NovelToon NovelToon
Jerat Sumpah Sang Mantan

Jerat Sumpah Sang Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Ibu susu / Mantan
Popularitas:66.3k
Nilai: 5
Nama Author: Hasna_Ramarta

Bayinya baru saja lahir ke dunia. Namun, dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, mobil yang membawa sang istri duluan pulang, ternyata mengalami kecelakaan maut, sehingga menelan korban. Nyawa istrinya melayang.

Kini Kapten Daviko sedih sekaligus kalang kabut mencari ibu susu untuk sang putra yang masih bayi merah.

Saliha perempuan 26 tahun, baru saja patah hati dan ditinggal pergi kekasihnya, stress berat sehingga mengalami galaktorea, yaitu kondisi di mana ASI melimpah.

Selain stres Saliha mendapat tekanan dari tempat kerjanya, karena kondisinya tidak memungkinkan untuk bekerja. Perusahaan memberhentikannya bekerja. Ia tertekan sana sini, belum lagi tagihan uang kos yang sudah nunggak.

Saliha butuh pekerjaan secepatnya. Tapi, siapa yang mau menerimanya bekerja, sementara perusahaan jasa tempat ia bekerja saja memilih mengeluarkannya tanpa pesangon?

"Lowongan pekerjaan, sebagai ibu susu". Mata Saliha terbelalak seketika, setelah ia membaca berita online.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 Ambisi Yang Diredam

     ​Malam itu, perdebatan di ruang tengah belum benar-benar usai. Suara Daviko yang meninggi dan isak tangis Saliha yang tertahan menciptakan atmosfer yang begitu menyesakkan. Mereka tidak menyadari bahwa di ambang pintu depan, dua orang paruh baya berdiri dengan wajah penuh keterkejutan.

     ​Mama Davira dan Papa Arkaffa, yang baru saja tiba dari luar kota, mematung mendengar setiap kata yang terlontar. Mereka mendengar pengakuan cinta Daviko yang penuh paksaan, dan mereka mendengar penolakan Saliha yang sarat akan rasa tidak pantas dan luka masa lalu.

     ​"Daviko?" Suara lembut namun tegas dari Mama Davira memecah ketegangan.

     ​Seketika, Daviko dan Saliha menoleh. Wajah Daviko yang memerah karena emosi langsung memucat saat melihat sang mama menatapnya dengan pandangan sedih yang mendalam.

     Saliha, dengan tangan gemetar, buru-buru menghapus air matanya dan menunduk dalam, mencoba menyembunyikan kerapuhannya di hadapan majikannya yang paling ia hormati.

     ​"Ma... Papa... Sejak kapan di sini?" tanya Daviko dengan suara yang masih serak.

     ​Papa Arkaffa hanya menghela napas berat, tangannya merangkul bahu sang istri. "Cukup lama untuk mendengar betapa egoisnya putramu ini, Davira."

     ​Tanpa banyak bicara, Mama Davira mendekati Saliha. Ia mengelus bahu Saliha dengan penuh kasih sayang, seolah memberikan kekuatan yang sudah lama hilang dari diri wanita muda itu. "Saliha, bawa Kaffara ke kamar ya. Istirahatlah. Biar Daviko bicara dengan kami."

     ​Saliha hanya mengangguk patuh. Ia melirik Daviko sekilas, tatapan yang penuh dengan permohonan agar pria itu berhenti menekannya, lalu ia bergegas pergi meninggalkan ruangan itu.

     Mama Davira membawa Daviko ke ruang keluarga. ​Di ruang keluarga, suasana berubah menjadi sunyi yang mengintimidasi.

     Daviko duduk di sofa tunggal dengan kepala tertunduk, sementara kedua orang tuanya duduk di hadapannya.

     ​"Daviko, tatap Mama," pinta Mama Davira.

     ​Saat Daviko mendongak, Mama Davira melihat bayangan kehancuran di mata putranya. Ia melihat penyesalan yang begitu besar atas sumpah serapah empat tahun lalu, sekaligus obsesi yang tidak sehat untuk memperbaiki segalanya dalam waktu singkat.

     ​"Mama mengerti kamu masih mencintainya. Mama mengerti kamu ingin menebus kesalahan masa lalumu," ujar Mama Davira dengan nada bicara yang sangat hati-hati. "Tapi Nak, cinta tidak bisa dipaksakan dengan emosi. Kamu perwira di lapangan, tapi di rumah ini, kamu bukan sedang menghadapi musuh atau anak buah. Kamu sedang menghadapi hati seorang wanita yang sudah hancur berkeping-keping karena kata-katamu dulu."

     ​"Tapi Ma, dia ingin pergi setelah kontrak habis! Aku tidak bisa membiarkannya!" pekik Daviko, suaranya kembali naik karena rasa takut kehilangan.

