Nadira Savitri mati di lorong kampus, sendirian. Dengan pesan yang tak pernah dibaca tunangannya. Saat membuka mata, waktu berputar kembali satu tahun sebelum kematiannya.
Raka Mahardika tetap sama, dingin, sibuk BEM, dan selalu percaya pada Aluna.
"Aku cuma minta kamu dengar aku sekali saja." Suara Nadira dulu bergetar.
"Kamu terlalu sensitif, Nadira." Jawab Raka tanpa menoleh.
Kesempatan kedua tidak membuat Nadira berjuang lebih keras. Justru sebaliknya, dia menyerah. Bukan dengan tangisan, tapi dengan diam. Dia berhenti menjelaskan, berhenti menunggu, berhenti berharap.
Perubahan Nadira perlahan membuat Raka gelisah. Aluna mulai kehilangan kendali.
Di saat yang sama, Dr. Arvin Pradipta, dosen yang selama ini hanya mengamati dari jauh, hadir bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai tempat pulang yang aman. Cinta yang tidak berisik, tidak menuntut, dan tidak melukai.
Ini bukan kisah balas dendam dengan darah.
Ini tentang pergi saat mereka akhirnya ingin bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 - Cara yang Tidak Dramatis untuk Tetap Memilih
Nadira menyadari sesuatu pada pagi itu... Ia tidak bangun dengan pertanyaan apakah aku akan kuat hari ini. Ia bangun dengan pertanyaan yang lebih sederhana dan jauh lebih menakutkan.
"Apa yang ingin kulakukan hari ini?"
Tidak ada alarm tubuh. Tidak ada ketegangan di dada. Tidak ada dorongan untuk memeriksa denyut nadi atau mencari tanda bahaya di kepala.
Tubuhnya tidak sempurna. Masih ada sisa nyeri di persendian, kelelahan yang datang lebih cepat dibanding orang lain. Body degradation itu tidak lenyap; ia hanya tidak lagi memonopoli pikirannya.
Nadira duduk di tepi ranjang, membiarkan kaki menyentuh lantai dingin. Ia menarik napas. Tidak dalam-dalam. Tidak hati-hati berlebihan.
Normal.
Arvin masih tidur di sampingnya, punggungnya menghadap Nadira. Ia terlihat rapuh dengan cara yang tidak pernah Nadira sadari sebelumnya bukan lemah, tapi manusia.
Dan untuk pertama kalinya, Nadira tidak merasa perlu memastikan apa pun. Ia bangun, menyiapkan kopi. Tangannya stabil. Gerakannya pelan tapi tidak ragu. Hidup terasa... miliknya.
Arvin bangun ketika aroma kopi memenuhi dapur. "Kamu bangun duluan." Katanya sambil mengucek mata.
"Aku lapar." Jawab Nadira singkat.
Arvin tersenyum. "Itu perkembangan."
Nadira menatapnya. Ada senyum kecil yang tertahan di sudut bibirnya. Mereka makan tanpa tergesa. Tanpa topik berat. Hanya membicarakan hal-hal kecil cuaca, rencana sore, film yang belum selesai ditonton.
Dan di tengah obrolan ringan itu, Nadira menyadari betapa jarangnya ia sekarang memindai kata-kata Arvin untuk tanda bahaya. Tidak ada kecemasan berlebihan. Tidak ada obsesi membaca makna tersembunyi.
Ia hadir.
"Ada yang kamu pikirkan?" Tanya Arvin.
Nadira menggeleng. "Aku cuma... tenang."
Arvin berhenti makan, menatapnya. "Itu terdengar seperti pengakuan besar."
Nadira menghela napas kecil. "Aku tidak tahu harus merasa apa tentang itu."
"Tidak perlu apa-apa." Kata Arvin. "Tenang tidak butuh respon."
Kalimat itu sederhana, tapi menyentuh sesuatu yang lama terkunci.
Siang itu, Nadira keluar sendiri. Bukan untuk membuktikan kemandirian. Bukan untuk melarikan diri. Ia hanya ingin berjalan.
