Alea Senandika Kaluna tumbuh dalam keluarga yang utuh, namun tak pernah benar-benar ia rasakan sebagai rumah. Sejak sang ayah menikah lagi, Alea perlahan belajar menyingkir—menjadi anak yang ada, tetapi jarang diperhatikan. Di antara saudara-saudaranya yang mendapat tempat istimewa, Alea memilih bertahan dalam diam.
Sebagai siswi SMA pendiam, Alea menjalani hari-harinya dengan tanggung jawab yang tak sepadan dengan usianya. Sepulang sekolah, ia menjahit payet demi menambah uang saku, bukan untuk mengejar mimpi besar, melainkan agar tak menjadi beban bagi siapa pun. Hidup memaksanya dewasa terlalu cepat, membentuk ketahanan dari kesepian dan luka yang tak pernah ia ucapkan.
Namun di tengah rutinitas yang sunyi, Alea mulai menemukan cahaya—melalui kepercayaan, perhatian sederhana, dan orang-orang yang melihatnya bukan sebagai anak yang terlupakan, melainkan sebagai pribadi yang layak diperjuangkan. Perlahan, ia belajar bahwa bertahan tidak selalu berarti sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal yang Baru
🕊
Pagi itu tidak datang dengan gegap gempita, tidak juga dengan janji-janji manis. Ia datang sederhana—dengan cahaya matahari yang masuk malu-malu dari celah jendela, dengan suara ayam tetangga yang berkokok terlalu pagi, dan dengan getaran ponsel Alea di atas meja kecil dekat kasurnya.
Alea terbangun seketika. Bukan karena kaget, tapi karena ia memang menunggu. Tangannya langsung meraih ponsel. Matanya masih setengah terpejam saat melihat nama yang tertera di layar.
Restoran Ayam Rasa & Aturan. Dadanya menghangat.
Ia menggeser layar, menempelkan ponsel ke telinga. “Halo, selamat pagi,” suaranya terdengar lebih tenang dari yang ia rasakan.
“Selamat pagi, dengan Alea?” suara di seberang terdengar profesional, ramah tapi lugas. “Iya, saya sendiri.”
“Kami dari Restoran Antara Rasa & Aturan. CV yang kamu kirim sudah kami baca. Kalau berkenan, hari ini bisa datang untuk wawancara?” Alea duduk tegak. Tangannya mencengkeram sprei. “Bisa,” jawabnya cepat, lalu menahan diri agar terdengar tidak terlalu terburu-buru. “Jam berapa?”
“Pukul sepuluh pagi. Lokasi kami di depan bank, dekat perempatan rumah kamu.” Alea tersenyum kecil. “Baik. Terima kasih banyak.”
Telepon ditutup.
Ia menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum akhirnya menghembuskan napas panjang. Bukan napas lega sepenuhnya—lebih seperti napas seseorang yang tahu, langkah berikutnya akan menentukan banyak hal.
“Ayo,” gumamnya pada diri sendiri. “Uji lagi.”
Alea bangkit dari tempat tidur. Ia mandi lebih lama dari biasanya, membiarkan air mengalir di pundaknya, seolah membersihkan sisa-sisa kelelahan dari hidup yang baru saja ia tinggalkan. Rambutnya dikeringkan rapi. Ia memilih pakaian sederhana—kemeja polos warna krem, celana hitam bahan, sepatu tertutup yang bersih. Tidak berlebihan, tidak pula asal-asalan.
Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya terlihat lebih segar. Bukan karena hidupnya mudah—tapi karena matanya tidak lagi menyimpan ketakutan yang sama seperti beberapa minggu lalu.
“Aku siap,” katanya pelan.
Di dapur, aroma nasi goreng memenuhi ruangan. Ayu sudah duduk di meja makan, mengenakan pakaian bebas—kemeja lengan panjang dan celana kain plisket. Jilbab segitiga sudah melekat di kepalanya rapi, tapi tas kerja sudah tergeletak di kursi sebelah.
