NovelToon NovelToon
HATI EMAS

HATI EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

Seorang wanita dari abad ke-21, dikenal sebagai President's Shadow-pemimpin tertinggi dunia gelap dan mafia internasional-terbangun setelah kecelakaan kecil. Bukan di rumah sakit modern, melainkan di dunia yang sangat asing: dunia sebuah buku yang sering dibaca oleh sahabatnya.
Ia kini hidup sebagai Anthenia Blackwood, putri tunggal Duke Blackwood-gadis bangsawan yang dulu dikenal lembut, ceria, penakut, dan mudah gemetar di hadapan siapa pun. Namun jiwa di dalam tubuh itu telah berubah.

Di balik wajah tenangnya, Anthenia kini menyimpan:

• kecerdasan strategi,
• naluri pembunuh,
• dan mental baja seorang pemimpin dunia gelap.

Sang ayah, Duke Kaelen Blackwood, terkenal kejam dan tak kenal ampun pada musuh, namun berubah sepenuhnya saat bersama putrinya. Tak seorang pun berani menyentuh Anthenia-hingga Permaisuri Lunara Aurelius melihat gadis itu sekilas dan langsung menginginkannya sebagai menantu kekaisaran.

Calon suaminya adalah William Whiston, Putra Mahkota Kekaisaran Aurelius-p

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. Echoes of the Grey River

Istana Araluen diselimuti kesunyian yang tidak wajar.

Aula Dewan Perang terbuka, dan seorang utusan berlutut dengan pakaian berdebu—segel Blackwood masih tergenggam erat di tangannya.

“Laporkan,” perintah Kaisar Whiston, suaranya berat dan tak memberi ruang ragu.

“Pos Sungai Grey diserang,” ujar sang utusan.

“Namun ancaman telah dipatahkan. Lady Anthenia Blackwood memimpin langsung inspeksi dan perlawanan.”

Beberapa bangsawan terkejut. Beberapa lainnya saling pandang.

“Korban?” tanya Kaisar.

“Minimal dari pihak Blackwood. Penyerang adalah pasukan bayaran. Indikasi kuat… Valerius.”

Udara di ruangan mengeras.

Permaisuri Lunara menyipitkan mata. “Berani sekali.”

Di sisi kanan aula, William Whiston berdiri dengan tangan bersedekap. Sejak awal laporan, ekspresinya tidak berubah—namun sorot matanya tajam, penuh perhitungan.

“Lady Anthenia memimpin sendiri?” tanyanya.

“Ya, Yang Mulia Putra Mahkota.”

William terdiam sesaat.

“Tanpa pasukan besar,” lanjut utusan itu. “Keputusan cepat. Formasi efisien.”

Kaisar menatap putranya. “Seperti laporan seorang panglima.”

William mengangguk pelan. “Atau seseorang yang terbiasa membaca medan hidup dan mati.”

Di sudut aula lain, Alistair Valerius menundukkan kepala dengan sikap sempurna—terlalu sempurna.

Namun di balik senyum tipisnya, pikirannya berputar cepat.

Gagal…

Bukan hanya gagal—dia selamat.

Ia melirik ibunya, Heilen Valerius.

Wajah sang selir tetap tenang, namun jari-jarinya mencengkeram kain gaun terlalu erat.

Anthenia Blackwood seharusnya hanya simbol, pikir Heilen.

Bukan pemain.

“Blackwood menuntut apa?” tanya Kaisar akhirnya.

Utusan itu mengangkat kepala.

“Tidak ada, Yang Mulia.”

Ruangan terdiam.

“Hanya laporan. Dan permintaan waktu untuk membangun ulang pos dengan pengawasan wilayah.”

Kaisar terkekeh pelan. “Tidak menuntut ganti rugi? Tidak meminta bala bantuan?”

Permaisuri tersenyum tipis. “Karena dia tahu, Yang Mulia. Meminta sekarang berarti membuka leher.”

William menatap lantai marmer, lalu berkata pelan namun jelas:

“Dia memilih menunjukkan kemampuan, bukan memohon perlindungan.”

Kaisar menatap putranya lama.

“Pendapatmu?”

William mengangkat kepala. “Blackwood bukan ancaman. Tapi juga bukan wilayah yang bisa ditekan.”

Ia berhenti sejenak.

“Dan Anthenia… bukan gadis biasa.”

Sementara itu, di sayap timur istana, Nelia Whiston berlari kecil menyusuri lorong, rambutnya bergoyang lembut.

“Kak Liam!” serunya ceria.

William menoleh, ekspresinya melunak seketika. “Ada apa?”

