NovelToon NovelToon
Exclusive My Executor

Exclusive My Executor

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Mengubah Takdir
Popularitas:95
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

​Di dunia bawah yang kelam, nama Reggiano Herbert adalah eksekutor paling mematikan yang dikenal karena ketenangannya. Seorang pria yang akan memperbaiki kerah bajunya dan tidak mungkin menutup mata sebentar sebelum mengakhiri nyawa targetnya.

Baginya, hidup hanyalah rangkaian tugas yang dingin, hingga ia menemukan "Flower's Patiserie".

​Toko itu sangat berwarna-warni di tengah kota yang keras, tempat di mana aroma Strawberry Tart yang manis berpadu dengan keharuman mawar segar. Sang pemilik, Seraphine Florence, adalah wanita dengan senyum sehangat musim semi yang tidak mengetahui bahwa pelanggan setianya yang selalu berpakaian rapi dan bertutur kata manis itu baru saja mencuci noda darah dari jas abu-abunya sebelum mampir.

Tetapi, apakah itu benar-benar sebuah toko biasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# Bab 26: Final Harvest

Di lantai atas Flower’s Patisserie, Reggiano Herbert berdiri mematung di tengah kegelapan ruangan. Jam saku pemberian Caspian yang ia genggam tiba-tiba bergetar hebat, mengeluarkan pendar cahaya perak yang berdenyut seirama dengan kode morse dimensi. Detak jarumnya melambat, lalu berputar balik dengan cepat—sebuah sinyal bahwa Caspian telah berhasil membelokkan narasi di meja makan Aristhos.

"Dia berhasil," bisik Reggiano. Suaranya rendah, namun mengandung getaran predator yang siap dilepaskan.

Reggiano segera melangkah turun ke lantai bawah. Di sana, Seraphine sudah berdiri di tengah ruang tengah, dikelilingi oleh ribuan kelopak mawar putih yang melayang searah jarum jam, menciptakan pusaran energi murni yang menenangkan namun sangat padat.

"Nona Florence," panggil Reggiano. "Caspian telah mematikan sensor pemanggil jiwa. Aristhos sedang tertidur dalam dongeng palsu tentang Azure Core. Sekarang adalah waktunya."

Seraphine membuka matanya, kilatan hijau zamrud memancar kuat. "Aku merasakan celah itu, Tuan Herbert. Frekuensi hitam yang tadinya mencekik esensi Elena telah meredup. Tapi lili-lili itu tetap menjadi ancaman; mereka adalah sauh yang bisa ditarik kembali kapan saja jika Aristhos menyadari tipu daya Caspian."

Reggiano mendekat, menunjukkan koordinat yang diproyeksikan dari jam saku Caspian ke udara. "Saya akan masuk melalui pintu belakang Sektor Utama—jalur pembuangan limbah termal yang baru saja dibuka Caspian dari dalam. Tapi saya butuh Anda menghancurkan lili-lili itu dari sini. Jika saya masuk dan mereka masih ada, Aristhos bisa menggunakannya sebagai sandera energi."

Seraphine mengangguk, ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Pergilah, Penjaga. Aku akan mempersiapkan 'The Breath of Eden'. Aku akan mengirimkan badai serbuk sari suci melalui jalur astral untuk membakar lili hitam itu hingga ke akarnya. Namun ingat, serangan ini akan memicu alarm sistemik setelah dampaknya terasa. Anda hanya punya waktu singkat sebelum seluruh Sektor Utama berubah menjadi zona perang."

"Itu lebih dari cukup," jawab Reggiano. Ia meraih sabit emasnya, The Reaper’s Thorn, yang muncul dengan raungan energi yang membelah keheningan toko. "Caspian mempertaruhkan nyawanya dengan makan malam bersama iblis itu. Saya tidak akan membiarkan satu detik pun terbuang sia-sia."

Reggiano menatap Elena yang tertidur lelap di sofa dengan kalung pelindung yang bersinar lembut. Ia mencium kening adiknya sekilas, lalu berbalik menuju pintu belakang. "Nona Florence, hitungan mundur dimulai... sekarang."