     ​Papa Arkaffa berdehem, suaranya yang berat memberikan wibawa tersendiri. "Justru karena kamu terus menekannya seperti itu, dia semakin ingin pergi, Daviko. Kamu membuatnya merasa seperti tawanan, bukan seperti wanita yang dicintai. Kamu menyempitkan ruang geraknya dengan kecemburuan dan tuntutanmu agar dia mengakui perasaannya."

     ​"Kamu biarkan dia bekerja dengan tenang di rumah ini, Daviko. Bikin dia nyaman," sambung Mama Davira. "Kalau kamu tekan terus, maka Saliha akan berontak terus. Berikan dia ruang untuk bernapas. Biarkan dia melihat perubahanmu lewat perbuatan, bukan lewat teriakan atau paksaan."

     ​Awalnya, Daviko ingin membantah. Egonya sebagai pria yang biasa mendapatkan apa yang ia mau merasa terusik. Namun, saat ia mengingat kembali bagaimana Saliha menepis tangannya dan memalingkan muka dengan penuh ketakutan tadi, hatinya mulai melunak.

     Ia sadar, caranya selama ini memang salah. Ia telah menjadi antagonis dalam kehidupan wanita yang masih ia cintai.

     ​Keesokan harinya, perubahan itu mulai terlihat. Daviko mengikuti semua saran sang mama. Meski hatinya menjerit ingin menarik Saliha ke dalam pelukannya dan meminta maaf ribuan kali, ia berusaha keras untuk menahan diri.

     ​Ia tidak lagi memanggil Saliha untuk menemaninya makan. Ia tidak lagi muncul tiba-tiba di dapur hanya untuk mengawasi gerak-gerik Saliha. Bahkan, setelah pulang dari kesatuannya, Daviko lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam ruang kerja. Ia sengaja memberikan jarak agar Saliha tidak merasa terintimidasi oleh kehadirannya.

     ​Suatu sore, saat Saliha sedang mengganti popok Kaffara di ruang tengah, Daviko lewat. Biasanya, ia akan berhenti dan mengajak Saliha bicara dengan nada yang menuntut perhatian. Namun kali ini, Daviko hanya berhenti sejenak, menatap putranya dan Saliha dari kejauhan dengan tatapan datar namun lembut.

     ​"Saliha," panggil Daviko singkat.

​Saliha menegang, ia sudah bersiap untuk berdebat lagi. Namun, yang keluar dari mulut Daviko justru sesuatu yang tidak ia sangka.

​"Baiklah kalau itu yang kamu mau. Aku akan berusaha profesional mulai sekarang. Aku ingin kamu fokus mengurus Kaffara tanpa beban perasaan dariku. Lakukan tugasmu sebagaimana mestinya," ujar Daviko dengan nada bicara yang terkontrol, tanpa ada tekanan atau emosi yang meledak-ledak.

     ​Saliha mendongak, matanya bertemu dengan mata Daviko yang kini tampak lebih tenang meski menyimpan kesedihan yang mendalam. "Terima kasih, Pak. Itu yang saya harapkan."

     ​"Satu hal lagi," tambah Daviko sebelum berbalik pergi. "Aku tidak akan lagi mengungkit soal masa lalu atau perasaan itu jika itu membuatmu tidak nyaman. Rumah ini adalah tempat kerjamu, dan aku akan menjamin kenyamananmu selama kontrak ini berjalan."

     ​Setelah mengucapkan itu, Daviko benar-benar pergi ke ruang kerjanya dan menutup pintu. Saliha terpaku di tempatnya. Ada rasa lega yang luar biasa di dadanya, namun anehnya, ada setitik rasa hampa yang tiba-tiba menyelinap.

     Ia mendapatkan apa yang ia minta, profesionalitas dan ruang gerak. Namun melihat Daviko yang tiba-tiba menjadi begitu asing dan jauh, hatinya berdenyut nyeri.

     ​Minggu-minggu berikutnya berlalu dengan kedamaian yang aneh. Daviko benar-benar menepati janjinya. Ia bersikap sewajarnya sebagai majikan kepada bawahannya. Ia berbicara hanya seputar keperluan Kaffara atau urusan rumah tangga. Tidak ada lagi sentuhan di bahu, tidak ada lagi bisikan di telinga, dan tidak ada lagi tatapan posesif yang memburu.

     ​Daviko lebih banyak mengurung diri dengan berkas-berkas militernya. Ia menenggelamkan diri dalam pekerjaan untuk mengalihkan rasa rindunya yang membuncah. Ia seringkali hanya melihat Saliha melalui celah pintu yang terbuka, memperhatikan bagaimana wanita itu tertawa kecil bersama Kaffara atau bernyanyi lembut untuk menidurkan sang bayi.

     ​Di balik itu Saliha mulai merasakan perubahan atmosfer rumah. Ia tidak lagi merasa tertekan, namun ia mulai menyadari betapa sepinya sosok Daviko yang dulu selalu berusaha menarik perhatiannya. Ia melihat punggung Daviko yang tampak lebih lelah dari biasanya setiap kali pria itu pulang kantor.