Alea melangkah mendekat. “Pagi, Ka.”
Ayu menoleh. Tatapannya langsung menilai, dari ujung rambut sampai ujung sepatu. Senyum kecil muncul di wajahnya. “Rapi banget. Udah ada panggilan?” Alea mengangguk sambil menarik kursi. Ia mengambil piring, menyendok nasi goreng buatan Ayu. “Depan bank. Dekat rumah.”
Ayu mengangguk pelan, seolah sudah memperkirakan itu. “Kuantar. Biar sekalian satu jalur.” Alea mengangkat wajah. “Beneran?”
“Iya,” jawab Ayu ringan. “Aku juga mau berangkat. Lagian kamu kelihatan tegang.” Alea tersenyum kecil. “Sedikit.”
Mereka makan bersama dalam diam yang nyaman. Tidak ada ceramah, tidak ada pertanyaan berlebihan. Hanya bunyi sendok dan piring, dan perasaan saling mengerti yang tidak perlu dijelaskan dengan kata-kata.
Selesai makan, Ayu berdiri lebih dulu, mengambil kunci motor. Alea mengikuti, mengenakan jaket tipis dan membawa map berisi CV dan dokumen.
Di atas motor, angin pagi menyentuh wajah Alea. Jalanan masih belum terlalu ramai. Ayu mengendarai motor dengan tenang, seperti biasa—tidak ngebut, tidak ragu. Di lampu merah pertama, Ayu berbicara tanpa menoleh. “Takut?” Alea berpikir sebentar. “Bukan takut gagal,” jawabnya jujur. “Takut… capek lagi.”
Ayu tersenyum kecil. “Itu wajar. Tapi kamu bukan orang yang sama kayak tiga bulan lalu.” Lampu hijau menyala. Motor kembali melaju. Restoran itu tidak besar, tapi tampak rapi. Papan namanya sederhana, namun elegan. Ayam Rasa & Aturan. Alea menelan ludah saat turun dari motor.
Ayu mematikan mesin. “Aku tunggu di sini,” katanya. “Kalau kelar, kabarin.” Alea mengangguk. “Makasih, Ka.”
Ia melangkah masuk.
Suasana di dalam restoran tenang. Beberapa pegawai tampak sibuk menata meja. Seorang perempuan berusia sekitar empat puluhan menyambutnya. “Alea?”
“Iya, Bu.”
“Saya Bu Rina, manajer operasional. Mari.”
Wawancara berlangsung tidak meledak-ledak, tapi juga tidak santai. Ditanya soal pengalaman kerja, soal alasan keluar dari pabrik, soal kesiapan bekerja di bawah tekanan.
Alea menjawab jujur.
“Saya pernah di tempat kerja yang keras,” katanya tenang. “Dan saya belajar banyak dari sana. Tapi saya ingin lingkungan yang tegas tanpa menghilangkan rasa hormat.” Bu Rina menatapnya lama. “Kami kerja keras di sini,” katanya akhirnya. “Tapi kami jaga manusia di dalamnya tetap manusia.” Alea menganggukan kepala. “Itu yang saya cari.”
Setelah wawancara selesai, Alea keluar dengan langkah ringan tapi hati berdebar. Ia duduk sebentar di bangku depan restoran, mengirim pesan pada Ayu.
Sudah selesai.
Tidak lama, motor Ayu mendekat. “Gimana?” tanya Ayu. Alea mengangkat bahu, tapi matanya berbinar. “Entah. Tapi rasanya… beda.” Ayu tersenyum. “Itu tandanya kamu sudah jalan di arah yang benar.”
Motor melaju kembali. Alea menatap jalanan yang familiar—rumah-rumah, warung kecil, bank di perempatan. Semua terlihat sama, tapi dirinya tidak.
Ini bukan akhir. Ini bukan kemenangan besar.
Ini hanya bab awal.
