NovelToon NovelToon
Satu Derajat Celcius

Satu Derajat Celcius

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius / Diam-Diam Cinta / Fantasi Wanita / Cintapertama / Berbaikan / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Bagi Zayden Abbey, dunia adalah medan tempur yang bising dan penuh amarah, sampai suatu siang di perempatan kota, ia dipaksa berhenti oleh lampu merah. Di tengah deru mesin motor yang memekakkan telinga dan kepulan asap knalpot yang menyesakkan, Zayden melihatnya—Anastasia Amy.
Gadis itu berdiri tenang di trotoar, seolah memiliki dunianya sendiri yang kedap suara. Saat Amy menoleh dan menatap Zayden dengan pandangan dingin namun tajam, jantung Zayden yang biasanya berdegup karena adrenalin tawuran, tiba-tiba berhenti sesaat. Di mata Zayden, Amy bukan sekadar gadis cantik; dia adalah "hening yang paling indah." Dalam satu detik itu, harga diri Zayden sebagai penguasa jalanan runtuh. Pemuda yang tak pernah bisa disentuh oleh senjata lawan ini justru tumbang tanpa perlawanan hanya karena satu tatapan datar dari Amy. Zayden menyadari satu hal: ia tidak sedang kehilangan kendali motornya, ia sedang kehilangan kendali atas hatinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kilasan Memory

Dua Tahun telah berlalu di bawah langit California yang cerah, namun bagi Zayden, waktu seolah membeku dalam kegelapan.

Di sebuah pusat rehabilitasi medis eksklusif di Los Angeles, keajaiban itu akhirnya terjadi.

Mata itu terbuka perlahan. Zayden Abbey kembali dari kegelapan koma yang panjang. Ardiansyah, yang selama Dua Tahun ini selalu berada di sisi ranjangnya, menggenggam tangan anaknya dengan gemetar. "Zayden... ini Papa, Nak."

Zayden tidak menjawab. Sorot matanya kosong, sedingin es kutub.

Tubuhnya terasa asing, ia tidak bisa menggerakkan kakinya, bahkan untuk duduk pun ia butuh bantuan penyangga. Kecelakaan itu tidak hanya menghancurkan motornya, tapi juga saraf-saraf motoriknya.

Seminggu pertama, Zayden menjadi sosok yang benar-benar berbeda. Tidak ada lagi tawa konyol, tidak ada lagi puisi absurd. Ia hanya diam, menatap jendela dengan tatapan tajam yang membuat siapa pun sungkan untuk menyapa.

Elisa, seorang terapis rehabilitasi muda keturunan Indonesia-Amerika yang cantik dan cerdas, ditugaskan untuk menangani Zayden. Sejak pertama kali melihat Zayden yang tak berdaya namun memiliki aura kepemimpinan yang kuat, Elisa sudah menaruh hati.

"Zayden, waktunya latihan gerak tangan," ucap Elisa lembut sambil mencoba menyentuh lengan Zayden.

Zayden menarik lengannya dengan kasar, matanya menatap Elisa dengan dingin. "Jangan sentuh aku kalau tidak perlu."

Elisa tertegun. Ia sudah menghadapi banyak pasien sulit, tapi Zayden adalah yang paling membeku. Ardiansyah bahkan sering meminta maaf atas sikap putranya yang sekarang jauh lebih keras daripada dirinya sendiri.

Di kepala Zayden, hanya ada satu nama yang berdengung seperti lebah, Amy. Amy. Amy.

Ia ingat nama itu, tapi wajahnya masih tertutup kabut. Hingga suatu malam, saat hujan badai mengguyur Los Angeles, petir yang menggelegar memicu memori traumatis kecelakaan itu. Zayden terbangun dengan napas memburu. Keringat dingin membasahi tubuhnya.

Tiba-tiba, semuanya menghantam otaknya seperti palu godam.

Ujian akhir, Surat berdarah, Motor yang remnya blong, Senyum tipis gadis di balik penggaris satu meter, Dan panggilan sayang Panglima yang selalu diteriakkan sahabat-sahabatnya.

"Amy..." bisik Zayden, suaranya parau namun penuh emosi yang meledak. "Amy!"

Esok paginya, saat Elisa datang membawa nampan makanan, ia menemukan Zayden sedang berusaha sekuat tenaga untuk turun dari tempat tidur sendiri, meski kakinya masih lemas dan ia berakhir jatuh tersungkur di lantai.

"Zayden! Jangan dipaksakan!" Elisa berlari hendak membantunya.

"Minggir!" Zayden membentak, suaranya kini kembali memiliki tenaga. Ia menatap ayahnya yang baru masuk ke kamar dengan kemarahan yang meluap.

"Ayah... kenapa aku di sini? Kenapa Ayah membawaku pergi tanpa pamit padanya?!"

Ardiansyah terdiam. "Papa menyelamatkan nyawamu, Zayden. Di sana kamu hampir mati karena wanita-wanita ular itu."

"Tapi Ayah membunuh jiwaku dengan meninggalkannya!" Zayden mencoba berdiri, tangannya mencengkeram pinggiran meja hingga buku jarinya memutih.

"Dua Tahun... aku hilang Dua Tahun. Dia pasti mengira aku pengecut. Dia pasti mengira aku mati."

Zayden menoleh ke arah Elisa yang terpaku.

"Mulai hari ini, percepat jadwal rehabku. Aku tidak peduli seberapa sakitnya. Aku harus bisa jalan, aku harus bisa lari. Aku harus pulang ke Indonesia."

Elisa merasa hatinya patah saat itu juga. Ia sadar, sedingin apa pun Zayden padanya, ada satu api yang menyala hebat di hati pemuda itu, api yang hanya bisa dipadamkan oleh gadis bernama Amy.

Di tengah kemarahan dan ambisinya untuk sembuh, Zayden sempat melirik ke arah bawah tubuhnya yang selama setahun ini tak ia pedulikan, Ia teringat candaan konyolnya dulu.

"Tahan sebentar ya, Pitter," gumam Zayden sangat pelan, hampir tak terdengar. "Panglima kita lagi kalah telak, tapi kita bakal balik buat jemput Tuan Putri. Kali ini nggak akan ada penggaris satu meter yang bisa misahin kita lagi."

Zayden menatap Elisa dengan tatapan yang kini bukan lagi dingin kosong, tapi dingin yang penuh tekad. "Terapis, lakukan tugasmu. Sembuhkan aku secepat kilat, atau aku akan menyembuhkan diriku sendiri dengan cara yang kasar."

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
Marine
mantap kak buat chapter pembukaannya, janlup mampir yaww
Marine
mantap kak buat chapter pembukaannya, janlup mampir yaww
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!