Zafira Amara, belajar bahwa cinta tidak selalu berakhir dengan indah. Ditinggal Anggara tanpa kabar setelah janji melamar, ia membangun benteng tinggi di hatinya.
Hingga akhirnya datang Aditya Pranata, pengagum rahasia yang mengisi kekosongan itu. Dari teman, menjadi hubungan tanpa status, hingga akhirnya resmi berpacaran.
Namun ironi terjadi, saat status sudah jelas, mereka justru kehilangan esensi. Trauma masa lalu Zafira bertabrakan dengan ketakutan komitmen Aditya.
Di tengah hiruk pikuk Yogyakarta, mereka belajar bahwa tidak semua yang dicintai bisa bertahan. Tidak semua janji bisa ditepati. Dan terkadang, melepaskan adalah bentuk cinta paling tulus meski itu menyakitkan. Sebuah kisah tentang kehilangan, trauma, dan keberanian untuk move on.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembalinya Anggara
Hari Rabu sore, tiga minggu sebelum deadline dua bulan berakhir. Fira lagi duduk sendirian di taman Tugu Yogyakarta. Tempat yang sama di mana dia dulu sering nunggu Anggara. Tempat yang jadi saksi bisu semua kenangan manis mereka, dan juga saksi kepergian Anggara yang tiba-tiba.
Fira melihat bundaran putih Tugu sambil melamun. Pikirannya kemana-mana.
"Fira."
Suara itu. Suara yang udah lebih dari satu tahun nggak dia denger. Suara yang bikin jantungnya berhenti seketika.
Fira menengok pelan, takut kalau telinganya salah denger. Takut kalau ini cuma halusinasi.
Tapi nggak, di depannya berdiri Anggara. Anggara Adhikara, mantan pacar pertamanya, yang lenyap tanpa kabar satu tahun yang lalu.
Anggara berdiri di sana dengan penampilan yang berbeda. Lebih ganteng, lebih dewasa. Rambutnya gondrong rapi, kumisnya tipis, badannya lebih kekar. Pake kemeja putih lengan panjang, celana bahan hitam, sepatu pantofel. Keliatan sukses.
"Anggara," bisik Fira pelan, suaranya bergetar. "Ka-kamu..."
Kata-kata nggak keluar. Fira cuma bisa ngeliatin Anggara dengan mata melotot, nafasnya sesak, jantungnya berdetak kayak mau copot.
"Fira, maafkan aku," kata Anggara sambil melangkah maju pelan. "Aku tau aku salah. Aku tau aku brengsek, karena udah ninggalin kamu tanpa kabar. Tapi sekarang aku kembali."
Anggara berhenti di depan Fira, yang masih duduk terdiam.
"Aku membawa ini."
Anggara mengeluarkan kotak kecil dari kantong celananya. Kotak beludru warna merah. Dia buka pelan. Di dalemnya terdapat sebuah cincin berlian, yang berkilau saat terkena cahaya sore.
"Cincin yang dulu aku janjikan ke kamu. Aku udah kumpulkan uang, udah kerja keras, semuanya buat ini. Buat nikahi kamu."
Fira ngerasa dunianya berputar. Ini mimpi atau bukan? Ini nggak mungkin nyata.
"Anggara, selama ini kamu kemana aja?!" suara Fira tiba-tiba naik, air matanya langsung ngalir deras. "Kamu tau aku menunggu kamu berapa lama?!"
Anggara menunduk, matanya juga berkaca-kaca.
"Maafkan aku, Fira. Maafkan aku, aku ada masalah waktu itu. Masalah keluarga yang berat, dan aku nggak mau ngasih tau kamu, soalnya aku malu, kalo kamu tau keadaan aku yang sebenernya."
"Masalah apa?! Apa seburuk itu sampai kamu harus lenyap tanpa kabar?!"
"Ayah aku sakit keras, Fir. Kanker stadium akhir. Dan kami nggak punya biaya buat pengobatan, semua tabungan keluarga habis buat rumah sakit, buat kemoterapi, buat obat. Bahkan rumah kami sempet mau dijual."
Fira terdiam, air matanya masih mengalir.