Dan untuk pertama kalinya, Alea tidak takut membuka halaman berikutnya.
–
Pagi itu terasa sedikit berbeda. Matahari baru menembus celah-celah pepohonan di halaman rumah, tapi udara sudah hangat dan lembut. Alea mengangkat tas kerjanya, mengecek sekali lagi barang-barang yang dibawanya—sepatu rapi, seragam bersih, buku catatan untuk catatan kecil pekerjaan, dan tentu saja dompet serta ponsel yang selalu menemaninya.
Sarapan sudah ia selesaikan sendiri. Telur dadar dan roti panggang hangat. Ia tidak banyak bicara, hanya menatap cangkir teh hangat sambil memikirkan hari yang akan ia mulai. Pikirannya campur aduk: gugup, semangat, dan sedikit cemas. Tapi semua itu tidak mengurangi langkahnya saat ia membuka pintu depan.
Di halaman, ia melihat Tante Gita sedang menyiram tanaman dengan sabar. Di sampingnya, Anggun, putri kecil Tante Gita, duduk di bangku, menunggu jemputannya. Alea tersenyum tipis dan melambaikan tangan.
“Pagi, Tante. Anggun, tumben masih di rumah ya?” Alea menyapa dengan manis.
Anggun menoleh, matanya berbinar. “Pagi, Kak Alea! Iya nih, jemputannya telat mulu, macet mungkin, ya kan ma?” Tante Gita menoleh, tersenyum hangat. “Iya, Alea sekarang mau berangkat kerja ya?”
Alea mengangguk. “Iya, Tante. Restoran ayam depan bank, dekat kok, dari sini jalan kaki juga bisa.” Tante Gita menepuk bahunya dengan lembut. “Semangat ya, Alea. Kerja keras itu akan selalu ada hasilnya. Tante percaya sama kamu.”
Anggun ikut menepuk bahu Alea dengan riang. “Iya Kak, semangat! Jangan lupa sarapan dulu ya, biar kuat!” Alea tersenyum, merasakan hangatnya dukungan dari mereka. Ia membungkuk sebentar sebagai salam hormat kecil, lalu berkata, “Aku pamit dulu ya.” Tante Gita mengangguk. “Hati-hati di jalan, jangan lari-lari ya.”
“Tenang saja, Tante,” jawab Alea ringan.
Tidak lama kemudian, mobil jemputan Anggun datang dari ujung jalan. Anggun melambai ke Alea. “Aku berangkat duluan ya Kak. Sampai nanti!”
“Hati-hati ya, Anggun,” Alea membalas, kemudian menatap jalan yang harus ia lalui. Langkahnya cepat, panjang, hampir seperti sedang berlari. Kaki panjangnya mengayun seirama dengan detak jantungnya yang cepat karena campuran semangat dan gugup.
Setiap langkah membuat Alea lebih fokus. Ia memikirkan cara mengatur dirinya hari ini, bagaimana ia akan berinteraksi dengan manajer restoran, pelayan lain, dan tentu saja pelanggan. Pikiran tentang tanggung jawab baru membuat dadanya sedikit tegang, tapi juga ada rasa puas—akhirnya ia melakukan sesuatu yang nyata dengan tangannya sendiri.
Ia melewati gang kecil, kemudian jalan utama yang sedikit ramai oleh kendaraan pagi. Mobil, motor, dan sepeda saling bersisian. Tapi Alea tetap fokus, mengayunkan kaki cepat, pandangannya tetap ke depan.
Begitu sampai di restoran, aroma masakan dan wangi rempah sudah tercium dari luar pintu. Alea menelan ludah, menarik napas panjang, lalu membuka pintu. Suasana restoran berbeda dari yang dibayangkan. Tidak riuh, tapi sibuk. Beberapa pelayan bergerak cepat menata meja, piring dan gelas bersih disusun rapi, sementara beberapa klien menikmati sarapan pagi mereka.