     ​Mama Davira yang masih sesekali berkunjung, tersenyum melihat perkembangan itu. Ia tahu, Daviko sedang belajar tentang arti mencintai yang sesungguhnya, yaitu sabar dan menghargai batas.

     ​"Kamu sudah melakukannya dengan baik, Daviko," bisik Mama Davira suatu malam saat menemukan putranya melamun di balkon.

     ​"Rasanya sakit, Ma. Berada di bawah atap yang sama tapi terasa seperti ribuan kilometer jauhnya," jawab Daviko lirih.

     ​"Sabar, Nak. Tanah yang kering butuh waktu untuk menyerap air. Begitu juga hati Saliha yang gersang karena lukamu. Biarkan dia merasakan kenyamanan dulu, baru kemudian dia akan membuka pintunya sendiri."

     ​Daviko hanya bisa mengangguk. Ia akan bertahan dalam kesunyian ini. Ia akan membiarkan Saliha bekerja dengan tenang, membiarkannya fokus pada Kaffara, sambil diam-diam ia terus menjaganya dari kejauhan, tanpa tekanan, tanpa ego, hanya sebuah cinta yang kini ia simpan rapat di balik sikap profesionalitasnya yang kaku.

1
cecla9
sukaaa
Nasir: Mksh banyak Kak.... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Ai Oncom
❤️❤️❤️
Nasir: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Ai Oncom
Berbahagialah Saliha..❤️
Ai Oncom
koq blm up kak..?
Nasir: Nanti agak siang ya Kak. Kmrn bentrok sama kesibukan di rumah. Maaf ya... 🙏🙏🙏
total 1 replies
Anonymous
greget dengan alur yang mendayu-dayu..... bagus bgttttt.....lain dari yang lain.semangat thorrrr..... sekuelnya sampai Kafarra married ya
Nasir: Iya Insya Allah ya Kak... doakan idenya lancar..... 😄😄🙏🙏
total 1 replies
Eva Tigan
Habis ini Kapten Daviko pasti candu sama tubuh istrinya..ternyata Pak Kapten yg bekas..kal9 Saliha masih perawan..menang banyak kan Pak Kapten😄
Nasir: Banyak bgt dia Kak. Belum lagi pernah berpikir hasutan Huda. Dia memang kayak dpt durian runtuh dpt Saliha.
total 1 replies
Ai Oncom
jangan tamat dulu ya kak.. ceritanya lanjut sampe Saliha punya anak..🙏🤭
Nasir: Wkwkwkw.... takut bosan. Doakan sy idenya byk ya... 🙏🙏
total 3 replies
Eva Tigan
Eeehhh...malah tidur..aku kira ada malam pertama yg indah dan berbunga bunga🥰
kalo mau bulan madu ke Bali dan Lombok.. sekalian bawa bi tita dan kaffra ..biar sekalian jalan2 keluarga 😊
Eva Tigan: okey👍🙏
total 2 replies
Arin
Akhirnya sah......
Ayo..... kondangan. Jangan lupa amplopnya🤭🤭🤭🤭
cecla9: mantan mertua Dan mantan ipar Di undang Kan ...wajib biar pingsan wkwkwkwkw
total 3 replies
Ai Oncom
Alhamdulillah..❤️
Siti Maimunah
yaa sakit hati lah,di sumpahin emg lw.siapa viko???!!! TUHAN??!!!
Ai Oncom
❤️❤️❤️
Arin
Sebelum sampai hari H.... perlu diamankan dulu tuh mantan mertua sama mantan adik ipar biar tak mengacaukan pernikahan
Ariany Sudjana
memang seperti itu peraturan menikah dengan anggota TNI, saya tahu, karena saya juga anak anggota TNI
Nasir: Iya Kak.... 🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Farid Atallah
doubel up dong Thor 😥
Ariany Sudjana
dasar jalang murahan ga tau diri kalian berdua itu, harus dibinasakan
Nasir: Setuju Kak...
total 1 replies
Arin
Kan mana pernah jera mereka..... Sebelum mereka mendapat kan apa yang mereka ingin kan. Yaitu Tari harus bersanding dengan Daviko. Menggantikan Amara sebagai ibu sambung Kaffara
Eva Tigan
saatnya berbahagia..sudah cukup drama sedih dan luka nya selama ini
Nur Haswina
penantian 2 bulan serasa 2 tahun lama dan pasti banyak rintangannya, semoga saja mbak author tdk kasih rintangan yg menguras tenaga
Nur Haswina: masih slalu menunggu bab selanjutnya thor
total 2 replies
Arin
Jangan sampai menjelang pernikahan ada gangguan dari si Nenek Sihir dengan anaknya datang mengacau. Karena kurang setuju Daviko menikahi Saliha. Karena yang merasa berhak bersanding dan pantas adalah adik dari Amara
Arin: Soalnya yang bikin rumah Daviko rame selain tangisan Kaffara, ya itu si Ibu Ratna😁😁😁
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!