Setelah setahun menikah Jira baru tahu alasan sesungguhnya kenapa Bayu suaminya tidak pernah menyentuh dirinya.
Perjalanan bisnis membuat Jira mengetahui perselingkuhan suaminya. Pengkhianatan yang Bayu lakukan membuat Jira ingin membalas dengan hal yang sama.
Dia pun bermain dengan Angkasa, kakak iparnya. Siapa sangka yang awalnya hanya bermain lama kelamaan menimbulkan cinta diantara mereka. Hingga hubungan terlarang itu menghasilkan benih yang tumbuh di rahim Jira.
Bagaimanakah nasib pernikahan Jira dan Bayu? Dan bagaimana kelanjutan hubungan Angkasa dengan Jira?
Ikuti terus kisah mereka ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miss ning, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Angkasa berjalan mondar-mandir. Rasanya tidak sabar ingin segera menemui Jira. Dia sangat cemas meskipun dokter berkata Jira baik-baik saja.
"Duduk Asa. Melihat kau mondar-mandir membuat kepalaku pusing." keluh Bastian yang baru pertama kali melihat Ada begitu khawatir dengan seorang wanita.
"Ini semua salahku. Kau tahu gara-gara obat sialan itu semalaman aku..." Asa menggantung ucapannya.
"Aku tahu. Tapi dokter berkata Jira baik-baik saja bukan. Dan calon anak kalian juga selamat."
"Kau benar."
Angkasa pun akhirnya duduk di samping Bastian.
"Bagaimana dengan Bayu? Apa mereka sudah bercerai?" tanya Bastian memecah keheningan yang terjadi beberapa menit lalu.
Angkasa menggeleng.
"What, kau gila."
"Perceraian sedang diurus Jessica."
"Baguslah. Walaupun kau pebinor tapi aku dukung."
"Sialan kau."
Keduanya tertawa. Sejenak Angkasa terhibur dengan adanya Bastian.
**
Jira sudah dipindah ke ruang rawat. Kondisinya sangat stabil tetapi harus istirahat total.
Angkasa masuk dengan hati-hati. Langkah kakinya sama sekali tidak menimbulkan suara. Dia melihat Jira di atas ranjang dengan mata terpejam. Wajahnya tampak pucat dengan nafas yang teratur.
Pria itu duduk di kursi samping ranjang. Satu-satunya kursi yang disediakan di sana untuk penunggu pasien.
Angkasa pikir Jira tertidur. Ternyata tidak. Wanita itu membuka mata saat menyadari kehadiran Angkasa. Lelaki itu menatap Jira dengan rasa menyesal. Sebab dirinya Jira mengalami perdarahan.
"Kelihatannya kau nyaman sekali tidur disitu." Angkasa berkata dengan nada bercanda.
Jira tersenyum menatap mata lelah Angkasa.
"Karena disini aku dilayani. Kalau ditempat lain mungkin aku yang melayani."
Angkasa menggenggam tangan Jira. Memberi kecupan berulang-ulang disana. Rasa bersalah membuatnya begitu khawatir.
"Kau membuatku takut Jira."
"Aku baik-baik saja kak."
"Kalau terjadi sesuatu dengan kalian. Aku tidak akan memaafkan diriku."
"Ini bukan salahmu kak. Aku yang tidak bisa menjaganya dengan baik." mata Jira berkaca-kaca.Merasa bersalah sudah membuat Angkasa cemas.
Angkasa menggeleng. "Seharusnya aku bisa menahannya. Mengingat kau sedang hamil. Maafkan aku Jira."
Jira meremas tangan Angkasa yang masih menggenggam tangannya.
"Aku mengerti. Yang terpenting sekarang semua baik-baik saja."
**
Keesokan harinya Jira sudah diperbolehkan pulang. Angkasa membawa Jira ke rumah mama Dewi. Disana lebih aman dan Angkasa lebih percaya dengan ibunya daripada orang lain.
Namun sebelum pulang Angkasa ingin melakukan pemeriksaan ke dokter spesialis obgyn di rumah sakit. Untuk mengetahui perkembangan janin yang Jira kandung. Dan untuk memastikan kembali bahwa semua baik-baik saja.
Saat masuk ruangan mereka disambut oleh dokter dan perawat . Aroma antiseptik yang khas dengan bau rumah sakit menyeruak di hidung mereka.
Dokter duduk di balik meja yang rapi dengan beberapa peralatan medis diatasnya.
