NovelToon NovelToon
SUKSES BERKAT DUKUNGAN ANAK ANAK

SUKSES BERKAT DUKUNGAN ANAK ANAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna / Duda
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Ketika dunia seolah runtuh di sekelilingnya, hanya cinta anak-anak yang bisa membangunnya kembali.

Rian baru saja di-PHK ketika rumah tangganya yang sudah berjalan 7 tahun hancur berkeping-keping. Dituduh selingkuh oleh istri, Novi, dan dipermalukan oleh keluarga besarnya, ia tidak punya pilihan selain kembali ke kampung halaman dengan membawa dua anaknya – Hadian dan Alea. Kedua anak itu dengan tegas memilih mengikuti ayahnya, bahkan menolak untuk bertemu dengan ibunda kandung mereka yang kini sudah hidup dengan orang lain.

Di rumah panggung peninggalan orangtuanya, Rian memulai dari nol. Dengan tangan yang terlatih bekerja keras dan dukungan tak lekang dari kedua anaknya, ia mengolah lahan pertanian, membuka peternakan, hingga akhirnya mendirikan perusahaan dan restoran yang sukses.

Setiap langkah kemajuan yang diraihnya tak pernah lepas dari kehadiran Hadian dan Alea. Ketika pertemuan tak terduga dengan Novi dan keluarga barunya terjadi berkali-kali, anak-anak itu tetap berdir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. KEDATANGAN KELUARGA NOVI

Matahari pagi menerobos tirai jendela dengan terang yang menyilaukan, namun suasana di dalam rumah terasa sejuk dan penuh ketegangan. Alea baru saja pulang dari rumah sakit dua hari yang lalu dan masih dalam masa pemulihan, berbaring lemah di kasurnya sambil bermain dengan boneka Kiki yang sudah dicuci bersih. Hadian sedang duduk di sebelahnya, membacakan buku cerita dengan suara lembut agar adiknya tidak merasa bosan.

Rian sedang membersihkan halaman depan rumah ketika melihat sebuah mobil motor dengan jok tiga datang mendekat. Dari atasnya turun Kakak Wati beserta seorang wanita berusia sekitar lima puluhan tahun dengan wajah yang tegas – ibu Novi, Bu Minah. Kedua wanita itu berjalan dengan langkah yang cepat menuju rumah, ekspresi wajah mereka tidak bisa lebih jelas menunjukkan bahwa mereka datang dengan tujuan tertentu.

“Rian, ada yang ingin kami bicarakan denganmu,” ujar Kakak Wati dengan suara yang rendah namun penuh dengan ketegangan setelah memasuki rumah. Bu Minah hanya menatap Rian dengan tatapan yang penuh dengan kekhawatiran dan sedikit kemarahan, tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Rian segera menyusun ekspresinya menjadi lebih tenang, menyuruh Hadian untuk membawa Alea masuk kamar agar tidak mengganggu pembicaraan mereka. Setelah anak-anak masuk, dia mengajak kedua tamunya duduk di ruang tamu sebelum berdiri di depan mereka dengan sikap yang sopan namun tetap tegap.

“Bu Minah, Kakak Wati, maafkan saya jika ada yang kurang berkenan,” ujar Rian dengan suara yang sopan. “Apa yang bisa saya bantu?”

Bu Minah akhirnya membuka mulut dengan nada yang penuh dengan kesedihan dan kemarahan. “Kita sudah mendengar tentang semua kesusahan yang kamu alami, Rian,” ujarnya dengan suara yang jelas dan tegas. “Novi sudah memberitahu kami tentang PHK yang kamu terima, kesulitanmu mencari pekerjaan baru, dan bahkan tentang kondisi Alea yang baru saja sakit parah karena tidak mendapatkan perawatan yang tepat waktu!”

Rian merasa wajahnya menjadi panas akibat rasa malu dan sakit hati. Dia mengangguk perlahan tanpa bisa berkata apa-apa, mengetahui bahwa tuduhan yang dilontarkan oleh ibu mertuanya memang memiliki benarnya.

“Kamu adalah kepala keluarga, Rian!” lanjut Bu Minah dengan suara yang semakin meninggi. “Kamu memiliki tanggung jawab untuk memberikan kehidupan yang layak bagi istri dan anak-anakmu! Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu hanya bisa berdiam diri dan menerima segala kesusahan yang datang padamu tanpa berusaha keras untuk mengubahnya!”

