Miranda menikah selama 2 tahun berbakti pada suami
membantu suami keluar dari kebangkrutan
sayang sekali setelah sukses suaminya selingkuh
bagaimana kehidupan miranda selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MIA 9
Setelah sampai di kamarnya, Miranda masih belum juga mengangkat telepon dari Joni, ayah kandungnya. Ponsel itu terus bergetar di tangannya, layar menyala lalu redup kembali.
Miranda ragu. Jarang sekali ayahnya menelepon. Setiap kali itu terjadi, hampir selalu berakhir dengan luka.
Dulu pernah sekali ia mengangkat panggilan itu dengan harapan sederhana. Namun yang ia terima justru bentakan. Ayahnya marah dan menuduh Miranda sengaja mengganggu urusannya.
Panggilan itu terus berdering. Pada deringan ketiga, Miranda akhirnya menekan tombol hijau.
“Kenapa lama sekali angkatnya?” suara Joni terdengar keras, penuh amarah.
“Saya tadi di kamar mandi,” bohong Miranda pelan.
“Tolong hubungkan Ayah dengan Pak Karman Wijaya. Ayah punya urusan bisnis dengan dia,” ujar Joni cepat, tanpa basa basi.
Miranda terdiam. Dalam hatinya ia tersenyum pahit. Rupanya saat butuh saja ayah mengingat keberadaannya.
“Maaf, Yah. Sudah tiga bulan aku berhenti bekerja. Aku tidak berhubungan lagi dengan dunia usaha,” jawabnya lirih.
Hening sejenak.
“Kamu seharusnya tetap bekerja di sana supaya bisa mengarahkan beberapa proyek keluarga Sanjaya ke keluarga Sukmana,” kata Joni memberi perintah.
Miranda menghela napas panjang. Ia ingin sekali didengar sebagai anak, bukan sebagai alat. Ia ingin sekali mendengar pertanyaan sederhana.
Anakku, kamu baik baik saja.
Kamu sehat.
Kamu bahagia atau tidak.
Pertanyaan pertanyaan itu terasa sangat mahal baginya.
“Miranda,” suara ayahnya meninggi, membuyarkan lamunannya.
“Iya, Yah?” jawab Miranda pelan.
“Ayah tahu kamu punya hubungan baik dengan Karman Wijaya. Tolong hubungkan Ayah dengannya. Kalau berhasil, Ayah janji akan memperbaiki hubunganmu dengan keluarga Sukmana,” ucap Joni.
Miranda tersenyum getir.
“Maaf, Yah. Miranda tidak bisa. Yang punya akses ke Pak Karman Wijaya itu Rizki, suami Miranda,” katanya jujur.
“Ya sudah, kamu bujuk suamimu supaya mau membantu Ayah.”
Miranda merasa lelah. Dengan suara singkat ia menjawab, “Baiklah, Yah. Nanti aku coba.”
“Bagus. Ayah tunggu kabarnya. Jangan terlalu terburu buru, nanti Rizki marah.”
Telepon pun terputus.
Miranda menatap layar ponselnya lama. Dadanya terasa kosong, seolah ada lubang besar di sana. Perlahan ia mengangkat kepala, menoleh ke arah jam dinding yang tergantung di atas lemari. Jarumnya sudah menunjuk pukul lima sore.
Waktu terasa berjalan terlalu cepat.
Miranda kembali meraih ponselnya. Jemarinya membuka daftar kontak, berhenti pada satu nama yang paling sering membuat dadanya sesak.
Rizki.
Ia tidak ingin kembali disalahkan seperti kemarin. Ia harus menelepon, harus menanyakan kapan suaminya pulang. Ia tidak mau dianggap istri yang tidak peduli.
Miranda menekan tombol panggil.
Dering pertama.
Kedua.
Ketiga.
Nada panggilan terputus. Tidak diangkat.
Ia mencoba lagi. Hasilnya sama. Ponsel itu jelas aktif, tetapi Rizki memilih diam.
Miranda menarik napas dalam. Ia tidak menyerah. Ia tidak mau disalahkan. Ia kembali menelepon, berkali kali, sampai jemarinya terasa pegal. Tetap tidak ada jawaban.
Akhirnya ia membuka pesan.
Miranda: Mas, kapan kamu pulang?
Pesan langsung terkirim. Centang biru muncul. Artinya sudah dibaca. Namun tidak ada balasan. Status tertulis online.
Dadanya semakin terasa panas.
Ia mengetik lagi.
Miranda: Mas pulang jam berapa? Meeting tidak?
Tidak ada jawaban.
Miranda mengirim pesan yang sama, lagi dan lagi, sampai deretan pesannya memenuhi layar ponsel. Ia tidak peduli terlihat berisik. Ia hanya ingin satu hal, jawaban.
