Kelahirannya menciptakan badai dahsyat. Di saat yang sama, klan Erlang kalah telak. Kekalahan itu membuatnya dicap sebagai anak pembawa sial. Bukan hanya hampir menghilang dari alam langit, klan Erlang juga harus membayar pajak ke klan Liu setiap. tahunnya.
*******
Erlang Xuan, nama yang sama dengan Leluhur klan, tapi nasib mereka berbeda. Jika Leluhur terlahir dengan kekuatan tak terbatas, maka dia terlahir dengan tubuh cacat. Selama belasan tahun, ia disiksa dan direndahkan. Bahkan, karena masalah sepele, ayahnya menghukumnya.
Karena tak punya dantian dan meridian, Erlang Xuan tak bisa berkultivasi. Sampah pembawa sial, itulah julukannya. Tak ada yang tahu bahwa dibalik tubuh cacat itu tersembunyi sesuatu yang akan mengguncang alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena_Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9 Tak Mau Cari Masalah
Wuuuussss
Baaammm
Li Yanran terpental puluhan meter. Ia terkejut dan tak menyangka keponakannya itu akan menyelamatkan ibunya. Padahal, hati es menghilangkan perasaannya.
"Xuan'er, pergilah!" Li Yanruo berdiri. Beberapa kali, ia memuntahkan darah segar. Lukanya semakin parah. Jika tidak disembuhkan, luka itu akan membunuhnya.
"Jangan pura-pura lagi, Bu!"
"Apa yang maksudmu?" tanya Li Yanruo.
"Jangan pura-pura lagi, Bu! Aku sudah tahu semuanya!"
Erlang Xuan memadatkan elemen es dan bersiap untuk menyerang, tapi Li Yanruo menghentikannya. Wanita bahkan mengurung anaknya di formasi cincin berlapis.
"Ibu, apa yang kau lakukan?" teriak Erlang Xuan.
Li Yanruo tak menjawab. Ia mengeluarkan pedangnya dan dan menyalurkan seluruh kekuatannya ke pedang itu. Bahkan, kekuatan jiwanya pun di salurkan ke pedang.
"Ledakan jiwa elemen!" Erlang Xuan panik. Ia mencari titik lemah formasi itu, tapi tidak berhasil. Inti sekaligus titik lemah formasi adalah ibunya sendiri.
"Ibu, kumohon, jangan lakukan!" Erlang Xuan memukul formasi yang mengurungnya. Ia benar-benar putus asa dan tidak tahu harus berbuat apa.
Swuuuussss
Sreeeekk
Darah berceceran dimana-mana. Tak jauh dari formasi cincin berlapis, pedang Li Yanruo menancap. Wanita itu ambruk, dan napasnya tak beraturan. Di saat yang sama, formasi yang mengurung Erlang Xuan menghilang.
"Ibu!" Ia berlari dan memeluk ibunya.
"Xuan'er, maafkan ibu!" ucapnya.
"Ibu, jangan tinggalkan aku! Jangan pergi!" Erlang Xuan panik. Ia mengeluarkan pil dari cincin ruangnya, tapi Li Yanruo menolak.
..."Percuma!"...
"kenapa harus mengorbankan diri, Bu? kenapa?" tanyanya.
"Hanya dengan mengorbankan diri—Yanran bisa dikalahkan." Li Yanruo memuntahkan darah hitam pekat dari mulutnya.
"Sampaikan salam Ibu kepada adikmu!" Li Yanruo mengeluarkan sesuatu dari cincin ruangnya. Itu adalah lencana giok dengan ukiran naga.
"Jangan berikan lencana ini—" Li Yanruo memuntahkan darah. Ia mengigit lidahnya sendiri untuk menjaga kesadarannya.
"Kepada orang lain!" lanjutnya.
Ukkhuuukk
Darah kembali menyembur dari mulutnya. Perlahan, garis-garis hitam dan hijau muncul di pergelangan tangannya. Kedua garis warna itu menyebar ke seluruh tubuhnya dengan cepat.
"Maaf!" Li Yanruo menyentuh wajah putranya Untu terakhir kalinya. Ia tersenyum lalu menutup mata untuk selamanya.
"Ibu!"
Erlang Xuan berteriak memanggil ibunya. Ia berharap ibunya hanya tidur. Sayangnya sekali itu hanyalah keinginan semu. Tubuh wanita itu dingin dan perlahan berubah menjadi butiran cahaya.
"Ibu, kumohon, bangunlah! Ibu!"
"Ibu, bangun!" ucapnya lirih.
"Ibu!"
Erlang Xuan hanya bisa melihat tubuh ibunya berubah cahaya. Ia berdiri mencabut pedang ibunya. Tatapannya tertuju pada Li Yanran, bibinya yang ternyata masih hidup.
"Kamu penyebabnya!" Tatapan dinginnya membuat Li Yanran terkejut. Ia tak menyangka hati es berhasil setelah kematian adiknya. Yang membuatnya semakin terkejut adalah gelombang kekuatan jiwa yang sangat kuat.
"Gawat!" Ia panik dan buru-buru membuka portal, tapi portalnya dihancurkan oleh Erlang Xuan.
"Mau ke mana?" tanya Erlang Xuan.
"Kabur dariku tidak semudah itu, Bibi!"
Sreeeekk
Di detik berikutnya, darah Li Yanran berceceran di tanah. Salah satu lengannya terpotong, dan darahnya mengalir terus menerus. Ia yang sudah tak berdaya hanya bisa pasrah. Pasalnya, serangan terakhir adiknya memberinya luka yang cukup parah.