"Silahkan berbaring nyonya Jira. Perawat akan membantu anda." Dokter tersenyum ramah. Dia bangkit lalu duduk di kursi dekat ranjang.
Jira menarik nafas dalam saat perawat memberikan gel dingin di bagian bawah perutnya. Angkasa berdiri disamping dokter. Pandangannya tertuju pada sebuah layar yang berwarna hitam putih.
Dokter mulai menggerakkan alat tranduser USG di atas perut Jira. Gambar mulai nampak di layar.
Angkasa menatap layar dengan serius. Walaupun dia tidak mengerti dengan gambar yang ditampilkan di layar monitor.
"Janin berkembang dengan baik. Usianya baru 5 Minggu. Mari kita dengar detak jantungnya ya." dokter pun mendengar kan detak jantung mereka.
Mereka. Benar,Jira mengandung anak kembar.
"Tidak ada tanda-tanda kelainan nyonya. Mereka semua baik. Air ketuban bagus. Plasenta juga letaknya sesuai. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
Jira tersenyum matanya berbinar. Tidak menyangka akan memiliki bayi kembar.
Angkasa belum menyadari kata-kata dokter. Lelaki itu masih terlalu fokus dengan layar.
"Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan dok. Apa perdarahan kemarin tidak mempengaruhi janin."
"Tidak tuan. Mereka kuat dan semua baik. Nyonya Jira hanya perlu istirahat. Jangan melakukan pekerjaan berat dan jangan lupa minum vitamin dan obatnya."
Tiba-tiba Angkasa terdiam. Dia menatap dokter dengan serius. "Mereka dok?"
Dokter dan Jira tersenyum. Lelaki itu baru sadar. Astaga.
"Iya tuan. Janin ada dua. Itu artinya mereka kembar."
Angkasa menatap layar monitor.Memperhatikan dengan seksama. Dokter yang paham menunjukkan dua titik sebesar biji wijen disana.
Dua
Dua bayi. Angkasa menatap layar tanpa berkedip. Bahagia.
Tentu saja dia bahagia. Dia akan punya anak. Bukan satu tetapi dua sekaligus.
Angkasa menatap Jira yang masih terbaring di ranjang.
"Jira, kau dengar kan kata dokter."
Wanita itu tersenyum kemudian mengangguk. Mengangkat dua jari. Meyakinkan Angkasa bahwa benar dia mengandung dua bayi.
"Aku bahagia, Jira. Sungguh sangat bahagia." Angkasa menautkan jari jemari nya dengan Jira. Dia ingin memberi kecupan tetapi ada dokter dan perawat disana. Dia mencoba menahan buncahan rasa bahagia itu di dalam hatinya.
**
Saat tiba di rumah senyum masih terukir di wajah tampan Angkasa. Jira memperhatikan dalam diam. Wanita itu ikut tersenyum. Sesekali menggelengkan kepala melihat tingkah Angkasa yang dirasa sedikit aneh.
"Ma." sapa Jira kemudian mencium pipi kiri dan kanan calon ibu mertuanya.
Mama Dewi menyipitkan mata. Melihat Angkasa senyam senyum sendiri seperti orang tidak waras.
"Asa."
Pria itu tidak mendengar panggilan ibunya.
"Asa." panggil ulang mama Dewi.
Pria itu masih tetap tidak mendengar. Dia terus tersenyum membuat mama Dewi cemas.
"Jira, apa yang terjadi. Kenapa Asa seperti itu?"
Wanita yang ditanya tersenyum. "Sepertinya kak Asa habis dapat lotre ma."
"Serius?"
"Serius ma. Sebentar aku ambilkan kertasnya."
Jira mengeluarkan amplop hasil USG kemarin. Memberikan kertas itu kepada mama Dewi.
Dengan tidak sabar mama Dewi membuka. Matanya melebar. Tangan yang sudah keriput itu sedikit bergetar. Dia menatap Jira. Wanita itu tersenyum.
Bahagia. Tentu saja. Dia akan memiliki cucu. Di gambar ada dua titik. Artinya cucunya kembar. Tanpa banyak kata mama Dewi memeluk Jira dengan penuh kasih sayang.
"Terimakasih sayang. Mama bahagia. Pantas saja dia linglung begitu."
"Kak Asa masih shock ma."
"Yasudah biarkan saja. Ayo istirahat. Besok mama akan cari mangga muda untuk calon cucu mama."
Mendengar mangga muda membuat Jira menelan air liurnya. Mama Dewi tersenyum. Wanita itu harus memberi tahu seseorang tentang kabar bahagia ini.