Jian Yi secara tak terduga memperoleh sebuah pedang aneh yang mampu berbicara. Dari pedang itulah ia mempelajari teknik pedang kuno dan jalan kultivasi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Saat kekuatannya dianggap cukup, pedang tersebut memerintahkannya untuk mengembara—mencari cara agar sang roh pedang dapat memperoleh wujud fisik.
Maka dimulailah perjalanan Jian Yi sebagai seorang pengembara, melangkah di antara bahaya, rahasia, dan takdir yang perlahan terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Bangkit dari Keheningan
Setahun telah berlalu sejak badai besar meratakan Keluarga Yuan.
Di lereng Pegunungan Utara yang selalu diselimuti kabut, seorang pemuda bernama Han, pendekar tingkat Pemula yang bertahan hidup dengan mencari tanaman herbal, sedang mendaki bebatuan terjal.
Napas Han terengah-engah. Ia mencari Bunga Embun Salju yang langka untuk membiayai obat ibunya.
Tiba-tiba, telinganya menangkap suara gemuruh yang halus, seperti suara es yang retak.
Di depannya, sebuah dinding batu yang tertutup lumut tiba-tiba bergetar. Segel transparan yang selama ini tersembunyi pecah berkeping-keping seperti kaca.
BOOM!
Pintu gua meledak pelan, mengeluarkan hawa dingin yang sangat murni. Dari dalam kegelapan, sesosok pria melangkah keluar.
Han jatuh terduduk, jantungnya berpacu kencang.
Ia mengira akan melihat monster atau pertapa tua yang menyeramkan.
Namun, yang muncul adalah seorang pria muda dengan wajah yang sangat tampan dan elegan.
Rambut hitamnya yang panjang terurai rapi, kulitnya seputih pualam namun memancarkan kilau sehat.
Matanya yang tajam berwarna ungu redup memberikan kesan penuh wibawa dan misteri.
Pria itu adalah Jian Yi. Luka hitam di dadanya memang belum hilang sepenuhnya—masih ada garis tipis seperti tato hitam yang melingkar di leher dan dadanya—namun auranya jauh lebih tenang dan dalam dari setahun yang lalu.
"Sinar matahari... ternyata masih sama." gumam Jian Yi pelan. Suaranya terdengar merdu, seolah mengandung getaran energi alam.
Jian Yi menatap Han yang gemetar. Ia melangkah mendekat dengan gerakan yang begitu ringan hingga kakinya seolah tidak menyentuh tanah. "Tenanglah, Pendekar Kecil. Aku tidak akan menyakitimu."
Han menelan ludah, terpaku oleh ketampanan dan wibawa pria di depannya. "A-apa Anda dewa penunggu gunung ini?"
Jian Yi terkekeh pelan. "Hanya seorang pengembara yang baru bangun tidur. Katakan padaku, sudah berapa lama sejak runtuhnya Keluarga Yuan? Dan apakah kau tahu kabar tentang sebuah tempat bernama Sekte Jian-Gi-Tu-Bo?"
Mendengar nama sekte itu, mata Han langsung berbinar. "Keluarga Yuan? Itu sudah satu tahun yang lalu, Tuan! Kabar tentang pembantaian itu masih menjadi legenda di kota. Dan Sekte Jian-Gi-Tu-Bo... siapa yang tidak tahu? Sekte itu sekarang menjadi pelindung utama di wilayah Barat!"
Jian Yi sedikit terkejut, namun senyum tulus merekah di wajahnya. "Ceritakan lebih banyak."
"Sekte itu tumbuh pesat, Tuan! Mereka sudah memiliki ratusan murid karena dikenal sangat adil dan hanya menerima orang-orang yang tertindas. Tiga pemimpin mereka—Tuan Coi Gi, Tuan Tuzhu, dan Tuan Jibo—sangat dihormati. Dan kabar burung yang paling hangat... istri-istri mereka semua sedang mengandung. Sekte itu sedang menyiapkan pesta besar untuk menyambut kelahiran generasi penerus mereka."
Jian Yi terdiam. Dadanya yang tadinya sering terasa perih akibat racun, kini terasa hangat oleh kebahagiaan yang murni.
Sahabat-sahabatnya tidak hanya bertahan hidup; mereka berkembang, membangun keluarga, dan mewujudkan mimpi mereka tentang hidup yang tenang dan berkecukupan.
"Kau dengar itu, Ling'er?" bisik Jian Yi dalam batinnya.
"Ya, ya, aku dengar. Manusia-manusia cengeng itu akhirnya menjadi bapak." sahut Ling'er. Meski suaranya tetap sinis, Jian Yi bisa merasakan pedangnya itu ikut bergetar senang. "Lalu, kau mau pulang? Menjadi paman bagi anak-anak mereka?"
Jian Yi menatap ke arah horizon, ke arah di mana rumahnya berada.
Ia sangat ingin memeluk mereka, tapi ia tahu tugasnya belum selesai.
Kekuatan Keluarga Yuan hanyalah lapisan luar dari dunia persilatan yang kejam.
Jika ia kembali sekarang, ia hanya akan menarik musuh yang lebih kuat ke tempat yang sudah damai itu.
"Tidak," jawab Jian Yi pelan. "Mereka sudah memiliki dunianya sendiri. Biarlah aku tetap menjadi legenda yang menjaga mereka dari kejauhan."
Jian Yi merogoh kantung kecil di pinggangnya, mengeluarkan sebuah kristal energi murni yang ia temukan di dalam gua, lalu melemparkannya ke arah Han yang masih terpana.
"Ini untuk tanaman herbalmu. Anggap saja upah atas kabar baik ini." ucap Jian Yi.
Sebelum Han sempat berterima kasih, Jian Yi sudah berbalik arah, berjalan menuju pegunungan yang lebih tinggi di Utara.
"Aku akan melanjutkan perjalanan, Ling'er. Mari kita cari cara untuk memberimu raga fisik yang tidak 'gemuk' itu." canda Jian Yi.
"KAU! Baru keluar gua sudah mulai mencari masalah ya!" seru Ling'er.
Jian Yi tertawa lepas, suara tawanya bergema di antara lembah pegunungan.
Ia melangkah pergi dengan hati yang ringan. Teman-temannya sudah bahagia, rumahnya aman, dan kini saatnya bagi Sang Grand Master untuk benar-benar menaklukkan dunia persilatan yang sebenarnya.