NovelToon NovelToon
Handsome Ghost

Handsome Ghost

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Beda Dunia / Romantis / Hantu / Mata Batin / Komedi
Popularitas:201
Nilai: 5
Nama Author: Queena lu

Kiara Selia tidak pernah percaya hal-hal berbau mistis. Hidupnya sederhana: sekolah, pulang, main game online di ponsel, lalu mengeluh soal hidup seperti remaja normal lainnya.
Sampai suatu sore di sebuah taman kota.
Saat sedang fokus menyelesaikan match game online, Kiara terganggu oleh seorang pemuda yang mondar-mandir tak jelas di depannya. Gerakannya gelisah, ekspresinya kosong, seperti orang yang kehilangan arah. Karena kesal dan tanpa berpikir panjang, Kiara menegurnya.
Dan sejak saat itu, hidupnya tidak pernah kembali normal.
Pemuda itu bukan manusia.
Sejak teguran itu, Kiara mendadak bisa melihat makhluk yang seharusnya tak terlihat, termasuk si pemuda bermata biru langit yang kini menatapnya dengan ekspresi terkejut… sekaligus penuh harapan.
Menyadari bahwa Kiara adalah satu-satunya orang yang bisa melihat dan mendengarnya, sosok hantu itu mulai mengikuti Kiara ke mana pun ia pergi. Dengan cara yang tidak selalu halus, sering mengagetkan, dan kadang memalukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queena lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Yang Tidak Diketahui dan Yang Datang Tiba-tiba.

Perjalanan setelah pertemuan dengan Bima terasa jauh lebih berat, padahal jarak ke rumah Kiara tidak sampai lima belas menit. Kiara menyetir dalam diam. Sky melayang di sampingnya, sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Tidak ada candaan. Tidak ada komentar iseng.

Dan itu membuat suasana terasa… tidak nyaman.

“Sky,” kata Kiara akhirnya, memecah keheningan. “Kamu pernah dengar kasus kayak aku?”

Sky mengernyit. “Maksudnya?”

“Manusia biasa yang tiba-tiba bisa lihat lebih dari satu hantu. Bukan cuma satu.” Kiara menghela napas. “Aku kira cuma kamu.”

Sky terdiam beberapa detik. “Sejujurnya… aku juga nggak tahu.”

“Kamu kan hantu,” Kiara melirik sekilas. “Harusnya kamu lebih paham.”

Sky tersenyum miring. “Itu asumsi yang terlalu optimis. Aku ini hantu yang bahkan nggak ingat kenapa aku mati.”

Kalimat itu jatuh lebih berat dari yang Kiara kira.

Motor berhenti di depan rumah. Kiara mematikan mesin, tapi tidak langsung turun.

“Jadi kamu juga bingung?” tanya Kiara pelan.

Sky mengangguk. “Aku cuma tahu potongan-potongan. Suara klakson. Jalan aspal yang basah. Suara hantaman keras. Jalan yang ramai.” Ia menatap kosong ke pagar rumah. “Dan sekarang taman. Anak perempuan kecil itu. Tapi kenapa aku mati? Kenapa cuma kamu yang bisa lihat aku? Aku nggak punya jawabannya.”

Kiara melepas helm, mengusap rambutnya. “Aku juga nggak berniat maksa kamu ingat.”

Sky menoleh. “Kenapa?”

“Karena kalau aku yang dipaksa ingat sesuatu yang traumatis, aku juga bakal benci.” Kiara mengangkat bahu. “Kita jalanin aja pelan-pelan. Petunjuk pasti muncul.”

Sky menatap Kiara cukup lama. “Kamu lebih dewasa dari kelihatannya.”

“Terima kasih. Aku akan anggap itu pujian.”

Sky tersenyum kecil, tapi sorot matanya masih penuh kebingungan.

Mereka masuk ke rumah.

Aroma masakan langsung menyambut. Tumis, sup, dan bau nasi hangat memenuhi ruang makan.

“Kiara!” suara Bu Rina terdengar dari dapur. “Cuci tangan, terus makan! Ibu udah siapin semuanya.”

“Iya, Bu!” jawab Kiara.

Sky berdiri di dekat pintu dapur, mengamati dengan ekspresi penasaran. “Keluargamu kelihatan hangat.”

“Jangan iri,” gumam Kiara. “Nanti kamu kebanyakan komentar.”

Rafa, adik laki-laki Kiara yang masih kelas lima SD, muncul dari ruang TV sambil membawa tablet game yang Kiara pinjamkan sebelum pergi sebelumnya. “Kak Kiara pulang!”

“Iya, iya.” Kiara mengacak rambut Rafa. “PR udah selesai?”

Rafa manyun. “Sebagian.”

“Sebagian itu artinya belum.”

Rafa nyengir, " Nanti aku selesai" lalu lari kembali ke ruang TV.

Di meja makan, Pak Rahmat sudah duduk, membaca berita di ponsel. Ia menoleh saat Kiara datang. “Kamu pulang agak sore hari ini.”

“Ada urusan,” jawab Kiara singkat, lalu duduk.

Sky berdiri di sudut ruangan, memperhatikan semua dengan ekspresi yang sulit dibaca. Ada sedikit rindu di matanya. Atau mungkin iri.

Makan malam dimulai dengan suasana normal. Bu Rina menaruh sup di tengah meja. Suara sendok, piring, dan percakapan ringan mengisi ruangan.

Sampai Pak Rahmat tiba-tiba berkata, “Oh iya, ada satu hal.”

Kiara menoleh. “Apa, Yah?”