Penyusupan di Jalur Pembuangan

Reggiano meluncur dalam kegelapan. Ia tidak menggunakan kendaraan; ia berlari dengan kecepatan manusia super melalui lorong-lorong bawah tanah kota, memanfaatkan akar-akar Yggdrasil yang merayap di bawah beton sebagai pemandu jalannya.

Tepat di koordinat yang dikirim Caspian, sebuah gerbang baja raksasa terbuka sedikit—hanya cukup untuk satu tubuh pria dewasa. Caspian telah meretas sistem hidroliknya dengan virus koin peraknya. Begitu Reggiano masuk, gerbang itu tertutup kembali dengan dentuman yang diredam oleh sihir pelenyap suara.

Reggiano berada di dalam pipa pembuangan besar. Suhu di sini mencapai 180°C, namun aura dingin dari sabitnya menciptakan perisai es tipis di sekitar tubuhnya.

"Caspian, kau benar-benar memilih jalur yang paling bau," gumam Reggiano sambil memanjat dinding pipa dengan kecepatan yang mustahil.

Tiba-tiba, suara Caspian terdengar melalui jam saku, terdengar sedikit terdistorsi oleh suara dentingan alat makan. "Reggi? Kau sudah di dalam? Maaf soal aromanya, tapi ini satu-satunya jalur yang tidak dijaga oleh sensor genetik karena mereka pikir tidak ada makhluk hidup yang mau merangkak di dalam limbah kimia mendidih. Ngomong-ngomong, Aristhos baru saja memesan pencuci mulut. Aku sedang mencoba meyakinkannya bahwa es krim rasa 'energi dimensi' adalah tren masa depan. Cepatlah, perutku sudah mulai mual karena terlalu banyak makan steak mahal ini!"

"Tetaplah bicara, Caspian. Jangan biarkan dia punya waktu untuk berpikir," jawab Reggiano sambil menendang sebuah jeruji besi hingga hancur. "Bagaimana kondisi di ruang lili?"

"Masih tenang. Asistennya sedang sibuk menganalisis 'sampel palsu' yang kuberikan. Tapi Seraphine harus bertindak cepat. Begitu lili itu layu, Aristhos akan merasakannya melalui koneksi neuralnya. Kau harus sudah berada di jantung laboratorium saat itu terjadi."

Serangan Pembersihan Jarak Jauh Seraphine

Kembali di toko roti, Seraphine Florence telah bertransformasi sepenuhnya menjadi perwujudan kekuatan alam. Tubuhnya melayang beberapa inci dari lantai, rambut peraknya berkibar seolah ditiup angin badai.

"Akar bertemu akar, cahaya bertemu bayangan," gumam Seraphine. "Wahai angin purba, bawalah pemurnian ini kepada mereka yang menodai sucinya bunga."

Ia menghentakkan tangannya ke lantai. Seketika, ribuan kelopak mawar putih yang melayang di sekitarnya menghilang, berubah menjadi partikel cahaya hijau yang melesat menembus realitas, mengikuti jalur energi yang ditinggalkan oleh Caspian.

Di Sektor Utama, di dalam ruangan kaca yang berisi ribuan lili hitam, suasana mendadak berubah. Partikel cahaya hijau mulai muncul dari udara kosong, jatuh seperti salju yang indah namun mematikan. Begitu partikel itu menyentuh kelopak lili hitam, terjadi reaksi berantai yang mengerikan.

Lili-lili itu menjerit—sebuah suara infrasonik yang hanya bisa didengar oleh para Penjaga. Cairan hitam yang keluar dari mereka mulai menguap menjadi asap putih murni. Bunga-bunga itu tidak hanya hancur; mereka terbakar oleh cahaya yang menghapus keberadaan mereka hingga ke tingkat molekuler.

Kejutan di Meja Makan

Di ruang makan pribadi, Aristhos tiba-tiba memegang dadanya. Wajahnya yang tenang berubah menjadi topeng kesakitan yang hebat. Matanya membelalak, menatap ke arah lorong laboratorium.