Nelia mendekat, matanya berbinar. “Aku dengar tentang Lady Blackwood. Dia hebat sekali! Benar-benar seperti cerita ksatria!”

William terdiam sejenak, lalu tersenyum samar.

“Ya,” jawabnya. “Dia… berbeda.”

Nelia memiringkan kepala. “Kau menyukainya?”

William tidak langsung menjawab.

“Aku menghormatinya,” katanya akhirnya.

“Dan itu lebih berbahaya daripada sekadar suka.”

Di kediaman Valerius malam itu, Heilen menutup pintu dengan keras.

“Tarik semua orang,” perintahnya dingin.

“Jangan sentuh Blackwood lagi—untuk sekarang.”

Alistair mengerutkan kening. “Ibu—”

“Kita meremehkannya,” potong Heilen. “Dan kesalahan itu hampir terlihat.”

Ia menatap putranya tajam.

“Jika kau ingin tahta, Alistair…

jangan lawan serigala di wilayahnya sendiri.”

Jauh di utara, di Benteng Blackwood.

Anthenia berdiri di balkon, angin malam menyapu wajahnya. Api dari pos Sungai Grey masih membara di kejauhan—tanda awal, bukan akhir.

“Araluen akan mendengar,” gumamnya.

Dan untuk pertama kalinya sejak tiba di dunia ini,

ia tersenyum kecil.

....

Malam merayap turun di Araluen, namun istana belum benar-benar beristirahat.

Di ruang kerja Kaisar, hanya ada empat orang:

Kaisar Whiston, Permaisuri Lunara, William, dan Penasehat Kiel de Courcy.

Peta kekaisaran terbentang di meja batu.

“Blackwood membakar posnya sendiri,” ujar Kiel perlahan. “Tindakan ekstrem.”

“Strategis,” koreksi Lunara tenang. “Ia menghapus jejak, sekaligus mengirim pesan.”

Kaisar menyilangkan tangan. “Pesan apa?”

Lunara menatap wilayah utara di peta.

“Bahwa Blackwood tidak menunggu izin untuk bertindak.”

Kaisar terdiam sejenak, lalu menoleh pada William.

“Kau pernah bertarung melawan panglima yang seperti itu?”

William mengangguk pelan. “Ya. Dan mereka selalu berbahaya.”

“Karena kekuatan?” tanya Kaisar.

“Karena mereka tahu kapan harus berhenti,” jawab William.

“Dan Anthenia Blackwood tahu itu.”

Kiel membersihkan tenggorokannya. “Jika boleh menyarankan, Yang Mulia… istana perlu menunjukkan respons. Diam terlalu lama akan dibaca sebagai keraguan.”

Kaisar mengetuk meja sekali.

“Kita tidak menekan Blackwood. Belum.”

Ia menoleh pada putranya.

“William. Kau akan pergi ke utara.”

William mendongak. “Sendiri?”

“Sebagai Putra Mahkota,” lanjut Kaisar. “Kunjungan kehormatan. Tidak membawa pasukan besar.”

Lunara tersenyum samar. “Dan kau akan melihatnya langsung.”

William tidak menolak.

“Baik, Ayah.”

Di sayap permaisuri, Nelia duduk di tepi jendela, memeluk boneka kain kecil—hadiah lama dari William.

“Kak Liam akan pergi lagi?” tanyanya pelan.

William berlutut di depannya. “Hanya sebentar.”

Nelia mengerucutkan bibir. “Ke utara?”

William terkejut ringan. “Siapa yang bilang?”

“Semua orang berbisik,” jawab Nelia polos. “Tentang Lady Blackwood.”

Ia tersenyum kecil. “Aku ingin bertemu dengannya suatu hari.”

William mengusap kepala adiknya. “Mungkin. Suatu hari.”

Namun dalam hatinya, ia tahu:

pertemuan itu akan terjadi lebih cepat dari yang siapa pun kira.

Sementara itu, di kediaman selir Valerius.

Heilen duduk diam, menatap lilin yang hampir habis. Api kecil itu bergetar—seperti rencananya.

“Kaisar mengirim William,” ucap Alistair pelan.

Heilen tidak langsung menjawab.

“Bagus,” katanya akhirnya.

“Jika Blackwood lolos dari pedang… mari kita lihat apakah ia lolos dari tatapan Putra Mahkota.”

Alistair tersenyum tipis. “Dan jika William justru melindunginya?”

Heilen memadamkan lilin dengan jari.

“Maka permainan berubah,” bisiknya.

“Dan kita harus bermain lebih kotor.”

Di Benteng Blackwood, Anthenia menerima laporan terakhir hari itu.

