NovelToon NovelToon
Aku Tidak Membencimu, Aku Hanya Selesai

Aku Tidak Membencimu, Aku Hanya Selesai

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Obsesi / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:33.7k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Nadira Savitri mati di lorong kampus, sendirian. Dengan pesan yang tak pernah dibaca tunangannya. Saat membuka mata, waktu berputar kembali satu tahun sebelum kematiannya.

Raka Mahardika tetap sama, dingin, sibuk BEM, dan selalu percaya pada Aluna.

"Aku cuma minta kamu dengar aku sekali saja." Suara Nadira dulu bergetar.

"Kamu terlalu sensitif, Nadira." Jawab Raka tanpa menoleh.

Kesempatan kedua tidak membuat Nadira berjuang lebih keras. Justru sebaliknya, dia menyerah. Bukan dengan tangisan, tapi dengan diam. Dia berhenti menjelaskan, berhenti menunggu, berhenti berharap.

Perubahan Nadira perlahan membuat Raka gelisah. Aluna mulai kehilangan kendali.

Di saat yang sama, Dr. Arvin Pradipta, dosen yang selama ini hanya mengamati dari jauh, hadir bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai tempat pulang yang aman. Cinta yang tidak berisik, tidak menuntut, dan tidak melukai.

Ini bukan kisah balas dendam dengan darah.

Ini tentang pergi saat mereka akhirnya ingin bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30 - Cara yang Tidak Dramatis untuk Tetap Memilih

Nadira menyadari sesuatu pada pagi itu... Ia tidak bangun dengan pertanyaan apakah aku akan kuat hari ini. Ia bangun dengan pertanyaan yang lebih sederhana dan jauh lebih menakutkan.

"Apa yang ingin kulakukan hari ini?"

Tidak ada alarm tubuh. Tidak ada ketegangan di dada. Tidak ada dorongan untuk memeriksa denyut nadi atau mencari tanda bahaya di kepala.

Tubuhnya tidak sempurna. Masih ada sisa nyeri di persendian, kelelahan yang datang lebih cepat dibanding orang lain. Body degradation itu tidak lenyap; ia hanya tidak lagi memonopoli pikirannya.

Nadira duduk di tepi ranjang, membiarkan kaki menyentuh lantai dingin. Ia menarik napas. Tidak dalam-dalam. Tidak hati-hati berlebihan.

Normal.

Arvin masih tidur di sampingnya, punggungnya menghadap Nadira. Ia terlihat rapuh dengan cara yang tidak pernah Nadira sadari sebelumnya bukan lemah, tapi manusia.

Dan untuk pertama kalinya, Nadira tidak merasa perlu memastikan apa pun. Ia bangun, menyiapkan kopi. Tangannya stabil. Gerakannya pelan tapi tidak ragu. Hidup terasa... miliknya.

Arvin bangun ketika aroma kopi memenuhi dapur. "Kamu bangun duluan." Katanya sambil mengucek mata.

"Aku lapar." Jawab Nadira singkat.

Arvin tersenyum. "Itu perkembangan."

Nadira menatapnya. Ada senyum kecil yang tertahan di sudut bibirnya. Mereka makan tanpa tergesa. Tanpa topik berat. Hanya membicarakan hal-hal kecil cuaca, rencana sore, film yang belum selesai ditonton.

Dan di tengah obrolan ringan itu, Nadira menyadari betapa jarangnya ia sekarang memindai kata-kata Arvin untuk tanda bahaya. Tidak ada kecemasan berlebihan. Tidak ada obsesi membaca makna tersembunyi.

Ia hadir.

"Ada yang kamu pikirkan?" Tanya Arvin.

Nadira menggeleng. "Aku cuma... tenang."

Arvin berhenti makan, menatapnya. "Itu terdengar seperti pengakuan besar."

Nadira menghela napas kecil. "Aku tidak tahu harus merasa apa tentang itu."

"Tidak perlu apa-apa." Kata Arvin. "Tenang tidak butuh respon."

Kalimat itu sederhana, tapi menyentuh sesuatu yang lama terkunci.

Siang itu, Nadira keluar sendiri. Bukan untuk membuktikan kemandirian. Bukan untuk melarikan diri. Ia hanya ingin berjalan.

Langkahnya menyusuri jalan yang sudah akrab. Kafe, toko buku kecil, bangku taman tempat ia pernah duduk sambil menahan gemetar. Ia berhenti di tempat itu.

Bangku yang sama. Bayangan yang sama. Tapi tubuhnya berbeda.

