NovelToon NovelToon
PLEASURE AND PUNISHMENT

PLEASURE AND PUNISHMENT

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Kriminal dan Bidadari / Misteri / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:884
Nilai: 5
Nama Author: lanasyah

"Satu tubuh dicumbu, satu jiwa diburu; saat kehormatan dicuri, kenikmatan adalah hukuman mati yang paling sunyi."
​Dunia Valerie adalah logika. Sebagai psikolog forensik, ia terbiasa membedah kegelapan. Namun, insiden misterius melempar jiwanya ke raga yang paling ia benci: Zura, bintang film dewasa yang baru saja dieksekusi rapi. Valerie terbangun di hotel pengap, menyadari ia terjebak dalam raga seorang "pendosa".
​Ia terpaksa memasuki "Klub 0,1%", lingkaran elit berisi penguasa dengan fantasi gelap. Valerie harus memerankan Zura demi membongkar konspirasi pembunuhannya. Namun,kejutan mengerikan menanti; tubuh asli Valerie telah bangun, dihuni jiwa Zura yang licik. Zura sengaja menukar nasib untuk mencuci masa lalunya, menjadikan Valerie tumbal bagi musuh-musuhnya. Kini, Valerie harus bertarung melawan waktu dan adiksi fisik sebelum identitasnya hancur total. Dalam dunia noir ini,kehormatan dan kehancuran hanya setipis kulit yang mereka kenakan. Kesucian mati,kini waktunya pembalasan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lanasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: SISA-SISA BARA DI MILAN

Malam di Milan tidak sedingin di Silvaplana, namun suasana di dalam kamar hotel penthouse kami terasa sangat berat. Setelah pertemuan singkat yang menggetarkan di pesta keluarga De Luca, kami memutuskan untuk mundur sejenak. Aku dan Julian duduk di balkon yang menghadap ke arah Katedral Duomo yang megah, namun pikiran kami melayang jauh ke belakang—ke titik di mana semua kegilaan ini dimulai.

Angin malam yang sejuk menerpa wajahku, membawa aroma parfum mahal dan polusi kota yang samar. Julian menuangkan dua gelas Grappa, lalu duduk di hadapanku. Ia melonggarkan dasinya, melempar jasnya ke kursi, dan menatapku dengan tatapan yang lebih tenang, seolah ingin mencerna kembali semua yang telah kami lalui.

"Siapa yang sangka, ya?" Julian memulai, suaranya rendah dan serak. "Dua tahun lalu, kau adalah Dr. Valerie, psikolog forensik paling angkuh di kepolisian pusat, yang hobinya membuat laporan untuk menghancurkan karier detektif sepertiku."

Aku mendengus, menyesap minumanku. "Angkuh? Aku hanya kompeten, Julian. Dan kau... kau adalah definisi dari detektif korup yang membuat sistem peradilan kita berbau busuk. Kau menerima suap dari bandar, kau menghilangkan barang bukti, dan kau selalu punya alasan untuk setiap aturan yang kau langgar."

Julian terkekeh, kepalanya bersandar pada sandaran kursi. "Aku melakukan apa yang perlu dilakukan untuk bertahan hidup di jalanan yang kau pelajari hanya lewat buku teks, Valerie. Bagimu, dunia itu hitam dan putih. Bagiku, dunia itu abu-abu gelap."

KEBENCIAN YANG MENJADI IKATAN

Kami terdiam sejenak, membiarkan kenangan tentang perselisihan lama itu mengalir. Dulu, aku sangat membencinya. Aku melihat Julian sebagai parasit dalam sistem hukum. Setiap kali kami berada dalam satu ruang interogasi, atmosfernya selalu penuh percikan api—api kebencian yang murni. Aku selalu berusaha mencari celah psikologis untuk menjatuhkannya, sementara dia selalu punya cara untuk memprovokasi sisi emosionalku.

"Ingat saat kau mencoba menjebakku dengan rekaman di Distrik 5?" Julian bertanya sambil tersenyum miring.

"Hampir berhasil," balasku. "Jika kau tidak menyogok petugas laboratorium biometrik untuk menghapus sidik jarimu."

"Dan sekarang lihat kita," Julian mencondongkan tubuhnya, menatap wajahku—wajah Valerie yang kini menggunakan identitas Elena. "Jiwa kita terlempar, raga kita ditukar seperti barang dagangan. Tadinya aku pikir ini hanya 'pertukaran jiwa' biasa seperti di film-film konyol. Sesuatu yang akan selesai jika kita menemukan dukun atau mesin yang tepat."

Aku menatap gelas di tanganku, melihat pantulan mataku sendiri. "Aku juga berpikir begitu. Aku pikir ini hanya malpraktik medis yang gila. Tapi ternyata... ini jauh lebih kotor. Inversi saraf bukan sekadar ilmu pengetahuan yang salah jalan. Ini adalah komoditas bagi mafia bawah tanah dan para elit seperti De Luca."

Zura, yang sejak tadi mendengarkan di dalam kepalaku, tiba-tiba menyela dengan nada yang hampir nostalgik. “Dulu aku hanya ingin raga cantikmu agar aku bisa kabur dari hutang narkobaku, Dokter. Aku tidak tahu kalau raga ini adalah tiket masuk ke meja makan para monster.”

"Rumit," gumamku perlahan. "Melibatkan mafia, politik, dan keabadian yang dipaksakan. Kita bukan hanya korban pertukaran, Julian. Kita adalah saksi dari kejahatan kemanusiaan yang paling besar."

GAIRAH YANG TERTAUT

Julian meraih tanganku, jemarinya yang kasar mengelus punggung tanganku dengan lembut. "Kau tahu apa yang paling gila dari semua ini?"