Pak Rahmat menurunkan ponselnya. “Aditya bakal tinggal di sini sementara.”

Sendok Kiara berhenti di udara.

“Aditya?” ulang Kiara, alisnya naik.

“Iya,” lanjut Pak Rahmat santai. “Anaknya kakak sepupu Ayah. Dia baru masuk kuliah. Lagi cari kos yang murah dan dekat kampus, jadi sementara tinggal di sini dulu.”

Bu Rina mengangguk. “Ibu juga sudah setuju. Kasihan kalau harus mondar-mandir.”

Kiara mengusap wajahnya perlahan.

Sky mendekat, berbisik, “Dari cara kamu bereaksi, sepertinya ini bukan kabar baik.”

“Ini kabar buruk,” gumam Kiara pelan.

Rafa langsung antusias. “Kak Aditya? Yang tinggi itu? Yang suka bawa motor gede?”

“Iya, itu,” jawab Pak Rahmat.

Rafa bersorak kecil. “Asyik! Keren!”

Kiara justru menahan erangan.

Pak Rahmat melanjutkan, “Nanti dia kemungkinan tidur satu kamar sama Rafa dulu, sampai ada pengaturan ulang.”

Rafa langsung melongo. “Hah? Satu kamar?”

“Iya,” Bu Rina tersenyum. “Kamar kamu kan masih muat.”

Rafa menoleh ke Kiara dengan ekspresi panik. “Kak, aku nggak mau kamarku dikuasai playboy.”

Kiara nyaris tersedak sup.

“Rafa!” tegur Bu Rina. “Jangan ngomong sembarangan.”

Sky menahan tawa. “Playboy?”

Kiara memijat pelipis. “Kalian nggak tahu sejarahnya.”

Pak Rahmat mengangkat alis. “Sejarah apa?”

Kiara ragu sejenak, lalu menghela napas. “Kak Aditya itu… menyebalkan.”

“Itu saja?” Bu Rina tersenyum. “Namanya juga anak muda.”

Kiara menggeleng pelan. Dalam kepalanya, ingatan lama muncul.

Dia kelas tiga SMP dan Aditya kelas dua SMA.

Hari itu, Kiara dijemput Aditya di depan gerbang sekolah karena Pak Rahmat ada urusan mendadak. Aditya datang dengan gaya sok keren, jaket terbuka, senyum yang terlalu percaya diri.

Dan ternyata-

Salah satu mantan Aditya melihat mereka.

Mengira Kiara adalah pacar baru.

Akibatnya?

Kiara dipojokkan, ditanya-tanya, dilirik dengan tatapan tidak ramah, bahkan sempat dikirimi pesan tidak menyenangkan lewat teman.

Padahal Kiara cuma adik sepupu yang salah waktu dan salah tempat.

Sejak itu, nama Aditya selalu identik dengan masalah.

“Dia pernah bikin aku kena masalah,” kata Kiara akhirnya. “Tanpa sengaja, tapi tetap aja.”

Pak Rahmat menghela napas. “Ayah tahu dia bukan anak yang paling rapi dalam urusan pergaulan. Tapi masa lalu biarlah berlalu. Sekarang dia butuh bantuan.”

Bu Rina menatap Kiara lembut. “Kamu bisa lebih dewasa dari ini, kan?”

Kiara terdiam. “Aku nggak bilang aku nolak. Aku cuma… bersiap mental.”

Sky menyeringai. “Ini menarik.”

“Buat kamu iya,” bisik Kiara. “Buat aku ini bencana berjalan.”

Rafa menyela, “Kalau dia nyebelin, aku bisa kunci dia lemari aku, kan?”

“Rafa!” Bu Rina menghela napas.

Pak Rahmat tertawa kecil. “Tenang saja. Aditya cuma sementara.”

Kiara menyuap makanannya, tapi rasanya hambar.

Sky menatap Kiara. “Kakak sepupu playboy, hantu genit yang nempel ke temanmu, dan kamu tiba-tiba bisa lihat makhluk lain. Hidupmu benar-benar naik level.”

“Ini bukan level, ini mode hardcore,” jawab Kiara datar.

Sky tertawa kecil. “Setidaknya kamu nggak akan bosan.”

“Aku lebih suka bosan daripada stres.”

Makan malam berlanjut dengan obrolan ringan, tapi pikiran Kiara sudah melayang ke hari-hari ke depan.

Aditya tinggal di rumahnya.

Artinya:

Potensi masalah.

Potensi drama.

Dan kemungkinan besar… kekacauan.

Sky melayang di sampingnya, tersenyum penuh arti. “Aku punya firasat, ini bakal seru.”

Kiara meliriknya tajam. “Kalau kamu mulai menikmati kekacauan hidupku, aku akan mengusirmu.”

“Kamu nggak bisa mengusir hantu.”

“Jangan tantang aku.”

Sky tertawa.

Dan di tengah semua kebingungan tentang kemampuannya, tentang kematian Sky, tentang hantu genit yang menempel pada Bima-

Satu hal jadi sangat jelas bagi Kiara.

Hidupnya tidak akan pernah kembali normal.

Bukan hanya karena dunia gaib yang mulai terbuka.

Tapi juga karena-

Aditya.

Masalah dunia nyata yang selalu datang tanpa permisi.

Dan entah kenapa, Kiara merasa-

Masalah ini mungkin akan sama merepotkannya dengan urusan hantu.

Mungkin.

Atau bahkan lebih.

1
kikyoooo
wah semangat! yuk saling support kak🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!