Ia duduk, menatap lalu lintas manusia. Tidak ada dorongan untuk berbicara keras-keras pada diri sendiri. Tidak ada kebutuhan untuk mencengkeram lutut agar tetap sadar.

Ia mengeluarkan buku catatan yang kini jarang ia sentuh. Menulis bukan lagi alat bertahan hidup. Ia hanya kebiasaan.

Nadira menulis...

[Aku tidak lagi ingin menjadi versi diriku yang selalu siap jatuh.]

Tangannya berhenti.

[Bukan karena aku tidak bisa jatuh. Tapi karena aku tidak ingin hidup dengan menunggu jatuh.]

Rage yang dulu selalu membara kini hanya muncul sebagai kilatan kecil amarah pada ketidakadilan masa lalu, pada tubuh yang pernah hampir menyerah.

Namun kini, amarah itu tidak meminta tindakan. Ia hanya ingin diakui. Trauma masih ada, tapi tidak memegang kemudi. Pride tidak lagi memaksa Nadira untuk selalu benar. Guilt tidak lagi memelintir setiap keputusan menjadi dosa. Obsesi tidak lagi menyamar sebagai disiplin hidup. Semuanya masih hidup tapi duduk di kursi penumpang.

Sore hari, Nadira pulang dengan kelelahan yang wajar. Bukan kelelahan yang menakutkan.

Arvin sedang membaca di sofa. Ia menoleh ketika Nadira masuk.

"Kamu kelihatan capek." Katanya.

"Aku jalan lebih lama dari rencana." Jawab Nadira.

"Menyesal?"

"Tidak." Jawabnya cepat. "Aku suka capek seperti ini."

Arvin tersenyum. "Capek yang dipilih."

Nadira mengangguk.

Ia duduk di lantai, bersandar ke sofa. Arvin menurunkan buku, menyentuh rambut Nadira pelan. Sentuhan itu tidak memicu alarm. Tidak mengingatkan pada masa perawatan, pengawasan, atau ketergantungan.

Hanya kehadiran.

"Aku mau bicara sesuatu." Kata Nadira.

Arvin menunggu.

"Aku tidak tahu masa depan seperti apa." Lanjut Nadira. "Aku tidak bisa menjanjikan aku akan selalu stabil. Kadang aku akan marah tanpa alasan. Kadang aku akan menarik diri."

Arvin tidak menyela.

"Tapi aku tidak lagi ingin lari." Kata Nadira. "Aku ingin tinggal. Bahkan ketika aku tidak menyenangkan."

Arvin menghela napas pelan. "Itu cukup jujur."

"Kamu tidak merasa... terbebani?" tanya Nadira, suara pride dan guilt bercampur.

"Tidak." Jawab Arvin tegas. "Karena aku memilih ini dengan sadar. Dan aku tahu kapan harus mundur jika perlu."

Jawaban itu tidak romantis dalam arti lama. Tapi bagi Nadira, itu bentuk cinta paling aman.

Malam datang tanpa drama.

Namun ketika Nadira bersiap tidur, tubuhnya memberi sinyal kecil nyeri ringan di dada, kelelahan di tulang.

Refleks lama muncul... panik kecil, keinginan memeriksa.

Ia berhenti. Menarik napas.

"Aku istirahat." Katanya pada dirinya sendiri.

Arvin memperhatikannya. "Kamu baik-baik saja?"

"Ya." Jawab Nadira. "Dan kalaupun tidak, aku akan bilang."

Itu kalimat yang dulu terasa mustahil.

Mereka berbaring berdampingan. Tidak saling berpelukan erat. Jarak nyaman.

"Ada satu hal lagi." Kata Nadira pelan.

"Apa?"

"Aku tidak ingin cintaku jadi kompensasi dari hidup yang pernah hampir hilang." Katanya. "Aku ingin cinta karena aku memilih hidup."

Arvin menoleh, menatapnya lama. "Aku juga."

Keheningan setelah itu tidak berat. Tidak menunggu kelanjutan. Ia cukup...

Dalam gelap, Nadira terjaga sebentar. Bukan karena cemas. Bukan karena mimpi.

Ia hanya berpikir tentang betapa seringnya dulu ia hidup dengan ketegangan konstan seolah setiap hari adalah ujian terakhir.

Kini, hari hanyalah hari. Dan itu terasa revolusioner.

Ia memejamkan mata. Beberapa hari kemudian, Nadira menerima pesan dari seseorang dari masa lalunya.

Tidak penting siapa. Tidak perlu detail. Isi pesannya singkat. Bernada netral. Tidak menyerang.

Namun tubuh Nadira tetap bereaksi ketegangan kecil, ingatan lama mengetuk. Ia membaca sekali. Lalu menutup ponsel.