“Bu Minah, tolong jangan begitu keras pada Rian,” ujar Kakak Wati dengan suara yang lebih lembut namun tetap menunjukkan dukungannya pada ibu kandungnya. “Kita tahu bahwa dia sedang mengalami kesulitan yang sangat besar. Tapi kita juga tidak bisa tinggal diam melihat Novi dan cucu-cucu kita menderita karena tidak ada penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka!”

Rian merasa tubuhnya menjadi kaku mendengar kata-kata mereka. Dia tahu bahwa mereka datang bukan hanya untuk memberikan nasihat, tapi juga untuk memberikan peringatan yang jelas tentang masa depan hubungan dirinya dengan Novi dan anak-anak mereka.

“Kita sudah membicarakan ini dengan hati-hati, Rian,” ujar Bu Minah dengan suara yang sudah mulai sedikit menurun namun tetap tegas. “Kita tidak ingin memisahkan kamu dari Novi dan anak-anakmu. Namun kita juga tidak bisa melihat mereka terus menderita karena kamu tidak bisa memenuhi tanggung jawabmu sebagai suami dan ayah!”

“Apa yang ingin Bu Minah katakan?” tanya Rian dengan suara yang lemah namun tetap jelas. Dia sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan oleh ibu mertuanya, namun dia tetap ingin mendengarnya dengan jelas agar dia bisa mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

“Kamu punya waktu satu bulan saja, Rian!” ujar Bu Minah dengan suara yang penuh dengan tekad. “Dalam waktu satu bulan dari sekarang, kamu harus bisa mendapatkan pekerjaan yang stabil dengan penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga kamu. Atau jika kamu tidak bisa melakukannya, kamu harus mengakhiri hubunganmu dengan Novi dan menyerahkan hak asuh anak-anak kepada kami!”

Rian merasa seperti ada pukulan yang sangat kuat mengenai hatinya. Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk dalam dan membuatnya merasa sangat tidak berharga sebagai pria dan ayah. Dia melihat ke arah Kakak Wati yang hanya bisa memberikan pandangan yang penuh rasa iba kepadanya, tidak bisa berkata apa-apa untuk membela dirinya.

“Tapi Bu Minah, mencari pekerjaan tidak semudah itu,” ujar Rian dengan suara yang bergetar. “Saya sudah mengirimkan puluhan surat lamaran dan mencari pekerjaan harian setiap hari, tapi kesempatan yang saya dapatkan sangat terbatas. Saya sudah melakukan yang terbaik untuk keluarga saya!”

“Yang terbaik belum cukup, Rian!” balik Bu Minah dengan nada yang penuh dengan kecewa. “Kita tidak ingin melihat cucu-cucu kita tumbuh dalam kesusahan dan tidak mendapatkan pendidikan serta perawatan yang layak! Jika kamu benar-benar mencintai mereka, kamu akan menemukan cara untuk memberikan kehidupan yang baik bagi mereka. Atau jika kamu tidak bisa melakukannya, kamu harus memiliki hati yang cukup besar untuk melepaskan mereka agar mereka bisa hidup lebih baik!”

Rian terdiam sejenak mendengar kata-kata itu. Dia tahu bahwa Bu Minah dan Kakak Wati datang dengan niat yang baik dan hanya ingin kebaikan bagi Novi serta anak-anak mereka. Namun kata-kata mereka tetap saja menyakitkan hati dan membuatnya merasa sangat tertekan.

“Saya akan melakukan yang terbaik untuk memenuhi permintaan Bu Minah,” ujar Rian dengan suara yang penuh dengan tekad setelah beberapa saat terdiam. “Saya tidak akan menyerah begitu saja dan akan melakukan segala yang bisa saya lakukan untuk mendapatkan pekerjaan yang stabil dalam waktu satu bulan. Namun saya juga ingin meminta Bu Minah untuk tidak memaksakan Novi untuk membuat keputusan yang sulit sebelum waktu yang telah ditentukan tiba. Saya mencintai Novi dan anak-anak saya dengan sepenuh hati, dan saya tidak akan pernah menyerah pada mereka begitu saja!”

Bu Minah mengangguk perlahan dengan ekspresi wajah yang masih tetap tegas. “Kita akan menunggu selama satu bulan, Rian,” ujarnya dengan suara yang lebih tenang. “Tetapi kamu harus ingat bahwa waktu yang kita berikan tidak akan bisa diperpanjang lagi. Kami tidak ingin melihat Novi dan cucu-cucu kita terus menderita karena kesalahanmu yang tidak bisa menjaga pekerjaan dan menghasilkan uang yang cukup untuk keluarga kamu!”