"Dan aku malu, Fira. Malu sama kamu yang tau aku dari keluarga berada. Malu kalau kamu tau ternyata kami sekarang jatuh miskin gara-gara biaya rumah sakit. Makanya aku pergi ke Jakarta, kerja keras, kirim uang tiap bulan buat ayah. Aku putus kontak sama semua orang. Aku pengen buktikan dulu, kalau aku bisa bangkit, bisa sukses. Bisa ngobatin ayah, baru aku akan kembali."
"Tapi kamu nggak ngasih tau aku, Gara! Kamu ninggalin aku dalam kegelapan, apa kamu tau aku menangis tiap malem? Apa kamu tau aku nyari kamu?"
Anggara langsung berlutut di depan Fira, menggenggam tangannya yang dingin.
"Maafkan aku Fira, tolong maafkan aku. Aku tau aku brengsek, aku udah nyakitin kamu. Tapi sekarang aku kembali, ayah aku udah sembuh. Aku udah punya kerjaan bagus di Jakarta, gaji gede, tabungan cukup. Aku udah siap menikah sama kamu. Siap bikin kamu bahagia."
Fira menggelengkan kepalanya, sambil menangis makin kenceng.
"Kenapa harus sekarang, Gara? Kenapa kamu kembali sekarang? Kenapa nggak satu tahun yang lalu? Kenapa kamu harus kembali, di saat aku sudah..."
"Sudah apa, Fir?"
Fira terdiam, ia tidak bisa bicara apa-apa.
"Fira," panggil Anggara sambil meraih pipi Fira, mengelap air matanya. "Aku tau ini mendadak, aku tau kamu pasti marah dan kecewa. Tapi kumohon, kasih aku kesempatan lagi. Aku udah berubah, udah jauh lebh dewasa. Dan aku udah siap jadi suami yang baik buat kamu."
"Tapi kamu pergi tanpa bilang, Gara."
"Aku tau, dan itu kesalahan terbesar dalam hidup aku. Tapi aku nggak akan mengulanginya lagi. Kali ini aku janji bakal selalu ada, nggak akan lenyap lagi, dan nggak akan ninggalin kamu lagi."
Janji.
Kata itu lagi, kata yang sama, yang Anggara bilang satu tahun yang lalu sebelum dia lenyap.
"Fira," Anggara mengeluarkan cincin dari kotaknya. "Nikah sama aku. Please. Aku janji bakal bikin kamu bahagia, aku bakal ganti semua rasa sakit hati yang aku kasih."
Fira ngeliatin cincin itu dengan mata sembab. Cincin yang dulu dia impikan. Cincin yang seharusnya bikin dia bahagia.
Tapi sekarang, dia cuma merasakan kebingungan.
"Anggara. Maaf, tapi kali ini aku nggak bisa."
"Apa yang membuat kamu nggak bisa nerima ini?"
"Karena... Aku udah punya pacar, Gara."
Seketika jantung Anggara terasa berhenti berdetak. Pengakuan Fira yang telah memiliki pacar, membuatnya merasa tidak percaya.
"Kamu pasti bohong kan, Fira? Itu semua nggak bener kan?"
"Nggak, Gara. Aku memang sudah mempunyai pacar," ucap Fira sambil menunduk.
Anggara tak bisa berkata apa-apa lagi, hatinya merasa hancur. Kepulangannya untuk menemui Fira telah gagal, karena Fira sudah mempunyai kekasih.
Anggara berdiri, lalu mengeluarkan kartu nama dari dompet.
"Ini nomor aku yang baru. Kalau suatu saat dia nyakitin kamu, hubungi saja aku. Karena aku akan selalu ada buat kamu."
"Maafkan aku, Gara."
Anggara tersenyum, namun jauh di dalam hatinya ia merasa hancur. Wanita yang selama ini ia cintai, ternyata sudah mempunyai kekasih. Andai saja Anggara tidak pergi begitu saja, mungkin Fira masih tetap bersamanya.
"Kamu nggak perlu minta maaf, aku yang salah. Karena aku sudah membiarkan kamu terlalu lama menunggu. Aku minta maaf, Fira."
Anggara menaruh kartu nama itu di bangku sebelah Fira, terus jalan pergi sambil sesekali nengok kebelakang. Fira duduk terdiam sambil melihat kartu nama itu dengan tangan gemetar.
Ia kembali lagi dengan membawa sebuah cincin, di saat Fira sudah jatuh cinta dan menjalin hubungan dengan Ditya.
bab ini kita full karokean...😅😅😅😅
bener gak sih nadanya gini....😅😅😅