Seorang perempuan paruh baya menghampiri Alea dengan senyum ramah. “Kamu tiba juga… Saya Bu Rina, manajer operasional, kamu sudah tau saya bukan? Sebelum itu Selamat datang di restoran kami.”
“Selamat pagi, Bu. Iya, bu sudah, dan terima kasih, bu.” jawabnya tenang tapi jelas terdengar semangatnya. Bu Rina menepuk bahunya. “Hari pertama pasti banyak yang baru. Tenang saja, kita akan mulai perlahan. Ikuti saya sebentar, saya tunjukkan tempat kamu bekerja.”
Alea mengangguk, mengikuti langkah Bu Rina. Langkah mereka melewati meja-meja yang sudah diatur rapi, kursi kayu yang berkilau, dan dapur yang terlihat sibuk tapi tertata. Bau rempah, ayam bakar, dan saus khas restoran memenuhi udara—membuat Alea merasa sedikit lapar, tapi lebih membuatnya waspada dan siap.
Bu Rina menepuk punggung Alea lagi. “Kamu akan mulai di bagian pelayanan. Lihat pelanggan, dengarkan apa yang mereka butuhkan, tapi tetap cek meja dan persiapkan minuman dulu. Kalau ada yang membingungkan, jangan sungkan tanya saya.”
Alea menelan ludah tipis. “Siap, Bu.” Ia menatap sekeliling, mencoba mengingat setiap meja, kursi, dan sudut restoran. Memori visualnya bekerja cepat, ia mencatat mental semua hal yang ia lihat. Setiap detail kecil penting—letak garpu, posisi sendok, warna serbet, hingga urutan hidangan.
Setelah briefing singkat dari Bu Rina, Alea mulai mencoba menyesuaikan diri. Ia berjalan pelan ke meja pertama, sambil menegakkan punggungnya. Senyumannya ramah, namun tidak dibuat-buat. Setiap pelanggan yang ia sapa, ia menunduk hormat dan menanyakan apa yang mereka inginkan.
“Selamat pagi, Bapak, Ibu. Mau pesan sarapan atau kopi dulu?”
Beberapa pelanggan menoleh. Ada yang tersenyum, ada yang mengangguk tipis. Alea menulis pesanan mereka dengan cermat, lalu bergegas ke dapur, memastikan semua permintaan dicatat dengan benar.
Di sela aktivitas itu, Alea menyelipkan pikirannya sesaat ke rumah. Tante Gita, Anggun, bahkan Ayu—semua membayangi langkahnya. Satu senyum kecil dari mereka cukup membuat Alea merasa punya energi tambahan.
Saat ia kembali membawa piring dan gelas, Bu Rina menepuk pundaknya lagi. “Bagus. Kamu cepat belajar dan peka. Itu akan sangat membantu di restoran ini.”
Alea membalas dengan senyum tipis. Hatinya sedikit lebih lega. Hari pertama yang menegangkan itu tidak seburuk yang ia bayangkan. Ia mulai merasakan ritme pekerjaan, mulai mengerti bahasa tubuh pelanggan, dan menemukan kepuasan kecil ketika pesanan selesai tepat waktu.
Pagi berganti siang, Alea mulai terbiasa dengan langkah kaki panjangnya, dengan buku catatan kecilnya, dan dengan suara percakapan pelanggan. Ia sesekali mencatat hal-hal baru yang ia pelajari—mulai dari cara membawa nampan agar tidak goyah, cara menata meja agar rapi tapi efisien, hingga cara tersenyum natural saat melayani pelanggan yang cerewet.
Sementara itu, di luar restoran, mobil jemputan Anggun berangkat, Tante Gita kembali menyiram tanaman, tapi Alea tahu satu hal—di sinilah ia memulai babak baru. Dengan langkah panjangnya, semangat yang perlahan menguat, dan mata yang tetap waspada, Alea menyadari bahwa ini hanyalah awal. Tapi aku siap untuk awal itu.
☀️☀️