“Utusan dari Araluen,” ujar Rhea. “Tidak resmi. Tapi… Putra Mahkota akan berkunjung.”

Anthenia mengangguk, wajahnya tak menunjukkan emosi.

“Persiapkan benteng,” katanya. “Bukan untuk perang.”

Rhea mengernyit. “Lalu untuk apa?”

Anthenia menatap ke arah selatan—ke arah Araluen.

“Untuk perkenalan,” jawabnya pelan.

“Dan untuk memastikan… siapa yang berdiri di mana.”

Angin utara berhembus dingin.

Dan dua kekuatan yang selama ini saling mengamati,

akhirnya bergerak menuju satu titik yang sama.

Rombongan Putra Mahkota berangkat saat fajar.

Tidak ada panji besar. Tidak ada terompet.

Hanya lambang kecil Aurelius tersemat di mantel William—cukup untuk dikenali, cukup untuk tidak menantang.

Kuda-kuda melaju di jalur utara, melewati hutan pinus dan lembah berbatu. Wilayah Blackwood terasa berbeda sejak awal: sunyi, tapi waspada.

“Wilayah ini terlatih,” ujar salah satu pengawal William. “Tidak terlihat pasukan, tapi aku merasa diawasi.”

William mengangguk. “Karena memang begitu.”

Ia menatap jejak roda di tanah—rapi, teratur. Logistik bergerak tanpa panik. Tidak ada tanda wilayah yang tertekan.

Anthenia Blackwood…

bukan hanya bertahan. Dia mengatur.

Menjelang senja, rombongan berhenti di pos peristirahatan kecil.

Seorang penjaga wilayah mendekat, memberi hormat dengan satu kepalan di dada—bukan gaya istana.

“Putra Mahkota,” katanya tenang. “Benteng Blackwood sudah diberi kabar. Lady Anthenia menunggu esok pagi.”

William mengamati pria itu. Sikapnya lurus, tidak gugup.

“Tidak ada pengawalan tambahan?” tanya William.

“Tidak diperlukan,” jawab penjaga itu. “Wilayah ini aman.”

Bukan sombong.

Fakta.

Malam itu, William tidak segera tidur.

Ia berdiri di luar tenda, menatap bintang-bintang yang tampak lebih dekat di utara. Angin dingin membawa aroma besi dan kayu—bau benteng tua.

“Kau gelisah,” suara pelan terdengar di belakangnya.

William menoleh. Komandan pengawalnya, Sir Aldren, berdiri dengan tangan di belakang punggung.

“Blackwood tidak seperti yang dibicarakan di istana,” kata William.

Aldren tersenyum tipis. “Yang Mulia berharap menemukan apa?”

William terdiam sejenak.

“Aku tidak tahu,” jawabnya jujur.

“Tapi aku merasa… jika salah melangkah, aku tidak sedang berbicara dengan bangsawan.”

“Melainkan?” tanya Aldren.

“Dengan seseorang yang setara di medan perang,” jawab William pelan.

Di Benteng Blackwood, malam juga belum membawa tidur.

Anthenia berdiri di ruang strategi, mengenakan pakaian hitam sederhana. Rambutnya diikat rapi—bukan untuk jamuan, bukan untuk pamer.

“Putra Mahkota tiba besok,” ujar Rhea.

“Aku tahu.”

“Wilayah siap. Tapi… bagaimana sikapmu?”

Anthenia menggeser bidak kecil di peta—dari Araluen ke utara.

“Aku tidak menyambutnya sebagai calon,” katanya datar.

“Dan tidak pula sebagai musuh.”

Rhea mengangguk pelan. “Lalu sebagai apa?”

Anthenia berhenti.

“Sebagai pengamat,” jawabnya.

“Dan aku akan melihat… apa dia datang sebagai kaisar masa depan, atau hanya pewaris mahkota.”

Jauh di Araluen, Heilen Valerius menerima kabar keberangkatan William.

Ia tersenyum tipis—terlalu tenang.

“Biarkan mereka bertemu,” katanya pelan.

“Kadang dua bilah pedang tidak perlu saling menebas… cukup saling mengenali.”

Alistair menyipitkan mata. “Dan jika mereka berpihak?”

Heilen menatap api lilin.

“Maka kita pastikan dunia tidak memberi mereka waktu.”

Fajar menyingsing di utara.

Benteng Blackwood berdiri kokoh di balik kabut—hitam, tua, dan tak tunduk.

Dan di antara batu-batu itu,

dua sosok yang akan mengubah keseimbangan kekaisaran

bersiap untuk pertemuan pertama mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!