Beberapa menit kemudian, akhirnya ada balasan.
Bukan teks.
Sebuah gambar.
Miranda membukanya. Sebuah foto pintu toilet.
Jantungnya seakan berhenti.
Ia mengenal ruangan itu. Itu toilet di kantor Rizki.
Dan ia tahu betul, ponsel itu sedang tidak dipegang oleh suaminya.
Dan hanya satu orang yang miranda yakini kalau ponsel Rizki dipegang oleh saras
Dan tentu saja dada Miranda semakin sesak, semakin panas, keyakinannya kalau Saras selingkuh dengan rizki semakin kuat.
Kalau ponsel itu di tangan Rizki, ia pasti akan membalas, walau dengan marah. Rizki selalu benci diteror. Dan bagi Miranda, lebih baik dimarahi daripada diabaikan. Setidaknya amarah adalah tanda bahwa ia masih dianggap ada.
Miranda kembali menelepon.
Satu kali.
Dua kali.
Lima kali.
Sepuluh kali.
Sampai panggilan keenam belas, akhirnya tersambung.
“Miranda, kenapa kamu ganggu terus? Aku lagi meeting,” suara Rizki terdengar kesal.
Belum sempat Miranda menjawab, sambungan langsung terputus.
Ia mencoba menelepon lagi. Kali ini tidak berdering. Hanya tulisan memanggil.
Ponsel itu sudah dimatikan.
Miranda menatap layar dengan mata berkaca.
“Meeting?” gumamnya lirih. “Meeting apa menjelang magrib?”
“Dasar pembohong” gerutu Miranda “kamu pasti lagi meating sama saraskan. Meating di kamar mandi”
Ah membanyangkannya saja miranda merasa bergidik ngeri
Miranda kesal kemudian keluar kamarnya,
Diruang tengah tampak nadia sedang mengobrol santai dengan ayah mertuanya, bahkan dengan ayah mertuanya saja nadia tampak tidak gugup apalagi takut
Miranda hendak melangkah ke dapur ketika suara Anton menghentikannya.
“Miranda, kemari,” panggil Anton datar.
Miranda membalikkan badan, melangkah pelan ke arah sofa, lalu duduk berhadapan dengan ayah mertuanya itu.
“Miranda, ini Nadia. Dia akan mengurus Amora dari pagi sampai sore. Malamnya dia harus kuliah,” ujar Anton dengan suara lembut.
“Oh, kalau begitu untuk malam bagian aku ya, Yah,” sahut Miranda tulus.
Sekejap, wajah Anton yang tadi cerah mendadak berubah dingin, seperti diselimuti kabut kelabu.
“Kamu ini menantuku. Kenapa kesannya kamu seperti pembantu? Aku tahu kamu pasti terpaksa mengurus Amora,” ucap Anton tajam.
Miranda menelan ludah. “Aku tidak merasa jadi pembantu, Yah. Dan aku tidak merasa terbebani. Ayah tahu sendiri, sejak Amora lahir aku yang mengurusnya. Aku senang dan ikhlas.”
“Kalau kamu benar benar ikhlas, mana mungkin Raka mencari pengasuh lagi,” balas Anton kesal.
Miranda hendak membela diri, tetapi Anton mengangkat tangan, memberi isyarat agar ia diam. Miranda terpaksa menunduk. Dadanya perih. Teguran itu melukai harga dirinya, apalagi di depan orang baru.
“Jadi wanita itu harus seperti Nadia,” lanjut Anton tanpa ragu. “Cantik, pekerja keras, berpendidikan tinggi, tidak gengsi. Seharusnya yang jadi menantu keluarga Sanjaya itu seperti…”
“Maaf, Pak, saya harus segera pulang,” potong Nadia halus sambil menoleh ke jam tangannya. “Jam tujuh saya ada kelas.”
Anton terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. “Baiklah. Hati hati di jalan. Jangan lupa besok datang.”
Miranda memahami maksud ucapan Anton. Menantu keluarga Sanjaya seharusnya perempuan berpendidikan tinggi, bukan dirinya yang tak pernah mencicipi bangku sekolah formal.
Padahal, tanpa dirinya, perusahaan Sanjaya Grup tidak mungkin keluar dari krisis.
Nadia pergi.
Tak lama kemudian, Saras datang seorang diri.
Miranda tertegun.
Perjalanan dari kantor Rizki ke rumah saat jam pulang kerja biasanya memakan waktu satu jam.
Dua puluh menit lalu, Miranda baru saja menyimpulkan bahwa Rizki sedang bersama Saras.
Namun sekarang, Saras sudah berdiri di hadapannya.
Jantung Miranda berdegup kencang.
Kalau Saras sudah pulang.
Lalu… dengan siapa Rizki tadi?