sedang dipersiapkan.

Hari Kedua Pertemuan

Ketidakhadiran yang Terasa Lebih Keras dari Kehadiran

Pagi di wilayah Marquis Florence datang dengan kabut tipis yang menggantung rendah. Udara dingin menyusup ke sela-sela jendela penginapan tempat para penerus bermalam. Lonceng gereja kecil berdentang pelan, menandai dimulainya hari kedua hari yang seharusnya lebih terbuka, lebih resmi.

Namun sejak matahari belum sepenuhnya naik, sesuatu sudah terasa tidak benar.

Arthur baru saja menyelesaikan latihan ringan di halaman penginapan ketika Toxen datang dengan langkah cepat, wajahnya lebih tegang dari biasanya.

“Tuan muda, ada berita yang beredar di kediaman Florence” katanya lirih,

“ada kabar dari rumah Marquis Florence.”

Arthur menyeka keringatnya.

“Kabar apa?”

Toxen menatap sekeliling sebelum menjawab.

“Salah satu dari tiga penerus keluarga Florence… tidak akan hadir hari ini.”

Arthur mengernyit.

Ia tahu keluarga Marquis Florence memiliki tiga penerus langsung yang dipilih berdasarkan kemampuan mereka, dua laki-laki dan satu perempuan.

“Sakit?” tanyanya.

“Sakit parah, menurut para tabib” jawab Toxen.

“Begitu parah hingga tidak sadarkan diri sejak dini hari.”

Arthur terdiam.

Di benaknya terlintas satu kalimat sederhana:

terlalu cepat.

Aula Agung kembali dipenuhi para penerus, namun kali ini suasananya berbeda. Bisik-bisik menyebar seperti api kecil yang tak terlihat.

Di sisi kanan singgasana Florence, satu kursi kosong.

Lord Helvar Florence berdiri, wajahnya tampak lebih tua dari kemarin.

“Atas nama keluarga Florence, dengan ini” katanya pelan namun tegas,

“kami mohon pengertian. Putra kedua kami, Lucien Florence, tidak dapat hadir hari ini karena kondisi kesehatannya.”

Tidak ada detail tambahan.

Dan justru itu yang membuat ruangan semakin berat.

Reaksi Para Penerus

Albrecht New Gate menyeringai tipis.

“Sakit di waktu seperti ini mereka pasti bercanda bukan?”

“Takdir memang punya selera humor.”

Nessa Alveric menunduk, berdoa singkat tulus atau tidak, tak ada yang tahu.

Gareth Brackenford berbisik pada Arthur,

“Lucien adalah calon pewaris paling kuat secara politik kau tahu Arthur.”

Arthur menjawab pelan,

“Justru itu yang membuat kursinya terasa terlalu… berguna.”

Seren menambahkan tanpa emosi,

“Kursi kosong sering kali lebih berbicara daripada yang diduduki.”

Agenda hari kedua seharusnya membahas kerja sama wilayah, keamanan perbatasan, dan stabilitas ekonomi kekaisaran.

Namun arah pembicaraan selalu berbelok.

Setiap kali keamanan disebut,

mata melirik kursi kosong itu.

Setiap kali stabilitas dibahas,

nama Florence muncul… lalu tenggelam.

Arthur memperhatikan sesuatu:

Tidak ada satu pun anggota keluarga Florence yang membantah bisik-bisik.

Tidak ada kemarahan.

Tidak ada penyangkalan.

Hanya… keheningan yang terlalu rapi.

Percakapan Singkat yang Berbahaya

Di sela diskusi, Mirel Redwyn berdiri dan berbicara untuk pertama kalinya hari itu.

“Aku ingin bertanya, tuan Florence” katanya lembut,

“apakah pertemuan ini tetap aman untuk dilanjutkan,

jika bahkan tuan rumah tidak sepenuhnya… utuh?”

Ruangan membeku.

Lord Helvar tersenyum tipis.

“Keluarga Florence tidak pernah meninggalkan kewajiban.”

Arthur menangkap sesuatu dari cara Helvar menggenggam tongkatnya.

ketakutan yang disembunyikan dengan disiplin.

Isyarat yang Tidak Sengaja.

Saat jeda makan siang, Arthur berdiri di balkon aula. Dari sana ia bisa melihat halaman belakang rumah Florence.

Dan di kejauhan.

ia melihat tiga tabib kerajaan keluar dari sayap timur bangunan.

Baju mereka dipenuhi noda.

Bukan oleh tanah.

Percakapan Arthur & Toxen

“Apakah kau mencium sesuatu?” tanya Arthur.

Toxen mengangguk pelan.

“Sepertinya itu bukan penyakit biasa.”

Arthur menutup matanya sesaat.

“Mungkinkah racun?”

“Atau bisa saja pesan dari mereka” jawab Toxen.

“Tergantung siapa yang mengirim.”

Arthur membuka mata, menatap jauh.

Hari kedua belum sepenuhnya berakhir.

Dan satu penerus sudah jatuh tanpa pedang, tanpa teriakan.

Menjelang sore, para penerus dipulangkan dari kediaman Florence lebih cepat dari jadwal.

Keputusan yang terlalu cepat.

Saat Arthur berjalan keluar aula, ia merasa seolah ada seseorang mengamatinya.

Bukan dari depan.

Dari balik tirai.

Dan di suatu ruangan tertutup di rumah Marquis Florence, Lucien Florence terbaring tak sadarkan diri

dengan bekas kehitaman samar di pergelangan tangannya.

Bukan bekas penyakit.

Melainkan tanda peringatan.

1
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🍾⃝ͩʀᴇᷞᴛͧ༄⃞⃟⚡☘𝓡𝓳
sukses selalu untuk semua karyanya kak
DavidTri: terimakasih kak🌞
total 1 replies
Vanillastrawberry
kritis banget tuan muda Arthur
Zan Apexion
Nice story 👍
DavidTri: Terima kasih 👋🏻
total 1 replies
Zan Apexion
Sedikit saran Thor, lupa tanda baca 'titik' setelah kata hentakan. letaknya di paragraf awal.
DavidTri: benar, lupa naruh titik di akhirannya, btw terima kasih
total 1 replies
DavidTri
21 nama yang sangat ...🗿
DavidTri
Episode 6 - 13 udah ada di draft😄 tinggal nunggu Minggu depan biar jadi jadwal up 1-2/Minggu🥳 Btw boleh baca Novel terbaru ku, Judulnya: Welcome To SERIAL KILLER
tentang orang jadi pembunuh gitu aja, kalau penasaran boleh di baca🔥
DavidTri: btw kenapa cover nya masih ngadep belakang dah🗿 padahal udah diganti si Arthur hadap ke depan ngelihat orang ganteng/cantik😀
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!