Tidak membalas. Tidak karena menghindar. Tapi karena ia tidak lagi merasa perlu menjelaskan hidupnya pada bayangan lama.

Arvin melihat ekspresinya.

"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Arvin.

Nadira mengangguk. "Aku memilih tidak masuk ke sana lagi."

Arvin tersenyum tipis. "Itu keputusan dewasa."

Nadira tidak merasa dewasa. Ia hanya merasa selesai.

Malam itu, Nadira berdiri di depan cermin. Ia menatap tubuhnya bekas luka yang memudar, tulang yang masih sedikit menonjol, mata yang kini lebih tenang.

"Aku tidak akan kembali menjadi orang yang dulu." Katanya pelan.

Bukan ancaman. Bukan janji.

Fakta.

"Aku juga tidak harus menjadi orang yang baru sepenuhnya."

Ia menyentuh dadanya.

"Aku cukup menjadi diriku yang sekarang."

Itu kalimat paling sulit yang pernah ia ucapkan dan yang paling jujur.

Di ruang tengah, Arvin menunggunya. "Kamu mau teh?" Tanya Arvin.

"Boleh."

Mereka duduk berdampingan, menonton malam lewat jendela. Tidak ada deklarasi cinta. Tidak ada rencana besar.

Namun di antara dua cangkir hangat itu, Nadira merasa sesuatu yang tidak pernah ia miliki sebelumnya...

Hidup yang tidak ia kejar. Cinta yang tidak ia pegang erat karena takut kehilangan. Diri yang tidak ia dorong sampai runtuh. Ia tahu hari buruk masih akan datang.

Tubuhnya mungkin akan kembali menuntut. Pikirannya mungkin akan kembali gaduh. Tapi sekarang, ia tidak hidup untuk menghindari itu.

Ia hidup untuk memilih lagi dan lagi... bahwa hidup layak dijalani meski tidak sempurna.

Untuk Nadira, itu bukan akhir cerita. Itu momen ketika ia berhenti menoleh ke belakang dan akhirnya melangkah ke depan.

Tanpa membawa rasa takut sebagai kompas.

Ia tinggal...

Bersama dirinya sendiri. Dan bersama cinta yang tidak berusaha menyelamatkan, karena Nadira sudah memilih hidup.

1
sukensri hardiati
nadira.....jangan keras kepala...semua orang sayang kamu...tp kamu nggak sayang dirimu sendiri
mimief
jujur itu mahal..
tapi kalau dengan konteks yg berbeda akan lebih banyak yg terluka..
mimief
walaupun terkesan kaku bahasa nya.
tapi sialnya ini lah yg terjadi di kehidupan realita
yg punya prinsip dan idealisme akan tersingkir kan.
korupsi dan kolusi yg terorganisir dan sialnya kita semua menormalisasikan dan ikut menikmati nya.
kalau mau jujur malah dibilangin nya aneh dan berlebihan.
sebenarnya salahnya dimana?
mimief
hmmm...
bales dendam yg epic adalah membuat diri sendiri nyaman dengan hidup kita.
bukan membalas dengan membuta tapi pada ending malah kekosongan yg kita terima
mimief
dan berhenti keras kepala untuk sesuatu yg dikira akan memberikan bahagia.ternyata hanya fatamorgana
💞DARRA💞💖
aq baca bab 1-2 udah sesek karna hampir sama dengan yg kujalani
Mamah Kaila
tahu ah dialognya terlalu membosankan, jadi hambar
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐚𝐝𝐢𝐫𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐨𝐛𝐬𝐞𝐬𝐢 𝐛𝐧𝐠𝐭 𝐝𝐢𝐚 𝐤𝐲𝐤 𝐩𝐠𝐧 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐞 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠𝟐 𝐤𝐥𝐨 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐩𝐝𝐡𝐥 𝐩𝐫𝐜𝐦....