Setelah itu, Kakak Wati berdiri dan mendekat ke arah Rian dengan wajah yang penuh dengan rasa iba. “Saya akan mencoba membantu kamu sebanyak mungkin, Rian,” ujarnya dengan suara yang lembut. “Saya akan mencari informasi tentang lowongan pekerjaan dan bahkan bisa memberikan pekerjaan sambilan tambahan untukmu jika ada kesempatan. Namun kamu juga harus benar-benar bekerja keras dan tidak bisa menyerah begitu saja!”

Rian merasa sangat terima kasih mendengar kata-kata Kakak Wati. Dia mengangguk dengan penuh rasa terima kasih dan berjanji bahwa dia akan memanfaatkan setiap kesempatan yang diberikan kepadanya dengan sebaik-baiknya.

Setelah Bu Minah dan Kakak Wati pergi, Rian merasa tubuhnya menjadi sangat lelah dan berat. Dia masuk kamar dan melihat Novi sedang merawat Alea dengan penuh kasih, sambil mendengarkan cerita dari Hadian tentang kegiatan di sekolahnya. Ketika Novi melihatnya masuk dengan wajah yang penuh dengan kesedihan dan kelelahan, dia langsung tahu bahwa ada sesuatu yang tidak baik yang telah terjadi.

“Siapa yang datang tadi, Sayang?” tanya Novi dengan suara yang lembut setelah Hadian keluar kamar untuk mengambil air minum bagi Alea.

“Kakak Wati dan Bu Minah datang mengunjungi kita,” jawab Rian dengan suara yang lemah, duduk bersebelahan dengan istri di sisi ranjang Alea yang sudah mulai tertidur pulas. Dia kemudian memberitahu Novi tentang semua yang telah dikatakan oleh ibu mertuanya dan Kakak Wati, termasuk pemberitahuan tentang batas waktu satu bulan yang diberikan kepadanya untuk mendapatkan pekerjaan yang stabil atau harus mengakhiri hubungan mereka.

Novi menangis pelan mendengar itu. Dia mengambil tangan suaminya dengan lembut dan berkata, “Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Sayang. Aku mencintaimu dengan sepenuh hati dan aku tahu bahwa kamu sudah melakukan yang terbaik untuk keluarga kita. Kita akan melalui ini bersama-sama dan menemukan cara untuk membuktikan kepada keluarga ku bahwa kita bisa hidup dengan baik sebagai keluarga yang utuh!”

Rian merasa mataharinya berkaca-kaca mendengar kata-kata istri yang penuh dengan cinta dan dukungan. Dia membungkus Novi dengan pelukan yang erat dan berkata, “Aku tidak akan pernah menyerah, Sayang. Aku akan melakukan segala yang bisa aku lakukan untuk mendapatkan pekerjaan yang stabil dan memberikan kehidupan yang layak bagi kamu dan anak-anak kita. Aku tidak akan pernah membiarkan kamu dan anak-anak kita dipisahkan dariku!”

Mereka saling memeluk erat di sisi ranjang Alea yang sedang tidur pulas, mencari rasa aman dan kekuatan satu sama lain di tengah kegelapan ketidakpastian yang menyelimuti kehidupan mereka saat ini. Mereka tahu bahwa jalan yang akan ditempuh tidak akan mudah dan mereka akan menghadapi banyak tantangan di masa depan. Namun mereka juga merasa bahwa dengan cinta dan dukungan satu sama lain, mereka pasti akan bisa mengatasi segala rintangan yang ada dan membangun kehidupan yang lebih baik bagi keluarga mereka yang sangat dicintai.

Di luar jendela, matahari mulai terbenam dan memberikan warna jingga yang indah pada langit sore. Meskipun hari itu telah penuh dengan kesusahan dan berita buruk, namun bagi Rian dan Novi, warna jingga itu menjadi simbol harapan bahwa meskipun malam akan segera datang, matahari akan selalu muncul kembali di pagi hari untuk memberikan cahaya dan harapan bagi mereka yang tidak pernah menyerah pada impian dan cinta mereka.

1
Dewiendahsetiowati
ada typo Thor Budi yang harusnya kakak jadi ayah
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!