"Ada yang salah..." desis Aristhos. "Sensor jiwaku... mereka... mereka terbakar!"

Caspian, yang sedang asyik memutar-mutar gelas anggurnya, pura-pura terkejut. Ia menjatuhkan gelasnya hingga pecah berkeping-keping. "Waduh! Direktur! Kau baik-baik saja? Wajahmu berubah jadi hijau! Apa kau alergi terhadap pembicaraan tentang keuntungan besar?"

"Diam kau, Baron!" Aristhos berdiri, tangannya gemetar. "Sesuatu sedang menyerang laboratoriumku! Asisten! Lapor!"

Asisten itu masuk dengan panik. "Direktur! Ruangan kaca... bunga-bunga itu... mereka menghilang! Terbakar oleh energi eksternal yang tidak dikenal! Sistem pertahanan tidak bisa mendeteksi asalnya!"

Aristhos menoleh ke arah Caspian dengan tatapan yang bisa membunuh. "Kau... kau datang ke sini untuk mengalihkanku, bukan?"

Caspian berdiri perlahan, senyum nakalnya menghilang, digantikan oleh tatapan dingin yang selama ini ia sembunyikan di balik topeng Baron. Ia melepaskan kacamata hitamnya, memperlihatkan mata perak yang bersinar terang.

"Yah, makan malamnya memang lumayan, Aristhos," ucap Caspian sambil merapikan jas birunya. "Tapi kau tahu apa yang lebih enak dari steak ini? Melihat seluruh rencanamu hancur menjadi abu sementara kau sedang sibuk mendengarkan dongengku."

"KAU!" Aristhos mengangkat tangannya, bersiap memerintahkan penjaga untuk menembak.

"Tunggu dulu, Pak Tua," Caspian menjentikkan jarinya. Seketika, meja makan itu meledak dalam cahaya perak, menciptakan kabut dimensi yang membutakan seluruh ruangan. "Teman terbaikku baru saja sampai di depan pintumu. Dan percayalah, dia tidak datang untuk makan malam."

Pembantaian di Jantung Sektor Utama

Pintu laboratorium Proyek Reinkarnasi meledak ke dalam. Bukan karena bom, tapi karena satu tebasan horizontal yang begitu kuat hingga baja setebal satu meter itu terbelah menjadi dua bagian yang sempurna.

Reggiano Herbert melangkah masuk melalui asap dan sisa-sisa lili hitam yang sedang menguap. Sabitnya membara dengan api hijau yang meluap-luap, mencerminkan kemurnian Eden yang baru saja dikirim oleh Seraphine.

"Siapa kau?!" teriak para penjaga elit yang masih tersisa, mencoba menembakkan senapan laser mereka.

Reggiano tidak menjawab. Ia bergerak dalam satu jalur lurus—jalur kematian yang sudah menjadi ciri khasnya. Setiap ayunan sabitnya bukan hanya memotong tubuh, tapi juga mematikan semua sistem elektronik di sekitarnya.

"SAYATAN KETIGA: PEMBERSIHAN AKAR!"

Reggiano berputar, menciptakan badai sabit yang menghancurkan semua tangki cairan hitam di ruangan itu. Cairan yang tadinya beracun itu kini tidak lagi berbahaya karena energi Seraphine telah menetralkannya.

"Vauclain!" Reggiano melihat sosok asisten kepercayaan Aristhos yang mencoba lari menuju ruang kendali.

Dalam satu lompatan, Reggiano sudah berada di depan pria itu. Ia mencengkeram leher Vauclain dengan tangan mawarnya yang membara. "Di mana Aristhos?"

"Dia... dia di ruang makan... bersama Baron itu!" Vauclain terengah-engah dalam ketakutan. "Tolong... jangan bunuh aku! Aku hanya menjalankan perintah!"

Reggiano menatap Vauclain dengan dingin. "Perintah untuk membunuh anak kecil? Perintah untuk mencuri jiwa seorang ibu? Tidak ada pengampunan bagi mereka yang berjalan di atas jalur ini."