"Ma—" Belum sempat ia mengatakan sesuatu, lengannya yang lain terpotong.
"Maaf tak bisa mengembalikan ibuku!"
"Nyawa dibalas dengan nyawa!"
Erlang Xuan mengayunkan pedangnya dan mengakhiri hidupnya bibinya sendiri. Meski begitu, ia belum puas. Jiwa Li Yanran dihancurkan perlahan-lahan.
Wuuuussss
Detik berikutnya, gelombang energi yang sangat kuat meratakan tempat itu. Tubuh Li Yanran menghilang, bersamaan dengan hilangnya gelombang energi tersebut. Bukan hanya itu, jiwanya dipecah menjadi tujuh bagian dan dihancurkan saat itu juga. Hal itu membuatnya tak bisa bereinkarnasi.
Di tempat ibunya menghilang, Erlang Xuan membuat tugu peringatan. Ia diam disana beberapa menit, sebelum meninggalkan tempat itu. Sepanjang perjalanan, bayang-bayang ibunya dan rasa bersalah terus menghantuinya.
"Andai saja aku lebih kuat, mungkin ibu masih ada," gumamnya.
"Apa yang harus kulakukan?" Erlang Xuan berhenti dan melayang di udara. Ia bingung dan tak tahu harus berbuat apa.
"Haruskah membalas perbuatan adik-adikku atau melupakan masalah itu?" tanyanya kepada dirinya sendiri.
Wuuuussss
Seseorang yang menunggangi elang raja berhenti tepat di depannya. Orang yang ada di punggung elang itu adalah saudaranya, Erlang Han. Pemuda itu menyuruh elangnya pergi, sementara dia sendiri tetap di sana dengan senjata terhunus.
"Pergilah, aku tak mau mencari masalah!" katanya tanpa melihat siapa yang diajaknya berbicara.
"Aku akan pergi, tapi setelah mematahkan tanganmu!" balas Erlang Han.
"Sudah kubilang pergi, ya, pergi! Jangan menggangguku!" Erlang Xuan menciptakan puluhan tapak petir. Tapak tersebut menyerang Erlang Han. Puluhan tapak yang menyerang sekaligus membuatnya kewalahan. Dua atau tiga tapak ditepis, sementara sisanya mengenainya.
"Sudah kubilang aku tidak mau cari masalah, tapi kau yang cari masalah." Karena terlanjur kesal, ia menciptakan tapak petir yang sangat besar. Tentu saja hal itu membuat Erlang Han terkejut dan sedikit ketakutan.
Swuuuussss
Tapak petir tersebut melesat ke arah Erlang Han. Karena tak bisa menghindar, ia memanggil elang raja dan menjadikan tunggangannya sebagai tameng. Akibatnya, raja burung itu terluka dan tak bisa terbang.
"Menjadikan makhluk lain tameng, kau benar-benar keterlaluan," ucap Erlang Xuan.
"Huahahaha! Keterlaluan? Melindungi adalah tugasnya!" balas Erlang Han.
"Elang bodoh! Antar aku pulang!" teriaknya.
Elang raja berusaha bangkit, tapi lukanya yang terlalu parah membuatnya tak bisa bergerak. Bahkan, bersuara pun tidak bisa. Ia hanya bisa menggerakkan sayapnya sekali, lalu pingsan.
"Benar-benar tidak berguna!" geramnya.
"Karena kau tidak berguna, membusuklah di sana, dasar sampah!" Erlang Han meninggalkan tempat itu dengan kesal. Karena tidak pernah terbang, ia terjatuh beberapa kali.
"Kasihan sekali!" Erlang Xuan mendarat di samping elang itu. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia memberikan cairan penyembuh.
"Kwaakk!" Elang itu berputar mengelilingi Erlang Xuan. Tak beberapa lama, Elang itu mengeluarkan kristal dari tubuhnya.
Kwaaaaakkkk
Elang itu berteriak, seolah mengucapkan terima kasih. Setelah itu, elang tersebut terbang menjauh. Meski sudah jauh, tapi suaranya masih terdengar jelas.
"Kristal jiwa!" Erlang Xuan tersenyum. Di seluruh wilayah kekaisaran Zhang, bahkan di benua giok sekalipun, kristal jiwa sulit didapatkan. Pasalnya, yang memilikinya hanyalah hewan tertentu yang sudah menerobos ranah yang lebih tinggi.
"Andai saja kristal ini kudapat sebelum ibu menghilang!" Ia menunduk sedih. Kristal jiwa dapat menyembuhkan luka pada jiwa seseorang. Bukan hanya itu, Qi yang tersimpan di dalam kristal itu dapat memperkuat fondasi kultivasi.
"Ibu, maafkan aku!" Erlang Xuan menyimpan kristal itu lalu melesat pergi. Sepanjang jalan, ia selalu mendengar panggilan ibunya. Awalnya, panggilan itu dianggap khayalannya saja, tapi suara itu terdengar berkali-kali.
"Xuan'er, jangan menyalahkan diri sendiri!" Li Yanruo muncul di hadapan anaknya, Erlang Xuan.
"Apa yang terjadi bukan salahmu," ucapnya.
"Tapi …. "
"Apa yang terjadi sudah ditakdirkan. Berhenti menyalahkan diri sendiri dan lupakan kejadian itu!" Li Yanruo tersenyum lalu menghilang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Menurut kalian, Li Yanruo baik atau jahat?
Jangan lupa like dan komen