𝐤𝐫𝐧 𝐛𝐫𝐡𝐫𝐩 𝐩𝐝 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫 𝐤𝐞𝐜𝐞𝐰𝐚

𝟗𝟗 𝐤𝐞𝐛𝐚𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐝𝐢𝐥𝐮𝐩𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝟏𝐤𝐞𝐛𝐮𝐫𝐮𝐤𝐚𝐧, 𝐤𝐦𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐡𝐫𝐬 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐞 𝐬𝐢𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐫𝐧 𝐢𝐭𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐩𝐧𝐭𝐧𝐠 𝐧𝐚𝐝 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐦𝐮 𝐬𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐬𝐝𝐡 𝐜𝐤𝐮𝐩, 𝐊𝐀𝐑𝐄𝐍𝐀 𝐀𝐏𝐀? 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐍𝐘𝐔𝐊𝐀𝐈𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐁𝐔𝐓𝐔𝐇 𝐈𝐓𝐔, 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐄𝐍𝐂𝐈 𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐏𝐄𝐑𝐂𝐀𝐘𝐀 𝐈𝐓𝐔.. 𝐭𝐡𝐚𝐭𝐬 𝐬𝐢𝐦𝐩𝐥𝐞 𝐧𝐚𝐝 𝐣𝐠𝐧 𝐝𝐢𝐩𝐥𝐢𝐧𝐭𝐢𝐫 😭😭🤪🤪
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐨𝐯𝐞𝐥 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐠𝐚𝐦𝐛𝐚𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐥𝐨 𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐛 𝐚𝐝𝐚 𝐚𝐤𝐢𝐛𝐚𝐭 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐤𝐞𝐩𝐮𝐭𝐮𝐬𝐚𝐧 𝐚𝐝𝐚 𝐤𝐨𝐧𝐬𝐞𝐤𝐰𝐞𝐧𝐬𝐢....

𝐦𝐧𝐞𝐫𝐭𝐪𝐮 𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐬𝐢𝐡.... 𝐠𝐤 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐩𝐢𝐧𝐭𝐞𝐫 𝐤𝐫𝐧 𝐚𝐪 𝐠𝐤 𝐤𝐮𝐥𝐢𝐚𝐡 😁😁😁

𝐣𝐝𝐢 𝐚𝐪 𝐧𝐚𝐫𝐢𝐤 𝐤𝐞𝐬𝐢𝐦𝐩𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐬𝐭𝐥𝐡 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐣𝐚 𝐡𝐞𝐡𝐞𝐡𝐞𝐠
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐞𝐡𝐦 𝐞𝐡𝐦 𝐞𝐡𝐦 𝐛𝐫𝐬 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐩𝐮𝐢𝐬𝐢 𝐤𝐫𝐧 𝐩𝐞𝐫𝐜𝐚𝐤𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐭𝐨 𝐭𝐡𝐞 𝐩𝐨𝐢𝐧𝐭 𝐭𝐧𝐩 𝐞𝐦𝐛𝐞𝐥𝟐 𝐭𝐧𝐩 𝐛𝐚𝐬𝐚 𝐛𝐚𝐬𝐢 𝐛𝐮𝐬𝐮𝐤 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐚𝐩𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐢𝐭𝐮😁😁😁 𝐨𝐯𝐞𝐫 𝐚𝐥𝐥 𝐛𝐠𝐬 𝐬𝐢𝐡 😘😘😘
Hari Saktiawan
cerita tak masuk akal
bakpao
/Good/
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐣𝐡𝐭 𝐩𝐝 𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐣𝐚𝐭𝐮𝐡 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐡, 𝐜𝐩𝐭 / 𝐥𝐦𝐛𝐭 𝐢𝐭𝐮 𝐩𝐚𝐬𝐭𝐢 😤😤😤
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝟐 𝐢𝐧𝐢 𝐧𝐞𝐦𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐫𝐞𝐧 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐭𝐩 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐢𝐤𝐢𝐭, 𝐭𝐩 𝐲𝐠 𝐚𝐜𝐚𝐤𝐚𝐝𝐮𝐭 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐠𝐤 𝐣𝐥𝐬 𝐩𝐞𝐧𝐨𝐤𝐨𝐡𝐚𝐧 𝐚𝐦𝐛𝐮𝐫𝐚𝐝𝐮𝐥 𝐭𝐩 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐧𝐲𝐤 🤪🤪🤪😤😤😤
Muhammad Azri
certanya bertele tele muter2 d situ2 aja , gk jelas....
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐥𝐨 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐤 𝐝𝐢𝐭𝐚𝐧𝐠𝐠𝐞𝐩𝐢𝐧 𝐭𝐚𝐮 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐡𝐬 𝐈𝐧𝐠𝐠𝐫𝐢𝐬𝐧𝐲𝐚 " 𝐛𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐩𝐢𝐧𝐭𝐮 𝐥𝐞𝐛𝐚𝐡 𝐩𝐞𝐫𝐠𝐢 " 😡😡😡
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐛𝐚𝐫𝐮 𝐦𝐚𝐦𝐩𝐢𝐫 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫😊
Asyatun 1
keren thoor
Gristia Pramesti
bagus
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
Ana Akhwat
Ceritanya membingungkan dari awal sampai akhir yang bahas tentang mengalah, bertahan, tertekan, trauma dll, tidak ada akhir bahagia serasa hidup drama terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!