Reggiano menghempaskan Vauclain ke dinding hingga pingsan, lalu ia menatap ke arah langit-langit. Melalui indra Penjaganya, ia bisa merasakan energi Caspian yang sedang bertarung dengan penjaga di lantai atas.

"Caspian... Bajingan nekat itu memang gila," bisik Reggiano.

Ia menghantamkan sabitnya ke lantai, menghancurkan fondasi bangunan tersebut. Akar-akar raksasa dari bawah kota bangkit, menembus lantai-lantai Sektor Utama, menciptakan tangga darurat dari alam murni menuju ruang makan pribadi Aristhos.

Pertempuran Terakhir Telah Tiba.

Reggiano sedang naik menuju lantai atas, sementara Caspian sedang bertahan di tengah kabut dimensi melawan pasukan keamanan Aristhos. Laboratorium lili hitam telah musnah berkat Seraphine.

Kabut perak yang diciptakan Caspian mulai menipis, terkoyak oleh gelombang kejut dari armor bionik yang baru saja diaktifkan Aristhos. Di tengah kekacauan itu, Aristhos, yang kini terlihat seperti monster logam dengan kabel-kabel bercahaya merah yang menancap di punggungnya, mengarahkan meriam energi langsung ke arah jantung Reggiano yang baru saja muncul dari lubang lantai.

"Mati kau, Penjaga gagal!" geram Aristhos.

Sebuah kilatan laser hitam—energi negatif terkonsentrasi yang diambil dari sisa-sisa jiwa terakhir—melesat dengan kecepatan suara. Reggiano, yang baru saja mendarat, tidak sempat mengangkat sabitnya tepat waktu. Namun, sebelum maut menjemput, sebuah bayangan biru melintas di depannya.

CRACK!

Caspian berdiri di sana, kedua tangannya terentang, menciptakan perisai dimensi berlapis-lapis. Namun, serangan itu terlalu kuat. Perisai itu hancur seperti kaca, dan energi hitam itu menghantam bahu dan dada kiri Caspian, melemparnya ke dinding marmer hingga retak.

"Caspian!" Reggiano berteriak, suaranya parau.

Caspian jatuh berlutut, terbatuk darah berwarna perak yang berpendar redup. Jas birunya yang mahal kini sobek, memperlihatkan luka bakar hitam yang menjalar di kulitnya. Meski begitu, ia masih sempat menyeringai, jemarinya yang gemetar menjentikkan koin terakhirnya ke arah kaki Aristhos, menciptakan medan gravitasi kecil yang mengunci gerakan sang Direktur.

"Jangan... lihat aku dengan muka... sedih begitu, Herbert," bisik Caspian, suaranya parau namun masih mengandung nada sombong yang khas. "Jas ini... diskon 50 persen... aku masih bisa... menanganinya. Sekarang, cepat selesaikan... sebelum aku menagih biaya asuransiku padamu."

Melihat Caspian yang terluka parah demi melindunginya, sesuatu di dalam diri Reggiano Herbert meledak. Tekanan udara di ruangan itu mendadak jatuh ke titik nol. Mawar emas di lengan Reggiano mulai membara, bukan lagi dengan warna kuning emas, melainkan merah darah yang pekat.

Ini bukan lagi kemarahan seorang kakak yang melindungi adiknya. Ini adalah kemarahan "Eksekutor Exclusive" yang selama ini tertidur—sebuah entitas yang hanya mengenal satu kata: Pemusnahan.

"Aristhos," suara Reggiano bukan lagi suara manusia. Itu adalah paduan suara dari ribuan jiwa yang pernah ia tebas, bergema dengan otoritas mutlak. "Kau baru saja membuat kesalahan terbesar dalam ribuan tahun sejarah Sektor Utama."

Tanpa peringatan, Reggiano menghilang. Bukan dengan kecepatan, melainkan ia seolah terhapus dari realitas dan muncul tepat di depan Aristhos. Sabit The Reaper’s Thorn kini berubah bentuk; bilahnya memanjang, dibalut oleh api mawar yang hitam-merah.