"Apa?"

"Bahwa aku mulai menyukai 'perselisihan' ini," Julian menarikku untuk berdiri, membimbingku ke arah pembatas balkon. Ia berdiri di belakangku, memeluk pinggangku erat, membiarkan tubuh kami bersentuhan sepenuhnya. "Jika kita tidak tertukar, jika kita tidak dikejar-kejar oleh Adrian Vane, mungkin aku masih menjadi detektif brengsek dan kau masih menjadi dokter yang dingin. Kita tidak akan pernah ada di sini, di Milan, sebagai Elena dan Marco."

Aku menyandarkan kepalaku di bahunya, merasakan kehangatan yang kini menjadi candu bagiku. Gairah yang muncul di antara kami bukan lagi karena paksaan Zura, tapi karena kami telah melampaui kebencian itu sendiri.

"Kau benar-benar terbiasa dengan semua ini, bukan?" bisik Julian di telingaku, napasnya membuat bulu kudukku berdiri. "Terbiasa menjadi pelarianku... terbiasa dengan sentuhanku."

Aku berbalik di dalam pelukannya, melingkarkan lenganku di lehernya. Raga Valerie yang dulu kaku kini terasa sangat cair dan responsif terhadap keberadaan Julian. "Aku tidak punya pilihan selain terbiasa, Julian. Tapi... ada bagian dari diriku yang mulai terbuai. Kehidupan yang berbahaya ini... gairah yang terus membakar ini... ini membuatku merasa lebih hidup daripada saat aku masih menjadi Dr. Valerie yang 'bersih'."

Julian tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menciumku, sebuah ciuman yang penuh dengan pengakuan atas masa lalu kami yang berantakan dan masa depan kami yang tidak pasti. Aku membalasnya dengan intensitas yang sama, membiarkan tanganku menjelajahi otot-otot di balik kemeja mahalnya.

Zura di dalam kepalaku mulai bergejolak, memicu gairah liar yang biasa ia lakukan. Tapi kali ini, aku tidak melawannya. Aku membiarkan energi itu mengalir, menyatu dengan perasaan tulus yang kumiliki untuk pria ini. Kami bukan lagi musuh di ruang interogasi; kami adalah dua jiwa yang terikat oleh darah, rahasia, dan nafsu yang tak terpadamkan.

MENGINTIP KE DALAM GELAP

Setelah beberapa saat yang intim di bawah langit Milan, kami kembali duduk, kali ini saling merapat di sofa balkon. Ketegangan fisik mereda, berganti dengan rasa nyaman yang mendalam.

"Wanita di televisi tadi... Alessandra de Luca," Julian memulai lagi, kali ini lebih serius. "Jika dia benar-benar subjek seperti kita, artinya dia adalah korban sekaligus pelaku. Dia elit, tapi jiwanya... jiwanya mungkin milik seseorang yang lebih malang dari Zura."

"Itu yang kukhawatirkan," kataku. "Adrian Vane tidak hanya menukar kita. Dia membangun pasar. Dia mengambil raga-raga muda dari jalanan—anak-anak yatim, pecandu, gelandangan—dan menjualnya kepada para penguasa yang takut mati. Mereka mencuri hidup, Julian. Secara harfiah."

Julian mengepalkan tangannya. "Dan mereka menggunakan mafia bawah tanah sebagai penyedia 'bahan baku'. Itu menjelaskan kenapa polisi tidak pernah bisa menyentuh mereka. Mereka adalah bagian dari sistemnya."

Aku menatap cahaya lampu kota Milan yang berkilauan. "Kita harus berhati-hati, Julian. Mengobrol seperti ini... mengenang masa lalu kita... ini mengingatkanku bahwa kita sangat beruntung bisa sampai sejauh ini. Kebanyakan orang akan langsung hancur setelah inversi pertama."

"Kita bertahan karena kita saling membenci sebelumnya," Julian terkekeh pelan, mencium keningku. "Kebencian itu memberi kita kekuatan untuk tetap memegang identitas kita sendiri. Dan sekarang... rasa yang baru ini yang akan membuat kita tetap hidup."

Kami menghabiskan sisa malam itu dengan berbicara tentang hal-hal kecil—tentang bagaimana dulu aku sering sengaja menjatuhkan pena agar bisa melihat file rahasia di mejanya, dan bagaimana dia sering sengaja datang terlambat ke sesi profil psikologis hanya untuk membuatku kesal.

Di tengah kota Milan yang sibuk dan penuh intrik, untuk beberapa jam, kami hanya sepasang kekasih yang memiliki sejarah panjang yang rumit. Tidak ada Vane, tidak ada inversi, hanya Elena dan Marco yang saling memiliki di balik tirai malam.

Namun, di sudut pikiranku, aku tahu ketenangan ini hanyalah jeda. Alessandra de Luca masih di luar sana, dan rahasia besar di balik raga bangsawannya menunggu untuk dikupas.

1
ayin muPp
SEMANGAT KAKK, isi novel yang kamu buat berbobot banget ga cuma cinta'an gitu. anw ga ada niatan buat up di apk lain gituu? biar lebih ramee
XXAURORA: apaaaa terimakasih yaaa, ada rekomendasi apk apa kira²?/Slight/
total 1 replies
Rani Saraswaty
sbg pembaca agaknya ikut mikir lama nih, penuh dg analisa utk menambah ilmu
XXAURORA: biar ikut mikir, jadi author ada temen🤭
total 1 replies
pocong
semangat
XXAURORA: terimakasih, terus ikutin ceritanya yaaa/Kiss/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!