Langkahnya menyusuri jalan yang sudah akrab. Kafe, toko buku kecil, bangku taman tempat ia pernah duduk sambil menahan gemetar. Ia berhenti di tempat itu.
Bangku yang sama. Bayangan yang sama. Tapi tubuhnya berbeda.
Ia duduk, menatap lalu lintas manusia. Tidak ada dorongan untuk berbicara keras-keras pada diri sendiri. Tidak ada kebutuhan untuk mencengkeram lutut agar tetap sadar.
Ia mengeluarkan buku catatan yang kini jarang ia sentuh. Menulis bukan lagi alat bertahan hidup. Ia hanya kebiasaan.
Nadira menulis...
[Aku tidak lagi ingin menjadi versi diriku yang selalu siap jatuh.]
Tangannya berhenti.
[Bukan karena aku tidak bisa jatuh. Tapi karena aku tidak ingin hidup dengan menunggu jatuh.]
Rage yang dulu selalu membara kini hanya muncul sebagai kilatan kecil amarah pada ketidakadilan masa lalu, pada tubuh yang pernah hampir menyerah.
Namun kini, amarah itu tidak meminta tindakan. Ia hanya ingin diakui. Trauma masih ada, tapi tidak memegang kemudi. Pride tidak lagi memaksa Nadira untuk selalu benar. Guilt tidak lagi memelintir setiap keputusan menjadi dosa. Obsesi tidak lagi menyamar sebagai disiplin hidup. Semuanya masih hidup tapi duduk di kursi penumpang.
Sore hari, Nadira pulang dengan kelelahan yang wajar. Bukan kelelahan yang menakutkan.
Arvin sedang membaca di sofa. Ia menoleh ketika Nadira masuk.
"Kamu kelihatan capek." Katanya.
"Aku jalan lebih lama dari rencana." Jawab Nadira.
"Menyesal?"
"Tidak." Jawabnya cepat. "Aku suka capek seperti ini."
Arvin tersenyum. "Capek yang dipilih."
Nadira mengangguk.
Ia duduk di lantai, bersandar ke sofa. Arvin menurunkan buku, menyentuh rambut Nadira pelan. Sentuhan itu tidak memicu alarm. Tidak mengingatkan pada masa perawatan, pengawasan, atau ketergantungan.
Hanya kehadiran.
"Aku mau bicara sesuatu." Kata Nadira.
Arvin menunggu.
"Aku tidak tahu masa depan seperti apa." Lanjut Nadira. "Aku tidak bisa menjanjikan aku akan selalu stabil. Kadang aku akan marah tanpa alasan. Kadang aku akan menarik diri."
Arvin tidak menyela.
"Tapi aku tidak lagi ingin lari." Kata Nadira. "Aku ingin tinggal. Bahkan ketika aku tidak menyenangkan."
Arvin menghela napas pelan. "Itu cukup jujur."
"Kamu tidak merasa... terbebani?" tanya Nadira, suara pride dan guilt bercampur.
"Tidak." Jawab Arvin tegas. "Karena aku memilih ini dengan sadar. Dan aku tahu kapan harus mundur jika perlu."
Jawaban itu tidak romantis dalam arti lama. Tapi bagi Nadira, itu bentuk cinta paling aman.
Malam datang tanpa drama.
Namun ketika Nadira bersiap tidur, tubuhnya memberi sinyal kecil nyeri ringan di dada, kelelahan di tulang.
Refleks lama muncul... panik kecil, keinginan memeriksa.
Ia berhenti. Menarik napas.
"Aku istirahat." Katanya pada dirinya sendiri.
Arvin memperhatikannya. "Kamu baik-baik saja?"
"Ya." Jawab Nadira. "Dan kalaupun tidak, aku akan bilang."
Itu kalimat yang dulu terasa mustahil.
Mereka berbaring berdampingan. Tidak saling berpelukan erat. Jarak nyaman.
"Ada satu hal lagi." Kata Nadira pelan.
"Apa?"