"Tunggu! Jangan!" Aristhos mencoba menembakkan meriamnya lagi, namun Reggiano hanya menangkap laras meriam itu dengan tangan kosong—tangan yang kini ditumbuhi duri-duri mawar hitam yang menembus baja armor bionik itu seolah itu hanya kertas tisu.

"Tebasan ini," Reggiano mengangkat sabitnya tinggi-tinggi, aura di belakangnya membentuk bayangan malaikat maut bersayap mawar yang menutupi seluruh langit-langit ruangan. "Bukan untuk Elena. Bukan untuk ibuku. Tapi untuk setiap tetes darah perak yang kau tumpahkan dari temanku."

"EXCLUSIVE ART: FINAL HARVEST - SEPULCHRE OF THE BLACK ROSE!"

Seluruh ruangan itu mendadak dipenuhi oleh ribuan duri raksasa yang muncul dari lantai, menusuk armor Aristhos dari segala arah, menguncinya dalam posisi tersalib. Reggiano mengayunkan sabitnya dalam satu gerakan melingkar yang pelan namun pasti.

"TIDAAAAAK!" jerit Aristhos saat sabit itu melewati leher armornya.

Cahaya hitam meledak, menghancurkan seluruh lantai atas Sektor Utama. Saat debu mulai mengendap, Aristhos tergeletak tak berdaya, armor bioniknya hancur total, dan botol vakum berisi sisa jiwa yang ia agungkan telah pecah—jiwa itu kini terbang bebas, membentuk siluet samar seorang wanita yang tersenyum ke arah Reggiano sebelum menghilang menjadi cahaya murni.

Reggiano berdiri di tengah reruntuhan, sabitnya menghilang menjadi debu mawar. Ia segera berlari ke arah Caspian yang masih bersandar di dinding.

"Caspian! Bertahanlah!"

Caspian membuka satu matanya, menatap Reggiano yang kini kembali ke wujud manusianya. "Gaya bertarungmu... terlalu berlebihan, Herbert. Kau menghancurkan... botol anggur mahal di meja itu. Benar-benar... tidak elegan."

"Diamlah, bodoh," Reggiano merobek kain bajunya untuk menekan luka Caspian. "Seraphine sedang menuju ke sini melalui astral. Kau tidak akan mati hari ini."

Caspian terkekeh lemah, darah perak masih mengalir dari sudut bibirnya. "Tentu saja tidak. Aku belum... sempat pamer pada Seraphine... bagaimana aku membodohi Aristhos dengan Azure Core palsu itu. Itu... mahakaryaku."

Di kejauhan, sirine keamanan Sektor Utama mulai meraung, namun bagi kedua pria itu, perang malam ini telah usai. Di tengah puing-puing kekuasaan Aristhos yang runtuh, sang Eksekutor dan sang Pengelana Dimensi duduk berdampingan, menunggu fajar menyingsing di atas dunia yang kini sedikit lebih bersih.

Beberapa hari kemudian, di depan toko roti Flower’s Patisserie, Caspian Roosevelt terlihat duduk di kursi malas dengan perban yang melilit dada dan bahunya. Di tangannya ada sepotong besar kue tart buah buatan Seraphine.

"Reggi! Kue ini kurang manis!" teriak Caspian ke dalam toko.

Reggiano muncul dari balik pintu dengan nampan roti panas, menatap Caspian dengan tatapan datar yang biasanya. "Makan saja atau aku akan memberikan bagianmu pada kucing jalanan."

Elena berlari keluar, memeluk Caspian dengan hati-hati. "Terima kasih sudah menjaga Kak Reggi, Paman Caspian!"

Caspian tersedak kue tart-nya. "Paman?! Elena, aku ini Baron! Panggil aku Baron yang tampan!"

Seraphine tersenyum dari ambang pintu, menatap mereka bertiga. Meski Sektor Utama mungkin akan mengirimkan pengejar baru, namun untuk saat ini, di bawah sinar matahari pagi, mereka tahu bahwa mereka telah memenangkan lebih dari sekadar pertempuran—mereka telah memenangkan nya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!