"Aku tidak ingin cintaku jadi kompensasi dari hidup yang pernah hampir hilang." Katanya. "Aku ingin cinta karena aku memilih hidup."
Arvin menoleh, menatapnya lama. "Aku juga."
Keheningan setelah itu tidak berat. Tidak menunggu kelanjutan. Ia cukup...
Dalam gelap, Nadira terjaga sebentar. Bukan karena cemas. Bukan karena mimpi.
Ia hanya berpikir tentang betapa seringnya dulu ia hidup dengan ketegangan konstan seolah setiap hari adalah ujian terakhir.
Kini, hari hanyalah hari. Dan itu terasa revolusioner.
Ia memejamkan mata. Beberapa hari kemudian, Nadira menerima pesan dari seseorang dari masa lalunya.
Tidak penting siapa. Tidak perlu detail. Isi pesannya singkat. Bernada netral. Tidak menyerang.
Namun tubuh Nadira tetap bereaksi ketegangan kecil, ingatan lama mengetuk. Ia membaca sekali. Lalu menutup ponsel.
Tidak membalas. Tidak karena menghindar. Tapi karena ia tidak lagi merasa perlu menjelaskan hidupnya pada bayangan lama.
Arvin melihat ekspresinya.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Arvin.
Nadira mengangguk. "Aku memilih tidak masuk ke sana lagi."
Arvin tersenyum tipis. "Itu keputusan dewasa."
Nadira tidak merasa dewasa. Ia hanya merasa selesai.
Malam itu, Nadira berdiri di depan cermin. Ia menatap tubuhnya bekas luka yang memudar, tulang yang masih sedikit menonjol, mata yang kini lebih tenang.
"Aku tidak akan kembali menjadi orang yang dulu." Katanya pelan.
Bukan ancaman. Bukan janji.
Fakta.
"Aku juga tidak harus menjadi orang yang baru sepenuhnya."
Ia menyentuh dadanya.
"Aku cukup menjadi diriku yang sekarang."
Itu kalimat paling sulit yang pernah ia ucapkan dan yang paling jujur.
Di ruang tengah, Arvin menunggunya. "Kamu mau teh?" Tanya Arvin.
"Boleh."
Mereka duduk berdampingan, menonton malam lewat jendela. Tidak ada deklarasi cinta. Tidak ada rencana besar.
Namun di antara dua cangkir hangat itu, Nadira merasa sesuatu yang tidak pernah ia miliki sebelumnya...
Hidup yang tidak ia kejar. Cinta yang tidak ia pegang erat karena takut kehilangan. Diri yang tidak ia dorong sampai runtuh. Ia tahu hari buruk masih akan datang.
Tubuhnya mungkin akan kembali menuntut. Pikirannya mungkin akan kembali gaduh. Tapi sekarang, ia tidak hidup untuk menghindari itu.
Ia hidup untuk memilih lagi dan lagi... bahwa hidup layak dijalani meski tidak sempurna.
Untuk Nadira, itu bukan akhir cerita. Itu momen ketika ia berhenti menoleh ke belakang dan akhirnya melangkah ke depan.
Tanpa membawa rasa takut sebagai kompas.
Ia tinggal...
Bersama dirinya sendiri. Dan bersama cinta yang tidak berusaha menyelamatkan, karena Nadira sudah memilih hidup.
Perlu aku cium dulu supaya sadar kayanya.
maaf kak author, aku geregetan sama Nadira 🤭🙏🙏
lebih memain kan isi hati... memberikan sudut pandang berbeda d tiap perasaan pemeran nya...
kamu hanya menemukan sedikit dialog tapi dengan detail perasaan yg lengkap.... hingga.... kamu bahkan bisa merasakan bagaimana isi hati tokoh meski hnya diam... good job Thor.... 🤗
jd gimana nih Nadira yg pernah mati dn pertunangannya sm Raka,,juga si Aluna yg ngeselin🤣
Hanya berserah pada sang penciptalah yg membuat saya tetap waras 💪
Semangat Thor mohon dilanjut🙏👍